
"Ghufa," teriaknya langsung menjauhkan diri dari Kevin dan langsung melihat kesekeliling taman, pandangannya terhenti di pintu belakang rumah, satu-satu akses menuju ke taman. Disana sudah berdiri dengan santainya Ghufa dan Resti yang melambaikan tangan dengan senyum lebar di bibirnya.
Queen ingin menghampiri mereka, menanyakan alasan keberadaan mereka disini karena mereka baru saja berpisah kurang dari 1 jam yang lalu. Namun entah kenapa tubuhnya sulit sekali digerakkan, jangan kan untuk melangkah, untuk menopang dirinya sendiri saja ia butuh Kevin yang membantunya duduk.
Ghufa dan Resti akhirnya melangkah mendekati Queen yang sedang duduk terpaku.
"Sorry ganggu kegiatan kalian" ucap Ghufa membuka percakapan. Ia memberikan senyumannya kepada Kevin sebagai salam dan dibalas oleh Kevin dengan anggukan kecil. "Queen tas kita ketuker" imbuh Ghufa yang memberikan tas ranselnya kepada Queen. Ia kemudian duduk di kursi disamping ayunan bersebrangan dengan posisi duduk Queen sekarang.
"Hah, kok bisa" jawabnya sembari menerima tas dari Ghufa dan membukanya. "Benar, ini tas gw" gumamnya. "Kenapa gw bodoh banget bisa salah ngenalin tas sendiri" ucapnya dengan suara lirih.
"Mungkin itu salah satu alasan dari Yang Kuasa, supaya gw sama Ghufa bisa lihat adengan live lo" ucap Resti tanpa mempedulikan kehadiran Kevin yang masih disana. Kevin tampak tersenyum kecut karena sudah kepergok oleh sahabat kekasihnya. Namun ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa, tidak seperti Queen yang terlihat jelas tampak malu karena ketahuan sedang bercumbu.
Setelah berhasil menguasai keadaan, Queen beranjak dari posisi duduknya, "ayo ikut gw" ajaknya kepada Ghufa dan Resti agar membututinya.
Setelah cukup jauh dari pandangan dan pendengaran Kevin, Queen langsung menghardik sabahatnya. "Sejak kapan kalian diri disana?" tanya Queen menunjuk pintu tempat mereka melambaikan tangan.
"Sejak lo ngambek."
"Seriously? kalian liat semua dong? Hadehh, mau ditaro dimana muka gw?" ucap Queen sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
"Muka lo ya tetep pada tempatnya lah" balas Ghufa yang meniru kalimat Queen.
"Perasaan itu kalimat gw kemaren deh."
"Emang, gw cuma ngebalikin aja" ucap Ghufa puas.
"Rese lo" ucap Queen sembari meletakkan tas yang diberikan Ghufa di atas meja belajarnya dan mengambil tas disampingnya untuk diberikan kepada Ghufa.
"Nih, tas lo"
"Terima kasih cinta" ucap Ghufa dengan kerlingan nakal sembari membuka tasnya untuk sekedar memastikan.
"Kita pamit ya" ucap Resti segera agar Ghufa tidak lagi menggoda Queen.
"Orang tua lo belum balik?" tanya Ghufa karena tidak melihat Bunda Devi.
"Paling nanti setelah isya" jawab Queen yang mengantar mereka sampai depan rumah. Disana Rendi sudah menunggu di dalam mobil.
"Hati-hati" ucap Queen yang dibalas cepat oleh Ghufa, "lo yang harusnya hati-hati, ada macan buas di taman belakang lo" jawab Ghufa yang langsung masuk ke dalam mobil. Ia membuka kaca pintu dan menjulurkan lidahnya.
"Awas lo ya nanti" balas Queen.
Dan mereka pun saling melambaikan tangan.
***
__ADS_1
"Makasih ya Ren, udah mau nganterin dan maaf udah ngerepotin, makasih juga ya Res" pamit Ghufa setelah diantar sampai rumah.
"Sama-sama" jawab Rendi dan Resti kompak. "Udah sana masuk, udah malam. Gw ga mampir ya, salam buat orang rumah dari Resti cantik" ucapnya lalu menutup kaca pintu dan berlalu.
"Kenapa pulangnya malam sayang" sambut mama ketika melihat Ghufa yang baru pulang.
"Maaf ma, ga ngasih kabar, sebenarnya Ghufa udah pulang dari sore, cuma tadi tas Ghufa tertuker sama punya Queen. Jadi kerumah Queen dulu buat ambil tas."
"Lain kali klo pulang malam, kasih kabar ya nak, jangan buat mama khawatir, kamu kan bisa pinjam ponsel teman dulu klo ponsel kamu lowbet.
Sekarang kamu bersih-bersih, mama siapain makan malamnya dulu."
"Iya Ma."
Suasana meja makan seperti biasa selalu diwarnai dengan canda tawa, karena ditempat inilah semua bisa berkumpul bersama.
