
Bi Sri membangunkan Jenika dan Queen. Rendi membangunkan Resti dan Ryan kebagian membangunkan Ghufa. Jenika, Queen dan Resti bangun dengan mudah. Hanya dengan tepukan ringan dan goyangan pada tubuhnya mampu membangunkan mereka bertiga. Sedangkan cara tersebut tidak mempan bagi Ghufa. Ryan harus mencipratkan muka Ghufa dengan air agar ia terbangun.
Argggh, Yan, bisa ga elegan sedikit banguninnya. Kasar banget sih, gerutu Ghufa. Ia kesal karena mukanya disiram air. Make up aku jadi luntur nih, imbuhnya masih memperpanjang perkara.
Urusin aja tu jalur sungai di muka kamu, ujar Ryan yang langsung berlalu setelah mengucapkannya.
Sejak kapan gw ileran, batinnya namun tetap mengecek kondisi mukanya. Ia mengambil handphone yang ada di dalam tas selempangnya dan berkaca lewat kamera depan.
Dasar ngibul, gerutunya sembari memasukkan kembali handphonenya kedalam tas. Ia segera menyusul sahabatnya yang sudah turun duluan.
Ghufa mencari kopernya di bagasi mobil. Sudah dibawa sama mas Ryan neng, ucap pak sopir memberitahu.
Ohh, makasih pak infonya. Ghufa berlari kecil untuk menyusul ketertinggalannya. Sekarang mereka harus menyebrang menggunakan speed boat untuk menuju Pulau Umang.
Fa, pakai dulu krim muka sama bibirnya, ujar Resti menyodorkan alat tempur guna melawan teriknya sinar matahari pada siang hari.
Kenapa kita ga pakai di mobil aja tadi, ucapnya sembari mengoleskan cream pada wajah dan bibirnya.
Tadi nyawanya masih setengah, jadi ga kepikiran, jawab Resti sekenanya.
Ghufa agak kesulitan saat mengoleskan cream karena terpaan angin membuat rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Karena sudah berambut pendek, jadi ia tidak membawa ikat rambut.
Ryan melihat kerepotan Ghufa lalu mendekatinya dan menggenggam rambutnya. Terima kasih, ucapnya sembari tersenyum.
Buruan, jangan lama-lama. Dih, ga ikhlas banget nolongnya.
Setelah Ghufa selesai mengoleskan creamnya, Ryan segera mengikat rambut Ghufa dengan ikat rambut yang dibawanya.
Loh Yan, kamu bawa ikat rambut? kenapa ga dari tadi ngiketnya? protes Ghufa.
Suka-suka, jawab Ryan asal.
Bilang aja klo mau deket-deket sama aku?
Aku ga butuh alasan untuk deket sama kamu.
Selalu ada alasan kenapa laki-laki mendekati wanita, ujar Ghufa membantah perkataan Ryan.
Lalu menurutmu kenapa aku selalu mendekatimu?
Ya kan sudah jelas alasannya.
Apa?
Ya karena kamu suka sama aku. Jatuh cinta sama aku. Cinta banget malah, jawab Ghufa mehiperbola kalimatnya.
__ADS_1
Lalu apa balasanmu? ujar Ryan tanpa maksud untuk memojokkan Ghufa.
Ghufa terdiam saat mendengar ucapan Ryan. Karena sampai sekarang ia masing menggantungkan perasaan Ryan.
Ga asyik ah, jawab Ghufa yang berusaha menghindar.
Mau sampai kapan seperti ini.
Entah.
Keputusanku untuk pergi memang tepat, ucap Ryan dengan lirih.
Apa maksud dari perkataanmu, tanya Ghufa.
Bukan hal penting.
Aku yang memutuskan itu hal penting apa sebaliknya.
Sudah mau sampai, tunjuk Ryan dengan jarinya. Dalam sekejap Ghufa melupakan pertanyaannya.
Wihhh ,asyik, ia lalu berlalu meninggalkan Ryan dan mendekati ketiga sahabatnya. Hanya membutuhkan waktu 8 menit untuk menyebrang ke Pulau Umang.
Semua administrasi telah diurus kak Bimo, ia menyerahkan kunci cottage kepada Bi Sri. Kita istirahat dulu, setelah asar saja kalau mau main, ucap kak Bimo memberi saran.
Mereka menyewa dua cottage yang bersebelahan. Setelah merapikan barang bawaannya, Ghufa meninggalkan cottage untuk melihat pemandangan disekitarnya. Ia melihat Ryan sedang duduk dibawah pohon dekat tepi pantai sembari merokok.
