
"Jika kau tidak bisa merobohkanku, mana bisa kau melindungi Devi?" teringat kata-kata itu keluar dari seorang anak SD bernama Hengkie.
Waktu itu, adalah waktu yang sungguh menyenangkan, bermain di pinggir danau Linow dengan matahari yang sejuk, masa-masa kecil yang sungguh menyenangkan kala itu.
Seketika Hengkie tersenyum menceritakan sahabatnya Edo, diikuti wajah-wajah polos Rudi, Danu dan anak-anak kelas 3 SMP lainnya. Saat ini, Hengkie telah menginjak kelas 2 SMP, anak-anak yang dulunya musuh kini menjadi sahabat Hengkie.
"Devi, sejak kapan Hengkie berteman dengan mereka?" tanya Mira yang terkejut melihat Hengkie dikerumuni oleh anak laki-laki.
"Entah lah... mungkin memang begitu siklus anak laki-laki, persahabatan mereka dimulai dari pertengkaran" jawab Devi sambil berlalu melewati Hengkie.
"Hmmm... jadi begitu yah..." respon Mira.
"Oh yah... apakah kau bisa menghubungi sahabatmu Edo?" tanya Mira yang berjalan bersama Devi.
"Aku tidak bisa menghubunginya... sama sekali" jawab Devi dengan wajah cemas.
"Apakah dia punya Facebook atau media sosial lainnya?" tanya Mira penasaran.
"Sama sekali tidak, dia bukan type anak yang suka dengan hal-hal seperti itu" jawab Devi yang sudah berhenti disebuah kursi kantin.
"Hmmm... sulit juga yah... dijaman seperti ini, seseorang tidak punya Facebook atau lainnya... aku penasaran orang seperti apa dia.." kata Mira yang telah duduk di kursi kantin.
"Anak itu? dia seorang yang menyebalkan... kau tahu? aku dan saudaraku selalu khawatir dengannya... emosinya sangat cepat berubah... yah walau terlihat lemah, tapi dia adalah anak yang paling kuat" jelas Devi yang saat itu memanggil ibu kantin.
"Wah... apakah dia sangat merepotkan?" tanya Mira lagi.
Devi tersenyum, baginya Edo sama sekali tidak merepotkan, baginya Edo adalah anak yang mengerti dengan dia dan saudaranya. Memang terlihat lemah, tapi bagi dia dan saudaranya, Edo begitu kuat, kepergian ibunya dan ayahnya yang gila bekerja, mungkin anak lain bahkan dia dan saudaranya tidak akan mampu melewati itu semua.
Sadar akan hal itu, membuat Devi dan Hengkie sangat mengagumi sahabatnya itu, sahabat yang tangguh mentalnya.
"Aku tidak bisa menjelaskan padamu bagaimana anak itu, jika kau bertemu dengan dia, satu hal yang akan kamu pahami, dia akan menjadikanmu sahabat yang sangat berarti" jelas Devi dengan senyum di wajahnya.
"Apakah semenarik itu?" kembali Mira bertanya.
"..." Devi hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.
Untuk saat ini, Mira adalah sahabat terbaiknya di SMP, sahabat wanita yang sangat mengerti tentangnya, tidak ada dalam benak Devi untuk menyamakan atau membedakab Edo dan Mira, bagi Devi, Mira tetap Mira dan Edo tetaplah Edo, mereka berdua adalah sahabat yang baik untuk dirinya dan saudaranya.
Disebuah ruang kelas, tampak beberapa anak laki-laki sedang sibuk, segala bentuk perlengkapan telah mereka sediakan.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah menyiapkan segalanya?" tanya Hengkie bersemangat kepada teman-temannya.
"Tenang saja, semua sudah disiapkan Danu dengan sangat... sangat... sangat baik...!!" kata Rudi yang saat itu memegang gulungan.
"Hehehe... kita akan berjuang untuk kemenangan sekolah kita!!" semangat Hengkie.
"Aku tidak mau semangat kita kalah dengan para sahabat kita yang bertanding....!!" teriak Hengkie yang sontak membuat teman-temannya ikut berteriak.
Hari ini adalah hari libur smester 2, ada sebuah pertandingan basket yang akan diadakan di SMP 1945, pertandingan resmi yang setiap tahun diadakan dan dihadiri oleh beberapa sekolah SMP di Jakarta.
Tahun ini SMP 1945 menjadi tuan rumah dari 16 peserta, hari ini juga adalah perempat final antara SMP 1945 dan SMP 28 Oktober.
"Mira, sejak adanya kamu, sekolah kita menjadi paling anggul di olah raga Basket putri, aku sebagai ketua basket SMP 1945 sangat berterima kasih padamu" kata seorang laki-laki bernama Agus.
"Ketua berlebihan sekali, bukanya sekolah ini memang yang terbaik dibidang olah raga basket?" kata Mira yang saat itu memakai sepatu.
"Kita selalu jadi yang nomor 2, dan dua tahun ini kita menjadi yang nomor 1, itu semua karena kamu Mira" tegas Agus.
"Tidak usah berlebihan ketua..." jawab Mira.
