Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 1


__ADS_3

Pandangan seorang anak lelaki berumur 16 tahun tertuju di luar jendela, pikirannya mengambang melihat sebuah tiang yang tertancap di halaman sekolah sore itu. Bendera yang berkibar di tengah halaman sekolah sore itu, membawanya semakin larut dalam lamunan.


Tidak ada yang berbeda pada saat itu, semuanya tampak sama seperti hari-hari sebelumnya.


“Ahhh... beberapa bulan lagi ujian kelulusan,


sepertinya saat aku lulus nanti, aku akan merindukan suasana seperti ini”


ucapnya dalam hati, sambil terus memandang ke halaman sekolah.


Tidak banyak yang dilakukan dijam pelajaran terakhir, hampir semua guru sudah tidak


bergairah untuk mengajar dan para siswapun sudah tidak focus untuk belajar,


sampai bunyi bell pulang sekolah yang selalu ditunggu-tunggu oleh para siswa,


membuyarkan lamunan anak lelaki itu.


Suasana yang tadinya hening berubah riuh, senyum dan tawa siswa dan siswi membuat


suasana sekolah layaknya pasar yang ramai. Tapi, anak laki-laki itu bagaikan orang asing untuk mereka, tegur dan sapa saja mereka enggan.


“Edo... sampai kapan kau di situ? Ayo kita


pulang” tegur seorang wanita cantik yang berjalan menghampiri lelaki yang


bernama Edo itu.


“Aku menunggumu Devi...” jawab Edo yang


langsung memakai ranselnya dengan wajah tersenyum, senyum yang lepas dan tanpa


beban, tidak ada seorangpun yang menyapanya kecuali seorang wanita cantik yang saat ini ada di hadapannya.


Dialah Devi, seorang siswi cantik yang memiliki rambut hitam yang panjangnya sampai pinngang, rambutnya terurai dengan japit Hello Kitty di kepalanya.


Untuk Edo, Devi adalah sahabat yang baik baginya, namun tidak banyak yang Edo tahu dari sosok gadis cantik ini. Edo hanya tahu bahwa Devi masih satu sekolah dengannya


dan menempati kelas 3C, kelas yang letaknya paling ujung disebelah kantin sekolah.

__ADS_1


“Kalian lama sekali sih!? sunsetnya sudah mau hilang..!” kata seorang anak lelaki tinggi besar yang berdiri di sebelah tangga menunggu kedua sahabatnya.


“Bisakah kau sabar sedikit, atau ku tendang


bokongmu” marah Devi.


“Dasar penyihir lambat, bagaimana kalau


sunsetnya hilang!?” tanya anak laki-laki tinggi besar itu dengan tangan mengepal dan wajahnya mendekat ke wajah Devi.


“Kalau hilang hari ini besok kan ada lagi...!! Devi seolah tidak mau kalah, wajahnya yang cantik berubah menyeramkan sambil tangan kanannya menyingsingkan lengan bajunya.


“Besok yah besok, hari ini yah hari ini...!!”


Anak lelaki itu seperti tidak mau kalah juga berdebat.


“Kamu ini... seperti tidak ada hari esok aja”


kata Devi yang tidak mau kalah.


“Bagaimana kalau besok hujan? Besok yah besok, sekarang yah sekarang” balas anak laki-laki itu.


Edo hanya menutup muka dengan tangan kanannya, pertengkaran seperti ini memang


“...hmm... teman-teman, apakah kita sudah bisa jalan sekarang?” tanya Edo yang seketika menghentikan pertikaian kedua sahabatnya itu.


Sekolah Linggar, adalah sekolah swasta yang


menampung pelajar dari SMP sampai SMA. Sekolah yang memiliki taraf international. Namun, bukan berarti sekolah seperti ini tidak ada siswa pembuat onar.


Saat Edo masih duduk di bangku kelas 1, Edo mendapat perlakuan yang tidak baik dari beberapa anak SMA Linggar, satu minggu di sekolah bagaikan neraka untuknya, setiap hari Edo harus menerima perlakuan yang tidak baik dari anak-anak di sekolah, hingga pada suatu saat seorang anak laki-laki membantunya, anak itulah yang saat ini berdiri dihadapannya, seorang anak laki-laki dengan postur tubuh tinggi besar dengan potongan rambut seperti tentara bernama Hengkie.


Di depan pintu gerbang sekolah, berdiri sebuah warung kecil yang dipenuhi oleh siswa-siswa SMA Linggar, disana terdapat


segerombolan anak yang beberapa tahun lalu mengganggu Edo. Termasku Vandu, dia adalah seorang anak laki-laki yang sangat terkenal dengan kenakalannya,


"Ahhh mereka lagi... apakah sekolah ini


tidak bisa mengeluarkan anak-anak nakal itu?" ketus Hengkie yang melihat

__ADS_1


gerombolan anak-anak itu dengan rokok ditangan mereka.


"Oi oi... sudalah, mereka tidak mengganguku saja itu sudah cukup" kata Edo dengan terus melangkah.


"Tentu saja kau tidak diganggu mereka, itu semukan karena aku" kata Hengkie yang terus melihat ke arah anak-anak nakal itu.


"Aku memberi mereka sedikit pelajaran dan sampai sekarang mereka bagai kecoa hehehehe" lanjutnya sembari menunjukkan gigi putihnya.


"Yah... aku berterima kasih padamu, aku tak tahu apa yang kau lakukan pada


mereka sehingga mereka tidak lagi menggangguku, tapi apapun itu, aku berterima kasih padamu" kata Edo yang langkahnya terhenti dan berbalik melihat


sahabatnya itu.


"Hehehehe... yang aku lakukan pada mereka? aku hanya memukul mereka satu


persatu, kau lihat tubuhku ini? ototku ini,... aku ini jago tinju... mau kuajarkan?" jawab Hengkie yang melompat-lompat kecil seperti petinju yang akan bertarung.


"Ah kau ini... beda dengan Edo, dia itu pakai otak kalau melakukan sesuatu, bukan pakai otot" sambung Devi.


"Hei hei... anak perempuan itu suka lelaki yang berotot dan kuat sepertiku" tegas Hengkie sembari memperlihatkan otot lengannya yang seperti telur bebek.


"Issshhhh.... kenapa aku tidak tertarik padamu?" ketus Devi.


"Mungkin matamu bermasalah hahaha..." jawab Hengkie disusul tawanya.


"Otak kamu yang bermasalah" sambut Devi.


Edo yang melihat kedua sahabatnya, untuk kedua kali menutup wajah dengan tangan kanannya, satu senyum kecil sedikit terlihat, dia sangat sadar dengan perasaannya saat itu, ini adalah waktu yang tidak akan kembali, tidak akan bisa diulang lagi dan tidak akan bisa dibeli dengan apapun.


"Ayo kita pulang, untuk beberapa minggu ini kita tidak usah banyak main, apa lagi kau Hengkie, kau stop dulu ke game center" ketus Devi.


"Tenang, aku ini anak yang pintar di sekolah, buatku main game online dan belajar sama saja hehehe..." jawab Hengkie sembari


membusungkan dadanya.


"Tuk..." suara kecil dari bawah kaki terdengar di susul suara Hengkie yang meringis kesakitan.


"Agghhhhhhhh...!!! tulang keringku...!!!" kata Hengki sambil memegang

__ADS_1


kakinya.


"Ayo pulang Edo, kau harus belajar" kata Devi sembari berlalu meninggalkan Hengkie yang menahan rasa sakit.


__ADS_2