Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 32


__ADS_3

Siang itu langit yang cerah berubah mendung, seorang anak laki-laki dengan wajah bersalahnya, dihadapkan dengan seorang gadis belia yang terus memandang anak laki-laki itu dengan penuh amarah, anak laki-laki itu terus mendekat ke arah gadis itu dengan kepalanya terus menunduk.


Tangan gadis itu bergerak, dengan reflek Edo menutup matanya, terlihat ia begitu pasrah jika menerima tamparan atau pukulan dari gadis itu. Namun, tangan gadis itu menggenggam erat tangan Edo, raut wajahnya yang kesal berubah kesedihan.


“Lihat aku” kata gadis bernama Mira itu dengan tangan yang menggenggam erat lengan Edo.


“Selemah inikah seorang anak laki-laki yang dibanggakan sahabatku” lanjut Mira.


“...”


Edo terdiam, memandang wajah Mira saja ia tidak mampu. Rasa bersalah dalam dirinya, membuat ia tidak mampu mengeluarkan satu katapun, seorang gadis dihadapannya bagai seorang hakim yang menjatuhkan hukuman padanya.


“Sini kau ikut aku” ucap Mira yang menyeret Edo untuk ikut dengannya.


“...”


“Buktikan padaku bila kedua sahabatku itu benar...” kata Mira dengan terus berjalan melalui lorong rumah sakit.


“...”


Sampailah mereka pada satu ruangan, ruangan dengan kaca besar yang cukup untuk melihat ruangan sebelahnya. Lengan Edo dilepaskan Mira, dengan langkah yang berat dan jantung terus berdetak, Edo menghampiri kaca besar itu.


Untuk pertama kalinya, dalam waktu yang sangat lama, Edo dapat melihat seorang pahlawan yang menolongnya 3 tahun lalu, seorang sahabat yang selama 3 tahun terbaring kritis di ruangan yang hanya dipenuhi alat-alat rumah sakit.


Langkah Edo terhenti dan pandangannya terarah ke sebuah ruangan, dalam ruangan itu terbaring dua sosok anak laki-laki dan perempuan, seluruh badan mereka dipenuhi dengan selang dan kabel, monitor yang menandakan detak jantung pasien terpasang di sebelah mereka.


Sebuah pemandangan yang menggetarkan hati, dua orang sahabat yang datang menepati janji, saat ini terbaring tidak berdaya, dua orang sahabat yang selama ini berusaha untuk tetap setia dan tetap menjadikan janji mereka sebagai tujuan utama, kini tidak bersuara.

__ADS_1


“Siapa yang dapat menahan kesedihan saat ini? Perpisahan waktu itu begitu menyakitkan, namun pertemuan saat ini teramat menyakitkan, bukankah setiap pertemuan itu mendatangkan kebahagiaan bagi setiap orang yang sama sama merindukan? Hidup ini terlalu rumit, terlalu menyakitkan, terlalu menguras kesedihan. Ini adalah cerita nyata dan bukan sebuah ilusi semata, tangan itu, wajah itu dan tubuh itu, pernah membuatku tenang, pernah membuatku bahagia dan hingga saat ini aku terus merindukan kebahagiaan itu. Apakah harus berakhir? Apakah Tuhan telah menentukan keputusannya? Tidak... aku tidak ingin berakhir seperti ini... tolonglah... tolonglah untuk tetap di sini... bukankah kita sudah berjanji sahabatku...” ucap Edo dalam hatinya yang tanpa disadari wajahnya sudah basah dengan air mata.


“Kembalilah... mari kita ulangi lagi...” kata Edo lirih sambil terus memegang kaca yang berada di hadapannya.


“Edo...” satu suara yang berasal dari arah pintu terdengar.


Suara yang dimiliki oleh seorang wanita setengah baya, wajah pemilik suara itu terlihat sangat sedih. Saat itu, entah apa yang membuat air matanya keluar. Edo yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh, tangisnya menjadi-jadi manakalah ia melihat wanita itu.


“Apa itu kamu nak?” tanya wanita itu yang semakin mendekat.


“Ibu... maafkan aku...” satu kalimat yang terucap dari mulut Edo yang dengan segera mendekat dan memeluk wanita itu.


“Maafkan aku ibu” ucap Edo dalam tangisnya.


“Untuk apa nak?” tanya wanita itu yang sudah memeluk Edo.


