Perjalanan Cinta Ghufa

Perjalanan Cinta Ghufa
Rencana Liburan


__ADS_3

"Kenapa lo baik sama gw?" tanya Ghufa heran dengan jalan pemikiran Ryan yang diluar nalarnya.


"Ya karena gw cinta" jawab Ryan dengan tegas.


"Kenapa cinta lo ga egois kayak yang lainnya? Kenapa lo masih ngijinin gw deket sama Dhika? Kenapa lo ga ada perasaan cemburu? Lo sebenarnya serius ga sih? apa lo cuma mau mainin gw?" tanya Ghufa dengan bertubi tubi.


"Apa masih perlu gw jawab?" tanya Ryan dengan sorot mata elangnya, lalu diraihnya tangan Ghufa dan digenggamnya, "setiap orang punya cara sendiri untuk mencintai, dan aku bukan tipe pengekang, kamu masih muda, masih labil, dan punya rasa penasaran tinggi. Aku kenal kamu dari kecil, aku tahu kamu kayak gimana, semakin dilarang semakin gigih pula kamu mencobanya. Nanti kamu pasti akan bohong lagi, klo aku terlalu banyak melarang" jelas Ryan dengan kerlingan nakal.


"Seburuk itu kah sifat gw?.... eh aku.. eh," ucap Ghufa merasa aneh dengan perubahan panggilan yang dilakukan Ryan, dan bodohnya ia mengikuti.


"Aarrrhh ga bisa ga bisa, kenapa jadi aku kamu sih, kan jadi aneh.. gw lo aja ah kayak biasa."


"Ssst" Ghufa langsung diam saat jari telunjuk Ryan menekan bibirnya.


"Gadis penurut" ucap Ryan sambil mengelus elus rambut Ghufa.


"Pilihanku memang tepat, tanpa diminta secara naluri kamu sudah patuh."


***


Besoknya, Ghufa diantar Ryan ke sekolah.


"Yan, aku bisa berangkat sekolah bareng Resti, kayak biasa. Kamu ga perlu anter" protes Ghufa keberatan karena dijemput Ryan.


"Kenapa? kesel sama aku karna ga bisa liat muka Bimo?"


"Kok kamu tau sih, nyebelin banget, kenapa kamu selalu tahu tentang aku?


jangan-jangan Resti mata mata kamu ya? Wah penghianat."


"Dia sahabat kamu, apa kamu pikir dia akan berhianat?"


"Ya masa kak Bimo yang ngomong, lebih gak mungkin."


"Kenapa kamu gak berpikir klo aku punya indra keenam, bukannya lebih masuk akal?" jelas Ryan membuat Ghufa menatapnya.


Tatapan mereka bertemu sepersekian detik sebelum Ryan mengalihkannya. Ia fokus kembali ke jalanan yang sudah memasuki area padat lalu lintas. Hujan yang tiba tiba turun membuat kemacetan semakin parah karena banyak mengendara motor berhenti untuk mengenakan jas ujan.


"Kak Bimo jadi penyemangat aku sejak kejadian malam itu, dia menggantikan posisi kamu" ujar Ghufa memberi jeda. "Benar banget teori tentang cara ampuh menyembuhkan patah hati adalah orang baru. Aku juga tahu dari Resti klo sebenarnya Kak Bimo sudah menyukaiku sejak dulu. Namun sampai sekarang dia tak pernah mengungkapkan perasaannya" jelas Ghufa kembali mengingat masa lalu dan tampak sekali raut kecewa diwajahnya.


"Kecewa ya?" tanya Ryan sinis. "Bimo itu tipe Pejuang, dia ga akan memanfaatkan keadaan kamu yang sedang jatuh untuk masuk. Jika dia mengungkapkannya, sudah jelas pasti kamu akan menerima dia dengan suka cita. Makanya setelah kamu terlihat mengharapkannya ia perlahan lahan mundur."


"Sok tau banget kamu."


"Aku kasih tau sesuatu, klo kamu ingin tahu kelemahan lawanmu kamu harus berteman dengannya" ucap Ryan licik.


