
"Indahnya" gumam Ghufa.
Ryan menoleh untuk memperhatikan wajah Ghufa yang sedang bersender padanya. Ia tersenyum melihat cerahnya wajah pemilik hatinya.
"Senyummu lebih indah" bisik Ryan. Bisikan Ryan membuat Ghufa memperhatikan garis wajah pria yang telah memberikan warna pada hidupnya. Rasa nyaman akan perasaan disayang dan dikasihi sudah melekat dan terbiasa ia terima. Kebahagian dan kesedihan yang pernah diberikannya terlalu membekas di hatinya. Dan sekarang ia akan pergi. Dapatkah aku menjalaninya?. "Yan" panggil Ghufa.
"Hmm" balas Ryan yang menolehkan kepalanya sembari mengelus rambut Ghufa. "Kenapa?" tanya Ryan.
"Kamu ganteng"? jawab Ghufa. Yang lain saling pandang dan mengerlingkan kedua bola matanya saat mendengar jawaban Ghufa.
"Ni anak kesambet apaan?" batin Resti geli.
"Apa tadi waktu gw cemurin, dia kepentok sesuatu ya?" ingat-ingat Queen akan tindakannya ke Ghufa.
"Seperti inikah jika kita memiliki rasa cinta? tapi kenapa berbeda dengan yang kurasakan terhadap kak Bimo?. Apa yang kurasakan belum sampai tahap cinta? lalu baru sebatas mana levelku?. Mengaguminyakah?. Arghhhh, rumit sekali." batin Jenika yang pusing sendiri.
Sedangkan Bimo hanya tersenyum tanpa melihat kearah yang bersangkutan.
Ryan meletakkan telapak tangannya di kening Ghufa. "Normal."
"Kamu pikir aku abnormal" ucap Ghufa tidak terima. "Sebagai hukuman, kamu harus gendong aku sampai cottage." tambahnya.
"Bilang aja kalau minta digendong."
"Jangan banyak bicara, laksanakan saja hukumanmu" perintah Ghufa.
Tanpa membuang waktu, Ryan menggendong Ghufa di punggungnya tanpa mempedulikan yang lain.
"Temen lo kenapa Res?" tanya Queen setelah Ryan pergi.
"Temen lo jugakan Queen!" balas Resti.
"Biarkan Ghufa melakukan sesuatu yang ia mau, kalian tahu kalau Ryan mau pergikan?" tanya Rendi yang ikut gabung.
"Bener juga, ternyata Ghufa mau manja-manjaan dulu" pikir Resti.
"Beib, kamu mau aku gendong juga kayak Ghufa?"
"Emangnya kamu juga mau pergi?" jawab Resti yang sudah beranjak dari tempatnya.
"Apa aku harus pergi dulu, baru kamu minta gendong?" ucap Rendi yang menyusul Resti.
"Kalian masih mau disini?" tanya Bimo kepada Queen dan Jenika.
__ADS_1
"Gak lah kak, bisa masuk angin kalau kelamaan disini" jawan Queen.
"Yaudah, yuk" ajak Bimo.
***
Mereka semua berkumpul di sofa sembari menonton televisi. Menunggu intruksi untuk makan malam dari para pria.
"Ini kenapa kita yang nunggu ya? dimana-mana tuh pria yang menunggu wanita" oceh Queen yang sudah tidak sabar untuk makan. Lari-larian dan main air membuat tubuhnya lelah dan lapar.
"Sabar Queen, mungkin mereka mengurus hal lain terlebih dahulu" ujar Jenika menenangkan Queen.
Tok tok tok,
"Itu dia" sambut Resti dengan suka cita. Ia bergegas untuk membukakan pintu dan ternyata benar dugaannya, Rendi yang mengetuk pintu.
"Maaf lama, beib" ujarnya sembari mencium kening Resti.
"Ga papa, pasti kamu ngurus tempatnya dulu kan!" tebak Resti yang mendapat anggukan Rendi.
"Yuk guys" ajak Resti kepada yang lainnya.
Sampai di Restoran, Bimo dan Ryan sudah duduk disana. Hidangan pun sudah semua tersaji. Mereka segera duduk pada tempatnya. Dua meja yang digabung menjadi satu memberi ruang lebar bagi mereka agar lebih leluasa. Satu meja biasanya dikelilingi enam kursi. Namun meja mereka hanya disusun delapan kursi saja.
