
Sekarang mereka sudah ditangani oleh hair stylist masing-masing, Resti mengirim pesan kepada bi Sri untuk segera menyusulnya ke Aluna Salon.
Ghufa memandang rambutnya yang sedang digunting, potongan-potongan rambut yang berjatuhan dijubah yang ia kenakan ia ambil dan ia sentuh helaiannya sampai bertebaran di lantai. Good bye rambut panjangku, gumamnya di dalam hati. Cemilan dan minuman yang tadi dibelinya hanya tergeletak di meja tanpa ia sentuh. Ia selalu seperti itu jika memotong rambutnya dari panjang ke pendek. Rambut yang ia rawat bertahun-tahun dalam hitungan menit sudah tergeletak di lantai dan akan dibuang di tempat sampah. Namun bukan ia saja yang sedang meratapi rambut yang akan berubah pendek sebahu sebentar lagi. Queen bahkan sampai menangis pada setiap potongan helai rambutnya yang jatuh pada jubah yang sedang ia gunakan.
drrt drrt drrt, suara getar handphone mengembalikan kesadaran Ghufa yang masih terpaku dengan rambutnya,
pesan dari Dhika.
*Malam kurang sempurna tanpa adanya bintang dan rembulan
Jiwa dan ragaku seperti melayang tanpa adanya sosok dirimu
Seperti lebah yang menghasilkan madu untuk menjaga kesehatan
Senyummu memberikan semangat untuk menjalani hidup dengan penuh warna
Tidak ada kisah jika tidak ada tokoh didalamnya
Dan tidak akan ada hubungan tanpa adanya persetujuan
Bagai bumi dan langit yang diantaranya terdapat udara yang menyatukan
Begitupun antara aku dan kamu kuharap ada cinta yang mempersatukan
Karena cinta membuat hubungan menjadi bermakna dan dengan kasih sayang hidup menjadi sempurna*
Sesuai janjiku, puisi yang aku tulis semoga kamu suka.
Senyum mengembang muncul diwajah manis Ghufa yang memamerkan kedua lesung pipinya.
Kenapa lo cengengesan gitu, tanya Queen dengan isak tangisnya.
Ghufa memalingkan wajahnya kearah Queen yang duduk disebelah kanannya dan menunjukkan isi pesan dari Dhika. Ga usah sampai lebay gitu juga kali Queen, pakai acara keluar air mata, komentar Ghufa yang melihat Queen sampai menangisi rambutnya.
__ADS_1
Kayak lo ga sedih aja, itu puisi yang tadi disebut-sebut Resti? gimana ceritanya Dhika bisa ngirim puisi ke lo? tanya Queen penasaran.
Gw kan ga selebay lo. Coba gw baca, ucap Resti yang meminta handphone milik Ghufa.
Gw share di group aja ya, ucap Ghufa menolak memberikan handphonenya kepada Resti. Bisa gawat kalau dia baca chat yang lain, batin Ghufa karena didalam ponselnya ada group chat sementara yang ia buat tanpa Resti sebagai anggota. Ia, Queen dan Jenika beserta kak Bimo dan Rendi membuat group untuk merencanakan surprise pada ulang tahun Resti apalagi chat Dhika yang barusan ia kirim ke group sebenarnya sudah sejak tadi ia menerimanya. Ini adalah awal permulaan dari drama yang akan diperankannya untuk mengerjai Resti.
Resti membaca pesan yang dikirim Ghufa di group rempong. Pernyataan cinta lagi? mau sampai kapan lo gantungin Dhika Fa?
Pernyataan cinta lagi? lo dah pernah ditembak sama Dhika Fa? tanya Jenika yang merasa sudah ketinggalan berita.
Emang omongan dia waktu itu bisa dibilang penembakan ya?
Emang dia ngomongnya gimana? tanya Queen ingin tahu, ia melupakan ratapan kesedian karena harus memotong pendek rambutnya. Walaupun sahabatnya tidak memaksa, namun karena ini pengalaman pertama ia berambut pendek, maka ia sedikit berlebihan dalam mendramatisir keadaan.
Dia cuma minta izin supaya dia ada dihati gw, gitu aja, jawab Ghufa dengan mimik wajah datarnya.
Trus jawaban lo apa? gw ga ngomong apa-apa, kisah selanjutnya kan kalian tahu sendiri, kata Ghufa datar.
hahahaha, Ghufa buat puisi? sungguh kejadian luar biasa. Nanti puisinya harus kita cetak dan kita bingkai untuk bukti keseriusan Ghufa dalam menjalin kisah kasih di sekolah, ujar Resti memberikan ide yang membuat Ghufa mendengus kesal.
Ketawa aja sepuasnya Res, sebelum lo menangis sesenggukan, ancam Ghufa yang menghentikan tawa Resti. Lo kok ngomongnya begitu sih Fa?