"Wah parah, emang bener-bener saingan ya kalian?" ucap Ghufa mengeleng-gelengkan wajahnya karena heran dengan cara unik mereka dalam berteman.


"Klo memang seperti itu kenyataannya. Kalian berdua tu punya cara yang sama untuk mencintai seseorang. Dimana mana klo suka ya ingin memiliki, nah ini yang satu menjauh yang satu malah nyodorin orang lain. Aneh."

__ADS_1


"Pengen banget ya ditembak" goda Ryan membuat Ghufa salah tingkah.


"Siapa yang pengen jadian, sanggah Ghufa malu-malu."


"Itu tadi ngasih kode."


"Udah ah, ucap Ghufa memalingkan wajahnya. Menghindar dari tatapan maut dari orang yang sudah mencuri first kissnya. Bahaya." pikirnya.


***


Sesampainya di kelas, Ghufa langsung duduk ditempatnya. Ia mengeluarkan buku catatannya untuk dibaca ulang. Seminggu kedepan akan dilakukan try out, untuk memastikan kesiapan murid sebelum menghadapi Ujian Akhir Semester.


"Wuih pantes diluar ujan, ada yang lagi belajar nih' ledek Resti yang baru tiba.


"Masih pagi, jangan cari pekara, udah belajar belum lo?" tanya Ghufa sembari merem melek untuk menghafalkan teori-teori yang sudah dibacanya.


"Masalah gampang itu" ucap Resti dengan bangga.


"Susah emang klo dari lahir udah pinter."


"Jiah, sewot, ini anugrah cinta, setiap orang tuh punya kelebihan masing-masing. Asal pinter ngemanfaatinnya aja" lanjut Resti.


"Sok bijak lo, geli gw" ucap Ghufa masih asik dengan aktifitas merem meleknya.


"Mulut lo Fa, pedes banget" sindir Resti yang senang mengganggu konsentrasi Ghufa.


"Nanti aja kabar baiknya, gw lagi ngapal, lo jangan ganggu gw dulu" tolak Ghufa.


"Alah, pura-pura belajar aja lo, biar disangka anak pinter kan sama Dhika, udah kebaca kartu lo."


"Sialan lo, gw bener belajar tau, dan gw emang pinter" sanggah Ghufa tak terima perkataan Resti.


"Klo pinter ga usah belajar oon."


"Karena belajar gw jadi pinter oon."


Dan akhirnya Ghufa tidak jadi belajar dan Resti belum menceritakan kabar baiknya. Mereka sibuk adu mulut sampai bel berbunyi.


***


Suasana kantin bertambah riuh setelah try out dimulai, banyak suara suara penyesalan dan suara penuh keyakinan dengan jawaban mereka. Hampir semua meja membahas soal ujian dan jawabannya. Tapi tidak dengan meja bundar yang terletak di tengah tengah kantin. Penghuni disana tertunduk lesu. Disampingnya pun ada seseorang yang terlihat asing sedang sibuk meminta maaf.


"Siapa tuh Res?" tanya Ghufa penasaran akan sosok tersebut, seperti familiar namun sangat sulit mengingat namanya.


"Kayak Sasa, ngapain dia disitu, yuk buruan jalannya" ajak Resti. Mereka pun segera menghampiri meja yang dimaksud.


"Queen, lo kenapa nunduk gitu" sapa Ghufa setelah tiba, Sasa pun mengucapkan kembali permintaan maafnya dan beranjak pergi.


"Kenapa dia minta maaf" giliran Resti yang bertanya. Bukannya menjawab, Queen malah menghentak hentakan kaki dengan keras, ia terlihat sangat marah dan kesal. "Awas aja klo nilai dia lebih bagus" ucap Queen dengan ancamannya.

__ADS_1


Ghufa dan Resti hanya saling pandang tidak mengerti. Akhirnya Ghufa pun bertanya pada Jenika apa yang terjadi karena sepertinya Queen tak akan menjelaskan duduk perkaranya.


