
Kembali layar itu berubah hitam, berganti beberapa bulan setelahnya, hujan deras membasahi kota Tomohon, kota yang indah itu. Kesedihan tampak terpancar dari wajah mereka.
“Apakah kalian ingin tinggalkan aku!?” tanya Edo sedih.
“Maaf Edo, ayahku dipindahkan ke Jakarta, kami tidak bisa mencegahnya Edo” jawab Devi sedih.
“Berapa lama?” kembali Edo bertanya.
“Kami tidak tahu, maafkan kami” jawab Hengkie.
Edo tampak terpukul, ia berlari menerobos hujan untuk kembali ke rumahnya, kedua sahabatnya mengejar dan bahkan Devi kala itu terjatuh karena licinnya jalan. Rumah yang teramat sepi, tidak ada seorangpun hanya Edo, tante Stefani kala itu sedang berada di toko butiknya.
Suara pintu rumah terdengar diketuk, Edo tahu bahwa kedua sahabatnya itu berada di balik pintu, ia tidak ingin membukanya, ia tidak sanggup melihat kedua sahabatnya itu. Pikirnya, “Untuk apa pertemuan ini jika perpisahan harus terjadi, apakah sebuah kesalahan bersahabat dengan mereka yang hanya sebentar? Ibu, ayah dan bahkan mereka meninggalkanku”.
Pintu rumahnya terbuka, kedua sahabatnya berdiri di depan pintu dengan baju yang basah. Mata Edo langsung tertuju pada lutut Devi, sebuah cairan berwarna merah deras mengalir sampai pada ujung kaki Devi.
“Ke... kenapa kau Devi?” tanya Edo, yang seketika hilang kesedihannya melihat darah yang mengalir di kaki Devi.
“Ini tidak apa-apa, tenang saja” jawab Devi dengan wajah menahan sakit.
“Ini salahku, maafkan aku Devi” kata Edo seraya memeluk Devi.
“Hei... jadilah anak yang kuat, perpisahan kita ini bukan sebuah akhir” kata Hengkie kecil sembari menepuk bahu Edo.
Edo mencoba untuk kuat, ia berlari ke kamarnya dan mengambil beberapa pakaian serta handuk untuk mengeringkan tubuh kedua sahabatnya itu. Tidak berapa lama, hujan redah meninggalkan air yang membasahi bumi, bunga yang tadinya layu berubah mekar dan sebuah garis terlihat di atas danau Linow.
“Hei Edo, kemarilah” kata Devi seraya menarik tangan Edo.
“Itu ada pelangi, indah bukan?” lanjutnya sambil melihat wajah Edo yang masih bersedih.
“Setelah hujan, terciptalah pelangi yang indah. Kau tahu Edo, tidak selamanya hal buruk yang kau alami berakhir buruk pula, tidak selamanya hal indah yang kau alami berakhir indah pula” nasihat Devi dengan tangan kiri yang masih menggenggam tangan Edo.
__ADS_1
“Jadi, aku harus bagaimana?” tanya Edo dengan kepala yang tertunduk.
“Lihat aku” kata Devi dengan senyum manisnya.
“Jalani harimu dengan membuang semua kekhawatiranmu, kekhawatiranmu hanya akan merusak dirimu sendiri. Jika tidak bisa membuang semuanya itu, ingatlah aku dan saudaraku” lanjut Devi dengan matanya melihat ke arah Hengkie.
“Kau tidak sendiri sampai kapanpun, selalu ada kami untukmu” kata Hengkie dengan tangannya menepuk pundak Edo.
“Maukah kau berjanji dengan kami?” tanya Devi dengan senyum.
“Berjanji apa?” tanya Edo penasaran.
“ Tiga tahun lagi, tiga tahun lagi kita akan bertemu di sini, kembali bersekolah bersama, menikmati pemandangan yang indah di sini dan menggapai cita-cita bersama, aku ingin jadi Dokter, Hengkie ingin jadi tentara dan kau ingin jadi apa?” tanya Devi semangat.
“Aku..?? .....aku ingin mengikutimu, menjadi seorang Doter dan akan mengalahkan nilaimu di sekolah nantinya” jawab Edo semangat.
“Baiklah, tiga tahun lagi, kita bertemu di sekolah Linggar, kita akan bersekolah bersama di sana” kata Devi pasti.
Edo yang melihat layar besar, yang menayangkan memori masa kecilnya tidak terasa mengeluarkan air mata, inilah suatu perjanjian yang selama ini ditunggunya, sebuah perjanjian dengan kedua sahabatnya. Edo begitu kesal akan dirinya, ia ingin segera beranjak dari tempat itu namun tidak mampu.
