Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
First Kiss


__ADS_3

Bunda Karina mengantaran cemilan dan dua gelas susu ke kamar anaknya, tak disangka ia melihat Ryan dan Ghufa yang saling diam di depan pintu kamar Ryan. Ini anak-anak muda kenapa hanya gengsi saja yang di besarkan. Apa perlu sentuhan Bunda. Bunda Karina tersenyum memikirkan ide yang terlintas di kepalanya. Ia akan membantu anaknya untuk mendapatkan hati Ghufa kembali, putri kesayangan yang sudah dianggap anak kandungnya.


Bunda mulai melancarkan aksinya, dengan mantap ia berjalan mendekati mereka, "Ehem Ehem, kenapa kalian bengong?" tanya Bunda memecahkan keheningan. Ryan dan Ghufa sama-sama menoleh ke Bunda.


"Bunda ngagetin aja" ucap Ryan salah tingkah kedapatan terpesona dengan seseorang yang harus dilupakan atau diperjuangkan. Ryan hanya bisa diam melihat gadis yang dicintainya tiba-tiba ada didepannya, ingin sekali ia memeluknya, meluapkan rindu yang sudah memuncak. Namun ia hanya bisa menahannya karena ia tahu ada laki-laki lain yang sudah masuk ke hatinya. Menempati sebagian tempat yang ditinggalkan dirinya. Sekarang ia harus berlomba dengannya untuk memenangkan Ghufa kembali.


"Kenapa masih bengong, ayo masuk" perintah Bunda Karina. Ghufa mengikuti Bundanya dan Ryan menyusul dibelakangnya. Bunda meletakkan cemilan dan dua gelas susu coklat dimeja belajar Ryan. Setelah itu, pamit keluar karena ingin menyiapkan makan malam. Sebelum keluar, ia berpesan kepada anaknya untuk tidak membuat Ghufa menangis.


"Emang bakal Ryan apain sih Bun" kesal Ryan karena tuduhan Bundanya. Bunda sengaja menutup pintu kamar yang membuat Ryan dan Ghufa menaikkan alis. "Kenapa ditutup?" tanya Ghufa canggung.


"Kenapa? takut?" kata Ryan dengan santai (berjalan mengambil  susu dan meneguknya)


"Kenapa mesti takut, lagian apa yang lo bisa lakuin? Gak mungkin juga kan lo nyakitin gw" ucap Ghufa sudah mulai santai. Ia mengikuti Ryan mengambil minuman dan menyesapnya perlahan. Diletakkannya kembali gelas susunya dan duduk disamping Ryan. Hamparan halusnya karpet membuat ia nyaman untuk menyelonjorkan kaki jenjangnya dan bersandar pada kaki ranjang.


Ryan melirik sekilas kaki mulus yang terpapar disampingnya lalu ia menyalakan televisi dan memilih film one week friends untuk meredam suara kamar, ia tahu Bundanya pasti sedang menguping untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Kenapa tidak terdengar apa-apa" ucap Bunda kecewa niatnya sudah diketahui anaknya."Tingkat kewaspadaannya memang selalu tinggi" imbuhnya lalu meninggalkan kamar dan menuju dapur.


"Ada apa?" tanya Ryan karena Ghufa tak kunjung berbicara.


"Masih marah?" tanya Ghufa dengan pandangan lurus ke televisi.


"Soal apa?" Ryan pura-pura tidak mengerti maksud Ghufa. Ia ingin sedikit menjahilinya.


"Ga usah pura-pura ga tau" kata Ghufa.


"Emang ga tau"


"Jangan gitu dong" ucap Ghufa namun Ryan hanya diam. Ia malah asik menonton drama Jepang yang disetelnya.


"Yan" panggil Ghufa merasa diacuhkan.


"Hmm" gumaman Ryan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Yan" panggil Ghufa kembali dengan menarik narik baju yang dikenakan Ryan.


"Hmm" ulang Ryan yang membuat Ghufa emosi. "Klo dipanggil tu nengok, apa susahnya sih kepala digeser sedikit" cerocos Ghufa tidak puas akan sikap Ryan yang acuh.

__ADS_1


"Kenapa ga pakai celana panjang, ini udah malam, kalau keluar rumah biasain pake yang panjang" ucap Ryan mengomentari busana Ghufa.


"Kenapa malah ngomentarin busana gw?" batin Ghufa.


"Gw mau pamer kaki mulus gw" jawab Ghufa asal.


Glek, jawaban Ghufa membuat Ryan memfokuskan pandangan kearahnya.


Deg, "kenapa dia jadi ngeliatin gw, hadeh, mau gw apa sih sebenarnya? dicuekin salah, diliatin salah, kalau sudah begini gw mesti gimana?" pikiran-pikiran tersebut berputar putar dikepala Ghufa.


"Kenapa lo ngeliatin gw begitu?" kata Ghufa akhirnya.


"Apa sih yang ada dipikiran lo, malam-malam datang ke rumah cowok, pakai baju kayak gitu" tanya Ryan dengan pandangan mesum.


"Gw kan tadinya mau tidur, jadi ga kepikiran ganti baju dulu, rumah lo juga tinggal nyebrang doang, lagian lo juga pernah lihat gw pake baju yang lebih seksi dari pada ini" jawab Ghufa masih membela diri.


