
setelah kejadian malam kemarin sikap ahmad sudah tidak sperti biasanya, keluar masuk rumah tanpa adanya bicara, waktu nya ia habis kan di dalam kamar dan di tambak, jika bertemu Mia ia selalu membuang muka hanya pada adi ia mau sedikit berbicara.
Mia tak mau ambil pusing dengan sikap sang kakak, ia pun membiarkan nya tapa menghiraukan sikap nya, Mia lebih memikirkan perasaan kedua orang tuanya dari pada perasaan kakak nya yang seperti anak-anak.
waktu demi waktu berlalu ahmad sudah berubah kembali sperti biasanya yang lalu ia keluar dengan penuh senyum dan tanya, mungkin hatinya sudah tidak sakit lagi, karena pemikiran nya sendiri ia sperti itu, jika di lihat dari pandangan orang lain jelas memang ahmad lah yang salah.
ibu merasa sedikit lega melihat ahmad yang sudah sperti awal lagi, bercanda biasa dengan Mia, begitupun dengan ibu, Mia banyak sekali mendapat nasehat yang membuat ia sedikit terkesima dengan ahmad, dalam hatinya ' kalo kaya gini kan enak jadi terlihat lebih waras aja, gak kaya kemaren, huf ngeselin banget '
ucap Mia dari dalam hati, ketika sedang ngobrol berdua dengan ahmad di samping rumahnya.
waktu sudah semakin dekat, hari pernikahan nya sudah mulai menghitung minggu, Mia sudah masih kerap berhubungan dengan andi via telpon, terkadang andi menghampiri Mia di tempat kerjanya, lain hal nya yasin setelah ia mengetahui Mia sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia justru menjauh bahkan sudah tidak lagi menghubungi Mia.
sbenernya Mia merasa tidak enak hati, jikalau yasin masih membuka akses pertemanan, Mia sangat senang, namun kenyataan nya tidak sprti itu, Mia pun sadar diri jika memang ia sekarang sudah tidak bisa lagi ke mana-mana karena ia sudah akan di miliki oleh 1 pria.
'' abang yakin mau main kerumah nanti kalo aku mau nikah, seriusan itu?''
tanya Mia di balik telpon yang sudah tersambung
'' yakin, perpisahan terakhir sayang, biar jadi kenangan terindah buat abang. ''
jawab andi yang sekarang sudah merasa berantakan, di hatinya sperti sudah tidak ada lagi yang akan ia harap kan, ia hanya bisa menunggu suatu keajaiban datang, menghampiri nya ya, walaupun itu tidak akan mungkin terjadi.
'' maafin adek ya bang, adek buat abang sakit, adek gak bisa apa-apa sekarang bang, banyak perasaan yang harus adek jaga, ''
ucap Mia, tanpa terasa bulir bening mengalir di pipi mia. Mia merasa sangat kasihan dengan andi, dia laki-laki yang sangat baik penyabar dan juga penuh perhatian, semua yang Mia harapkan ada di andi, namun semesta berkata lain, Tuhan sudah menyiapkan fendy untuk menjadi pendamping nya, walau hatinya berasa tidak yakin namun ia meyakinkannya pasti akan ada hikmah di balik semua yang ia jalani.
'' adek, gak usah sedih, abang gak mau adek nangis ya. Inget air mata adek begitu berharga buat abang, jadi jangan sampai jatuh ok sayang. ''
ucap andi menyemangati Mia walaupun hatinya sekarang sudah tidak beraturan
Mia diam tanpa kata, ia justru tambah terisak mendengar Kata-kata yang andi ucap kan, ia bingung dan dilema, jika ia memilih andi pasti kedua orang tuanya akan malu, tapi jika ia memilih fendy ia tidak yakin, dan kasihan dengan andi.
ya, rasa yang ia simpan kepada andi hanya rasa sayang dan nyaman, bukan cinta, ia menerima andi hanya karna ia pikir jika fendy menghianati nya dengan wanita lain, namun Mia salah, memang betul fendy sering berhubungan dengan teman wanita nya namun ia tidak pernah jalan bersama. Namun setelah ia jalani justru rasa nyaman menghampiri nya, hingga berjalan sampai sekarang, dan saat ini Mia bingung sendiri, jika ada hukum wanita boleh berbagi mungkin Mia akan menjalani itu, sayang nya itu hanya berlalu untuk laki-laki.
