Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Wanita Bule


__ADS_3

Ghufa masih memikirkan kalimat Ryan. Ia begitu kesal karena diberitahu secara mendadak perihal kepergiannya. Bahkan Ryan begitu santai mengatakannya. Seakan-akan ia hanya pergi ke bengkel lalu akan kembali setelah beberapa jam.


Dua minggu memang bukan waktu yang sedikit. Namun menyiapkan hati untuk perpisahaan dalam kurun waktu tak terbatas bukanlah perkara mudah. Walaupun ia pernah berpisah selama setahun. Namun hal itu dilakukan dengan kondisi ia tahu jika Ryan selalu ada disekelilingnya. Menjaganya, memperhatikan dan mengawasinya dari jauh. Tinggal menunggu kapan ia akan muncul kembali.


Dan hal itu terjadi saat ia pulang berboncengan dengan Dhika. Dhika menjadi jembatan dari sebuah hubungan yang sempat terputus. Dan sekarang Dhika juga alasan Ryan meninggalkannya. Sungguh sangat ironis. "Benarkah untuk menghindari keegoisan harus bertindak sejauh ini? Sedasyat inikah efek cinta? Bisa jugakan keegoisan hanya sebagai tameng dari sebuah kebosanan?" pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terpikirkan melintas begitu saja dalam pikiran Ghufa. Ia lebih mempercayai alasan ketiga dibanding yang lain.


"Kalau udah bosen bilang aja, ga usah pake alasan melupakan" teriak Ghufa kesal bercampur sedih. Ia menendang sofa dekat tangga untuk meluapkan emosi.


Tindakan Ghufa mengundang yang lain untuk berkumpul. "Kenapa lo dateng-dateng langsung teriak-teriak" tanya Queen yang duduk tak jauh darinya. Resti yang sedang dilantai dua juga turun kebawah saat mendengar keributan.


"Ga papa, cuma lagi kesel aja" jawab Ghufa setelah emosinya mereda.


"Tadi gw lihat lo ngobrol sama Ryan, apa dia penyebabnya? tanya Jenika yang muncul dari dapur. Ia membuatkan es selasih melon. "Nih diminum dulu, biar adem" ujar Jenika menyerahkan minuman buatannya.


"Makasih Jen" kata Ghufa yang langsung meneguh habis minumannya. Kesegaran minuman yang diteguknya membuat emosi Ghufa menjadi stabil.


"Ia gara-gara dia" Ghufa menjawab pertanyaan Jenika. "Kenapa dia?"


"Dia mau ke Jerman dua minggu lagi. Dan dia minta gw untuk menikmati liburan ini sebagai perpisahan."


"Jerman? dua minggu lagi?" ulang Resti memastikan.


"Iya, dan kemungkinan ga balik lagi."


"Apa? kok mendadak gitu?" tanya Queen.


"Mana gw tahu, bikin gw kesel aja" jawab Ghufa.


"Alasannya apa?"


"Katanya sih biar gw ga bingung lagi, biar gw bisa sama Dhika. Kalau dia ga pergi katanya dia bakal ganggu gw terus."


"Mungkin dia bosen" celetuk Jenika.


"Tu kan bener dugaan gw, gw juga mikir kayak gitu Jen!"


"Gw becanda Fa" sanggah Jenika panik. Ia tak menyangka celetukannya bisa menjadi bensin dalam kobaran api.


"Fa, jangan berpikir yang negatif dulu. Keputusan untuk pergi ke Jerman ga mungkin dadakan. Pasti sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Kalian kan sempat putus hubungan selama setahun. Mungkin keputusan itu diambil saat momen itu" jelas Resti mencoba menganalisa.

__ADS_1


Apa cuma itu kalimat yang diucapkan kak Ryan? tanya Resti janggal. Ia menduga Ghufa menyembunyikan sesuatu.


"Tadi sih dia sempet ngomong mau ngelamar gw sebelum pergi, kalau gw mau. Cuma kan kalian tahu, gw ga ada rencana mau nikah muda" jawab Ghufa yang hampir melupakam lamaran yang diterimanya.


"Trus reaksi dia gimana waktu lo nolak dia?" tanya Queen antusias. Hubungan cinta Ghufa sangat menarik perhatiannya. Bagaikan serial drama yang selalu menyuguhkan cerita yang seru.


"Gimana ya?" jawab Ghufa sembari mengingat peristiwa sore tadi.


***


"Kalau kamu ingin aku jadi milikmu, kenapa kamu melepaskan aku dengan laki-laki lain?" tanya Ghufa bingung dengan pola pikir Ryan. Cinta kan harus diperjuangkan, kenapa dia malah bertindak sebaliknya?


Ryan tersenyum mendengar pertanyaan Ghufa."Kalau aku bilang jika yang aku lalukan semua untukmu apa kamu percaya?"


