Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 15


__ADS_3

Sebuah taman dihiasi lampu-lampu berkilauan, taman yang berada di samping rumah sakit, terlihat sepasang suami


istri duduk disebuah bangku panjang.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya tante Stefani penasaran.


“Ini tentang Edo” jawab om Santoni serius.


“....”


“Tadi pagi aku melihat dia di depan pagar rumahnya, aku tahu dia sendirian di sana, namun dia seolah berbicara dengan orang lain, aku tidak melihat siapapun di sana kecuali dia” jelas om Santoni.


Perkataan om Santoni membuat mata tante Stefani melihat tajam ke arahnya, pikirnya istrinya itu marah atas perkataannya.


“Jadi itu yang ingin kamu ceritakan?” tanya tante Stefani yang terus memandang tajam ke arah suaminya.


“Bukannya aku berpikir keponakan kamu gila, tapi aku kasihan dengan dia, aku mengatakan ini agar engkau tahu” om Santoni coba menjelaskan semampunya.


Air mata menetes dari wajah tante Stefani, wajahnya terlihat begitu menyesal dengan apa yang didengarnya, melihat hal itu om Santoni coba menghibur.


“Maafkan aku jika perkataanku membuatmu larut dalam kesedihanmu Stefi” kata om Santoni seraya memeluk istrinya.


“....yah, aku memang sangat bersalah, semua ini karena kesalahanku” kata tante Stefani lirih.


“Maksud kamu?” tanya om Santoni.


“Aku sudah mengetahui hal itu sudah lama” jawab tante Stefani dengan menggenggam erat lengan suaminya.


Tante Stefani menceritakan apa yang selama ini diketahuinya, segala apa yang sudah pernah dialaminya, itu semua tidak jauh dari apa yang diceritakan suaminya.


Kira-kira dua setengah tahun lalu, kepala sekolah memanggil tante Stefani sebagai wali Edo, tante Stefani tidak menyangka keponakannya dihadapkan dengan kasus kekerasan di sekolah. Edo menghajar 3 orang siswa SMA Linggar dan satu diantaranya harus dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan pada tangan kanannya.


Pada saat itu Edo mengelak, ia berkata bahwa seorang anak laki-laki bernama Hengkie yang melakukan itu, melihat wajah Edo yang terluka dan lebam di wajahnya, tante Stefani mengambil kesimpulan bahwa keponakannya itu mendapat perlakuan yang tidak pantas dari ketiga anak itu.


Tante Stefani menekan Sekolah Linggar yang kala itu bersih dari segala macam kekerasan, ia berkata akan melaporkan sekolah jika terbukti ketiga anak itu bersalah. Mendengar hal itu, pihak sekolah tidak memperpanjang masalah tersebut, malahan akan memberi sangsi kepada ketiga siswa itu jika kembali melakukan kesalahan.

__ADS_1


Tante Stefani coba bertanya kepada Edo, siapa Hengkie namun tidak pernah Edo mempertemukan dia dengan Hengkie, mingu-minggu yang penuh kecurigaan bagi tante Stefani. Pada suatu hari tante Stefani berusaha mengikuti Edo saat berangkat sekolah bahkan sepulang sekolah


Dilihatnya Edo berada di sebelah danau, seolah berbicara dengan orang lain, namun sama dengan om Santoni, tidak ada orang yang dilihat tante Stefani disekitar Edo, di matanya Edo hanya sendiri.


Pada awalnya tante Stefani terkejut melihat hal itu, namun semakin hari, tante Stefani merasa hal itu biasa, pikirnya itu akan hilang seiring berjalannya waktu, apa lagi setiap semester nilai akademik dan non akademik Edo selalu yang terbaik di sekolah Linggar.


Hal itu tanpa disadari tante Stefani akan menjadi sebuah bom waktu yang saat ini telah meledak, Edo menyimpan sebuah tekanan selama tiga tahun ini, bagaikan sebuah gunung es yang berada di tengah laut, mirip sekali dengan sebuah teori dari seorang bapak dari sikologi bernama Sigmund Freud.


Seorang anak bernama Edo, tidak ada tempat baginya untuk berbagi, dunia seakan menghukum dirinya. Perjalanan hidupnya terlalu berat dan terlalu sulit untuk dipahami.


Semua prestasi yang digapainya menjadi nomor satu, seakan tidak berarti, wajah-wajah kebencian dan kemunafikan menjadi makanannya sehari-hari.


Minggu pagi yang sangat cerah di langit Orlando, seorang laki-laki setengah baya sedang duduk asik di sebuah kursi panjang, kursi yang berada di sebuah taman kota.


