
Tidak butuh waktu lama untuk membeli segala kebutuhan memasak, Pukul 11.00 WITA mereka sudah sampai di rumah Edo.
Mata Hengkie terbelalak saat melihat isi rumah Edo, semuanya tampak rapih, padahal Edo hanya tinggal sendiri.
"Rapih sekali rumahmu, apa kau yang membersihkannya?" tanya Hengkie sambil melihat ke kanan dan kiri.
"Tentu saja" jawab Edo.
Pandangan Hengkie terhenti, ia melihat sesuatu yang sangat menakjubkan di depan TV.
"Apakah itu video game?" tanyanya sambil melangkah mendekati benda yang sangat menakjubkan itu.
"Ah... gila...! banyak sekali koleksi game yang kamu miliki Edo" takjub Hengkie sembari memegang kaset video game bertuliskan UFC EA Sport.
"Kau mau memainkannya?" tanya Edo.
"Boleh kah?" Hengkie balik bertanya dengan mulut terbuka penuh harap (sangat menakutkan).
"Tentu saja... malahan aku senang ada yang memainkannya" jawab Edo sembari menyalakan TV dan video game.
Seketika mata Hengkie berkaca-kaca, dia merasa sangat bahagia. Ac dinyalakan, air berwarna orange dan makanan ringan disuguhkan disebelah Hengkie, begitu tenangnya dia duduk di depan TV, kedua tangannya menggenggam stick Playstation 4. Yah... sesederhana itu menghibur hati Hengkie yang hari ini memiliki janji dengan seorang wanita.
Video game yang terpajang di depan TV sudah disiapkan Edo pada saat ia pulang setelah berolahraga, ia tahu betul sahabatnya itu adalah seorang yang hoby sekali bermain game.
"Ayo ikut aku, biarkan lah dia" ajak Edo yang berjalan menuju dapur dengan wajah yang begitu ceria.
"Yah, ayo kita mulai memasak" sahut Devi yang tersenyum melihat keceriaan sahabatnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Edo sesampainya mereka di dapur.
"Hmmm kau bersihkan dagingnya dan potong-potong sesuai keinginanmu, aku akan membersihkan bumbunya" Devi menjelaskan sembari memakai celemek di tubuhnya.
Rumah yang tadinya sepi berubah ramai, ditambah teriakan Hengkie dari ruang tamu, suaranya membuat rumah Edo begitu hidup tidak seperti biasanya, dapur yang berantakan dan asap yang keluar dari didihan air membuat suasana rumah sangat berbeda, ditambah lagi lantunan musik pop di dapur, sungguh suasana yang teramat menyenangkan.
"Mana wajanmu?" tanya Devi
"Eh.. iya... itu di dalam lemari" jawab Edo sambil membuka lemari yang ada di atas kepala Devi.
Seorang lelaki tepat berdiri di belakang Devi, wajahnya kacau, lemas dan tidak bergairah.
"Aaaaaggghhhh.....!!!! hantu...!!!" teriak Devi yang terkejut melihat seorang lelaki tinggi besar berdiri di belakangnya, wajahnya lesu, lemas tidak bergairah.
"Haissshhhh...!?" Edo juga terkejut melihat lelaki itu, wajan yang baru diambilnya dari atas lemari hampir saja dilemparkannya ke arah lelaki itu.
"Kau ingin jantungku copot yah...!?" Teriak Devi kesal sambil memegang dadanya.
"Aku tidak bisa mengalahkan Mc Gregor" jawab Hengkie lesu.
"Ha ha ha... kau ganti saja permainan yang lain..." kata Edo yang berlahan menurunkan wajan yang hampir dilemparkannya itu.
"Memang kau punya game apa lagi?" tanya Hengkie yang masih dengan wajah lesu.
"Coba kau periksa di bawah TV, di situ ada berbagai macam game, siapa tahu ada yang kau suka" jawab Edo.
"Baiklah..." Hengkie dengan lesu dan wajah datar pergi meninggalkan Edo dan Devi.
"Anak itu..." kesal Devi sambil memegang sendok pengaduk sop.
__ADS_1
"Biarkanlah... kau sudah memaksanya kemari, dan ia sudah membatalkan janjinya dengan pacarnya demi bersama kita, buatlah dia nyaman" kata Edo seraya ingin memegang pundak Devi tapi diuringkannya.
"Maafkan aku" ucap Devi.
"Untuk apa?" tanya Edo.
"Aku sudah memaksanya" jawab Devi lagi.
"Hmmm... kau tahu apa yang aku rasakan saat ini?" tanya Edo lagi
"...."
"Aku bahagia" seolah berbisik di telinga kanan Devi.
"Terima kasih untuk waktumu padaku" lanjutnya dengan menyalakan keran air untuk membersihkan wajan, seketika itu pula wajah Devi memerah dan mulutnya tidak mampu lagi berkata-kata.
Blup... blup... suara air mendidih membuyarkan suasana yang dirasa Devi begitu tegang,
"Aih... apakah rebusan daging ini berlebihan?" tanya Edo yang tangannya dengan cepat mematikan kompor.
"Hmmm... kau angkat itu, biar aku menyiapkan bumbunya" kata Devi sembari mengambil pisau yang terletak di bawah lemari.
