Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 37


__ADS_3

“Aku menunggunya, sudah berapa lama aku seperti ini, aku sungguh tidak tahu... untuk beranjak dari sini saja aku tidak bisa... siapapun tolong aku...” ucap seorang gadis yang berada di ruangan kecil yang gelap tanpa cahaya.


“Samar-samar aku mendengar anak itu berbicara, tapi untuk bergerak kenapa begitu sulit...” tambahnya.


“Ada sinar kecil di sana, aku rasa kita bisa keluar dari sini jika ada yang dapat mendobraknya dari luar” sambut seorang laki-laki yang juga berada di ruangan itu.


“Siapapun yang ada di luar, tolonglah kami...” teriak gadis itu lagi.


Sudah beberapa hari ini Edo dan Vandu selalu bersama di sekolah, kebersamaan mereka menimbulkan kebencian kepada setiap siswa sekolah Linggar. Mereka berusaha untuk membalas setiap perbuatan Vandu dan teman-temannya.


Begitupun Edo, dia menjadi target para siswa SMA Linggar. Ada beberapa siswa yang merasa paling layak mendapat ranking 1 dan penghargaan di sekolah, namun Edo yang mereka ketahui adalah orang aneh telah menghancurkan semuanya.


“Mereka adalah aib untuk sekolah ini, mereka adalah noda yang harus disingkirkan dari sekolah ini... sepulang sekolah, mari kita hancurkan mereka” kata seorang siswa SMA Linggar kepada teman-temannya.


“Kalau Edo masih dapat di urus, tapi Vandu dan teman-temannya begitu sulit” kata seorang dari yang lainnya.


“Kau tidak lihat mereka? mereka saat ini fokus dalam belajar agar naik kelas, aku yakin jika kita hajar mereka, mereka tidak akan melawan... aku tahu poin kesalahan mereka di sekolah sudah habis jadi jika mereka berbuat kesalahan, mereka akan dikeluarkan” jelas anak itu.


“Baiklah... jadi kita mulai dari mana?” tanya seorang anak yang tadi.


“Begini................................”


Sementara itu, Edo dan ketiga sahabat barunya sibuk berada di perpustakaan, keempatnya sangat serius dalam belajar, terlihat bahwa semangat Vandu untuk kembali belajar sangat besar, begitupun Fajri dan Andri walau mereka agak lambat.


“Semuanya terasa sangat mudah jika bersamamu...” kata Vandu.


“Tidak juga, itu semua karena kau ada kemauan dan ingin berusaha, jika tidak ada itu, kau tidak akan bisa merasakan kemudahan dalam melakukan sesuatu” jelas Edo.


“Oh yah... apakah hari ini kau akan ke rumah sakit lagi?” tanya Vandu.

__ADS_1


“Tentu saja, aku akan kesana sampai mereka sadarkan diri” jawab Edo.


“Boleh aku ikut?” tanya Vandu.


“... baiklah”


Sekolah SMA Linggar, tidak ada yang berubah. Lingkungan sekolah yang hening, setiap siswa begitu fokus dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan. Selalu menjadi hal yang tidak menyenangkan, bagi kelas yang mendapatkan mata pelajaran mate-matika di jam terakhir.


Namun beda halnya denggan Edo, baginya setiap mata pelajaran yang diikutinya adalah sama, tidak ada yang sulit baginya. Sampai pada waktu bell sekolah berbunyi dan para siswa segera berhamburan keluar kelas.


“Apakah kau jadi menginap di rumahku?” tanya Edo pada Vandu saat itu.


“Hahaha iya, Oh yah... seperti yang aku katakan padamu tadi siang, kita ambil motor dulu di bengkel karena sudah lama motor itu tidak kau service” kata Vandu.


“Hmmm... ternyata kendaraan itu sangat berguna yah, selama ini aku berjalan kaki karena sudah terbiasa...” kata Edo sambil memikirkan masa dimana ia selalu bersama Devi dan Hengkie pulang sekolah.


“Ayo... bengkelnya tidak begitu jauh dari sini, setelah itu aku akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian” kata Vandu.


Tidak ada seorang anak yang terlahir jahat, tidak ada seorang anak yang dapat menampung kepedihannya sendiri, manusia hidup bersosial namun terkadang perbedaan dan ketakutan menjadi batasan dalam setiap aspek kehidupan manusia itu sendiri.


