
Hari itu waktu seolah berjalan begitu lama, pelajaran mate-matika di jam akhir menambah kepenatan para siswa. Setiap detik Edo terus memperhatikan jam tangannya, dahinya yang mengerenyit seakan tidak percaya dengan jalannya waktu yang dirasa begitu lama.
Tidak berapa lama ponsel Edo bergetar, sebuah nama yang muncul di layar ponselnya terasa sangat tidak biasa. Mungkin memang tidak biasa, karena hanya tante Stefani, om Santoni dan ayahnya yang biasa menghubunginya.
Pesan Mira, begitu singkat, jelas dan sangat menekan. Sebuah ajakan untuk bertemu di sebuah kedai yang berada di tengah kota Tomohon, pikiran Edo bercampur, terbagi antara mengunjungi rumah sakit dan bertemu dengan Mira kala itu.
“Hei, hari ini kau akan ke rumah sakit? Apakah mau aku berbarengan? Hari ini aku juga akan mengunjungi adikku” kata Vandu yang saat itu menghampiri Edo yang baru keluar dari kelasnya.
“Aku akan bertemu dengan seseorang hari ini, aku rasa kau duluan saja” jawab Edo
“Dimana, apa mau aku antarkan?” tanya Vandu yang berjalan di samping Edo.
“Tidak perlu, tidak apa-apa aku pergi sendiri” jawab Edo.
“Baiklah kalau begitu” respon Vandu seraya berhenti mengikuti Edo dan berjalan menuju parkiran.
Rumah makan om Santoni lumayan berdekatan dengan tempat Edo tuju, waktu sudah menunjukkan pukul 16.40 WITA, ojek online yang saat itu ditumpangi Edo melaju dengan kecepatan sedang, jika sesuai perkiraan, Edo akan tiba pukul 17.00 WITA.
“Kau terlambat 5 menit, cepat naiklah” kata Mira yang sudah menunggu disebuah taman.
“Maaf, memang kita akan kemana?” tanya Edo.
“Ke rumah sakit, cepat naiklah aku sudah lapar karena lama menunggumu” jawab Mira yang saat itu sudah berada di atas motornya.
“Di sini ada rumah makan milik om ku, bagaimana kalau kita kesana saja?” tanya Edo.
“Ok kalau begitu naiklah” seru Mira yang sudah memakai helm.
“...”
Untuk pertama kalinya dalam hidup Edo, ia di gonceng oleh seorang gadis, malu rasanya, namun apa boleh buat, dengan tidak adanya SIM membuatnya terpaksa berada di belakang Mira.
Hanya beberapa saat saja, Edo dan Mira sudah berada di tempat parkir yang berada di rumah makan milik om Santoni. Seperti biasa rumah makan milik om Santoni sangat ramai, bukan hanya para pekerja biasa saja yang menyukai hidangan di tempat itu, tapi juga para bos-bos besar.
“Tumben kau kemari, sebentar om hitung dulu sudah berapa lama yah...” sapa om Santoni sambil menghitung jarinya.
__ADS_1
“...”
“Ah... sudah 9 bulan kamu tidak datang ke tempat ini, ....sebentar, apakah ini pacarmu?” tanya om Santoni dengan wajah curiga.
“Ti ti tidak om” jawab Edo dengan pipinya memerah.
“...”
“Aku kira... baiklah lupakan, ayo masuklah tidak usah mau-malu” kata om Santoni ramah.
Mira dan Edo menaiki anak tangga, Edo mengetahui tempat yang bagus untuk melihat pemandangan di sekitar rumah makan, Sebuah meja di lantai dua, dengan teras tanpa atap adalah tempat yang dipilih Edo saat itu, jika melihat ke samping kanan, mereka akan melihat sunset yang indah di sore hari.
“Indah sekali...” satu kalimat yang keluar dari mulut Mira kala itu.
“Iya, ini adalah meja yang terbaik di sore hari” jelas Edo.
“Kau mau makan apa?” tanya Edo.
“Ikut kamu saja” jawab Mira sebari terus memandang ke arah matahari terbit.