"Maksudnya?"


"Oke, aku pergi untuk merancang dan meraih sebagian masa depanku. Selama ini aku selalu berpikir kamu akan selalu menjaga hatimu. Hanya ada aku dihatimu. Ternyata aku salah. Aku terlalu percaya diri. Rencanaku berantakan."


"Berantakan?"


"Aku berencana menikahimu setelah aku berhasil dengan sebagian masa depanku."


"Karena yang sebagian lagi ada di depanku saat ini" jawab Ryan. Ia mengatakannya sembari meraih jari Ghufa.


"Hah?" Ghufa tidak siap dengan ini semua.


"Fa, kamulah sebagian masa depanku. Kamu pelengkap hidupku."


Ghufa terdiam mendengar lamaran romantis yang baru saja diterimanya. Mungkin ini akan menjadi akhir yang sempurna untuk kisahnya jika tidak ada kemunculan Dhika.


Tapi kenyataanya ada Dhika dihatinya.


"Ini hanya rencanaku saja Fa, jangan terlalu dipikirkan" ungkap Ryan. "Kamu tahu? hati manusia sangat mudah berubah. Sekeras apapun itu ia bisa berpindah haluan begitu saja" imbuh Ryan.


"Apa kamu juga seperti itu?" tanya Ghufa.


"Aku belum menjalaninya, jadi aku tidak tahu jawabannya" jawab Ryan jujur.


"Apa kau akan jatuh cinta dengan gadis pirang bermata biru?" tanya Ghufa lagi.

__ADS_1


"Untuk apa membahas sesuatu yang belum terjadi. Sebaiknya kamu kembali ke cottage sekarang. Bukannya kalian mau main voli pantai?" jawab Ryan mengingatkan acara liburan mereka.


Mau bareng? tawar Ryan yang langsung ditolak Ghufa.


"Duluan aja"


"Happy holidays" ucap Ryan sebelum meninggalkan Ghufa yang masih terpaku ditempatnya.


***


"So sweat banget sih kak Ryan. Romantis banget. Kalau ga ada Dhika dalam hubungan kalian. Pasti dia ngelamar lo nya Fa sambil ngasih cincin berlian" ujar Queen yang masih tekesima dengan cerita Ghufa.


"Kalau penurut gw sih, Ryan sekarang ngebebasin lo Fa untuk ngejalanin apa yang lo suka. Ga ada yang tahu kedepannya seperti apa. Lo sama Dhika kan baru akan menjalani langkah pertama sebuah hubungan. Saran gw nikmati dan jalani aja yang ada didepan mata" ujar Resti setelah mendengar cerita Ghufa.


"Kalau disana dia naksir cewek bule gimana?" tanya Ghufa tidak rela.


"Jawabannya simple. Kalian ga jodoh" jawab Queen yang mendapat tatapan tajam Ghufa.


"Fa, jangan mulai lagi deh egoisnya. Ryan berhak menjalin hubungan dengan siapa saja. Lo kan nolak lamarannya. Beda cerita kalau lo nerima perasaanya" ujar Jenika.


"Lo aja bisa sama Dhika kenapa dia ga boleh sama cewek bule?" imbuh Jenika sembari mengusap lembut kepala Ghufa.


Ghufa menghela nafas kasar, "baiklah liburan ini harus gw manfaatkan dengan sebaik-baiknya" batin Ghufa.


Ghufa beranjak ke kamar untuk mengganti bajunya dengan kaos berwarna mint dan celana putih. Kaos polos pas body dengan gambar ombak besar yang sedang begulung dipadukan dengan celana pendek lima senti diatas dengkul berbahan katun linen dengan ikatan ditengahnya melengkapi penampilan Ghufa. Ia sebenarnya ingin menggunakan hot pants agar telihat lebih seksi. Namun diurungkan karena malas mendengar ocehan Ryan nantinya.


Setelah selesai mengolesi area tubuhnya dengan segala bentuk macam perawatan tubuh. Ia siap untuk bermain. Dengan rambut terurai ia turun kebawah untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Yuk", ajak Ghufa.


"Foto dulu kita," pinta Queen sebelum beranjak dari cottage.


Bi Sri menjadi juru kamera mereka. Berbagai pose mereka lakukan didalam dan diluar cottage.


"Kalian mau foto-foto sampai kapan?" sapa Rendi mendekat.


"Seksi banget sih kamu beb," komentar Rendi kepada Resti.


"Kemana aja mata kamu selama ini? baru sadar kalau aku seksi" jawab Resti dengan nada menggoda. Ia tidak marah baru dibilang seksi setelah satu tahun berhubungan.

__ADS_1


"Gombalan receh," celetuk Ghufa sembari meninggalkan satu-satunya pasangan yang ada.


__ADS_2