Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Terciduk


__ADS_3

"Egois banget lo Fa. Yang pengen lo jadiin pacar siapa?" tanya Queen.


"Gak ada" jawab Ghufa dengan cengiran kuda yang membuat Jenika dan Queen yang sedang minum tersedak.


Sedangkan Resti yang sudah memprediksi jawaban Ghufa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Alasannya apa Fa?" tanya Jenika yang masih bingung dengan jalan pemikiran Ghufa.


Ghufa hanya mengherdikan bahu tanpa memberikan jawaban.


"Sekarang lo bisa diam, nanti jangan harap lo bisa lari dari permainan truth or dare. Gw bongkar habis lo" ancam Queen senang akan ide cemerlangnya.


"Gw dukung lo Queen apa lagi disana ada kak Bima sama kak Rian" imbuh Resti yang adu tos dengan Queen.


"Makan tu cogan-cogan lo" kata Queen yang tampak sudah tidak sabar untuk segera liburan. "Semoga kerja sama kita sukses" tambah Resti yang membuat Ghufa memutar bola matanya sebal melihat kelakuan sahabatnya.


"Gw kayaknya harus mengkaji ulang hubungan dengan kalian bedua deh, kalian tuh sahabat gw apa musuh gw sih?" kata Ghufa mulai merajuk.


"Sahabat rasa musuh dong" jawab Resti puas sudah berhasil membuat Ghufa tak bisa berkutik.


Drrrt drrrt drrt, suara getar handphone mengalihkan perhatian Ghufa yang ingin membalas perkataan Resti, ia langsung meraih benda pipih berwarna ungu yang tergeletak di atas meja setelah membaca nama pengirim pesan tersebut.


"Dhika?"


Pulang bareng yaa.


Lama Ghufa menatap layar ponselnya sampai membuat yang lain penasaran. Dengan tidak sopan Queen merebut benda itu dan membacanya.


"Galau mau jawab apa?" tanyanya.


"Enggak dong! gw tadi diam karna penasaran aja kenapa dia ngirim pesan bukannya ngomong langsung."


"Alesan aja lo" ucap Queen tidak puas.


Sepulang sekolah Ghufa sudah ditunggu Dhika di parkiran.


"Maaf lama" ucap Ghufa merasa bersalah karena membuat Dhika lama menungggu.


"Ga papa, kita makan dulu ya" ajak Dhika. Ia kemudian membantu Ghufa memasangkan helm. "Mau makan apa?" tanyanya.


"Terima kasih, di sekitar rumah gw aja ya, disana ada tukang bakso, endess banget rasanya" promo Ghufa.


"Terserah tuan putri aja" jawab Dhika membuat Ghufa terdiam.

__ADS_1


"Mang, dua mangkok komplit ya, sama air mineral dua juga" pesan Ghufa ke mang Joni dan berlalu menuju bangku dekat kipas angin.


"Minumannya gw pesenin air mineral, tapi klo lo mau yang lain pesen aja lagi" ucap Ghufa setelah Dhika duduk dibangkunya.


"Gak perlu, itu aja cukup. Terima kasih."


Tak lama berselang bakso sudah terhidang di meja, Ghufa langsung meracik kuah baksonya agar lebih nikmat.


"Jangan kebanyakan sambal, nanti sakit perut" nasihat Dhika yang menghitung jumlah takaran sambal Ghufa.


"Tenang, nanti kecapnya juga banyak kok" jawab Ghufa yang sekarang sedang menuangkan kecap ke dalam mangkoknya.


"Selesai, bakso pedas manis ala chef Ghufaira Talita Sakhi siap untuk dinikmati" ucap Ghufa yang tampak tidak sabar untuk segera menyantap bakso racikannya.


"Kenapa diam aja, mau diracikin juga?" tanya Ghufa.


"Ga perlu, makasih" ucap Dhika yang langsung meracik kuah baksonya sendiri.


"Jangan kebanyakan ngucapin terima kasih, kayak sama orang lain aja" ucap Ghufa tanpa sadar.


"Jadi lo pengen kita ada sesuatu?"


"Bukan itu maksud gw" elak Ghufa panik, ia takut disalahpahami.