"Jadi tadi pas ujian Sasa nanya jawaban ke Queen, dan Queen meletakkan lembar jawabannya di pinggir meja agar Sasa bisa membacanya. Tapi tiba-tiba kepala Sasa dijitak dan kertas jawaban Queen dirobek sama Pak Samsu. Dan kejadiaanya 5 menit sebelum selesai waktunya." jelas Jenika menceritakan kronologinya.


"OMG, kok ga adil sih, kenapa cuma kertas jawaban Queen yang dirobek, yang nyontek cuma dapat jitakan doang?" ucap Ghufa prihatin dengan nilai Queen.


"Dan lo belom selesai nyalin semua jawabannya' tebak Resti yang mendapat anggukan Queen. "Untuk apa mendapatkan nilai bagus kalau dari hasil menyontek, lebih baik nilai jelek tapi hasil usaha sendiri, kejujuran tuh harus ditegakkan. Dimulai dari diri kita sendiri" ucap Resti yang mengomentari tindakan Sasa.


"Sabar ya Queen, ini kan baru try out, presentasi nilainya sama kayak nilai tugas, ga terlalu berpengaruh besar sama hasil akhir nanti" ucap Ghufa menghibur Queen. "Nilai tugas lo kan selalu sempurna, jadi klo sekarang keseleo sedikit ga akan berpengaruh banyak" lanjut Ghufa.


Queen pun akhirnya tersenyum mendengar Ghufa mengibaratkan kejadian yang ia alami dengan kata keseleo.


"Terima kasih ya, kalimat kalian buat gw semangat lagi, apalagi bahasa lo Fa, walaupun nyeleneh tapi gw suka" ucap Queen memeluk Ghufa yang duduk disampingnya. "Gw ga dipeluk juga?" ucap Resti yang langsung ditarik badannya agak bergabung dalam pelukan.


"Gw punya kabar gembira untuk kita semua" ujar Resti meminta perhatian setelah acara peluk memeluk.


"Kabar baik yang tadi lo mau ceritain ke gw?" tanya Ghufa yang sempat melupakannya.


"Iya dan kalian tau apa?"


"Yeeee, mana kita tau, lo aja belum cerita" ucap Ghufa kesal karena merasa dipermainkan.


"Lo nya aja yang ga mau denger tadi" bela Resti.


"Udah udah, kalian bedua nih, berantem mulu kerjaannya. Resti cepet cerita kabar baiknya, jangan bikin kita penasaran" kata Jenika.


"Oke ladies, jadi buat ngerayain ulang tahun gw yang ke 17, orang tua gw ngizinin gw bikin party di Pulau Umang. Cuma kita tanpa orang tua tentunya, tapi kak Bimo sama Bi Sri ikut" kata Resti menjelaskan.


"Asyik, bakalan seru nih, tapi tunggu, kak Bimo ga mungkin sendiri kan, dia bawa rombongannya juga kan" ujar Ghufa memastikan.


"Klo yang lo maksud Ryan, Ya dia ikut."


Ghufa senyum senang dihatinya mendengar jawaban Resti.


"Boleh gw bawa Kevin?" tanya Queen yang menaikan turunkan alisnya.


"Boleh dong" jawab Resti sambil tosan dengan Queen.


"Ini acara kita apa acara double date kalian. Kenapa cuma gw sendiri yang ga punya pasangan" ucap jenika. "Nasib seorang jomblo" lanjut Jenika meratapi kejombloaannya.


"Gw juga jomblo Jen, klo lo lupa" ucap Ghufa mengingatkan Jenika.


"Ryan mau lo kemanain" ucap Resti tak terima statement kejombloan Ghufa.


"Wait, Fa, lo sukanya sama Dhika atau Ryan sih sebenarnya" tanta Queen dengan suara pelan.


Ghufa menatap ketiga sahabatnya yang membalas tatapannya dengan rasa penuh ingin tahu.


"Gw suka dua duanya."

__ADS_1


__ADS_2