
Hari terus berlalu sampai pada hari ini, Edo melihat layar phoneselnya, sebuah pesan tertulis di layar phonesel miliknya, pesan dari seorang yang sudah mulai dilupakannya.
“Ayah...” ucapan itu keluar dari mulutnya, ia tidak membalas atau sekedar membaca pesan dari ayahnya.
Saat ini, sudah dua hari Edo berada di rumah sakit, tidak ada yang dipikirkannya selain mencari kedua sahabatnya Hengkie dan Devi. Seorang gadis yang ditemuinya di mall Manado adalah kunci untuk menemukan kedua sahabatnya itu.
“Aku tahu dia bersekolah di SMA Binsus, hari ini aku akan kesana...” gumam Edo saat itu.
Sore di sekolah Binsus, jam menunjukkan pukul 14.05 WITA, seluruh siswa sudah berhamburan keluar kelas, lama Edo memperhatikan dari kejauhan, tapi tidak dilihatnya gadis yang dicarinya, sampai pada saat sekolah begitu sepi, Edo tidak mendapati gadis itu.
“Ada dimana gadis itu? Seharusnya dia sudah pulang saat ini” gumamnya dalam hati.
Edo segera memacu motornya, perasaannya bercampur saat itu. SMA Binsus berada cukup jauh dari SMA Linggar ditambah besok adalah hati libur dan besoknya ia harus kembali ke sekolah, akan sangat sulit mecari gadis itu yang tanpa dia ketahui nama dan alamat rumahnya.
Edo berhenti dipinggir jalan, ia duduk disebuah kursi kecil dan memesan minuman soda yang sudah lama tidak diminumnya, minuman itu mengingatkannya pada seorang gadis bernama Devi, ia begitu menyukai soda lemon, walau dulu Hengkie dan Edo terus melarangnya, Devi selalu asik menikmati soda lemon yang sering dibelinya.
“Sudah lama sekali yah... aku tidak tahu kalian dimana, jika terjadi sesuatu dengan kalian... aku tidak akan memaafkan diriku” gumamnya dalam hati.
Selang beberapa lama, seorang gadis berkaca mata turun dari motornya, sebuah toko kecil di pinggir jalan yang menyediakan aneka makanan ringan dan minuman, cukup menarik minat para pelanggan yang hanya sekedar lewat saja. Gadis itu melihat Edo, lama ia berpikir sampai ia kembali mengendarai motornya.
Setelah beberapa meter, gadis itu kembali mengingat wajah Edo, anak laki-laki yang ditemui sahabatnya Mira di mall Manado.
“Ahhhh... aku ingat dia....” ucap gadis itu dengan segera menghentikan laju motornya.
Gadis itu segera berputar kembali, ia melihat Edo dengan mata sayunya terus memandang ke arah jalan.
“Hei... apakah kau sahabat Mira?” tanya gadis berkaca mata itu yang sudah mengehentikan motornya di hadapan Edo.
“Mira? Aku tidak kenal...” jawab Edo bingung.
“Lho...??? bukanya kau yang kami temui di mall manado hari minggu lalu?” tanya gadis itu dengan wajah seriusnya.
“....Ah... apakah itu kalian?” Edo balik bertanya dengan segera bangun dari tempat duduknya.
“Hmmmm kau ini... oh yah... siapa namamu?” tanya gadis itu.
“Namaku Edo, aku sekolah di SMA Linggar” jawab Edo memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Ohhh jadi namamu Edo” respon gadis itu.
“Maaf... bisakah engkau memberi tahu Mira itu siapa?” tanya Edo gugup.
“Apa!? Jadi kau tidak kenal Mira!?” gadis itu terkejut.
“Baiklah... mungkin kita bisa ngobrol sedikit, tapi sebelumnya perkenalkan namaku Rinta” lanjut gadis itu seraya mengulurkan tangannya.
Sore itu langit kota Tomohon terlihat indah, hawa yang sejuk dan alam yang bersih membuat semuanya terasa nyaman. Edo kembali memesan camilan dan minuman. Meja bundar dengan payung besar di tengahnya, menambah kenyamanan tempat itu.
“Jujur saja aku tidak mengenali Mira, tapi pembicaraan kalian di Cafe 04 membuatku penasaran” kata Edo membuka pembicaraan mereka.
“Soal dua orang anak yang selama ini koma di rumah sakit?” tanya Rinta serius.