Letak meja yang dipinggir ruangan memberikan pemandangan laut dan suara ombak yang menderu.
"Kita yang kelaparan atau memang masakannya yang enak? bersih banget piring-piringnya" komentar Ghufa yang melihat hasil dari keganasan mereka. Ia pun bersender pada dikursi karena perutnya yang terasa penuh.
"Dua-duanya menurut gw" jawab Jenika.
"Kalian tunggu dulu aja disini, kita ngebul dulu" pamit Rendi. Ia, Ryan dan Bimo bergegas keluar restoran untuk merokok. Sebenarnya mereka bisa saja merokok di dalam, karena tempat yang mereka pesan adalah smoking area. Namun karena menghormati para ladies yang benci asap rokok, maka mereka memilih untuk merokok di luar.
"Fa, lo kenapa manja banget sama kak Ryan?" tanya Queen yang mulai kepo.
"Pertanyaannya ga ada yang lebih berbobot?" tanya balik Ghufa. "Kalian kan tahu gw manja, kenapa malah tanya kenapa?" imbuhnya.
"Maksud gw bukan itu, tapi yang lain?"
"Gw cuma mau nikmatin liburan gw, ya seperti yang kalian bilang kalau hati gw seperti bunglon, menyesuaikan sedang bersama siapa."
"Parah lo Fa?" ucap Jenika.
"Status gw kan masih available Jen, jadi bebas mau sapa siapa?"
__ADS_1
"Terserah lo aja deh Fa"
"Btw, kita jadi main Truth or Dare?" tanya Queen kepada Resti.
"Jadi dong, tempatnya juga udah disiapin. Paling setelah ini kita kesana."
"Hukumannya apa kalau ga mau jujur atau ga bisa ngelakuin tantangannya?" tanya Ghufa.
"Kalau gw kasih tau sekarang yang ada lo bakal memilih dihukum dibanding ngelakuin permainannya" jawab Resti yang sudah mengetahui rencana Ghufa.
"Tega lo"
"Bo..do" jawab Resti dengan intonasi dipanjangkan.
"Sudah siap menuju meja terdakwa?" tanya Rendi ditengah-tengah pembicaraan Resti dan Ghufa.
Ghufa melirik sekilas kearah Rendi yang tersenyum kepadanya. "Senyum lo mencurigakan banget Ren! kayak senyum orang yang akan mencuri sesuatu dari orang yang disenyumin" jelas Ghufa.
"Bahasa lo ribet banget Fa, lebih simple kalau ngomonganya senyum maut diberikan kepada korban sebelum melakukan aksinya" koreksi Queen.
"Banyak komen lo Queen"
"Sensi banget sih yang mau disidang" goda Queen senang.
"Jangan ribut disini, malu" kata Jenika menengahi.
Mereka beranjak ketempat gazebo yang lebih luas, dengan tirai yang menutupi bagian depan dan belakang sehingga terbebas dari nyamuk maupun serangga. Di tengah-tengah gazebo terdapat meja makan lesehan yang dibawahnya terdapat ruang untuk kaki lebih rileks.
Botol kosong, cemilan, buah potong dan minuman sudah tersedia di meja.
"Bi Sri memang top markotop" puji Queen melihat hasil kinerja asisten rumah tangga keluarga Resti.
Mereka duduk dengan posisi pria pada sisi kanan dan wanita pada sisi kiri. Rendi setuju dengan permintaan Resti yang ingin memainkan permainan truth or dare. Jenis permainan konyol yang tak akan pernah mau dimainkannya. Namun karena ia ingin menguji kejujuran Resti tentang niatnya untuk memutuskan hubungan dengannya ia bersedia melakukan ini semua.
"Kalian main aja berempat, kita cukup jadi saksi" ucap Ryan mewakili para pria.
"Kak Ryan menyembunyikan sesuatu dari Ghufa?" tanya Resti.
"Enggak"
"Kalau gitu kita mulai permainannya, kita semua berhubungan jadi jangan ada alasan untuk menghindar."
"Kakak tidak ada hubungan dengan kalian. So, kakak bebas" ujar Bimo.
__ADS_1
"Siapa bilang, kak Bimo juga ada hubungannya kok" jelas Resti sembari menatap kakaknya tajam
Bimo merasa tatapan adiknya seperti pisau yang siap untuk menerkamnya. Perasaannya mengatakan akan ada badai dalam permainan ini.