Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Hasil karya


__ADS_3

Setelah Ghufa meletakan tasnya, ia langsung menuju kelas Queen dan Jenika, suasana di kelas masih sepi karena Ghufa memang selalu datang pagi-pagi.


Hari ini Resti tidak masuk sekolah karena sakit diare akibat makan seblak yang terlalu pedas kemarin.


"Mau sandwich gak?" tawar Jenika menyodorkan kotak makannya ke Ghufa


"Makasih Jen, udah sarapan gw" tolak Ghufa.


"Gw disini dulu yaa, males gw di kelas ga ada Resti."


"Sakit perut ya dia?" tanya Jenika.


"Iya, bandel sih dibilangin jangan pedes-pedes. Makan tuh yang namanya ngidam" ucap Ghufa yang malah menyumpahi Resti.


"Hush, ga boleh gitu Fa" ucap Jenika menegur Ghufa.


"Iya maaf-maaf, maksudnya tadi becanda, ga serius."


"Ga boleh becanda klo soal kesehatan."


"Baik Bu Jen" ucap Ghufa dengan jari membentuk tanda peace.


"Di kelas bukannya ada ayang Dhika" tanya Jenika mengubah topik.


"Belum dateng dia" jawab Ghufa kecewa karena penyemangat paginya belum hadir.


"Tumben banget nenek lampir belum datang" tanya Ghufa karena belum melihat Queen.


"Paling kesiangan, kemarin kan habis jalan sama Kevin setelah pergi sama kita."


Ghufa melirik bekal sandwich Jenika dan menginggat keadaan toko roti orangtua Jenika yang sempat mengalami masalah.


"Toko roti nyokap lo gimana sekarang?" tanya Ghufa khawatir


"Alhamdulillah, sekarang udah stabil lagi,


yaahhh, walaupun gw kadang masih suka mikir, masih ada aja ya orang yang suka sirik melihat usaha orang lain sukses. Pakai acara menyebar berita yang ga bener, dan bodohnya tuh, kenapa orang-orang pada percaya begitu aja, memangnya lidah mereka ga bisa membedakan rasa yang berkualitas?


klo produk kita menggunakan bahan mutu rendah atau ada campuran yang aneh-aneh kan pasti langsung beda dong rasanya. Manusia zaman sekarang tuh gampang banget terpengaruh sama berita Hoax" kata Jenika penuh emosi jika mengingat masalah yang dihadapi keluarganya belum lama ini.


Ghufa langsung memeluk Jenika sambil mengusap-usap punggungnya dengan kasih sayang, "sabar ya sayang, semakin tinggi pohon akan semakin kencang pula angin bertiup, roti buatan nyokap lo itu enaknya pakai banget, jadi lo ga perlu takut kehilangan customer, buktinya mereka semua kembali beli lagi kan! Yang penting sekarang semua sudah kembali normal dan baik-baik saja."

__ADS_1


"Bener banget tuh" sambung Queen yang baru tiba. Ia langsung menghambur dalam pelukan mereka.


"Ini semua berkat kalian dan kekuatan sosial media, masalah toko roti nyokap gw cepet selesai" tutur Jenika melepaskan pelukan dan langsung merangkul Ghufa dan Queen.


"I love you guys" muach muach, cium Jenika di pipi Ghufa dan Queen.


"idih apaan sih Jen, kayak anak kecil deh lo" ucap Ghufa sambil membersihkan pipi dengan tangannya, "bisa luntur nih kemanisan muka gw."


"Hahahahahaa, dimana-mana tuh yang luntur kecantikan Fa, mana ada kemanisan" tawa Queen diikuti Jenika.


" Itu semua kan karena kecantikan sudah direbut kalian semua, jadi hanya menyisakan kemanisan diwajahku ini" canda Ghufa yang menambah gelak tawa mereka.


"Aduh, perut gw jadi sakit nih. Pagi-pagi udah dapat sarapan ketawa" ujar Queen yang memegang perutnya karena kram. Ia juga berkali-kali menghapus air matanya karena tidak kunjung berhenti mengalir.


"Makanya jangan berlebihan, sesuatu yang berlebih tu ga baik" ucap Ghufa dengan gaya seorang guru memberi nasihat kepada muridnya.