“Iya, awalnya aku tidak ambil pusing dengan cerita kalian, tapi kalian mengatakan bahwa anak itu adalah korban kecelakaan bus SMA Linggar beberapa tahun lalu, aku juga adalah korban saat itu, aku termasuk orang yang beruntung dapat selamat karena dibantu sahabatku” jelas Edo.
“Dibantu sahabatmu? Bagaimana caranya?” tanya Rinta.
“Susah sekali aku menjelaskannya, tapi kedua anak yang koma itu adalah sahabatku dan aku belum menemui mereka sampai saat ini” jawab Edo coba menjelaskan.
“Apa!? Selama hampir 3 tahun kau belum menemui mereka, mengapa!?” tanya Rinta kaget.
“Maksudnya? Aku tidak mengerti” kata Rinta yang wajahnya mulai dibuat bingung.
“Sudah aku bilang kau tidak akan mengerti, begini saja, apakah kau tahu dimana rumah sakit kedua anak itu di rawat?” tanya Edo.
“Hmmm... aku tidak tahu, hanya Mira yang tahu, aku tidak pernah bertanya banyak soal mereka pada Mira, itu membuat Mira sangat terpukul” jelas Rinta dengan kepalanya menunduk.
“Jadi begitu yah... bisakah kau antarkan aku ke rumah Mira?” tanya Edo serius.
“Bisa saja, ....hmmm sebentar aku hubungi dia dulu” kata Rinta yang saat itu mengeluarkan phonesel di ranselnya.
Sebuah harapan mulai menghampiri Edo, harapan untuk bertemu dengan kedua sahabatnya, lama sekali waktu yang terbuang dengan imajenasi yang dibuatnya. Edo siap dengan segala hal, apapun itu, jalan cerita yang dibuatnya selama 3 tahun akan segera berakhir.
“Haissshhhh anak itu...” gumam Rinta yang kembali menghubungi Mira.
“Iiihhh... kenapa dengan dia di saat genting begini!?” gerutu Rinta akal itu.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Edo.
“Nomornya tidak aktive, tidak biasanya seperti ini” jawab Rinta.
“...”
Sementara itu di rumah sakit, seorang gadis berdiri didepan sebuah ruangan, gadis itu terus memperhatikan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang terbaring tidak sadarkan diri.
“Aku menyayangi kalian, jika terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, aku tidak akan memaafkan anak laki-laki itu” gumamnya yang terus memandang kedua anak itu.
“Tante, besok adalah hari libur, seperti biasa besok aku yang akan menjaga mereka” kata Mira pada seorang wanita setengah baya.
“Maaf sudah banyak merepotkan kamu Mira, tante sangat berterimakasih atas kepedulian kamu kepada anak-anak tante” kata wanita itu dengan wajah sedihnya.
“Tidak apa-apa tante, baiklah... aku pulang dulu...” pamit Mira.
Di tepi jalan, Edo dan Rinta masih mencoba menghubungi Mira. Namun, tidak ada jawaban dari Mira.
“Hmmm... begini saja, nanti kau coba hubungi dia, akan aku berikan nomornya padamu” jelas Rinta yang segera memasukkan kembali phoneselnya ke dalam ransel.
“Oh yah... apakah kau punya Facebook atau Instagram?” tanya Rinta kembali.
“Ahhh... aku tidak punya” jawab Edo.
“Aduh... kau ketinggalan jaman sekali... sini aku buatkan, siapa tahu itu perlu nantinya” kata Rinta.
“..Ahhh baiklah terima kasih”.
-----
Malam itu, Edo terus memperhatikan layar phoneselnya, ia berharap semua pesan yang dikirmnya ke nomor Mira yang didapatkannya, segera di baca oleh Mira.
“Facebook yah? Aku jadi penasaran” gumam Edo yang segera membuka aplikasi Facebook miliknya.
Sebuah nama tertulis di kolom pencarian Facebook, “DEVI KASENDA” dan “HENGKIE KASENDA”. Namun, nama Hengkie tidak ada di daftar pencarian tersebut, hanya Devi saja dengan foto profil sebuah FONT dengan angka 3.
Rasa bahagia, penasaran dan takut bercampur dalam pikiran Edo, ia berharap pemilik facebook itu adalah orang yang selama ini berada dalam pikirannya. Jarinya gemetar menekan layar phonesel dan jantungnya terus berdegup kencang.
__ADS_1
Memasuki halaman profil itu, Edo terbelalak. Rasa bersalah menghampirinya, sebuah foto lama menjadi sampul profil facebook tersebut, foto dengan gambar tiga orang anak dengan senyum lebar di wajah mereka, foto yang juga terpajang di ruang tamu rumahnya.