Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Dilema yang memonopoli jiwa


__ADS_3

Ghufa terburu buru masuk ke kelasnya hingga mengabaikan panggilan Queen dan Jenika.


"Ghufa kenapa ya?" tanya Jenika heran.


"Kita samperin aja yuk, jadi kepo nih!" balas Queen ingin tahu.


Karena berdasarkan sikap dan tingkah laku Ghufa barusan, pasti telah terjadi sesuatu.


Sampai di kelas, ternyata Resti belum datang. "Ah elah, ni bocah tumben tumbenan belum datang" dumal Ghufa.


Ghufa langsung menelepon Resti namun tidak ada jawaban. Saat sedang bolak-balik di ruangan, Queen dan Jenika muncul.


"Kenapa lo, kayak gosokan lecek aja, mondar-mandir?" tanya Queen heran melihat kelakuan Ghufa yang sudah aneh pagi-pagi. "Salah minun obat?" tanya Queen kembali sembari memeriksa dahi Ghufa.


"Jangan ngeledek gw dulu deh, ini masalah nama baik gw yang bisa aja tercemar sama kecerobohan diri gw sendiri" kata Ghufa yang membuat Queen dan Jenika tambah bingung.


"Fa, mending duduk dulu deh, dari pada mondar mandir gitu" ujar Jenika memberi saran.


Ghufa pun menuruti perkataan Jenika dan langsung duduk ditempatnya. Yang lain pun ikut duduk disamping Ghufa, Queen sampai harus meminjam kursi di meja sebelah.


"Ada apa?" tanya Jenika yang berusaha menenangkan kegundahan Ghufa.


"Semalam gw belajar di rumah Resti, terus ketiduran, lo tau sendiri kan gimana gaya tidur gw, nah ternyata yang gendong gw ke mobil tu kak Bimo. Muka gw mau ditaro dimana coba klo ternyata pas tidur gw lagi ngiler terus mangap terus ngorok juga," ucap Ghufa menjelaskan situasi yang membuat dirinya gundah pagi ini dengan mimik muka yang membuat kedua sahabatnya tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya. Apalagi Queen yang sampai mengeluarkan air mata saking lucunya respon Ghufa yang meributkan masalah yang menurutnya sepele.


"Muka lo ya tetep pada tempatnya lah Fa" jawab Queen yang masih berusaha meredam rasa geli yang belum hilang.


"Ada apa nih, pagi pagi udah pada ngumpul sama ketawa geli gitu" sapa Resti yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Nah ni dia juru kunci yang akhirnya datang" ucap Queen yang membuat bingung Resti.


"Res, kak Bimo ada ngomong sesuatu gak? atau lo ikutan tidur ga pas semalem kita belajar bareng?" tanya Ghufa dengan harap-harap cemas.


Sebelum Resti sempat menjawab, bel sekolah pun berbunyi.


"Ahhh elah, kenapa mesti sekarang sih belnya" gerutu Queen yang ikutan penasaran dengan jawaban Resti.


"Kita balik dulu ya" pamit Jenika yang harus menarik Queen yang enggan beranjak dari sana.


Keluarnya Queen dan Jenika bersamaan dengan datangnya Dhika.


"Ehh, bebeb Dhika baru datang" sapa Queen menggoda Dhika ketika berpapasan sedangkan Jenika hanya memberikan senyum tipisnya.


Dhika yang tiba tiba disapa oleh sahabat Ghufa membuatnya berpikir jika mereka sudah mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Ghufa kemarin.


Ucapan Queen yang dianggap nyeleneh oleh Jenika membuatnya harus mencubit pinggang sahabatnya itu.


"Apaan apaan sih lo Jen, sakit tau" rintih Queen yang meringis kesakitan oleh cubitan kalajengking Jenika.


"Lo yang apa-apaan, maksudnya apa coba manggil bebeb sama Dhika"

__ADS_1


"Gw cuma becanda kali, jangan dibuat serius lah, lagian kenapa lo yang sewot, jangan jangan lo naksir Dhika juga lagi?" tanya Queen asal tebak.


"Klo ngomong jangan sembarangan" jawab Jenika kesal dengan perkataan Queen yang suka asal bicara.


"Jangan marah gitu donk, kan gw cuma asal aja, mungkin aja kan lo sama Dhika berjodoh"


Jenika sudah masuk ke kelasnya meninggalkan Queen begitu saja, "atas dasar apa gw sama Dhika berjodoh, emangnya gw pager makan tanaman?" gumam Jenika dengan suara yang sangat pelan namun masih dapat di dengar oleh Queen.


"Atas kehendak yang Maha Kuasa" bisik Queen tepat ditelinga Jenika.


***


Ghufa tak beranjak dari kursinya walaupun bel istirahat sudah berbunyi, ia masih memikirkan perkataan Resti yang mengatakan bahwa sewaktu kak Bimo akan mengendongnya ia mengigau, bukan ocehan-ocehan yang keluar dari mulutnya yang ia rutuki namun tindakan yang dilakukannya kepada kak Bimo.


Tindakan yang sangat diluar batas nalarnya, hal itu akan membuatnya takut untuk bertemu kembali dengan kak Bimo.


Mana ada orang mengingau seperti orang mabuk, yang bisa mengatakan dan melakukan sesuatu yang ingin dikatakan dan lakukan tanpa ada rasa takut. Apa sebegitu galaunya kah ia untuk memilih siapa diantara Ryan atau Dhika yang ada dihatinya? sampai mereka berdua memenuhi dunianya, bahkan alam sadarnya pun dirampasnya.