Beberapa waktu kemudian makanan sudah siap untuk dihidangkan.
"Hoi Gorila... apakah kau tidak mau makan!?" tanya Devi yang sedang membereskan meja makan.
".....mati kau...!!! he he he..." teriak Hengkie yang focus dengan game yang ia mainkan, ia sama sekali tidak mendengar panggilan Devi.
Tuiiiing...... Pletukk....!!!
Suara sendok yang dilemparkan Devi, tepat mengenai kepala Hengkie dan membuat Hengkie kembali berteriak kesakitan.
"Letakkan itu semua dan cuci tanganmu...!!" Devi balik memarahi Hengkie.
Edo hanya menutup muka dengan tangan kanannya sembari menggelengkan kepalanya, ia tidak mampu mencegah keributan yang dibuat kedua sahabatnya itu.
Sop sapi yang diletakkan di mangkuk terlihat sangat lezat, wanginya seakan mengajak mereka untuk segera menikmatinya.
"Aihhh... lezat sekali, apakah kau yang memasaknya Edo?" tanya Hengkie dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Hei Gorila, bisakah kau menelan makanan itu dulu lalu berbicara?" tegur Devi kesal.
"Bukan, Devi yang memasaknya, aku hanya sedikit membantu" sahut Edo menjawab pertanyaan Hengkie.
"He he he... kau mengakui kelezatan masakanku bukan?" tanya Devi yang memasang wajah jail.
"......"
Beberapa waktu kemudian mereka bertiga sudah berada di ruang tamu,
"Agh... aku kenyang sekali..." kata Hengkie yang merebahkan tubuhnya di ruangan itu.
"Ohh yah... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Hengkie yang menusuk-nusuk selah giginya.
"Apa kalian ingin menonton?" tanya Edo.
"Agh... kau punya film drama Korea?" tanya Devi merespon pertanyaan Edo.
__ADS_1
"Tentu saja, sebentar aku carikan..." jawab Edo sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ini dia... ini adalah serial drama Korea, aku tidak pernah menontonnya karena tidak ada waktu" kata Edo dengan memegang satu kaset CD.
"Durasinya 30 menit per-CD, serial ini ada 24 episode, apakah kalian mau menontonnya?" lanjut Edo bertanya.
"Ayo putar..." kata Devi tidak sabar.
"Itu bukan film perang atau bela diri yah? aku malas menontonnya, kalian saja..." sambung Hengkie yang masih menusuk-nusuk giginya dengan sebatang kayu kecil.
"Kau tidur saja Gorila, atau kau bersihkan piring-piring kotor di dapur..." gerutu Devi.
"Itu bukan pekerjaan laki-laki macho dan keren sepertiku" jawab Hengkie santai.
"Kalau begitu kau diam saja dan tidak usah berkomentar" cetus Devi.
"Ok Ok..."
Layar TV yang besar menyala, cerita drama Korea yang menyayat hati, pada drama itu memperlihatkan cinta, kebencian, kepalsuan dan lain sebagainya, cerita yang membuat penonton hanyut didalamnya.
"Hiqz... hiqz... hiqz..."
Suara isak tangis terdengar diantara mereka.
"Hei... Gorila... apakah kau menangis?" kata Devi terkejut melihat Hengkie yang sibuk menyeka matanya.
"Ah... ti ti tidak... a a aku hanya ti ti tidak menyangka, pacarnya mati..."
"......."
"......"
Seketika suasana yang tegang berubah tawa, Devi tidak tahan melihat ekspresi sahabatnya itu.
Dari dalam hati Edo, muncul sebuah pertanyaan, "sampai kapan masa-masa indah ini akan bertahan".
Tidak terasa jam menunjukan pukul 19.00 WITA, waktu yang harus mengakhiri kebersamaan mereka hari ini.
"Drama Korea sangat bagus yah?" kata Devi yang baru keluar dari dalam rumah Edo.
"Apa boleh kami datang ketempat ini untuk melanjutkan ceritanya?" tanya Devi yang membalikkan badannya ke arah Edo.
"Rumah ini selalu terbuka untuk kalian" jawab Edo.
"Apa kau senang hari ini?" Devi kembali bertanya.
"Tentu saja..." jawab Edo dengan senyum.
"Syukurlah... sampai ketemu besok yah" kata Devi sambil berlalu meninggalkan Edo.
"Bro... minggu besok kita lari 5 KM, setelah itu akan ku latih kau ilmu bela diri ciptaanku" kata Hengkie sembari meletakkan tangan kanannya di bahu Edo.
"Aku siap..." jawab Edo yang menahan berat tubuh Hengkie.
"Mantap...!!!" kata Hengkie sambil mengangkat jempolnya.
"Hei kau... ayo antarkan aku pulang..." hardik Devi seolah menyeret Hengkie untuk pergi.
__ADS_1
Edo kembali masuk ke dalam rumahnya, ia kembali berhitung satu sampai lima dan segera berbalik untuk melihat kembali kedua sahabatnya itu, terucapa kata "terima kasih" yang keluar dari mulutnya. Senyum yang terlukis dari wajahnya seperti tertahan, wajahnya seketika berubah sedih seolah menyesal dengan dirinya sendiri.