
sepulangnya fendy Mia langsung menata baju untuk di setrika. iya pekerjaan setiap harinya yang tidak pernah telat ia kerjakan setiap malam setelah selesai beberes dan membantu Ibu nya ia selalu menyetrika.
Mia masih fokus menyetrika, sambil mengingat seharian ini ia di buat tidak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan dengan fendy, rasa dari kecupan sperti masih tersisa, Mia tersenyum namun juga ia merasa sedih ia yakin jika ibunya merasa kecewa, namun Mia membiarkan itu, sudah biasa jika Mia melakukan suatu yang menurutnya salah sudah pasti Mia akan di diamkandiamkan.
terdengar suara pintu depan terbuka, Mia diam tak bergerak, sudah pasti itu ahmad, yang pulang.
tidak terlalu lama ahmad pun masuk menghampiri Mia, dengan tatapan yang panas, wajah memerah dan mata yang sedikit melotot serta tangan yang menggenggam hendak memukul.
Mia pun menunduk dengan wajah yang sedikit takut namun tenang, Mia mencoba menetralkan rasa yang ada di hatinya dan tiba-tiba.
BRAAKK.. 1 pukulan di meja membuat Mia kaget dan langsung memejamkan matanya, menaruh setrika dan menunduk terdiam, ibu yang sudah tertidur pun kaget lalu bangun menghampiri Mia dan ahmad.
'' ada apa ini?''
tanya ibu yang masih bingung karena baru bangun tidur, dengan wajah bantalnya.
'' tanya sama anak kesayangan kamu itu! '' ucap ahmad sambil menunjuk wajah Mia
'' apa mi, ada apa kok ribut, ini udah malem lo? ''
tanya ibu sambil mengikat rambut dan duduk di sebelah Mia
'' aku gak tau bu tiba-tiba, kak ahmad datang terus marah. ''
ucap Mia sambil menahan tangis karena takut
'' kamu bilang gak tau ha! Dasar murahan ya! Ibu tau, ni anak kesayangan ibu udah berani ciuman! Kamu bilang bisa jaga diri tapi bibir di umbar kaya gitu! ''
ucap ahmad dengan penuh amarah
'' Udah! Udah! gak usah di bahas! ''
ucap Ibu melerai
sementara ahmad yang sedang marah, langsung pergi meninggalkan Mia dan ibu.
Mia masih tertunduk dengan air mata yang menetes tanpa henti namun masih tanpa suara.
'' Mia, udah biasa orang pacaran itu, ciuman, pelukan, gandengan, yang terpenting barang 1 yang harus di jaga, ibu pesen sama kamu jaga itu baik-baik ya, ibu bisa memaklumi kamu melakukan itu, tapi jika sampai turun ke bawah dan terjadi hal yang tidak di inginkan mungkin bukan hanya marah tapi juga bisa pergi dari rumah. ''
ucap Ibu lembut tapi penuh penekanan.
ibu menasehati Mia tanpa memarahinya, ibu sudah sangat paham dengan yang dilakukan pasangan muda pada umumnya, memang bener ciuman dan pelukan itu masih dalam hal wajar, tapi jika sampai kebablasan itu pasti akan mencoreng nama baik keluarga.
Mia mengangguk paham dan menyeka air matanya.
'' sudah, tidur aja nyetrika nya besok lagi aja gak papa. ''
ucap ibu sambil berlalu ke kamar mandi
ibu tidak membahas ahmad, karena memang ibu sudah mulai faham dengan sikap ahmad yang suka semaunya sendiri. Mia membereskan baju dan setrika lalu pergi masuk kekamar, Mia masih melanjutkan tangisan nya. ia berfikir apa mungkin ia sesalah itu padahal itu hanya sekedar ciuman.
tapi memang benar itu salah, salah karena di lakukan sebelum menjadi pasangan yang sah. banyak notif di ponsel nya namun Mia mengabaikan nya, ia masih tidak mood untuk membukanya.
__ADS_1
sampai akhirnya ia tertidur karena lelah menangis.
*
'' jadi minggu depan kamu pulang. ''
ucap ahmad
'.... ''
'' ya udah biar kamu taun keadaan rumah kaya apa! ''
ucap ahmad
''.... ''
'' nanti kalo kamu pulang aku mau ketempat bude di Jawa, biar kamu yang di rumah. ''
ucap ahmad
''.... ''
'' ya udah kalo gitu. ''
ucap ahmad berpamitan dan mematikan ponselnya
ahmad pun masuk ke dalam rumah terlihat sudah gelap semua, ia pun berdiri di balik pintu kamar Mia, ia menempelkan wajah nya ia melihat, apa masih ada cahaya ponsel atau memang Mia sudah tertidur.
ucap ahmad dalam hati sambiy berdiri di balik pintu.
ahmad masuk kedalam kamar nya, menata baju nya ke dalam ransel, lalu menata badannya dan tidur.