"Klo kebanyakan yang ada gw bisa dikirim ke rumah sakit jiwa" ujar Queen.


"Nah itu tahu, kan sayang udah cakep tapi gila" ujar Ghufa.


"Tu mulut sarapan pakai apa ya? pedes amat bunyinya"


"Mungkin sisa seblak yang kemarin masih ada dimulut gw" jawab Ghufa.


"Yaudah, kita udahan dulu adu mulutnya. Bisa berabe kalau lo besok ga masuk" ucap Queen melakukan gencatan senjata kepada Ghufa.


"Kalau Resti udah sehat, nanti kalian harus main ke toko roti gw! ada menu baru dan mama minta kalian buat nyobain semua"


"Dengan senang hati" jawab Queen dan Ghufa kompak.


"Nah gitu dong, kalau akur kan enak dilihat"


***


Di kelas Ghufa duduk sendiri, tiba-tiba Dhika duduk disebelahnya, "gw duduk disini ya?"


"Ehh iya" jawab Ghufa malu-malu.


"Serius banget sih lo dengerin Pak Richard" bisik Dhika yang membuat Ghufa menoleh sesaat, seketika blush, Ghufa langsung memalingkan wajahnya kembali karena ditatap begitu dekat oleh Dhika.


deg deg deg deg. "Ya Tuhan, jantung gw, kumohon tetap sehat ya jantungku" doa Ghufa dalam hati.

__ADS_1


Dhika tersenyum melihat sikap Ghufa yang menurutnya menggemaskan,


"Lucu banget ni cewek kalau lagi malu-malu gini" batin Dhika.


"Fa" panggil Dhika


"hmm" sahut Ghufa


"gw pinjem tangan lo dong" pinta Dhika.


"Hah, tangan? buat apa?" jawab Ghufa yang menoleh kearah Dhika.


"Gw mau gambar. Iseng gw, ngebosenin banget Pak Richard ngejelasinnya" jawab Dhika yang sudah menyambar tangan Ghufa dan mulai menggambar di lengannya.


Ghufa hanya bisa pasrah lengannya dicorat-coret oleh Dhika walaupun dihatinya ia berbunga-bunga karena mendapat sentuhan Dhika.


"Kok lo bisa juara sih Dhik? perasaan, gw ga pernah liat lo serius belajar atau dengerin guru klo lagi ngejelasin. Kadang lo malah sibuk sama gadget lo doang" tanya Ghufa sambil memperhatikan hasil gambar dilengannya.


"imut" lirih Dhika tanpa menjawab pertanyaan Ghufa


"iya imut banget gambarnya, lo ada bakat gambar juga yaa" kata Ghufa mengira perkataan Dhika adalah untuk hasil karyanya.


"lo yang imut Fa" menyanggah perkataan Ghufa.


Ghufa terdiam mendengar ucapan Dhika, ia berusaha mencerna dengan baik, "Dhika bilang gw imut, serius?" batin Ghufa. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Gw imut?" tanya Ghufa memastikan.


"Gak percaya?" tanya Dhika yang mendapat anggukan Ghufa.


Dhika pun mengambil cermin yang ada dikotak pensil Ghufa, diberikannya benda itu kepada Ghufa yang sedang memperhatikan setiap gerak geriknya. "Coba ngaca, apa yang lo liat?"


Ghufa pun mengikuti perintah Dhika, "gw liat muka gw lah" jawab Ghufa polos.


"Apa yang ada dimuka lo?" tanya Dhika memperjelas pertanyaannya.


"Ya ada hidung, alis, mata, bibir, rambut halus, bulu mata" jawab Ghufa. Ia juga menyebutkan bagian tubuh lainnya secara lengkap sesuai yang dilihatnya dicermin.


Dhika tersenyum mendengar jawaban polos Ghufa.


"Lo ga lihat tatapan mata lo yang teduh, merahnya pipi yang lagi merona sama senyum manis yang menghiasi bingkai wajah lo yang sempurna?" tanya Dhika memperjelas deskripsi wajah Ghufa saat ini.

__ADS_1


"Lo lagi ngegombalin gw" tanya Ghufa setelah mendengar penuturan Dhika.


"Enggak, gw lagi ngomong kenyataan"


__ADS_2