Sementara itu dikantin kehadiran Resti dan Ghufa sudah dinanti Queen dan Jenika, "Ghufa mana?" tanya Queen yang tidak melihat sosok artis of the day nya.


"Di kelas dia, masih syok sama kenyataan yang ada" jawab Resti yang membuat Queen dan Jenika saling pandang.


Resti kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan sahabatnya itu, ia memesan nasi goreng dan es teh manis untuk dirinya dan jus alpukat untuk diberikan kepada Ghufa.


"Jadi gimana ceritanya?" tanya Jenika penasaran.


Resti menghela napasnya terlebih dahulu sebelum menceritakan kejadian yang akan membuat pendengarnya tercengang, untuk kedua kali nya ia sudah mempersiapkan diri dari rentetan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh kedua sahabat keponya.


"Gw ga tau Ghufa lagi mimpi apa, tapi tiba-tiba ia nyebut nama Dhika terus nyium bibir kak Bimo waktu dia mau ngangkat Ghufa"


"Hah serius?" ujar Jenika memotong cerita Resti. Ia sendiri saja yang mendengar syok apalagi yang melakukan. Resti hanya mengangguk anggukan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Jenika. Ia pun melanjutkan ceritanya. "Kakak gw kaget donk, sampe ngelepas gendonganya gitu, untuk aja belum terlalu tinggi, jadi ya ga terlalu sakit"


"Terus terus gimana?" tanya Queen antusias sampai tak mempedulikan keberadaan bakso pedas manis hasil rajikannya.


"Ya terus pas mau ngangkat Ghufa lagi, kakak gw lebih waspada gitu deh, takut kecolongan dua kali" ucap Resti sembari terkekeh membayangkan sikap kakaknya yang dibuat mati gaya oleh Ghufa.


"Kalian tahu apa yang dilakuin Ghufa ke kakak gw?" tanya Resti yang membuat sahabatnya makin penasaran.


"Apa-apa?" tanya balik Queen.


"Yee, orang nanya malah balik nanya? tebak dong" ujar Resti menggoda mereka.


"Haduh Res, jangan bikin penasaran, yang tuntas klo cerita, jangan dipenggal-penggal gini" ujar Jenika mulai kesal.


"Oke-oke, jadi kalian ga bisa nebak nih!" ujar Resti kembali yang mendapat pelototan dari mereka.


"Payah"


"Jadi, waktu kak Bimo mau angkat Ghufa lagi, tiba-tiba dia langsung dipeluk gitu"

__ADS_1


"Hah?"


"Karena kaget, kak Bimo jatuh nindiin Ghufa"


"Terus?"


"Terus kak Bimo disangka Ryan sama Ghufa, terus mau dicium gitu"


"What?"


"Karena udah antisipasi, kak Bimo sempet ngelak, tapi tiba tiba Ghufa ngoceh kemaren kamu nyium aku, kenapa sekarang aku ga boleh nyium kamu"


"Serius Ghufa ngomong begitu?" tanya Queen menginterupsi dan Resti hanya menganggukan kepalanya.


"Wah gak nyangka hubungan mereka udah sampai tahap sana, perasaan belum lama dia bilang belum pernah ciuman deh" ujar Queen lagi yang heran melihat perkembangan asmara Ghufa.


"Ya begitulah kalo pacarannya sama yang udah dewasa, sosor-sosor gitu" ucap Resti membenarkan.


"Pengalaman pribadi Bu" goda Jenika ikut ikutan.


"Kenapa Ghufa jadi begitu ya" ucap Queen heran."Namanya juga hati, klo udah kesentil kadang-kadang logika suka enggak dipakai" jawab Resti.


"Ini mau dilanjutin ga ceritanya?" tanya Resti yang merasa arah pembicaraannya sudah membelok.


"Mau-mau" jawab Queen dan Jenika serempak.


Resti pun mulai larut lagi ke dalam kisah semalam, "mungkin karena ga mau mengambil kesempatan kak Bimo nyoba bangunin Ghufa gitu, tapi kalian tau sendirikan klo Ghufa udah tidur kayak gimana? ada gempa sama suara petir yang kenceng juga ga bakal bangun dia"


"Terus gimana?" tanya Jenika tambah penasaran.


"Terus ya, Ghufa mau nyium kakak gw lagi, karena bibir kak Bimo mingkem gitu, digigitlah bibir kakak gw, sampe teriak loh kakak gw saking kagetnya"


"Gw sendiri sampe syok ngeliat adegan mereka"


"Terus kak Bimo ada ngomong sesuatu gitu ga ke lo?" tanya Jenika.


Kak Bimo sih nyuruh gw untuk ngerahasiain kejadian semalem, takutnya itu bikin Ghufa malu terus ga mau ketemu dia lagi. Apalagi minggu depan kita mau liburan bareng.


"Lalu kenapa lo cerita ke Ghufa?" tanya Jenika yang ingin mendengar alasan Resti.


"Itu dia, sekarang gw nyesel, pasti Ghufa ga mau ikut liburan bareng" ujar Resti dengan wajah penuh penyesalan.


"Gini aja, kak Bimo kan nyuruh lo buat ngerahasiain, lo tinggal bilang ke Ghufa, untuk pura-pura ga tau apa apa, jadi pas ketemu kak Bimo, Ghufa ga malu"


"Dan lo Res, kak Bimo ga bakal marahin lo karena dia nyangkanya lo ga ember, win win solution kan?" ujar Queen yang mencoba memberi solusi.


"Bagus juga ide lo, tapi apa mungkin Ghufa setuju?" tanya Resti ragu.


"Kita coba aja ngomong baik-baik" ucap Jenika yang mendapat anggukan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2