“Kau sudah besar yah... tidak ada yang perlu disalahkan dari peristiwa ini nak... siapapun tidak ada yang harus disalahkan...” kata wanita itu lirih.


Suasana dalam pertemuan itu, sudah tergambar dalam pikiran tante Stefani, ia tidak bisa melihat hal-hal seperti itu, ia hanya bersandar di luar, menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke dalam. Keakraban Edo dengan keluarga Devi dan Hengkie sangatlah dekat sehingga ibu Devi menyuruh Edo untuk memanggilnya ibu.


Sejak ibu Devi mengetahui bahwa ibu Edo telah meninggal, ia menyuruh Edo memanggilnya ibu. Walau begitu, ia tidak membeda-bedakan Edo dengan Devi ataupun Hengkie, teringat dulu di saat ketiganya melakukan kenakalan, ia memarahi ketiganya tanpa membeda-bedakan mereka.


Di ruangan itu, Edo terus berada di dekat ibu Devi yang bernama Desty. Melihat keduanya telah tenang, tante Stefani segera masuk ke ruangan itu.


“Tante ada di sini!?” Edo terkaget.


“Apakah kau tidak suka dengan kedatangan tantemu ini?” tanya tante Stefani.

__ADS_1


“Ahhh... sejak kapan aku seperti itu...” jawab Edo.


“Maaf ibu Desty, untuk sekarang bagaimana keadaan mereka berdua?” tanya Stefani serius.


“Masih sama, tidak ada perubahan yang berarti” jawabnya dengan memandang wajah Edo di sampingnya.


“...apakah aku boleh masuk ke dalam?” tanya Edo.


“Boleh saja, tapi tidak boleh berlama-lama dan harus memakai pakaian itu” jawab ibu dari Devi sembari menunjuk ke arah  baju berwarna biru langit.


Suara monitor dan bau obat memenuhi ruangan itu, ruangan dimana Devi dan Hengkie berbaring. Edo melihat wajah mereka dengan oksigen yang terpasang, kedua wajah itu sangat kurus, tangannya terlihat hanya dibalut oleh kulit.


“Selama inikah kalian menderita? Kau adalah anak laki-laki yang kuat, aku tidak bisa mengalahkanmu... apa aku harus dipukuli orang lain agar kau datang membantuku untuk mengahajar mereka?” ucap Edo yang saat itu melihat ke arah Hengkie.


“Dan kau... aku sudah berjanji kepada dia untuk menjagamu... aku terus berlatih agar aku tidak menjadi anak yang lemah... agar aku tidak menjadi anak yang cengeng... apakah aku harus menjadi anak yang lemah dan cengeng, baru kau datang menenangkan aku” kata Edo yang saat itu melihat Devi.


“Sampai saat ini aku bersikap pengecut, aku berusaha untuk tidak menerima kenyataan... karena aku tahu kalian sudah tidak ada lagi... tapi... sekarang sudah berubah, dengan melihat kalian terbaring di sini, membuatku ingin terus berjuang dalam hidupku, aku tahu kalian bertahan sampai saat ini karena apa, kalian juga berjuang bukan!? Cepatlah kembali... banyak yang harus kita lakukan bersama, banyak yang ingin aku dengar dan banyak ceritakan yang ingin aku sampaikan kepada kalian... kembalilah dan maafkan aku.... janji kita masih berlanjutkan ‘Devi’? Dan kau... bukan, maksudnya kita


Bukankah kita berdua sudah berjanji akan menjaga dia? Karena itu kembalilah kalian!” ucap Edo dengan suara yang cukup keras.


Beberapa ucapan yang saat itu keluar begitu saja dari mulut Edo, ucapan yang sepenuhnya muncul dari dalam hatinya. Edo hanya sendiri di ruangan itu, ketiga orang yang berada di balik cermin hanya dapat melihat tanpa tahu apa yang diucapkan Edo saat itu.


Sebuah cahaya dengan suara yang samar-samar terdengar dari alam bawah sadar 2 anak manusia, mereka serasa tidak berdaya berada disebuah ruangan dengan pintu yang terkunci sangat rapat.


“Apakah kau mendengarkan suara itu... suaranya mirip dengan anak cengeng itu” terucap dari mulut salah satu penghuni ruangan itu.


“Entalah...”

__ADS_1


__ADS_2