"Trus maksudnya apa?" tanya Dhika yang memandang Ghufa dengan tajam, ia ingin mendapat jawaban dari tatapan mata Ghufa, karena selama ini ia merasa seperti ditarik ulur olehnya.


"Oke klo itu mau lo, buruan dimakan sebelum dingin baksonya" ucap Dhika. "Gw sepertinya harus lebih bersabar" batin Dhika.


"Iya" jawab Ghufa singkat.


Dhika menyodorkan minumannya melihat Ghufa yang tampak kepedasan. Ghufa merasa risih dengan tatapan Dhika yang tak lepas menatapnya.


"Kenapa masih ngeliatin gw sih, makan dulu baksonya. Klo lo takut gw hilang dari pandangan lo, tenang aja, gw ga akan kemana-mana."


"Lo pede juga ya orangnya" ucap Dhika dengan senyum diwajahnya. Yang menambah nilai plus di mata Ghufa.


"Kita hidup kan memang harus penuh percaya diri, klo ga, gimana bisa maju" ucap Ghufa berusaha mengalihkan perhatian.


"Haduhhh, kenapa gw jadi ga tenang gini sih, makan pun jadi ga berselera. Ini gara-gara mulut yang ga bisa direm" batin Ghufa mengigit bibirnya dengan geram.


Glek, "kenapa Ghufa gigit bibirnya sih, mana seksi banget lagi jadi pengen gw gigit juga" batin Dhika, karena tidak tahan, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut bekas gigitan yang membuat sedikit luka disana, "jangan digigit" ucap Dhika yang masih asik dengan kegiatannya yang membuat Ghufa tersentak dan tanpa sadar menggigit kembali bibirnya namun malah mengenai jari Dhika.


"Ahh" pekik Dhika dengan suara pelan, ditariknya jemari yang telah digigit Ghufa.

__ADS_1


"Maaf maaf Dhik, ga sengaja gw" ucap Ghufa merasa bersalah. Di lihatnya luka bekas gigitannya.


"Never mind" balas Dhika.


"Jadi, lo pengen bahas masalah kita dimana?' tanya Dhika kembali menatap Ghufa


"Apa harus hari ini?" tanya Ghufa


"Tadi bilang selesai makan, sekarang jangan hari ini, besok apa lagi?"


tanya Dhika mulai kesal.


"Gini aja, besok kan kita try out fisika, gimana klo lo ajarin gw setelah ini, gw masih kurang paham."


"hmm"


"Dih ngambek, muka lo lucu tau" goda Ghufa yang berhasil membuat Dhika tersenyum.


"Nah gitu dong, gantengnya kan jadi maksimal."


"Jangan ngeledek, udah ayo."


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Ghufa.


"Kok sepi rumah lo Fa, pada kemana?" tanya Dhika yang tak melihat ada orang dirumah.


" Iya ya, pada kemana? bentar" jawab Ghufa sembari mencari ponselnya.


"OMG, gw lupa, gw kan disuruh nyusul kerumah tante Silvi" ucap Ghufa menepuk jidatnya karena melupakan sesuatu yang penting.


"Mau dianter?" tanya Dhika menawarkan. "Ga usah Dhik, gw kan harus belajar."


"Klo gitu gw pamit ya, lo ga papa sendiri, maaf ya Fa, gw ga bisa nemenin sama ngajarin lo. Bisa dikawinin kita klo kena grebek" goda Dhika yang mendapatkan pelototan Ghufa.


"Iya ga papa, lo balik aja, nanti gw kerumah Resti aja buat minta diajarin."


"Hati-hati ya dirumah" ucap Dhika yang berjalan mendekat kearah Ghufa, ia mengusap usap lembut pucuk kepala Ghufa. "Jangan nakal ya dan ingat lo masih punya hutang penjelasan sama gw" imbuh Dhika memperingatkan dengan senyuman.


"Masih inget aj lo, gw pikir lupa."


"Fa, kamu dirumah sama siapa?" teriak suara dari depan.


Dhika dan Ghufa pun menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


Tak lama Ryan muncul saat tangan Dhika masih berada di pucuk kepala Ghufa.


"Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2