*
pagi, sperti biasa Mia kepasar membantu ibunya lalu pergi ke toko untuk bekerja,
hari ini sangat tidak bersemangat Mia masih mengingat ucapan ahmad, masih sangat jelas terngiang di telinga nya.
'' kenapa lu! ''
tanya idin sedikit berteriak namun Mia hanya melihat sekilas tanpa menjawab nya.
Mia masih duduk di depan toko dengan kaki terlipat persis pengemis yang masih minta-minta.
idin diam-diam mengirim kan pesan kepada andi, melihat ada perubahan sikap dari Mia, entah sedang sedih atau bagaimana, idin serasa tak ingin menganggu Mia.
Mia pun sedikit heran dengan sikap idin, tak biasanya dia sperti itu, biasanya jika Mia murung, pasti dia selalu cari cara untuk menggoda dan mengganggu nya, namun kali ini idin terlihat berbeda.
Mia pun tak menghiraukan nya, masih tetap diam sambil menunggu bos nya datang, dan jika ada pembeli masuk ke tokonya. Hari ini yasin tidak berangkat tidak ada yang memberi sarapan untuknya, terpaksa Mia pun pergi sebentar untuk pesan makanan karena perut nya yang sudah mulai lapar.
'' hallo, iya mb, oh gak berangkat, ya udah iya gak papa, iya mb. ''
Mia mendapat telpon dari bos nya yang tidak masuk karena ada sedikit urusan.
__ADS_1
Mia masuk kedalam toko membawa 1 bungkus nasi yang baru saja ia beli, membuka nya lalu memakannya dengan tidak semangat, namun harus tetap ia makan karna lapar. Berkali-kali ia melihat ponsel tidak ada yang mengirim pesan, fendy pun tidak memberi nya kabar sejak semalam ia pulang sampai sekarang.
Mia pun memutar lagu di ponselnya.
Gamma hidup segan mati tak mau judul lagu yang sekarang ia hayati membuat ia masuk kedalam lagu itu, di antara banyaknya pilihan antara sodara, pacar atau selingan nya.
Mia termenung sambil mengikuti lirik lagu itu, tiba-tiba ada yang datang masuk ke toko nya yang awalnya ia pikir pembeli ternyata.
'' ngapa, kok sedih gitu?''
tanya andi yang tiba-tiba ada di belakang nya
'' abang, kok gak bilang-bilang mau kesini? ''
ucap Mia dengan senyum sumringah
sperti air yang mengalir di tenggorokan saat seharian tak dapat minum, sejuk dan adem di hati, selalu saja andi yang bisa merubah mood nya, yang selalu bisa menghibur nya di saat ia butuh kasih sayang dan dukungan.
'' sini, peluk! ''
ucap andi meregangkan kedua tangan nya.
Mia pun berdiri dan langsung memeluknya.
Andi pun mengusap kepala Mia dan memberikan kecupan di kepala Mia, Mia memeluk dengan erat, ia merasa pelukan itu hangat, sperti hubungan antara kakak dan adik, ya Mia merasa sangat nyaman.
'' gak usah banyak pikiran sayang, kasihan kepala nya, abang kan bilang, kalo ada apa-apa cerita sama abang, biar adek gak banyak pikiran, abang gak mau adek sakit. ''
ucap andi yang masih membelai rambut Mia.
Mia melepaskan pelukan itu lalu duduk yang langsung di ikuti andi untuk duduk di sebelah nya, dan ternyata hari itu masih sepi pembeli sehingga sperti banyak waktu untuk mereka berdua untuk ngobrol.
'' lagunya, sedih banget, hidup segan mati tak mau saat aku jauh darimu, pahit rasanya gula manis rasa empedu, kurasa. '' andi bernyanyi mengikuti lagu itu
Mia tersenyum malu, dan langsung mematikan musik nya.
'' abang mau minum apa biar aku beliin?''
tanya Mia
'' abang aja yang beli, adek di sini aja, adek mau apa?''
tanya andi lembut dengan tatapan penuh kasih sayang.
'' apa aja lah, yang penting gak bersoda. ''
ucap Mia
'' ok, stay ya sayang. ''
ucap andi sambil berlalu pergi
Mia pun mengangguk dan kembali duduk sambil memegang ponsel nya dan melihat sosmed nya.
__ADS_1