Semenjak beranjak remaja, sangat sulit untuk berkumpul dengan formasi lengkap, karena kebanyakan waktu dihabiskan dengan teman atau sahabat, mengerjakan tugas sekolah dan mengurung diri dikamar. Sehingga ketika sudah dimeja makan, bukan hanya sekedar makan namun juga berbagi kisah. Menceritakan kegiatan yang dialami dan lalui diselingi nasihat Ayah dan Mama. Panggilan yang cukup jarang, tidak seperti Papa dan Mama atau Ayah dan Bunda pada umumnya.
Di meja belajar, Ghufa hanya membolak-balikkan buku pelajarannya saja, ia merasa malas untuk belajar. Ia tiduran di meja dan kembali mengingat kejadian sore tadi.
"Fa, lo udah beli keperluan untuk ke pantai?" tanya Resti yang melihat list apa saja yang belum dibelinya.
"Belum, kita belanja bareng aja."
"Nih, catatan gw, coba lo cek, siapa tau ada yang kelewat" pinta Resti yang menyodorkan list catatannya. Ghufa pun menerima dan membaca satu persatu.
- Sunglasses
- Sun protection eye cream
- Styling cream
- Sandal
- Kain pantai
Kayaknya styling cream ga usah deh Res, ga papa lah rambut sama kulit kepala kita kena paparan matahari lama. Ga bakal berubah juga warna rambut kita. Kan ga tiap hari."
"Ya lo corat-coret aja list gw, apa aja yang perlu ditambah atau dikurangi."
"Kalian cewek ribet banget ya, harus pakai ini pakai itu, kenapa juga harus beli sandal dan kain pantai?" tanya Rendi heran dengan list kekasihnya.
"Kamu nyetir aja sayang, ga usah komen urusan perempuan" jawab Resti menghentikan komentar Rendi.
"Tapi bener juga kata Rendi, Res, ga perlu lah kita beli sandal sama kain pantai, sunglasses juga kayaknya ga perlu."
__ADS_1
"Please deh Fa, gw pengen kita kompak biar hasil fotonya bagus. Masalah biaya biar gw yang tanggung, ini kan acara gw. Budgetny juga udah ada, tadi pagi udah ditransfer sama Daddy. Makanya gw bikin list."
"Terserah lo aja Res, ngikut aja gw."
"O iya, gw bikin kaos loh, biar nanti kita kembaran. Designnya yang buat kak Bimo, pokoknya keren. Paling nanti beda warna aja" ucap Resti semangat. Ia merasa puas dengan rencana yang sudah diaturnya.
"Ada warna apa aja?" tanya Ghufa
"Ada 2 model kaos, yang 1 gw pilih warna nyentrik, yang 1 warna pastel. Yang nyentrik, warnanya ada unggu terang, kuning stabilo, neon sama orange klo pastel warnanya lavender, baby blue, mint sama peach. Nanti kita undi aja buat nentuin pilihan."
"Gw pengen warna unggu terang sama levender, klo lo dapat warna itu tukeran ya" rayu Ghufa ke Resti, Ghufa suka sekali warna yang berbau unggu, sama dengan Queen, pasti nanti ia akan berebut dengannya.
"Iya, gampang klo gw ma, lo bilang juga sama Jenika biar kesempatan lo dapat unggu lebih besar" ucap Resti memberi saran.
"Itu ga adil buat Queen klo gw memonopoli kalian berdua, biar adil satu-satu. Klo rejeki gw, ga bakal kemana juga kan?"
"Tumben lo ga egois" ucap Resti.
"Semprul lo, gw kan sedang berusaha memperbaiki diri" ucap Ghufa membela diri.
"Aku berasa jadi orang tak kasat mata" ucap Rendi yang hanya menyimak obrolan Resti dan Ghufa dari tadi.
"Sayang, jatah kamu nanti ya! nunggu lalat pengganggu itu ga ada" tunjuk Resti ke kursi belakang.
"Sialan lo Res, gw dibilang lalat pengganggu."
"Gitu aja ngambek, katanya mau memperbaiki diri" ucap Resti menginggatkan.
"Susah emang klo ngomong sama lo" kata Ghufa menyerah.
Resti tersenyum senang, menang bermain kata dengan Ghufa memberikan kegembiraan tersendiri baginya.
"List gw gimana ada tambahan gak?"
"Oiya, hampir lupa, kita perlu beli after sun balm buat membantu menyeimbangkan kembali kestabilan kulit kita setelah berjemur sama suncreen lip balm, biar bibir kita ga kering."
"Ngomong-ngomong soal bibir kering, lo bawa pelembab bibir gak?" tanya Resti yang sedang memeriksa kondisi bibirnya yang tampak kering dicermin.
"Bawa."
"Bagi dong" ucap Resti meminta.
"Ya" Ghufa pun membuka tasnya untuk mengambil pelembab bibir yang diletakkan di tas make up mini miliknya.
"Loh, ini bukan tas gw."
__ADS_1
"Apa?"