Edo yang mungkin takut menyusahkan banyak orang dan Vandu yang merasa kehidupan keluarganya adalah aib. Vandu mencoba untuk menyimpan kelemahannya dihadapan banyak orang, mencoba menarik setiap orang agar mengakuinya, sehingga pada akhirnya Vandu menjadi seorang yang anti sosial dan cenderung membuat masalah di sekitarnya.


Sekumpulan anak-anak bermotor melewati mereka, mereka berhenti tepat di hadapan Edo dan Vandu. Seragam mereka tidak asing bagi Edo dan Vandu, kira-kira jumlah anak-anak itu ada 17 orang, wajah mereka terlihat sangat tidak menyenangkan saat itu.


“Aku tidak menyangka, kedua orang yang menyebalkan di sekolah kita menjadi se-akrab ini...” kata seorang anak yang turun dari sepeda motor.


“Yang satu pembuat onar bodoh dan satunya lagi penyendiri gila...” sahut seorang anak lainnya.


“Aku heran... kenapa dia tidak mati saja saat kejadian itu?” seorang anak lainnya.

__ADS_1


Vandu mencoba mendekati mereka, tangannya mengepal dengan wajah yang teramat kesal. Namun Edo menghentikannya, baginya tidak ada yang perlu dilakakan. Edo hanya terus berjalan melewati anak-anak itu, tanpa mengindahkan perkataan-perkataan mereka yang terkesan menghina.


“Kau acuh sekali, bisakah kau berhenti sebentar?” tanya seorang anak yang tiba-tiba menghalangi mereka.


Anak itu tidak memakai seragam sekolah Linggar, telinganya berlubang besar. Anak itu tidak nampak seperti seorang siswa, dengan tato yang memenuhi lengannya dan rambut yang berwarna merah, sudah dipastikan anak itu adalah preman bayaran.


“Aku di sini hanya melihat, aku tidak akan lakukan apa-apa pada kalian, asalkan kalian diam dan mendengar apa kata mereka” kata preman itu dengan senyum di wajahnya.


“Hehehe... bisakah kita berdiskusi sebentar?” tanya anak yang tadi turun dari motor.


Namanya Ridwan, memiliki nilai terbaik nomor 2 di sekolah Linggar setelah Edo, ayahnya adalah seorang lurah di salah satu desa.


“Sebenarnya aku malas menjadi nomor 2 di sekolah, aku juga malas sekali meminta-minta, namun saat ini adalah pengecualian... bisakah kau serahkan peringkat nomor 1 milikmu padaku tahun ini?” lanjut tanya Ridwan dengan senyum jahatnya.


“Oh yah, tapi bukan berarti setelah kau setujuh memberikannya padaku, kau dapat dengan mudah pergi dari tempat ini... aku butuh hiburan hari ini...” lanjutnya.


“Apa-apa kau ini... kau pikir kau bisa melakukan seenaknya pada kami?” sergah Vandu penuh emosi, namun segera di hentikan Edo.


“Hehehe aku tahu siapa kalian, keluarga kalian, kebiasaan kalian, masa lalu kalia, kalian itu seharusnya menyerah dengan keadaan kalian saat ini” kata Ridwan memprovokasi.


“Upssss... aku belum selesai bicara, badan besarmu itu hanya pajangan saja, itu hanya sebuah kamufalse agar kau terlihat kuat... hahahaha itu tidak berpengaruh padaku, kau sudah tahu itu...” kata Ridwa dingin dengan wajah yang menjengkelkan.


“B*****t....!!!!” teriak Vandu menghampiri Ridwan untuk segera memukul.


Namun 17 orang anak segera menghadang Vandu, ada yang memegang balok dan besi bangunan, mereka menemukan alat-alat tersebut di tempat itu yang ternyata sedang ada pembangunan gedung.


“Hahaha, aku berani jamin kau tidak akan bisa mengalahkan aku... badanmu itu hanya pajangan...” Ridwan terus memprovokasi.


Hinaan demi hinaan diterima Vandu, marah, benci dan sakit hatinya seolah meletup-letup bagaikan lahar yang siap menyembur. Edo hanya terus melihat temannya itu, ada satu hal yang ingin dipastikan Edo saat itu dan inilah saatnya.

__ADS_1


“Hei Edo... kau biasanya berbicara sendiri seperti orang gila, apa tidak ada kata yang bisa kau ucapkan saat ini?” tanya Ridwan.


“Diam kau brengsek....!!!” pergilah dari sini sebelum aku benar-benar marah.


__ADS_2