
mereka saling tatap dan tiba-tiba ponsel Mia berbunyi.
'' hallo, iya mbk. ''
ucap Mia di balik telpon nya, Mia langsung melepaskan pegangan nya setelah telpon itu masuk
''..... ''
'' oh, iya mb gak papa, nanti sebelum jam 12 aku tutup tokonya. ''
jawab Mia
'' .... ''
'' iya mb. ''
telpon terputus.
Mia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. '' kita ke toko aja ya, biar kalo ada yang beli, gak bingung nyariin aku. ''
ucap Mia mengajak andi berpindah tempat.
'' iya, boleh. ''
jawab andi
Mia berjalan keluar gudang dan menuju toko, Mia sudah masuk namun ada beberapa pembeli datang, andi pun mengurungkan niatnya lalu ia berlalu pergi sebentar, Mia melihat andi lewat namun ia hanya melirik sekilas, namun ada rasa penasaran akan kemana andi pergi.
setelah pembeli itu pergi Mia kembali duduk di balik etalase bajunya, menyenderkan badannya ke tembok, dan memainkan ponsel nya, sudah 2 hari ini, setelah ia sedikit berdebat dengan fendy soal mahar, mereka saling tidak berkabar, aneh si, tapi itu kenyataan nya, Mia pun sudah lelah untuk mengalah, jika memang ia masih berjodoh, pasti akan ada jalan nya, jika memang tidak sudah ada ganti nya.
sesimpel itu dia berfikir, karna sudah berada di fase lelah, untuk mengerti dan memahami. di saat Mia masih sibuk dengan argumen di hati nya, andi masuk dengan membawa beberapa makanan ringan, dan minuman kesukaan Mia.
'' abang, dari mana si ?''
tanya Mia dengan senyum yang melengkung
'' cari ini, buat kita makan di sini. ''
ucap andi sambil menunjukkan barang bawaan nya
'' abang ini, ih, so coll care full and manis full hehe''
ucap Mia tidak jelas namun andi suka, karna senyum yang ada di bibir nya adalah kesenangan nya.
'' om idin mana? Biasanya kalo ada orang bawa makanan selalu datang. ''
ucap Mia membuka salah satu bungkus snack itu.
'' tadi udah abang kasih, jadi dia gak nguber lagi hehe. ''
jawab andi dengan senyum khas nya
'' oh, pantes aja. ''
jawab Mia
*
fendy masih sibuk dengan pekerjaan nya, dia sengaja ambil pekerjaan tambahan untuk menuruti apa yang Mia minta, karna yang ia pikir kan begitu sangat dalam, dia takut jika nanti sehabis menikah dia tidak punya pegangan uang untuk mereka.
fendy menatap layar ponselnya lagi-lagi belum ada panggilan atau pesan dari Mia, rindu, ya rindu sekarang ia sudah sangat rindu, mungkin karena sikapnya yang kemarin membuat Mia malas untuk menghubunginya dulu, namun rasa nya jika menunggu Mia mengabari nya terlebih dulu itu sudah tidak mungkin, fendy paham sekali jika Mia anti untuk menghubungi laki-laki dulu, sebelum itu sah menjadi suaminya.
akhirnya fendy mengirim kan pesan kepada Mia, entah itu di balas atau tidak setidaknya fendy sudah berusaha menghubungi nya dulu.
' lagi apa sayang? '
fendy mengirim pesan itu, lumayan lama masih belum di balas, dan giliran pekerjaan nya sudah mulai kembali, akhirnya fendy menaruh ponsel nya di tempat kerjanya, dan melanjutkan pekerjaan nya lagi.
__ADS_1
*
bercanda dan tertawa itu lah kelihatan nya, Mia dan andi seperti sedang menikmati masa-masa bahagia, ya itu karena mereka sebentar lagi akan terpisah, meski begitu andi tidak bermasalah karna memang itu sudah pilihannya.
Mia mengetahui jika fendy mengirim kan pesan kepada nya, namun Mia membiarkan saja sengaja belum ia balas karna masih malas, mengingat perdebatan mereka kemarin. Andi seakan paham dengan apa yang Mia rasakan, andi menatapnya.
'' bales aja sayang gak papa, ''
ucap andi
'' gak ah, biarin aja. ''
jawab Mia sedikit malas untuk membahas nya
'' kenapa? adek lagi ada masalah sama dia?''
tanya andi lembut
'' sedikit.''
jawab Mia masih mengunyah snack yang ada di tangannya.
'' hemm, abang boleh tau apa masalahnya?''
tanya andi sedikit penasaran namun mencoba tidak memaksa
Mia menatap andi sekilas, lalu melanjutkan makan snack itu.
