
seminggu sebelum acara di mulai sebagian keluarga Mia sudah ada yang berkumpul untuk membantu mempersiapkan semua yang di butuhkan di acara nanti. Mia memberi tahu jika surat undangan yang di cetak sudah selesai, dan siap untuk di bagikan. Namun karena kesibukan masing-masing, membuat fendy mengundur waktu untuk mengambil Undana itu.
Malam hari Mia sudah menata janji kepada idin dan andi, untuk jasa hena atau yang biasa di sebut tato tangan menjelang pernikahan. sebulan sebelum acara Mia pernah di tawari oleh idin untuk jasa hena itu, karena salah satu teman idin ada yang bekerja sebagai hena art. Dengan moderenisasi jaman sekarang, jarang yang tidak menggunakan hena, kebanyakan orang sudah menggunakan jasa itu.
karna Mia di tawari, suatu keberuntungan buat dia, apalagi gratis tanpa imbalan. Malam ini tepat seminggu sebelum hari H Mia mempersilahkan seluruh teman-teman andi dan idin, berkisar ada 6 orang, dan semua itu laki-laki. Andi yang sangat merindukan Mia tidak mau jauh dari Mia, ia duduk di samping mia menjadi asisten si pemasang hena itu, jika ada yang belepotan andi yang menghapus nya.
'' kamu mau pakai yang mana ini?'' tanya si pelukis itu
'' yang mana bang, yang bagus?'' tanya Mia pada andi
'' hitam, sama oren aja bagus. ''
jawab andi
'' iya, lebih tahan lama juga'' jawab pelukis itu
'' ya sudah, kalo gitu. Aku ngikutin aja. '' jawab Mia
mereka sudah mulai mengerjakan melukia di tangan Mia, terlihat sangat lihai dan pengalaman, tidak ada yang belepotan sedikit pun. Mia melirik andi sekilas, terlihat pancaran kesedihan yang mendalam di dalam pandangan nya.
Mia memegang tangan andi menggenggam nya erat ia tersenyum andi pun menatap genggaman itu iya pun melihat Mia yang tersenyum kepadanya.
andi membalas senyum itu, walaupun pahit di hatinya, ia mencoba menyenangkan hati pujaan hatinya. karna kecewa dalam cintai itu sudah biasa, jika berani mencintai maka harus berani terluka. '' jangan sedih, doakan jika kita pasti akan bersama. '' ucap Mia pelan
andi tersenyum sinis '' menunggu keajaiban di tengah kegelapan. '' jawab nya
'' tidak ada keyakinan, yang tidak akan terwujud. Usaha saja dulu, selebihnya pasrahkan. '' jawab Mia
'' berusaha itu selalu, tapi jika memang bukan untuk ku, ya gimana? Ya sudah lah, menerima itu lebih baik, dari pada memberontak. '' jawab andi
__ADS_1
Kata-kata itu sedikit menusuk hati Mia, hebat dan tegas bagi Mia, ada seseorang yang bisa selebar itu pemikiran nya. Membuat ia ingin sekali memperjuangkan nya.
'' baiklah, kita lihat seiring berjalannya waktu, tetep inget nomer ku, dan aku akan menghafal nomer mu. Suatu saat aku pasti akan menghubungi mu. '' ucap Mia
'' selalu. Bahkan jika aku lomba mengingat pasti aku akan menjadi Juara nya. '' jawab andi dengan senyum nya yang terpaksa
'' thankyou '' ucap Mia sambil mengelus tangan andi
kedua tangan sudah selesai di buat kan gambar batik yang sangat apik. Mia menyukai nya. akhirnya setelah semua selesai dan waktu yang bsudah semakin malam andi dan kawan-kawan nya pun berpamitan pulang. tidak ada kata-kata ataupun sapaan lagi. Mereka saling diam. mungkin rasa kecewa andi sangat besar. walaupun ia mencoba menutupi nya pasti akan ketahuan juga.
malam hari sebelum Mia tidur, fendy menghubungi nya lewat telpon.