"Itu dulu, waktu badan lo masih rata kayak penggilesan" kata Ryan tak lepas memandang Ghufa dengan intens.


Ghufa merasa risih dengan pandangan Ryan. "Bisa ga, mandang gw nya biasa aja. Gw kesini mau minta maaf soal tadi pagi. Apa kita bisa kayak dulu" tanya Ghufa akhirnya.


Ghufa terdiam, ia tahu Ryan tak mungkin menyetujui permintaannya. Namun dengan egoisnya Ghufa berkata, "kenapa lo ga cari pacar aja, biar kita tetep bisa kayak dulu. Adil kan?"


Dengan senyum sinis dan tatapan menusuk, Ryan melemparkan ponselnya ke Ghufa, "lo yang pilih gw harus pacaran sama siapa."


Ghufa bingung dengan permintaan Ryan yang tidak masuk akal, dia yang pacaran kenapa gw yang disuruh milih.


Dengan ragu ia menanyakannya, "kenapa gw yang milih?" tanya Ghufa takut.


"Karena gw sukanya sama lo, jadi siapa aja yang jadi pacar gw, itu ga penting. Yang penting, yang jadi pacar gw adalah pilihan lo."


"Kenapa lo jadi begini Yan, gw gak mau lo punya pacar klo kayak gini caranya" ucap Ghufa sedih dan tanpa bisa dibendung air matanya sudah mulai mengalir. Ghufa menangis sesunggukan, "kenapa lo bikin gw jadi kayak penjahat sih Yan, gw sayang sama lo, gw kangen sama lo, gw ga maksud nyakitin lo atau pun balas dendam, tapi gw binggung... gw...."


Belum sempat Ghufa menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Ryan meraihnya kedalam pelukannya. Ia terkejut dengan reaksi Ghufa, ia tak menyangka gadis yang dicintainya akan menagis lagi karena sikapnya. Cukup satu kali ia membuat kesalahan.


Ryan mempererat pelukannya, memastikan ini bukan mimpi, Ghufa pun merespon pelukan Ryan dengan melingkarkan kedua tangannya, rasa rindu yang selama ini mereka pendam, malam ini mereka larutkan dengan saling menyetuh tanpa ada kata yang mewakilinya.


Entah kerasukan setan dari mana, Ryan menjatuhkan tubuh Ghufa dan menindihnya, ia menahan kepala Ghufa dengan sebelah tangannya dan dengan berani ia menempelkan bibirnya ke bibir Ghufa yang menggoda, yang awalnya hanya sebuah kecupan lembut, karena tidak ada penolakan dari Ghufa ia melakukannya lagi dan memperdalam ciumannya. Memaksa Ghufa membuka mulutnya untuk menjelajah lebih didalam sana. Ghufa yang awalnya tak merespon lama-lama mengikuti permainan Ryan, ia menikmati apa yang dilakukan Ryan atas dirinya.

__ADS_1


Ryan menyudahi ciumannya karena mereka menbutuhkan oksigen untuk bernafas. Dipandanginya Ghufa dengan kening yang masih menempel.


"Maaf" ucap Ryan serak karena masih menstabilkan nafasnya.


Ghufa tak bisa berkata apa-apa, wajahnya masih diselimuti gairah yang belum padam. Ia malu setengah mati, ingin rasanya ia menyeburkan diri ke kerak bumi.


Ryan tersenyum puas, senang mendapatkan first kissnya Ghufa. Ryan membantu Ghufa untuk duduk kembali.


"Udah malam, ayok gw anter" ajak Ryan.


"Iya" jawab Ghufa menundukan kepalanya, ia tak berani menatap Ryan.


Malu.


Dibawah mereka bertemu Bunda Karina,


Bun, Ryan anter Ghufa dulu ya.


"Sudah mau pulang?" Bunda mendekati mereka, ia langsung panik saat melihat muka merah Ghufa, "Ya ampun sayang, kamu demam? kok bisa sih, tadi sehat-sehat aja kelihatannya" tanya Bunda Karina, ia memeriksa dahi Ghufa yang normal-normal saja. "Aneh, suhu kamu normal tapi muka kamu kenapa merah banget ya, kita kedokter aja ya" saran Bunda Karina yang masih khawatir dengan kondisi Ghufa.


"Ghufa sehat-sehat aja Bun, Ghufa pamit pulang dulu ya" ucap Ghufa ingin segera pulang, takut ketahuan kalau lama-lama disini.


Bunda Karina tiba-tiba menyadari apa yang terjadi ketika melihat anaknya yang terlihat santai. Jika Ghufa benar sakit, Ryan tidak akan sesantai sekarang.


Senyum mengembang pada wajah cantiknya yang tak lekang oleh usia. "Dasar anak bandel" gumamnya.


"Yaudah, hati-hati ya sayang" ucap Bunda kemudian mencium kening Ghufa.


"Iya Bun" pamit Ghufa kembali dan mencium tangan Bunda Karina.


Di perjalanan, tidak ada yang berbicara, walaupun sebenarnya Ghufa ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia urungkan karena tidak punya keberanian.


Ryan tahu apa yang dipikirkan Ghufa,


"Tentang Dhika, klo lo masih penasaran dan mau deket, silahkan."


 

__ADS_1


__ADS_2