Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Metode yang dibenci Ghufa


__ADS_3

"Semalam lo beneran belajar Fa?"


"Enggak, cuma bolak balik buku aja. Kenapa? belum terima tebakan lo salah" tanya Ghufa.


"Bukannya ga terima, cuma memastikan. Lo tipe yang klo ga suka ya ga lo lakuin, berhubung hal itu wajib, jadinya lo ngelakuin itu setengah hati. Karena mau ga mau kan. Sama halnya dengan perasaan, alam sadar lo pasti mengimplementasikan kebiasaan lo itu. Klo lo peka, lo pasti udah tahu jawaban kegundahan lo. Ini analisa gw sih, gw ngebantu lo aja, menurut lo gimana?"


"Masalahnya kan gw gak peka Res, coba gw kayak lo, pasti gw ga usah susah-susah sampai kayak begini."


"Sebenarnya gampang untuk menentukan siapa orang yang ada dihati kita, ada dua cara" ucap kak Bima memberi saran.


"Apa kak?" tanya Ghufa antusias


"Pertama, kamu merasa cemburu ketika melihat dia bersama wanita lain. Kedua, kamu merasa kehilangan saat dia tak ada disisimu. Jadi siapa diantara Dhika dan Ryan yang membuat kamu seperti itu?"


"Ghufa ga tau kak, Ghufa belum pernah diposisi seperti itu. Ga mungkin nunggu mereka melakukan hal itu kan, untuk nyadarin Ghufa."


"Klo sudah ditahap seperti itu, berarti mereka sudah menyerah, dan itu sudah sangat terlambat buat lo Fa." Ucapan Resti membuat Ghufa takut, ia sudah pernah merasakan penolakan, apakah sebentar lagi ia akan merasakan bagaimana rasanya dicampakkan?.


"Dek, kamu jangan nakutin Ghufa dong, liat mukanya jadi pucat begitu" tegur kak Bimo kepada adiknya yang suka berbicara ceplas-ceplos.


Resti menoleh ke kursi belakang, ia merasa iba dengan sahabatnya, andai saja sifat manusia bisa ditransfer, maka ia akan senang hati melakukannya. Ia mengenal Ghufa cukup lama, dari awal dia sudah mendampingi Ghufa saat ia mulai mengenal cinta. Tapi ia tidak pernah melihat kebimbangan yang melanda hati sahabatnya. Ryan mungkin adalah cinta pertamanya, kisah yang berakhir tragis karena sebuah penolakan. Setelah berusaha move on dan akhirnya bisa membuka hatinya kembali, Ryan muncul kembali ditengah tengah kisah Ghufa dan Dhika. Membuat Ghufa yang sudah melangkah maju kembali melihat kebelakang. Memecahkan soal yang sulit pun akan terasa lebih mudah dibandingkan memecahkan sebuah masalah yang berhubungan dengan perasaan.


***

__ADS_1


Di sekolah mereka sudah ditunggu Queen dan Jenika, ketika melihat mobil Resti berhenti mereka langsung menghampirinya, "pagi kak Bimo, makin kece aja nih" sapa Queen. Kak Bimo hanya membalas dengan senyuman sapaan dari sabahat adiknya. "Udah ga usah ngegombal pagi-pagi, bikin kuping sakit aja" ucap Ghufa yang menutup kedua telinganya.


"Kenapa lo yang sewot, situ siapa? pacarnya? bencana besar bagi Resti klo dapat ipar lo" jawab Queen dengan gaya angkuhnya.


"Kalian ini sarapan apa sih, pagi-pagi udah kayak kucing garong minta kawin" kalimat Jenika membuat kak Bimo tersenyum. Senyum yang sangat manis, yang mampu membuat Jenika terpaku sepersekian detik.


Terjawab sudah teka-teki siapa lelaki yang disukainya, Resti tersenyum bangga dengan kinerja otaknya.


"Udah yuk, kita ke kelas" ajak Resti setelah berpamitan dengan kakaknya. Mereka berjalan menuju kelas masih dengan perdebatan antara Queen dan Ghufa, Queen menggoda Ghufa yang berpenampilan ala anak desa dengan kombinasi gaya modern. Terlihat anggun jika disempurnakan dengan tutur kata yang baik. Namun karena yang didengarnya adalah kalimat omong kosong membuat menilaiannya terbalik 180 derajat. Ia suka sekali berdebat dengan Ghufa, karena sering kali Ghufa membalas dengan kalimat-kalimat aneh namun bermakna. Berbeda jika melakukannya dengan Resti, yang selalu menyelipkan kalimat bijak disetiap pembahasannya.


"Kita nanti naik transportasi online aja biar ga repot, gw juga udah bawa kocokan buat penentuan warna, mau dikocok sekarang atau nanti, terserah kalian."


