
Tiga tahun lalu sebuah Bus yang membawa rombongan anak SMA melintasi perbukitan, rencana mereka akan pergi ke atas bukit untuk mengadakan acara penyambutan siswa baru. Penyambutan siswa baru yang akan direncanakan disebuah Vila di perbukitan, sudah menjadi tradisi SMA Linggar setiap tahunnya.
Bus begitu tenang menyusuri perbukitan yang jalannya berliku, tawa senyum dan canda menghiasi anak-anak kelas 1 SMA kala itu, di barisan kursi sebelah kiri yang dekat dengan pintu bus bagian belakang, duduk seorang anal laki-laki.
Anak itu, memandang keluar jendela bus, menikmati pemandangan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Dia adalah Edo pada saat kelas 1 SMA, matanya berkilauan dan wajah yang riang menandakan tidak ada beban dalam hatinya.
Pemandangan yang sangat memanjakan mata, disebelah kiri terdapat sebuah gunung bernama gunung Mahawu dan sebelah kanan berdiri kokoh gunung Lokon. Danau yang indah dekat rumah Edo pun dapat dilihatnya, danau Linow yang kadang berwarna biru keputihan, kadang berubah hijau dan kadang berubah warna coklat.
Tidak terasa Edo mulai tersenyum, Danau cantik itu adalah tempat bermain dengan teman-temannya pada masa kecil dulu. Dia begitu takjub dengan pemandangan danau yang berada dekat dengan rumahnya itu, selama ini dia tidak menyadari, bahwa danau itu begitu indah bila dilihat dari kejauhan.
Bus terus melaju dengan kecepatan sedang, supir yang mengendarai bus itu termasuk supir yang hafal betul jalan di bukit itu.
Cuaca berubah, setetes air jatuh dan sedikit membasahi hidung Edo, ia meliahat ke atas langit awan yang tadinya cerah berubah mendung seketika, dan tidak berapa lama satu demi satu tetesan air membasahi bumi dan dengan hitungan detik saja hujan turun begitu deras.
"Semuanya, tolong ditutup semua jendela" kata seorang guru yang menjadi pengawas bus itu.
Jendela bus semuanya ditutup rapat, hujan yang deras tidak menghilangkan kegembiraan anak-anak di dalam bus. Lain hal nya dengan Edo, ia masih memandang kearah luar, hatinya yang tadi takjub dengan pemandangan di luar bus menjadi sangat risau dengan apa yang ia lihat, jurang yang begitu dalam di sebelah kanan, walau terdapat pembatas jalan, namun hatinya begitu sangat khawatir.
Diujung jalan terlihat sebuah tikungan, Edo yang sedari tadi melihat ke arah luar sedikit terkejut denga apa yang dilihatnya, seorang dengan pakaian berwarna merah mengangkat kedua tangannya seolah menyuruh bus yang ditumpangi Edo untuk berhenti.
Edo melihat orang tersebut, orang itu memang tidak terlalu jelas perawakannya karena kaca jendela yang dialiri air mengurangi pandangannya.
Bus yang ditumpanginya masih terus berjalan melewati orang dengan jas hujan berwarna merah, sepertinya supir bus tidak menghiraukan orang itu, Edo yang sedari tadi risau segera berdiri dari tempat duduknya, dia coba memberitahukan apa yang dia lihat kepada seisi bus, tapi tidak ada yang mendengar karena mereka asik dengan kegembiraan mereka.
Edo coba berjalan ke arah supir sambil memegang kursi penumpang.
__ADS_1
"Pak Pohan, tadi aku lihat ada seorang yang berdiri di tikungan" Edo coba menjelaskan kepada supir bus.
"Aku tidak melihatnya nak, tenang saja sedikit lagi kita tiba" jawab supir itu.
"Tapi Pak, apa tidak bisa kita menunggu hujan redah dulu?" tanya Edo.
"Kau tenang saja Nak, aku sudah sering lewat di sini, kita akan segera sampai, kau kembalilah ke tempat dudukmu" jawab supir itu.
Hati Edo yang risau mulai meredah, pikirnya bahwa supir itu memang berpengalaman di jalur yang saat ini mereka lewati.
Edo kembali berjalan ke tempat duduknya,
dan hanya beberapa langkah saja.
Suara dari atas bus terdengar seperti dilempari batu dari atas, semua anak-anak terkejut dengan apa yang mereka dengar, suara itu menghentikan keseruan canda mereka.
"Ah... mungkin ada orang iseng, kalian tenang saja" kata seorang guru pengawas.
Dan tidak berapa lama.
Ckkkiiiiitttt.....!!!!
suara rem mobil terdengar keras, Edo yang pada saat itu masih berdiri terlempar kearah supir, batu-batu menghujani jalan serta bus yang mereka tumpangi, teriakan yang terasa menakutkan terdengar dari dalam bus.
Beberapa batu kecil dari atas bukit memecahkan kaca jendela bus dan mengenai beberapa siswa, seluruh siswa saling berbenturan, wajah mereka sudah dipenuhi dengan darah yang deras mengalir, teriak minta tolong bercampur ucapan-ucapan doa begitu mencekam dan bising terdengar sangat keras.
__ADS_1
Bus terbalik dengan setengahnya hampir masuk kedalam jurang karena terdorong oleh batu-batu dari atas bukit, suara-suara kecil minta tolong dan tangis terdengar dari dalam bus, ada yang sudah tidak bergerak dan ada beberapa yang sudah kejang-kejang seperti ingin mati.
Buk... buk... buk...
Suara yang teramat keras terdengar dari atas bukit, bumi teras bergetar pada saat suara itu terdengar, semakin keras suara itu mendekat semakin bergetar pula tanah yang menahan bus itu.
Terlihat satu batu yang sangat besar begitu cepat menghampiri bus yang sudah terbalik, Edo yang masih sadar melihat hal itu, setengah badannya keluar dari jendela bus yang berada di kursi paling depan sebelah kiri, ia tidak mampu beranjak, seluruh badannya terasa berat, darah yang mengalir dari kepala ke wajahnya seakan menghilangkan kesadarannya.
Bruaaakkkkk.....!!!!
Batu yang beradu dengan bus menghasilkan suara yang teramat keras, bus seperti terdorong dan membuat seluruh badan bus keluar dari pembatas jalan sehingga masuk ke dalam jurang.
Tidak ada suara teriakan, tidak ada suara minta tolong, yang terdengar hanya suara mesin bus yang semakin lama semakin menghilang karena terjun bebas ke dalam jurang.
Triiiiinggg....!!!! suara alarm handphone membuat Edo terbangun dari mimpinya, seluruh badannya basah dengan keringat. Sesuatu seperti listrik dalam kepala Edo membuatnya meraih obat yang ada di meja sebelah kanan tempat tidurnya, alisnya mengerut menahan sakit di kepalanya.
Mimpi yang ia alami adalah kejadian pada saat kecelakaan waktu itu.
"Agh... mimpi itu lagi..." gumamnya dengan mata yang sayu dan tangan kanan yang masih menempel di belakang kepalanya.
Minggu pagi yang cerah, kaki yang beralaskan sepatu Puma Original langkah yang sedikit berlari, keringat yang membasahi sekujur tubuh Edo yang memang rutin berolah raga di hari minggu.
Langkahnya terhenti melihat dua orang laki-laki dan perempuan melambaikan tangan ke arahnya, senyum kecil terlukis pada wajahnya,
"Hmmmm... ini hari minggu yah?" gumamnya dalam hati sambil mendekati kedua orang itu.
__ADS_1