Riuh penonton menggema di pinggir lapangan, bukan hanya siswa SMP 1945 dan siswa SMP 28 Oktober saja, tapi juga ada SMP Garuda dan SMP PGRI.
"Untuk menjadi yang nomor satu....!!!" teriak mereka serentak.
Dari arah selatan, tepat di bawah ring basket, spanduk besar terbentang, sepanduk dengan tulisan "KAMI BERSAMAMU MIRA!!!", serta yell yell yang terasa sangat memalukan.
"Mira yang nomor satu yess... siapakah lawannya (tidak ada)... lawan akan menangis yess... karena Mira jagoannya...!!" begitulah yell yell yang terdengar dari arah selatan, tempat dimana Hengkie dan teman-temannya Danu dan Rudi.
"Oh my God... apakah itu kerjaan Hengkie, sampai sebegitunya dia padaku... Tuhan aku jadi sangat menyukainya" ucap Mira dalam hati.
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu Hengkie... setiap bola yang masuk, itu hanya untkmu" gumam Mira dalam hati.
"Ya ampun... yell yell macam apa itu, menakutkan sekali" teriak seorang laki-laki dari pinggir lapangan, namun setelah selesai berteriak, bola basket sudah menghantam wajahnya.
"Aduh sakit... apa-apaan ini!?" teriak anak itu kepada Mira.
"Maaf maaf aku tidak sengaja" kata Mira dengan polosnya.
Serentak mata Hengkie dan teman-temannya menatap anak itu, tatapan yang sangat menakutkan, tatapan yang mirip sikopat yang haus akan darah.
__ADS_1
"Ehhh iya iya iya... tidak apa-apa, tidak apa-apa" kata anak itu dengan darah yang mengalir di hidungnya, tatapan Hengkie dan teman-temannya seolah membuat anak itu takut.
"Semangat Mira, kamu pasti bisa..." teriak Devi dari pinggir lapangan, teriakan yang sangat anggun, teriakan yang membuat seluruh penonton pria terpesona.
"Malaikat dari mana itu, cantik sekali..." tanya seorang anak dari SMP PGRI.
"Indahnya ciptaan Tuhan..." sahut penonton pria lainnya.
"Mira yang nomor satu yess... siapakah lawannya (tidak ada)... lawan akan menangis yess... karena Mira jagoannya...!!" terdengar yell yell itu, yell yell yang membuat penonton pria kembali tidak bersemangat.
Pertandingan berjalan dengan sangat baik, hanya saja yell yell dan spanduk yang terbentang terasa sangat mengganggu. Walau begitu, Mira sangat menyukai hal itu.
Pertandingan dimenangkan SMP 1945, dengan skor akhir 34 : 26 dan Mira yang menjadi MVP pada pertandingan saat itu, Mira menyumbang 19 bola untuk kemenangan SMP 1945.
"Ahhh... pertandingan yang sangat hebat Mira" kata Hengkie yang menghampiri Mira dengan memegang Foto besar Mira.
"Ah... kau terlalu berlebihan Hengkie" Mira tersipu malu.
"Pacar boss memang hebat yah..." kata Danu yang sedari tadi memegang spanduk Mira.
"Aku bukan pacarnya...!!!" teriak Mira, teriakan itu seolah menutup rasa malunya, padahal dalam hati, dia begitu senang mendengar hal itu.
Malampun tiba, kota jakarta yang penuh kemacetan, malam ini Hengkie dan teman-temannya membuat sebuah acara kecil untuk kemenangan SMP 1945.
Sebuah kedai yang menyediakan makanan ringan dan minuman, kedai yang sudah dipesan Hengkie. Terlihat Danu dan Rudi sangat sibuk mempersiapkan acara kecil malam itu.
"Boss... kita hanya 11 orang, aku sudah memesan makanan *%&$# dan minumnya #&@-, spanduk juga sudah aku pasang di ruangan, bagaimana boss.. apa sudah oke?" tanya Rudi dengan kepalanya yang botak dan mangkilap.
"Mantap... kalian sangat warrr biasaaaahhhh..." kata Hengkie sembari memukul-mukul pundak Rudi.
"Hehehehe semua untuk Boss..." jawab Rudi santai.
Mira dan Devipun tiba, sambutan hangat dengan tepuk tangan meria terdengar didalam kedai itu, tepuk tangan dari teman-teman Hengkie yang dulu lari saat Hengkie menghajar Danu sampai tidak sadarkan diri.
Malam yang menyenangkan, setiap anak pada saat itu tertawa lepas, melihat kekonyolan Danu dan Rudi serta gaya Hengkie yang seolah over power, menambah keseruan malam itu.
Namun ada seorang anak yang terlihat cemas, senyumnya seolah dibuat-buat, dia adalah Devi, Devi yang sedari beberapa hari lalu sangat cemas memikirkan Edo yang tidak kunjung memberi kabar.
Mira paham betul dengan air muka yang terpancar dari wajah Devi, sesekali Mira menoleh ke arah Devi, sesekalipun Mira memegang tangan Devi, seolah tangan itu mencoba menengkan hati Devi.
__ADS_1