"Sekarang aja Res, biar semangat gw klo udah fix dapat warna ungu."


"Pede banget lo Fa dapat warna ungu."


"Rasanya pengen banget lo gw gaplok" kata Queen kesal dengan tingkah Ghufa.


"Kalian setuju ga?" tanya Resti ketika sudah sampai dibangkunya, ia pun langsung mengeluarkan gelas plastik kecil yang sudah ditutup plastik dan diikat dari dalam tasnya dan melubangi sudut gelas tersebut kemudian memasukan kertas yang sudah dimasukkan kedalam potongan sedotan.


"Kocok aja sekarang dibanding Ghufa sama Queen adu mulut terus" ucap Jenika memberi saran.


"Lo niat banget Res, kayak kocokan arisan, gw pikir cuma kertas yang digulung terus kita pilih salah satu."

__ADS_1


"Ya harus niat dong Fa, tanpa niat tidak akan ada tindakan."


"Udah basa-basinya dilanjutin nanti aja, buruan, keburu bel" ucap Queen tidak sabar.


"Oke, kocokan pertama kaos dengan warna nyentrik. Gw yang kocok ya" ucap Resti yang mulai mengocok dan mengeluarkan kertas didalamnya kepada Ghufa, Queen dan Jenika. Kertas terakhir untuk dirinya sendiri. Kita buka bareng-bareng.


"Yes yes yes gw dapat warna ungu terang" teriak Ghufa sambari melompat -lompat kegirangan, tindakannya membuat seisi kelas yang sudah hadir menoleh kearahnya.


"Sorry Guys, kalian abaikan kita aja" ucapnya meminta maaf kepada yang lain. "Berasa kayak pasar ya nih kelas" sindir Lastri yang duduk tak jauh dari tempat duduknya Ghufa.


"Gw kan udah minta maaf Las."


"Las Las, emangnya gw mesin las, panggil nama tu yang bener" protes Lastri tidak suka dengan panggilan yang diberikan untuknya.


"Baiklah yang mulia Lastri Dwi Pertiwi, maafkan hamba karena tidak sopan memangil yang mulia dengan sebutan las" ucap Ghufa lengkap dengan gaya hormat zaman dulu. Kalimat dan gaya Ghufa membuat seisi kelas tertawa, begitu pun Dhika yang sudah hadir dan memperhatikan Ghufa sejak tadi.


Lastri menatap Ghufa dengan rasa penuh amarah, ia tidak berani meluapkan rasa tidak sukanya lebih dari tindakan yang sudah ia lakukan. Ia takut dimusuhi jika bersinggungan dengan geng mereka.


"Kita lanjutin istirahat aja, udah ga kondusif suasananya" ucap Jenika pamit kepada Ghufa dan Resti. Sebelum menyusul Jenika, Queen menatap Lastri dengan pandangan tidak suka.


Tak lama kemudian, bel berbunyi. Semua siswa sudah hadir dan duduk di bangku masing-masing. Mereka semua sangat semangat karena hari ini adalah hari terakhir try out dan besoknya libur tanggal merah, sehingga libur menjadi 3 hari.


Kelas menjadi sunyi ketika suara langkah Bu Cecil terdengar, suara sepatu hak tingginya menimpulkan suara yang khas. Bu Cecil adalah guru bahasa inggris yang baru mengajar 1 bulan ini, ia menggantikan Bu Andrea yang pensiun. Parasnya yang cantik dan usia yang masih muda menjadikan ia incaran para siswa. Metode pembelajaran yang diterapkannya juga menjadi daya tarik tersendiri, karena beliau mengunakan metode drama. Metode yang melibatkan 4 sampai 6 siswa yang berperan aktif dalam proses pembelajaraanya dikarenakan mereka harus menampilkan hasil kerja kelompoknya di depan kelas yang akan dilihat oleh teman-temannya. Tentunya hal ini akan membuat mereka menampilkan performance terbaiknya, baik itu dalam kapasitas kelompok maupun bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


Langkah yang dilakukan Bu Cecil adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan tema yang telah dipersiapkan dan juga ungkapan ungkapan yang akan digunakan siswa dalam menyusun naskah percakapannya. Tentunya suasana kelas akan menjadi gadung karena diskusi-diskusi yang terjadi antar kelompok, disini Bu Cecil juga berperan aktif untuk membantu kebuntuan ataupun kehabisan ide yang para siswa alami sebelum mereka memprensentasikan hasil karyanya.


Walaupun hampir semua siswa menyukai cara mengajar guru cantik tersebut, tapi tidak bagi Ghufa, karena ia mempunyai kelemahan dalam hal pemahaman, ia butuh suasana yang hening agar cepat tanggap. Dan ketika pelajaran bahasa inggris, ia tak menemukan suasana demikian.


__ADS_2