Sejak kapan kamu ngerokok, tanya Ghufa yang sudah ikutan duduk disamping Ryan.
Setahun yang lalu, jawab Ryan sembari mematikan rokoknya. Ia meminum kopi kalengan yang dibawanya dari cottage.
Kenapa udah seliweran, ga istirahat dulu? tanya Ryan.
Udah kenyang tadi di mobil istirahatnya. Lagi pula udah jauh-jauh datang kesini kalau dipakai tidur mulu sayang waktunya.
Ryan tersenyum mendengar perkataan Ghufa. Ia menghela nafas kasar sehingga membuat Ghufa teringat membicaraan saat di speed boat tadi. Yan, apa maksud omongan kamu tadi?
Yang mana?
Yang kamu bilang, kamu mau pergi, jawab Ghufa memperjelas pertanyaannya.
Aku ga ada maksud apa-apa. Aku cuma mau ngasih tahu kamu aja, jawab Ryan santai, ia membuka cemilan keripik kentangnya. Ia menyodorkan keripiknya kepada Ghufa.
Kamu mau pergi kemana? tanya Ghufa yang mengambil keripiknya sebungkus.
Jerman, jawab Ryan singkat
__ADS_1
Uhuk uhuk uhuk, Ghufa tersedak mendengar jawaban Ryan.
Makannya pelan-pelan. Lagipula ga bakal aku rebut kembali cemilannya, ujar Ryan yang menepuk-nepuk punggung Ghufa. Ia juga menyodorkan air mineral.
Sepertinya kamu sudah memperkirakan kehadiranku, ujar Ghufa yang melihat kantong plastik bawaan Ryan.
Karena aku tahu kamu , jawab Ryan membuat Ghufa terdiam. Selama ini Ryan selalu tahu apa yang diinginkan, dibutuhkan dan diperlukan olehnya.
Berbanding terbalik oleh apa yang diketahui Ghufa tentang Ryan selain ia akan selalu ada untuknya. Ia juga selalu menerima semua hal dari Ryan.
Hey, sayang aku ke kamu, perhatian dan apapun yang aku lakukan selama ini sama kamu, karena memang aku menginginkannya, ujar Ryan yang tahu alasan kebisuan Ghufa.
Kapan kamu pergi ke Jerman? Berapa lama? tanya Ghufa yang ingin tahu lebih.
Dua minggu lagi dan mungkin untuk selamanya, jawab Ryan dengan menatap wajah Ghufa. Ia ingin menatap lebih lama wanita yang mampu mengisi hatinya. Karena mungkin ia tak akan bisa melihatnya lagi untuk waktu lama atau selamanya.
Apa? Selamanya? Maksud kamu?
Ayah diminta kakek dan nenek untuk kembali kesana. Perusahaan membutuhkan ayah. Kakek sudah tidak mampu lagi untuk memimpin, ia ingin ayah yang menggantikannya, jelas Ryan.
Bukankah Om selama ini juga mengurusi perusahaan yang ada disana? Buktinya om sering bolak-balik Jakarta-Jerman.
Itu karena kakek masih menjabat disana. Sehingga ayah hanya sekadarnya saja membantu.
Kenapa kamu harus ikut? Kamu kan masih bisa tinggal disini. Lagi pula perusahaan yang disini siapa yang akan mengurus jika kalian pergi?
Agar aku bisa melupakanmu, aku tidak akan berhenti mengganggu hubunganmu dengan Dhika jika aku masih disini, jawab Ryan dengan tatapan tajamnya.
Bohong, jawab Ghufa dengan membalas tatapan Ryan.
Apa kamu mau aku melamarmu dan menikahimu dulu sebelum pergi? tanya Ryan tanpa mengalihkan pandangannya.
Are you crazy? jawab Ghufa mengalihkan tatapannya. Ia tak sanggup untuk menatap lebih lama lagi.
Mungkin. Tapi aku serius dengan apa yang aku ucapkan. Fa, jika kamu mengizinkan
Tidak, tidak, ujar Ghufa memotong kalimat Ryan. Ia berdiri dari kursinya dan mondar mandir di hadapan Ryan.
Kamu tau apa yang aku inginkan, dan tidak ada direncana hidupku, aku akan menikah muda.
Aku tahu.
Kamu tahu tapi kamu masih melakukannya?
Karena keegoisanku yang menginginkan kamu jadi milikku.
__ADS_1