'' gak penting, bikin bad mood kalo bahas dia. ''
ucap Mia datar
andi mendekat meraih tangan Mia dan menatapnya, meyakinkan dia jika semua akan baik-baik saja jika ia mau cerita.
Mia mengambil nafas panjang dan mengeluarkan nya kasar.
'' ok. Jadi dia itu kan nanya mau minta mahar apa, ya aku jawab aja minta cincin yang mirip sama yang dia kasih pas lamaran kemaren, eh dia nya gak mau malah marah-marah. malah nawar suruh minta yang lain, ya aku gak mau lah. apa lagi pas denger dia marah, bentak-bentak tambah ilfil aku nya.''
ucap Mia
ucap andi
Mia mengangguk, andi tersenyum.
'' adek harus kuat harus sabar, ngadepin sikap dan sifat yang kaya gitu gak mudah, kalo memang adek pingin nya pisah secara baik-baik memang hanya sabar lah kuncinya, abang always love you, sampai kapanpun, entah suatu saat adek udah tua atau punya banyak anak, abang akan selalu setia, hati ini untuk mu, walaupun raganya untuk orang lain''
ucap andi
Mia paham, tidak selamanya andi akan betah untuk sendiri, ada masanya ia juga menginginkan seperti yang lain rasakan, namun hati ini mereka kunci hanya untuk mereka berdua, suatu saat jika waktu mempertemukan nya kembali, mereka masih ingat rasa yang sama.
'' hati ini, cuma buat abang, sampai kapanpun walaupun raga ini buat orang lain, tapi hati ini sudah terlanjur terkunci buat abang, maaf beribu maaf jika aku menyakiti hati abang, semoga Tuhan menyiapkan jodoh yang baik dan terbaik untuk abang. ''
ucap Mia berharap semoga hatinya bisa lapang menerima kenyataan ini.
'' amiin, walaupun hati ini berharap lain. ''
waktu sudah semakin siang mereka masih mengobrol, sampai idin datang menyadarkan mereka.
'' ndi, pulang gak lu nyet... ?''
tanya idin di balik pintu toko.
'' iya kang, bentar lagi, tungguin ya. ''
jawab andi
'' buruan, gua ada janji sama janda, jam 1 klo lu masih mau di sini, gua pulang duluan. ''
__ADS_1
'' sabar napa sih kang, kalo udah jodoh mah gak bakalan kabur tu janda! ''
jawab andi
'' abang bantu tutupin pintu toko nya ya, adek udah mau pulang kan?''
tanya andi
'' iya bang, aku siap-siap dulu, ''
ucap Mia
'' abang boleh minta sesuatu?''
tanya andi
Mia berbalik dan menatap andi seakan bertanya apa permintaan nya.
'' abang, mau minta apa?''
tanya Mia sementara andi tersenyum genit
'' nunduk, ''
ucap Mia
'' nunduk?''
jawab andi bingung
'' iya, nunduk. ''
ucap Mia andi pun menurut dan mengikuti ucapan Mia
Cup Mia mencium salah satu pipi andi, seketika andi tertegun, entah dari mana Mia tau apa yang ia harapkan, namun Mia begitu paham. postur tubuh andi yang lebih tinggi membuat Mia kesulitan untuk mencium nya sehingga ia inisiatif menyuruhnya menunduk.
andi tersenyum, Mia pun sama.
'' udah, ya. ''
ucap Mia andi mengangguk
'' boleh cium kening?''
tanya andi, Mia pun mengangguk
andi pun segera mencium kening Mia dengan Lembut, baru saja beberapa detik idin masuk kedalam toko.
'' idiihh, astaghfirullah laknat memang lu ya! '' umpat idin sambil menutupi matanya dengan jari-jari nya
andi tersenyum, dan melepas kecupan itu, lalu berlalu keluar dan menghampiri idin, dari belakang ia menoel pundak idin.
'' dasar kurang kerjaan lu ya kang, suruh nunggu di luar, pakai acara masuk segala. ''
ucap andi
'' lu tu yang kurang ajar, ngotorin mata gua aja! buruan tutup terus otw. ''
ucap idin
'' udah sana kalo mau berangkat, nanti aku tutup sendiri aja, gak usah di bantuin, ntar janda nya keburu kabur. '' ucap Mia dari belakang
'' jangan dengerin dajal 1 ini sayang, biar abang yang tutupin tokonya. ''
ucap andi
'' Hiss, nyingkir lah, brasa dajal beneran gua kalo di samping kalian! '' ucap idin
__ADS_1
Mia dan andi pun tergelak.
setelah selesai mereka berpisah, andi dan idin pulang bersama, sementara Mia kembali ke warung ibu nya, hari ini hari perpisahan termanis menurut nya, ya walaupun hanya kecupan singkat namun sangat melekat di hati mereka.