'' besok aku kesana yang, ambil undangan nya. '' ucap fendy
'' oh, jadi nya besok mau kesini. ok aku tunggu. '' jawab Mia
'' kamu lagi apa?'' tanya fendy
'' tato?'' tanya fendy
'' iya, emang kenapa?'' jawb Mia
'' sejak kapan kamu deket sama hal kaya gitu? '' tanya fendy sedikit emosi
'' ini tu cuma tato lo mas, emang kenapa? Ada yang salah?'' tanya Mia pelan
'' ya jelas salah lah! hari pernikahan kita itu cuma tinggal beberapa hari, kenapa pakai acara tato-tato segala, aku gak mau tau kamu harus hapus tato itu! '' ucap fendy yang sudah mulai mendidih.
'' banyak calon pengantin yang pake kaya gini, bukan cuma aku. kamu kok gitu banget si. '' ucap Mia yang sudah meneteskan air mata di balik telpon nya
__ADS_1
sementara fendy sudah teriak dan marah-marah di balik telpon, terdengar suara kedua orang tua nya, yang sedang menenangkan nya. Mendengar itu Mia langsung mematikan sambungan telpon nya. Mia menangis mengeluarkan segala apa yang ia rasa dengan air mata, hari H tinggal hitungan hari ada saja masalah yang datang.
*
dua hari lewat, mungkin karna marah atau sperti apa perasaan fendy, ia baru datang ke rumah Mia untuk mengambil Undangan itu, Mia pun menemui nya dengan perasaan tak karuan. Dan benar apa yang ia takut kan pun terjadi.
'' bagus ya, baru tau aku mah kalo mau nikah pakai acara kaya gitu segala. '' ucap fendy datar sambil menatap kedua tangan Mia yang sedang ia pegangi
'' gak lama juga ilang, ini nggak permanen, '' jawab Mia lemas dan menunduk
'' kita itu akan jadi 1 kalo sesuatu apa yang kamu buat tanpa pamit, apa seterusnya akan sperti itu. Jujur sih aku kecewa. '' ucap fendy masih dengan wajah yang tak bisa di artikan
'' iya. Aku tau aku salah, ini tak kan terulang. '' jawab Mia tak terasa air matanya menetes ternyata sedari tadi ia menahan nya, melihat wajah fendy sperti itu membuat ia merasa takut
'' ya udah, aku mau pulang. '' ucap fendy sambil mengambil undangan itu dan beranjak keluar tanpa menyalami Mia dan menatap nya.
dan kebetulan kedua orang tua Mia tidak ada di rumah, sehingga fendy pun tidak berpamitan kepada kedua mertuanya itu.
fendy sudah tidak terlihat, karna ngebut nya ia mengendarai motor nya, entah apa yang ia pikirkan, menurut Mia apa yang ia lakukan itu hanya sepele. Dan ekspresi fendy sangat berbeda pada waktu ia di telpon dan sekarang bertemu.
Mia merasa jika fendy menyesali apa yang sudah ia katakan tempo hari. dari mimik wajahnya ia sedikit merasa malu karna amarah nya kemarin, namun gengsi untuk mengakui dan meminta maaf.
Mia kembali membantu para sodara nya yang sedang membuat kue di rumahnya, tiba-tiba ia keingat dengan andi. Akhirnya ia pun mengirim kan pesan kepada idin untuk menanyakan keadaan andi.
' om, boleh tanya nggak? ' isi pesan Mia
tidak menunggu waktu lama idin pun membalas.
' apa? soal andi! mantan laki lu gak bangun seharian, sepulang dari rumah lu, dia minum banyak. ' balas idin
__ADS_1
Mia spontan menutup mulutnya. merasa tidak tega dengan keadaan andi saat ini, namun apa dayanya, ia tidak bisa berbuat banyak hanya bisa berdiam dan pasrah.