Terus gw harus ngomong gimana? kan emang kenyataan lo barusan ngetawain gw.
Fa, lo kenapa jadi sensitif begini, kan udah biasa kita saling ngejek, ini kan konotasi becanda. Ga serius? ujar Resti mulai panik. Kehadiran bi Sri di Aluna Salon sampai diabaikan olehnya.
Bi, tolong bawain belanjaan kita ya, ucap Queen mengambil alih untuk mengarahkan tugas bi Sri. Pertunjukan dimulai, batinnya.
Bu Sri langsung melaksanakan perintah Queen, ia mengambil semua tas belanjaan dan segera pergi meninggalkan salon. Di depan salon ia sudah ditunggu kekasihnya untuk membantu membawakan tas belanja majikan dan sahabat majikannya.
Gw batal refleksi kaki, ucap Ghufa setelah rambutnya selesai dikeringkan. Ia menolak untuk diblow atau dicatok pada rambut gelombangnya. Ia bangkit dari kursinya dan melihat-lihat penampilannya dari sisi samping dan belakang. Keliatan lebih fresh dan enerjik, gumamnya puas dengan hasil karya hair stylist yang telah membuat potongan rambutnya menjadi lebih bervolume.
Kak Nince you are the best, ucap Ghufa kepada hair stylistnya, ia mengambil uang dari dalam tasnya dan memberikannya kepada kak Nince. Thanks ya, tambahnya lalu memakai tasnya. Gw duluan, pamit Ghufa tanpa menatap wajah Resti. Ia menuju kasir untuk membayar tagihannya namun ternyata Resti sudah membayar semua tagihannya.
__ADS_1
Ia kemudian meninggalkan salon dan segera menuju area parkir, disana kak Bimo sudah menunggunya. Ia mencari mobil kak Bimo dan langsung mendekatinya begitu melihatnya. Ia membuka pintu depan dan duduk disamping kak Bimo, maaf kak ngerepotin, ucapnya setelah duduk manis. Bimo mengamati perubahan gaya rambut Ghufa, tadi pagi ia dibuat terpesona dengan rambut yang dikepang samping ala side dutch braid yang memberikan kesan klasik dan sekarang dengan potongan rambut sebahu, rambut gelombangnya yang berbentuk s menjadikan wajahnya semakin menonjolkan aura manis ditambah dengan munculnya lesung pipit saat ia tersenyum menjadikan wajahnya nampak sempurna.
Ga repot kok, jawab kak Bimo yang segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Gimana rencananya? sukses? imbuhnya mengenai rencana membuat Resti merasa bersalah.
Sukses dong, masuk perangkap dia, hehehe, tawa Ghufa yang merasa puas dengan aktingnya tadi. Ia sudah mengatur timing yang pas untuk memulai aktingnya agar terlihat alami.
Kak ni cemilan dimakan, ucap Ghufa menawarkan jamur enoki goreng crispy dan kentang goreng.
Goreng-gorengan semua? ga bagus buat kesehatan kebanyakan makan begituan, ucap kak Bimo mengomentari jenis cemilan yang dipilih Ghufa.
Tadi ada waffle, pudding sama beberapa jenis roti kok.
Kenapa ga pilih itu?
Soalnya Ghufa mau makannya ini, tunjuk Ghufa pada cemilannya.
Kak Bimo hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ghufa. Terserah kamu aja deh, tapi jangan terlalu sering, nasehatnya.
Cobain ni, Ghufa mengulurkan tangannya untuk menyuapi kak Bimo. Bimo sendiri kaget tiba-tiba tangan Ghufa sudah ada didepan mulutnya.
Dibuka atuh kak mulutnya, pegel nih tangan Ghufa.
Dengan sedikit keraguan Bimo membuka mulutnya dan menerima suapan Ghufa. Kenapa lidinya ga dipakai, tangan kamu kan jadi kotor.
Makan tuh sunnahnya pakai tangan, jadi kenapa harus pakai alat bantu. Kalau kotor tinggal cuci tangan. Dapat kenyangnya dapat pahalanya, jawab Ghufa dengan mulut penuh.
Ditelan dulu baru ngomong.
Ghufa mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju. Dia meminum es greentea yang dipesannya tadi. Pola makan kamu buruk, udah makan gorengan sekarang minum es. Nih air putih aja, ucap Bimo menyodorkan air mineral yang sudah ia buka segelannya untuk memudahkan Ghufa meminumnya.
Makasih kak.
Mereka sedang menunggu kedatangan Queen dan Jenika, sesuai rencana mereka akan pamit kepada Resti karena Queen sudah dijemput oleh Kevin dan Jenika ikut dengan Queen karena rumah mereka searah. Tapi tentu saja sebelumnya mereka harus memberikan guncangan jiwa terlebih dahulu.
__ADS_1