"Mr. Hans, besok kita akan mendapat jawaban dari clien kita, aku harap mereka menyutujui bekerjasama dengan kita" kata seorang wanita berambut pirang.


Wanita itu duduk di sebelah lelaki setengah baya itu, lelaki yang dikennal dengan nama Handoko, Ayah dari seorang anak bernama Edo.


"Yah, semoga saja mereka mau bekerja sama dengan kita, jika itu terjadi... seluruh costumer yang sudah menjauh akan kembali kepada kita" jelas Mr. Hans dengan buku di tangannya.


Sebuah handphone bergetar di saku Mr. Hans atau Handoko, Handphone yabg dibawanya diluar jam kantor adalah handphone pribadi, handphone yang lama tidak berdering, handphone yang nomornya hanya diketahui 2 orang saja, Edo dan Stefani.


handphone tersebut seolah sangat berat untuk dikeluarkannya, getarannya seakan mengajak jantungnya berdetak lebih kencang.


" Ada apa ini??? tidak biasa ini terjadi!!" gumamnya dalam hati sambil berusaha tenang, berusaha untuk kuat mendengar suara diujung telephone.


"Tunggu sebentar Ms. Grace" kata Handoko seraya berdiri dan berjalan menjauh dari sekertarisnya itu.


Dilihatnya sebuah nama Stefani tertera di layar handphone,


"Hallo Stefani?" kata Handoko pelan.


"Hei kau manusia gila kerja, sudah sebanyak apa uangmu!!!?? teriak tante Stefani dari ujung telphone.


"Maaf, maksudnya?" tanya Handoko dengan suara yang masih pelan.

__ADS_1


"Jika uang kamu sudah banyak, apakah kau mau melihat anakmu!? jika anakmu mati apakah kau dapat mengembalikan anakmu itu!?" teriak tante Stefani dan terdengar suara om Santoni yang coba menenangkan.


"Apa yamg terjadi dengan anakku Stefi?" tanya Handoko mulai khawatir.


"Anak kamu sakit, mentalnya, jiwanya seakan terganggu, apakah kau tidak menyayanginya tuan berdarah biru!?" tekan tante Stefani dengan amat kesal.


"Sakit? dia sakit apa Stefi!?" tanya Handoko cemas.


"Sudah... jangan kau tanyakan itu, jika kau mencintai anakmu, datanglah kemari, tengoklah dia, perhatikan dia... uangmu tidak akan mengembalikan anakmu jika ia pergi!!!" ucap tante Stefani dengan penuh emos.


Ucapan tante Stefani mengakhiri pembicaraan singkat mereka, badan Handoko terasa lemas, pikirannya bercampur, antara pekerjaan dan seorang anak.


Melihat bossnya termangu dengan handphone di tangan, membuat Grace menghampirinya.


"Sorry Mr.Hans, apakah itu dari saudaramu?" tanya Grace.


"Iya Ms. Grace, anakku sakit, aku begitu khawatir saat ini" jawab Handoko.


"Tenang dulu Mr. Hans, coba kau tanyakan pada saudaramu apa sakit yang diderita putramu?" kata Grace sambil memegang punggung Handoko dengan kedua tangannya.


Handoko coba menlphone kembali Stefani, tidak hanya sekali tapi belasan kali, namun tidak ada jawaban dari Stefani.


"Tidak diangkat" katanya kepada sekertarisnya itu.


"Apakah Mr. Hans ingin kembali ke Indonesia?" tanya Grace.


"Aku tidak tahu Ms. Grace, aku sangat ragu mengambil keputusan ini" Handoko menjelaskan dengan nada sedikit ragu.


"Jujur saja Mr. Hans, aku tidak bisa membantumu saat ini, saat ini perusahaan sangat membutuhkanmu" kata Grace meyakinkan.


Handoko sejenak terdiam, dia mengingat karyawan yang begitu baik dan terus membantunya menaikkan kembali perusahaan yang terpuruk, saat ini jika ia gagal membangun kembali perusahaan Oxalino, maka perusahaan akan kolaps dan 1000 karyawan yang selama ini berjuang dengannya, terancam PHK.


Sebuah dilema bagi seorang Handoko, pikirannya terus dipenuhi berbagai macam pertanyaan, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk tetap tinggal, keputusan yang dirasanya salah, keputusan yang akan membuatnya tidak akan bertemu dengan anaknya nanti.


"Maafkan ayah nak, mereka yang bekerja disini membutuhkan uang untuk makan, mereka juga menghidupi keluarga sama seperti ayah, maafkan keegoisan ayahmu ini nak" gumam Handoko seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2