Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Memanfaatkan kejadian lain


__ADS_3

Ghufa masuk ke dalam pagar rumahnya dengan gontai, ia tak menyangka kak Bimo akan menciumnya seperti itu. Saking lemas tubuhnya akibat insiden di dalam mobil, ia sampai terjatuh karena tersandung batu. Tubuhnya belum betul-betul stabil hingga ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan sempurna.


Karena Queen sedang menggunakan kamar mandi di lantai atas, Ghufa akhirnya menunggu Resti di ruang tamu. Rencana berubah seiring dengan peristiwa yang terjadi diluar dugaan. Ghufa sedang mengobati lukanya saat Resti tiba.


Fa, lo jatuh? tanya Resti panik. Ia.


Jatuh dimana?. Di depan.


Hah, di depan rumah lo sendiri?. Iya.


Kok bisa? Kesandung batu.


What? kesandung batu aja lo bisa jatuh? ini pasti lo jalannya sambil merem.


Ghufa pun mengiyakan asumsi Resti karena tidak mungkin ia menjelaskan kejadian yang sebenarnya sekarang. Bisa gagal rencananya jika itu terjadi.


Res?. Apa?


Lo lagi ngeintrogasi maling apa lagi nanya keadaan gw?


Siapa suruh lo gw telpon ga diangkat di wa ga dibales.


Gw kan lagi di jalan. Rendi mana?


Ia pergi sebentar jemput kak Bimo.


Jemput? tanya Ghufa dengan mimik dibuat heran.


Tadi waktu mau kesini, kak Bimo telepon Rendi minta dijemput di bengkel.


Kenapa?. Katanya mobil kak Bimo ditabrak, gw juga belum tahu detail ceritanya, nanti aja di rumah.


Ohh, jawab Ghufa singkat, ia segera merapikan kotak P3Knya dan meletakkan kembali di tempatnya.


Mama sudah menghidangkan susu coklat hangat dan roti bakar ketika Ghufa kembali ke ruang tamu.


Tante ga suka ya klo hidangan tante ga dihabiskan, ucap mama kepada Resti.

__ADS_1


Jangan khawatir tante, pasti Resti lahap sampai bersih, ujar Resti dengan senyum yang dipamerkannya. Yaudah, tante tinggal dulu. Kalian terlihat lebih fresh dengan potongan rambut yang sekarang, ucap mama sebelum meninggalkan mereka berdua.


Ghufa duduk dengan hanya memandang minuman dan makanan yang disajikan mamanya dengan pandangan kosong. Ia masih belum bisa bersikap normal. Resti pun menyadarinya, ia memprediksi bahwa telah terjadi sesuatu yang menggunjang jiwa Ghufa. Sejak ia tiba di rumah Ghufa, pandangan mata Ghufa terlihat tidak seperti biasa. Namun sepertinya Ghufa berusaha menutupi itu semua.


Fa, apa terjadi sesuatu? tanya Resti yang sudah duduk disamping Ghufa. Hah, kenapa? tanya balik Ghufa yang sedari tadi memang sedang melamun.


Apa terjadi sesuatu diperjalanan tadi? tanya Resti dengan menggengam tangan Ghufa. Ia merasakan hawa dingin dan sedikit getaran ketika menggengam tangannya. Ghufa menyadari jika Resti mulai curiga, ia segera melepaskan genggaman tangan Resti dan pindah duduk yang agak jauh darinya. Hal itu membuat Resti semakin yakin telah terjadi sesuatu. Ia tadi sempat memeriksa denyut nadi Ghufa. Frekuensinya sangat tidak normal. Apa yang membuat Ghufa ketakutan hingga tubuhnya memberikan reaksi seperti itu? Apalagi bibirnya terlihat seperti habis dicium paksa. Apakah di jalan ia mendapat perlakuan pelecehan? lalu saat hendak kabur ia terjatuh. Benar, pasti seperti itu. Luka di lututnya pasti karena hal itu, pikir Resti mencoba untuk menebak. Ia juga yakin jika Ghufa sekarang tidak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tapi ia sangat penasaran sekali.


Resti mulai memainkan triknya, ia bersikap lebih santai agar Ghufa tidak merasa terpojok. Ia memakan roti bakarnya dan meminum susu coklat dengan perlahan, ia sengaja memperlambat keadaan agar Ghufa rileks kembali.


Perang mengontrol keadaan sering mereka lakukan dan lebih sering dimenangkan oleh Resti. Ghufa berpikir keras agar ia tidak masuk jebakan Resti. Ia mencoba melupakan sejenak kejadian yang menguras emosi dan jiwa raganya.


Ia mendekati Resti yang sedang asyik mengunyah roti bakar. Res, gw tahu lo pasti curiga klo terjadi sesuatu sama gw. Tebakan lo bener. Emang terjadi sesuatu, cuma gw belum bisa cerita sekarang. Gw sendiri aja masih syok. Gw butuh waktu. Lo tenang aja, ini bukan masalah besar, ujar Ghufa menjelaskan.


Fa, siapa yang lo mau bohongin? ucap Resti yang tahu jika masalahnya tidak sesederhana ini. Fa, lo pikir pelecehan seksual adalah masalah kecil?


Siapa yang dapat pelecehan seksual? tanya Ghufa heran.


Lah tadi lo ngomong tebakan gw bener.


Emangnya tebakan lo sampai sejauh itu?


