Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 36


__ADS_3

“Baiklah, ayo kita ke rumah sakit” ajak Mira yang sudah selesai dengan makannya.


“iya” jawab Edo sembari berdiri dari kursinya.


Melihat pundak Mira dari belakang, mengingatkan Edo pada Devi, pikirnya apa setiap gadis memiliki persamaan saat dia bejalan? Edo keluar dari rumah makan dengan helm di tangan kanan, terpaksa ia harus meminjam helm milik pekerja rumah makan yang tinggal di situ.


Langit semakin gelap, banyak sekali burung yang berterbangan kesana kemari, namun tidak ada sepatah-katapun yang keluar dari mulut Mira ataupun Edo saat itu. Bahkan sampainya mereka di rumah sakit, Edo hanya berjalan mengikuti Mira dari belakang bagaikan seorang yang terkena hypnotis.


Dari kejauhan disebuah lorong, Edo melihat ibu Desti orang tua perempuan Devi dan Hengkie, ibu Desti mendekati mereka seperti sangat terburu-buru.


“Tante mau kemana?” tanya Mira terheran.


“Ehhh kalian, maaf aku sedang buru-buru...” sapa ibu Desti.


“Aku ingin ke toko di depan sana, tunggu sebentar yah...” lanjut ibu Desti yang terus berlalu pergi.


Lorong yang sepi, tanpa seorangpun berjaga didepan pintu, sangat terasa sekali jika ibu Desti begitu lelah menjaga kedua anaknya sendiri, selama hampir 3 tahun ibu Desti melakukan ini, sendiri dan terus sendiri.


“Jam besuk masih ada, aku ingin menyapa mereka, kau tunggulah di sini” kata Mira sembari berjalan memasuki ruangan ICU.


Ruangan yang dingin, suara alat yang terlihat sangat menakutkan berada di ruangan itu, selang dan kabel seperti akar pepohonan yang menjalar disetiap sudut ruangan.


Pemandangan memilukan, dua sosok manusia yang terbaring di hadapannya, membuat tangannya mengepal keras dan dahinya mengerut.


“Hai cantik... lihatlah dirimu, kau teramat kurus... apakah kau akan terus seperti ini? Lihatlah anak itu berdiri di sana... ia datang untuk menemuimu...” kata Mira sambil memandang ke arah Edo yang ada di balik dinding kaca.


“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Devi, aku sangat kesepian. Teman-teman baruku memang baik, tapi aku seperti kehilangan sosok gadis dewasa yang selalu menasehatiku... cepatlah sadar, kita main lagi... aku merindukanmu...” lanjut Mira yang tanpa dirasa air mata telah menetes di pipinya.


“Tidak banyak yang aku inginkan dari kalian, aku hanya ingin kalian kembali...” kata Devi lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Tidak sampai hitungan menit, Edo sudah ada di dalam ruangan itu. Matanya terus melihat ke arah 2 orang anak yang terbaring di hadapannya, tangannya ingin sekali menyentuh, ingin sekali menggoyangkan tubuh mereka dan berkata “ayo bangunlah teman”.


“Jika sebuah harapan itu ada, aku akan tetap setia menunggu, sambil terus membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya nanti” ucapan itu keluar dari mulut Edo, kesedihan yang tergambar dari wajahnya sangat nyata kala itu.


“Kau pernah berkata, akan selalu ada masa yang indah saat kita melewati masa sulit... aku rasa, masa yang paling sulit bagiku adalah melihatmu seperti ini” lanjut Edo sembari memandang wajah Devi yang terbaring di hadapannya.


“Apakah sulit bagi kalian untuk membuka mata? Jika itu dirasa sangat sulit, gerakkanlah jari kalian... aku tidak akan memaafkan diriku sendiri sampai kalian terbangun” kata Edo dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Menjelang malam, Edo dan Mira sudah berada di halaman parkir, melihat langit yang dipenuhi banyak sekali bintang, membuat Edo menarik dalam-dalam nafasnya. begitu banyak sekali bintang di atas sana, begitu banyak sekali manusia yang ada di bumi ini, kenapa hal seperti ini terjadi padanya dan bukan pada orang lain.


Ponsel Edo bergetar, tertulis nama Vandu di layar ponsel Edo, kembali teringat oleh Edo sebuah janji yang telah mereka sepakati tadi siang. Melihat Devi dan Hengkie di ruangan itu, membuatnya lupa segalanya.