__ADS_1
'' adek... ?''
panggil andi
'' i--ya''
jawab Mia sedikit terbata karna masih menangis.
'' jangan nangis sayang, abang gak tega denger nya, abang gak ada di situ sayang, nanti siapa yang nenangin adek, jangan nangis ya, adek harus senyum bahagia selalu, demi abang, ya sayang. ''
ucap andi mencoba menenangkan Mia,
'' a--bang, bi--sa bi---lang gitu hiks, tapi a--dek gak bi--sa nahan a--ir ma--ta nya, dia ja--tuh sendi---ri hiks''
ucap Mia terbata-bata
andi tersenyum dan sedikit tertawa yang terdengar oleh Mia, karna suara Mia yang sangat lucu, sperti Anak-anak yang meminta mainan tidak di kasih lalu menangis dan berbicara terputus-putus.
ucap Mia sedikit kesel namun ia malah ikut ketawa
'' nah gitu dong senyum, gak usah nangis, abang yang mau di tinggal merid aja mencoba biasa saja kok adek yang mau nikah malah nangis, semangat dong sayang, perjalanan hidup adek masih panjang. Perjalanan hidup seorang dara, ya dara, yang cantik, manis putih imut, pujaan hati abang, semoga adek bahagia selalu, di pertemukan dengan Orang-orang baik terus, amin ya Tuhan. ''
ucap andi membuat Mia merasa sedikit tenang.
ini lah kenyataan, mungkin mereka harus menerima itu, jika berani mencintai harus berani patah hati, sperti yang di alami andi saat ini.
'' makasih ya bang, sudah jadi seseorang yang sangat spesial di hidup adek, abang terbaik, semoga kelak abang akan berjumpa wanita baik, yang lebih baik segala-galanya dari adek, amiinn''
ucap Mia
'' amiinn, semoga saja itu kamu hehe''
ucap andi
__ADS_1
'' abang... ''
ucap Mia dengan nada manja.
'' iya sayang, abang lanjut kerja lagi ya, soalnya ini masih ada lembur. I love you so much sayang, always forever together pipi adek bunder assalamu'alaikum'' ucap andi sambil tergelak
'' love you to sayang, waalaikumsalam semangat kerja nya. ''
balas Mia
Mia keluar kamar, masuk kedapur untuk mengambil makan malam nya, rasanya perut nya sudah lapar, di belakang ibu masih makan juga Mia pun segera menghampiri ibunya.
'' kamu udah ngomong sama fendy belum?''
tanya ibu
'' belum, orang nya belum nelpon aku bu''
jawab Mia sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya
'' jangan lama-lama, waktunya udah mulai deket, nyari mepet-mepet itu gak bagus, lagian besok kita udah mulai buat kue juga, kita kan hidup di desa gak hidup di kota, apa-apa ya buat sendiri, mana keluarga fendy juga kayak nya gak akan menuhin semua kebutuhan pesta yang kita buat, palingan cuma buat syarat aja, makanya kamu harus bisa di ajak kerja sama, ''
ucap Ibu yang sudah selesai makan, namun masih duduk di samping Mia
' iya bu, aku nurut aja. ''
ucap Mia yang masih menikmati nasi goreng buatan ibunya
'' inget, mahar nya kaya pas kamu di lamar sama dia. ''
'' iya bu, nanti aku ngomong sama dia''
ibu mengangguk, dan berlalu mencuci piring nya.
__ADS_1