Layar tersebut kembali menghitam, sebuah gambar kembali muncul, gambar yang sangat tidak asing baginya, bus-bus sekolah, hiruk pikuk siswa dan siswi memadati halaman luas sekolah Linggar. Edo kala itu telah diterima sebagai siswa di sekolah Linggar. Sudah tiga hari tidak ditemukan kedua sahabatnya, hatinya hancur, pikirnya janji yang pernah mereka katakan hanyalah kebohongan semata. Sampai pada hari dimana penyambutan siswa baru dilaksanakan, Edo tidak menemukan kedua sahabatnya itu.
Bus sekolah berjalan dengan memuat 52 orang, muatan yang melebihi kapasitas yang harusnya 47 kursi. Edo kala itu duduk di barisan kursi sebelah kiri, kursi tersebut dekat dengan pintu bus bagian belakang. Edo memandang keluar jendela, menikmati setiap pemandangan yang disajikan oleh alam Sulawesi Utara.
Pemandangan yang sangat memanjakan mata saat itu, samapi satu ketika hujan deras turun membasahi bukit, Edo melihat seorang dengan pakaian berwarna merah, orang itu melambaikan tangan seolah manyuruh bus segera berhenti.
Melihat hal tersebut, Edo segera beranjak dari tempat duduknya, ia berusaha berbicara dengan supir, supir yabg pada saat itu mengemudikan bus, langkah Edo untuk berjalan ke arah supir bus sangat sulit dengan adanya sekumpulan anak yang duduk di tengah bus.
Dua orang anak perempuan dan laki-laki, tampak memperhatikan Edo yang saat itu melewati mereka. Kedua anak itu saling bertanya satu sama lain.
“Edo kah itu?” tanya gadis itu.
__ADS_1
“Iya aku rasa dia Edo” jawab laki-laki yang duduk disampingnya.
“Coba kau temui dia” kata gadis itu dengan senyum di wajahnya.
“Tunggu sebentar” jawab laki-laki itu.
Bus yang dipadati penumpang sangat sulit untuk diterobos, anak itu meliaht Edo yang berbalik dari arah supir bus.
“Edo...!!” teriak anak itu memanggil Edo dengan senyum di wajahnya.
Edo melihat anak laki-laki itu, Edo terlihat penasaran dan mencoba mendekat. Namun, terdengar suara bising dari atas bus, suara itu sangat menakutkan dan membuat anak laki-laki itu kembali ke tempat duduknya untuk menenangkan gadis yang duduk bersamanya.
“Iya itu Edo, kamu tenang... tidak akan terjadi apa-apa” kata anak laki-laki itu sembari memeluk gadis di sebelahnya.
Tidak lama berselang longsor menerjang bus tersebut, teriakan terdengar dari dalam bus, seorang anak laki-laki berusaha menahan setiap puing-puing yang menimpa gadis di sebelahnya, luka para dialaminya sampai pada saat bus terbalik, dengan sisa tenaganya ia melangkah kedepan untuk menghindari batu besar yang semakin mendekati, sampai pada saat anak itu menemukan Edo yang tidak sadarkan diri di pinggir jendela sebelah kiri
supir.
“Edo bangunlah....!!!” teriak anak itu begitu keras.
Kala itu Edo sadar, namun setengah badannya sudah berada di luar bus, ia melihat anak laki-laki itu, anak laki-laki yang mulai dikenalnya, anak laki-laki itu memeluk seorang gadis cantik. Gadis beralis tebal dan anak lelaki yang tinggi besar, meraka adalah dua orang yang selama ini ditunggunya.
“Hengkie... Devi...” suara Edo begitu pelan tanpa tenaga.
“Iya ini kami, kami menepati janji kami bukan?” kata anak laki-laki itu yang adalah Hengkie, tangannya begitu erat memeluk saudaranya Devi yang tidak sadarkan diri, mata Hengkie begitu merah, kesedihan tampak dari wajahnya yang saat ini berhadapan dengan maut. Ia menangis namun ditahannya dan hanya memandang saudaranya Devi yang ada dipelukannya.
“Tidak... tidak... jangan seperti ini” kata Edo coba menggapai temannya.
Suara batu besar yang jatuh dari atas bukit semakin mendekat, dengan hitungan detik saja sudah menghujam bus sekolah, Hengkie dengan cepat mendorong Edo keluar dari jendela, sudah tidak ada waktu untuknya menyelamatkan diri atau menyelamatkan Devi, yang dilakukan Hengkie bila terlambat sekian detik saja dipastikan Edo akan tewas saat itu, karena itu tim SAR menemukan Edo tersangkut di sebuah akar pohon di tengah jurang.
Melihat layar itu menunjukkan gambar yang telah hilang dari pikiran Edo, mebuat Edo menangis sejadinya, ia berusaha keluar dari ruangan berlayar itu namun masih sulit, kedua sahabatnya yang selama ini berusaha diganti oleh imajenasinya ternyata telah menyelamatkan hidupnya, itu mengapa imajenasi yang dia ciptakan selama ini, sama dengan wajah yang baru dilihatnya di sebuah layar yang tepat berada di hadapannya.
__ADS_1