
"Fa, lo kok bengong aja sih dari tadi
untung Bu Dian gak ngeh" tanya Resti khawatir, karena sejak kembali ke kelas Ghufa bersikap aneh.
"Ga papa kok gw" jawab Ghufa menenangkan Resti yang terlihat cemas.
"Serius Fa? Masalahnya gw hari ini ga bisa pulang sama lo nih, gw dijemput Rendi" jelas Resti sembari mengambil ponsel ditas untuk menghubungi dan mengubah tempat jemputan.
"Lo mau telpon Rendi?" tanya Ghufa ketika melihat phone dial Resti. Ghufa langsung merebut ponsel Resti dan memutus sambungan teleponnya.
"Gw ga papa Res, serius deh. Lo klo mau pergi ma Rendi, pergi aja. Gw bukan anak kecil yang ga bisa pulang sendiri."
"Yaudah, tapi gw tetep ga bisa ngebiarin lo pulang sendiri. Gw wa Ryan biar jemput lo ya? Ga usah protes" kata Resti saat melihat Ghufa yang hendak menolak.
"Gw aja yang anterin Ghufa, Res"
"Lo mau kan gw anterin Fa?" tanya Dhika tiba-tiba.
Resti langsung memandang Ghufa dan Dhika secara bergantian, karena tidak ada penolakan dari Ghufa, Resti mengiyakan tawaran Dhika dan langsung meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Di parkiran sekolah.
"Fa, dipakai dulu helmnya" Dhika menyerahkan helm kepada Ghufa.
"Lo selalu bawa dua helm Dhik?" tanya Ghufa sambil memasang helmnya.
"Iya, kenapa? mau gw anterin tiap hari?"
"Enggak lah, mau dikemanain Resti. Gw cuma heran aja."
"Gw punya feeling, suatu saat gw akan nganterin seseorang pulang" ujar Dhika. Ia mengatakannya dengan menatap mata Ghufa.
"Bisa aja lo jawabnya" jawab Ghufa yang jadi salah tingkah ditatap seperti itu.
"Yaudah, ayo naik, pegangan ya?" pinta Dhika. Ia menarik tangan Ghufa untuk memeluk pinggangnya setelah Ghufa duduk nyaman dibelakangnya.
"Dhik, gw pegangan jaket lo aja ya, ga nyaman gw klo meluk lo. Lagi pula gw takut ada yang marah nanti" tolak Ghufa karena dia memang merasa aneh melakukan itu, walaupun sebenernya ia ingin sekali namun ia tahan.
"Lo pegangan senyaman lo aja. Dan yang lo takutin ga bakal terjadi."
"Maksud lo?"
"Ya ga bakal ada yang marah klo lo mau meluk gw" ujar Dhika menjelaskan. Secara tidak langsung Dhika memberitahu status singlenya.
"Maaf ya, untuk saat ini gw lebih nyaman begini, lo ga marah kan?"
__ADS_1
"Kenapa gw mesti marah?" tanya Dhika heran dengan pertanyaan Ghufa.
"Ya karena gw ga ngelakuin sesuatu yang lo pengen"
Dhika tersenyum mendengar jawaban Ghufa. Pola pikirnya membuat ia tertarik untuk mengenalnya lebih. "Mungkin sekarang lo ga nyaman aja Fa, tapi suatu saat lo bakal ngelakuin itu kok tanpa gw minta"
Ghufa terdiam mendengar perkataan Dhika. Jika diartikan, perkataan Dhika memberinya kode jika mereka akan mempunyai hubungan suatu saat nanti.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu selain arah jalan menuju rumah Ghufa. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Makasih Dhik" kata Ghufa saat ia sudah turun dari motor dan mengembalikan helm.
"Sama-sama. Fa" panggil Dhika ketika Ghufa ingin beranjak pergi.
"Ya" jawab Ghufa yang menghadap Dhika kembali.
"Rambut lo berantakan" kata Dhika merapikan rambut Ghufa. Ia juga menyelipkan rambut di belakang telinganya. Sentuhan tangan Dhika di telingganya membuat semburan merah mulai menjalar di wajah Ghufa. Kulitnya yang putih membuat rona merah di pipinya terlihat jelas.
Dhika menikmati wajah Ghufa yang tengah malu-malu. Ia menatapnya tanpa mau melepaskannya.
"Dhika kenapa ngeliatin gw mulu sih dari tadi, aduh nih jantung kenapa kenceng banget coba detakannya. Kedengeran gak ya? Kenapa gw harus berada pada situasi macam ini. OMG, mau sampai kapan kita diem dieman begini?" batin Ghufa yang ikutan membalas tatapan Dhika. Walaupun sesekali ia memalingkannya.
Menit pun berlalu tanpa ada kata yang terucap, lewat tatapan mata itulah percakapan itu terjadi. Sampai tanpa mereka sadari, ada seseoarang pemuda mendekat kearah mereka.
"Eh, Apa? Iya, kenapa?" jawab Ghufa tak terarah karena kaget dan segera menengok ke arah sumber suara.
"RYAN?" teriak Ghufa tanpa sadar.
"Ganggu momen indah gw aja" batin Ghufa kesal.
"Fa, gw balik dulu ya" pamit Dhika sambil menatap sinis Ryan.
"Gak mau mampir dulu Dhik?" tanya Ghufa penuh harap. Ia lebih baik mengajak Dhika kerumah dibanding harus berurusan dengan pria yang bernama Ryan.