“Vandu maafkan aku, sepertinya aku terlambat... butuh waktu 40 menit sampai di sana, apakah kalian bisa menunggu?” tanya Edo.


“Kami tidak masalah, jika kau tidak lelah kami siap menunggu” jawab Vandu dari ujung telpon.


“Baik terima kasih” kata Edo dibarengi dengan mengakhiri pembicaraannya.


Edo melihat jam di ponselnya, saat itu waktu menunjukkan pukul 19.05 WITA. Untuk sampai ke sana membutuhkan waktu 40 menit, buat dirinya tidak masalah jika harus belajar sampai larut malam, tapi untuk Vandu, Fajri dan Andri sangatlah berbeda.


“Apakah kau ditunggu seseorang?” kata Mira yang sudah memakai helmnya.


“Ahhh iya... sebenarnya aku ingin belajar kelompok dengan teman-teman baruku” jawab Edo.


Mira melihat ke arah jam tangannya, ia tersenyum kecil saat itu.


“Ayo naiklah” ajak Mira.


Motor matic Mira melaju dengan cepat, Edo kala itu tidak bisa berkata apa-apa, nafasnya seolah berat dan matanya terus tertutup saat Mira menaikan laju kendaraannya. Namun tidak berapa lama, mereka sudah berada di sebuah danau yang indah.


“Hei... di mana rumahmu, kita sudah sampai di danau Linow” kata Mira.


“Ehh... hanya 20 menit?” kata Edo yang baru saja membuka matanya.


“Jalan di kota ini tidak seramai Jakarta, aku rasa wajar bila kita cepat samapai di sini” Mira menjelaskan.


“Begitu yah... itu rumahku...” tunjuk Edo ke arah rumah dengan pagar hitam.


Dari seberang jalan, tidak jauh dari rumah Edo, keluarlah Vandu dan teman-temannya dari dalam toko, mereka segera berjalan mendekati Edo yang saat itu sudah berhenti di depan rumahnya dengan Mira.


“Hoi...!!!” teriak Vandu dari kejauhan.


Seketika Mira dan Edo mengarahkan pandangannya ke arah Vandu, Mira yang masih memakai helm dan masker, melihat Vandu dari ujung kaki sampai kepala.


“Akhirnya sampai juga...” sapa Vandu.

__ADS_1


“Maaf jika kalian lama menunggu” kata Edo.


“Tidak apa-apa, ayo masuklah...” ajak Edo.


“Ah iya, kenalkan dulu ini Mira...” lanjutnya.


Mira melepas helm, masker dan sarung tangan sebelah kanannya, baginya, alangkah tidak baik jika berkenalan dengan orang baru tanpa memperlihatkan wajahnya.


“Hai aku Mira...” kata Mira sambil mengulurkan tangan kanannya.


“...”


“...”


“Bidadari...” ucap Vandu dengan suara yang tidak terlalu jelas.


“Maaf... ???” tanya Mira yang sedikit mendengar suara Vandu itu.


“Agh... tidak, aku Vandu...!!!” jawab Vandu gugup.


“...”


“Baiklah... aku pulang dulu” kata Mira dengan memakai kembali sarung tangan, masker dan helmnya lalu segera berlalu pergi.


“Cantik sekali....” kata Vandu sambil terus memperhatikan Mira yang berlalu pergi.


“Hei... ayo masuk, jangan terlalu banyak bermimpi...” kata Fajri yang mengikuti Edo masuk ke halaman rumah.


Malam itu menjadi malam yang terlihat sibuk di rumah Edo, dari wajah-wajah Vandu, Fajri dan Andr terpancar keseriusan dalam mendengar dan memperhatikan Edo saat itu. Tidak ada alasan bagi mereka untuk bermalas-malasan, bahkan ketiganya banyak sekali bertanya jika mereka tidak mengerti dan memang begitulah seharusnya.


Waktu menunjukkan jam 21.15 WITA, ketiganya beranjak dari rumah Edo dengan wajah penuh senyum, kepuasan dalam belajar baru mereka rasakan kembali, jika diperhatikan ketiganya sangat berbeda dari waktu-waktu yang lalu.


“Edo terima kasih, aku merasa otakku bisa menerima segala penjelasan yang kau berikan tadi, aku harap kau tidak bosan belajar dengan kami” kata Vandu.


“Hahahah,,, datanglah kembali... kita lulus sama-sama” ujarnya.


“Terima Kasih”

__ADS_1


__ADS_2