Bukannya menjelaskan, Ghufa malah teringat kejadian kak Bimo yang menyerangnya. Apakah itu bisa dikatakan pelecehan? batin Ghufa. Tanpa Ghufa sadari air matanya mulai mengeluarkan air mata. Ia berusaha untuk menahan emosinya, agar air matanya berhenti mengalir. Namun sia-sia. Ia menangis dipelukan Resti. Resti hanya diam, tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu yang dibutuhkan Ghufa untuk saat ini adalah sandaran. Ia menepuk-nepuk lembut punggung Ghufa, memberikan aliran kehangatan untuk memberitahunya bahwa ia tidak sendiri. Setelah puas menangis, ia kembali duduk dengan normal. Dihapusnya air mata yang masih membasahi pipinya. Res, udah malam, istirahat gih, besok kan kita jalan pagi. Jangan sampai yang punya acara malah kesiangan, ucap Ghufa mengusir Resti secara halus.


Fa, gw bisa kok nginep disini. Klo lo butuh temen untuk...


Ga Res, ujar Ghufa memotong pembicaraan Resti. Sekarang lo pulang, liat, ucap Ghufa menunjuk dirinya sendiri. Gw belum bersih-bersih, lo juga. Lebih baik kita istirahat di rumah masing-masing. Lagi pula besok kita bakal ngabisin waktu 3 hari 2 malam. Nanti lo bebas klo mau ngeintrogasi gw, lanjut Ghufa menyakinkan Resti.


Tapi lo belum cerita sama gw apa yang terjadi? ucap Resti menolak pengusiran dirinya. Lo liat gw sekarang, apa gw kelihatan depresi? enggakkan? Gw juga udah bilang, besok lo boleh tanya gw sesuka hati lo. Nah sekarang lo pulang, ucap Ghufa sembari menarik tubuh Resti.


Tunggu-tunggu, gw habisin susu coklatnya dulu. Bisa diambekin gw nanti sama nyokap lo klo ga gw ngabisin sajiannya. Walaupun masih ada perasaan yang mengganjal, Resti hanya bisa pasrah ketika Ghufa sudah mengusirnya. Ghufa mengantar Resti sampai depan rumah. Kebetulan sekali Rendi sudah datang untuk menjemput.


Pas banget kamu datangnya, jadi aku ga perlu jalan kaki, ucap Resti.


Udah puas kan sekarang kamu. Tuh liat Ghufa ga kenapa-napa kan, ujar Rendi.


Iya iya, aku puas. Kak Bimo mana?

__ADS_1


Nunggu di mobil dia.


Ohh, yaudah, Fa gw balik dulu ya, jangan lupa besok, pamit Resti.


Iya, tenang aja. Gih sana pulang.


Dih, ngusir, ucap Resti senang karena Ghufa sudah seperti biasa kembali. Mungkin kejadiaannya tidak seseram itu, batin Resti.


Hufhht, akhirnya bebas juga dari si mata elang, Ghufa kamu memang pandai, ucap Ghufa memuji sendiri. Ia segera menuju kamarnya untuk bersih-bersih. Namun saat akan menaiki tangga, tiba-tiba mama muncul.


Ghufa, apa benar yang dikatakan Resti klo kamu tadi mendapat pelecehan seksual? tanya mama khawatir. Mama tadi mendengar percakapan kalian. Tadi mama mau langsung ikut nimbrung, tapi waktu liat kamu nangis dipelukan Resti. Mama mundur.


Untung mama mundur, klo enggak, bisa heboh seisi rumah, jawab Ghufa yang berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.


Jadi bener kamu dilecehin orang? tanya mama panik, kamu diapain sama orang itu.


Ma ma ma, Ghufa ga dilecehin. Itu semua cuma akting, besok Resti kan ulang tahun. Kita ngerjain dia, gitu? ucap Ghufa memberi pengertian mamanya.


Tapi sayang, kamu tadi keliatan seperti orang ling lung loh.


Ma, Resti itu pintar, susah ngelabuin dia klo aktingnya ga maksimal. Lagi pula kan tadi Ghufa pulang bareng Queen dan Jenika, diantar sama kak Bimo pula. Mana ada kejadian pelecehan.


Luka kamu dapat dari mana? tanya mama yang ingin tahu lebih.


Klo ini mah, tadi Ghufa jatuh di depan rumah. Makanya ni bibir juga ikutan jontor, jawab Ghufa dengan penuh keyakinan.


Yaudah kalau gitu, tapi kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, mama minta kamu langsung cerita ke mama.Terus kalau jalan itu hati-hati, masa di rumah sendiri bisa jatuh sampai bibir dower gitu.


Iya ma iya.


Sekarang kamu bersih-bersih. Klo kamar mandinya masih dipakai, kamu mandi di kamar mandi bawah atau di kamar mama saja.


Iya mamaku sayang, ucap Ghufa sembari memeluk mama. Ghufa keatas dulu ya, pamit Ghufa. Maafin Ghufa ma, udah bohong sama mama, batin Ghufa di dalam hatinya.


Ghufa melihat kondisi bibirnya yang telihat jedir. Pantesan aja Resti bisa ngomong pelecehan seksual. Pasti dia mikir gw dicium paksa. Walaupun kenyataannya begitu. Ganas banget kak Bimo nyium gwnya. Untung aja tadi gw jatuh. Jadi bisa dijadiin alesan.


Lupakan lupakan lupakan, tanam Ghufa dalam hatinya. Gw harus ngerahasiain masalah ini. Bisa perang antar keluarga klo sampai ketahuan.

__ADS_1


Ghufa pun langsung membersihkan dirinya dengan air hangat. Air dari pancuran yang membasahi tubuhnya membuat ia lebih rileks, uap yang muncul memberikan kesegaran tersendiri. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia menuju kamar tamu tempat Queen dan Jenika menginap.


__ADS_2