Langit berwarna Jingga di sebelah barat, memancarkan keindahannya sore itu. Makanan sudah tersaji di meja, namun Mira masih terhipnotis dengan pemandangan langit sore itu. Pikirnya, hampir tiga tahun berada di sini namun baru mengetahui ada tempat seindah ini.
“Silahkan di makan, kau bisa datang kemari kapan saja” kata om Santoni yang sedang menaru minuman ke atas meja.
“Ahhh maaf” ucapnya.
“Baiklah, silahkan dinikmati, ini semua gratis karena keponakan om mau datang ke tempat ini setelah sekian lama” kata om Santoni sambil memegang bahu Edo dan berlalu pergi.
“Silahkan dimakan” kata Edo.
Om Santoni yang mengintip dari balik pintu, tersenyum melihat Edo kala itu. Pikirnya bahwa keponakannya sudah dalam keadaan baik, sudah 4 tahun semenjak Edo datang ke tempat ini untuk pertama kali, baru kali ini Edo membawa seorang teman.
------
Sore itu kira-kira pukul 16.00 WITA, saat itu kenaikan kelas 2 SMP, tante Stefani dengan pakaiannya yang basah, datang ke rumah makan bersama Edo.
__ADS_1
“Wah... kalian ini, padahal bisa tunggu sebentar” kata om Santoni melihat tante Stefani keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya.
“Sudah, tidak apa-apa kok bebs” kata tante Stefani yang terus berjalan masuk ke dalam rumah makan.
“Ahh iya... buatkan aku miedall dan mie cakalang...” lanjut tante Stefani sambil membuka mantelnya. (Ohhh yah gaes... miedal dan mie cakalang itu makanan dari sulawesi utara, di googling aja)
“Kau kenapa diam saja? Nantitante belikan HP baru...” kata tante Stefani yang melihat Edo murung.
“Tidak perlu tante, nanti akan aku betulkan...” jawab Edo dengan senyumnya.
Hujan deras berhenti menyirami pusat kota Tomohon, dengan cepat matahari sudah muncul dari balik awan gelap dan dalam hitungan menit saja cuaca sudah kembali cerah. Berselang itu om Santoni sudah membawakan hidangan untuk mereka, ia berjalan naik ke lantai 2 kala itu.
“Hei kalian... ayo kemarilah...” kata om Santoni dengan tangan memegang wadah yang berisikan makanan.
“Ahhh iya, ayo kita ke atas...” kata tante Stefani.
Om Santoni yang duduk di sebelah kanawan, tante Stefani yang duduk di sebelah kiri, membuat suasana pada sore itu sangat menyenangkan, sesekali mereka tersenyum satu sama lain.
“Tante lihat, indah sekali...” kata Edo sambil menunjuk ke arah matahari terbenam.
“Sangat indah, om kamu itu mendirikan rumah makan di tempat ini karena pemandangan ini lho...” seru tante Stefani.
“Itu juga ide kamu bukan?” balas om Santoni yg berbalik melihat ke arah matahari terbenam.
“Hehehehe... bisakah setiap hari libur aku datang kemari untuk membantu om?” tanya Edo.
“Kau fokus sekolah aja, kalau mau datang yah tinggal datang saja, hehehehe” jawab om Santoni.
“Tidak, aku ingin membantu juga” kata Edo sembari tersenyum.
Melihat dan mendengar Edo, membuat om Santoni mengiyakan apa yang diinginkan Edo, sebenarnya dalam hatinya tidak masalah jika harus datang membantu atau hanya sekedar datang saja. Menikahi Stefani dan membawanya menjauh dari Edo, membuatnya merasa sedikit bersalah.
Mulai dari saat itu, setiap hari minggu dan sabtu menjelang sore, Edo selalu datang ke rumah makan milik om Santoni, membersihkan meja, membawakan makanan dan sekedar melihat cara memasak om Santoni dan para pekerjanya.
“Aku ingin melihat semangatmu seperti dulu Edo...” hati om Santoni bicara sambil berjalan menuruni tangga.
__ADS_1