"Next time aja Fa, lagian lo kan udah ada tamu tuh" tunjuk Dhika menggunakan dagunya.
Ryan langsung menatap Dhika dengan pandangan tidak suka.
"Yaudah, hati hati yaa, jangan ngebut" ujar Ghufa sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Walaupun ia kecewa namun ia tetap memberikan senyum terbaiknya.
Da..dahhh...
Setelah Dhika pergi. Ghufa langsung masuk ke rumahnya tanpa mempedulikan kehadiran Ryan.
"Sejak kapan lo deket sama dia?" tanya Ryan mengikuti Ghufa memasuki halaman rumahnya.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari mulut Ghufa.
"Ga punya mulut ya? dari tadi ditanya diam aja"
"Males" jawab Ghufa pada akhirnya. Ia duduk dibangku teras dan melepas sepatu dan kaos kakinya.
"Kenapa lo bisa pulang bareng dia?" tanya Ryan.
"Lo kenapa sih! Kenapa jadi kepo sama urusan gw?" jawab Ghufa yang masih marah kepada Ryan.
"Gak usah ngalihin pembicaraan Fa, lo tinggal jawab pertanyaan gw, selesai."
"Kenapa lo maksa, lagian gw ga punya kewajiban tuh buat jawab pertanyaan lo."
"Kewajiban ya?" sahut Ryan mendekati Ghufa dan berdiri tepat didepannya, dengan agak kasar dia meraih dagu Ghufa agar menatap matanya. "Jadi menurut lo, gw ga punya kewajiban ngejagain lo? merhatiin lo?ngawasin lo? Begitu?" tanya Ryan sembari menatap tajam Ghufa.
Ghufa dibuat takut oleh Ryan yang tiba-tiba berubah kasar padanya. Ia terbiasa diperlakukan lembut olehnya. "Ke..ke..napa itu jadi kewajiban lo?" tanya Ghufa sedikit gagap.
"Gw kan ga minta lo ngelakuin itu. Lo juga bukan siapa-siapa gw?" ujar Ghufa menepis tangan Ryan dari dagunya, lalu ia berdiri dan mendorong Ryan dengan sekuat tenaga.
"Gw peringatin lo ya" tunjuk Ghufa kedada Ryan. "Lo ga punya hak, untuk ikut campur urusan gw dan lo ga punya kewajiban juga buat gejagain gw. Ngerti?"
Ryan meraih jari Ghufa yang menunjuk kedadanya dan menggenggamnya. Kemudian diremasnya telapak tangan Ghufa dengan lembut dan meletakkan tepat di dadanya. "Coba lo rasain pelan-pelan" pinta Ryan sambil menatap Ghufa.
Entah kenapa, Ghufa menjadi resah, ia bingung sendiri akan perasaannya, kenapa Ryan bertindak sampai sejauh ini setelah lama tidak menampakan diri.
"Aaarrhh kenapa gw tadi nurutin dia sih!" teriak Ghufa. Namun ia hanya mampu berteriak di imajinasinya saja. Kenyataannya ia selalu tunduk pada perintah Ryan.
"Ni mau sampe kapan tangan nempel begini?" batin Ghufa. Ia sangat tersiksa dengan kondisi ini.
"Gw sayang sama lo Fa dan lo tau itu kan! gw juga ga tau mulai kapan rasa itu berubah jadi cinta. Mungkin lo pikir ini cuma lelucon. Tapi Fa," kata Ryan yang menghela nafasnya dengan berat. Seolah beban yang ia pikul sangat berat. Masalah cinta memang sangat rumit. Tidak ada rumus manapun yang dapat menjawab permasalahn yang berhubungan tentang cinta. Karena cinta hanya bisa dirasakan oleh dua orang yang saling feedback perasaan mereka jika ingin akhir yang bahagia.
"Gw serius sama perasaan gw. Gw juga tahu klo ucapan gw dulj pernah bikin lo sakit hati. Waktu itu gw pikir rasa sayang yang ada hanyalah rasa sayang kakak terhadap adiknya. Gw memang bodoh Fa, ga bisa bedain itu dari awal" kata Ryan lembut sambil membelai pipi Ghufa. "Hidup gw ga lengkap tanpa kehadiran lo Fa, mungkin lo bertanya-tanya kenapa setahunan ini gw cuek dan diam aja, bahkan cenderung ngikutin alur yang lo mau, gw punya alasan untuk itu semua."
Ghufa hanya diam, mendengarkan penjelasan Ryan dan mengingat kejadian setahun yang lalu.
Karena rasa sukanya akan Ryan, dia melanggar nasihat ayahnya untuk tidak berpacaran saat masih sekolah.
Ia ungkapkan perasaan yang ada dihatinya, dengan wajar penuh ceria karena dia yakin Ryan juga memiliki perasaan yang sama. Namun itu hanyalah mimpi indah yang tak menjadi kenyataan, hanya karena satu kata, KELUARGA, mampu membuat Ghufa patah hati untuk yang pertama.
Ya, Ryan menganggap Ghufa adalah bagian dari keluarganya. Karena Ryan adalah anak tunggal, dia mendampakan mempunyai seorang adik seperti teman-temannya, karena dari itu ia menjaganya, memperhatikannya, dan memberikan kasih sayang yang berlimpah. Namun diartikan berbeda oleh Ghufa.
__ADS_1