
Kota kecil yang indah, dihimpit perbukitan dan langit berwarna jingga seolah menambah keindahan kota Tomohon, salah satu kota di provinsi sulawesi utara.
Langkah demi langkah dilalui Edo, Devi dan Hengkie. Rasa lelah mereka terobati dengan pemandangan yang menarik disetiap sisi kota. walaupun Edo lahir di kota ini, tidak pernah ia puas menikmati keindahan tempat kelahirannya.
"Edo, setelah lulus nanti apakah kau masih berada di sini?" tanya Devi.
"Hmmm... sepertinya aku akan meneruskan ke universitas di ibu kota" jawab Edo.
"Jakarta maksutmu!?" Devi coba menerka dengan wajah takjub.
"Iya, tapi... aku masih ragu" jawab Edo memegang dagunya.
"Kau harus kuliah di sana, aku dengar Jakarta itu sangat luar biasa, banyak sekali tempat yang bisa kau datangi di sana" seru Devi.
"Yaps... ide yang baik untuk kuliah di sana, laki-laki sejati itu harus merantu jauh dari orang tua" sambung Hengkie dengan wajah serius dan mengepalkan tangan kanannya.
"Kau tahu apa Gorila? Edo sudah jauh dari orang tuanya sejak dulu" gerutu Devi.
"..."
"Aku minta padamu jika kau kuliah di Jakarta nantinya, perbanyaklah teman, pilihlah teman yang baik, jangan sampai telat makan" ucap Devi dengan wajah sedikit cemas.
"Hei hei... aku masih belum pergi, aku masih di sini" kata Edo sambil melambaikan tangan kananya di hadapan Devi.
Kedua sahabatnya itu terlihat murung, dan untuk kali ini Edo tidak mampu berkata apa-apa, Edo tidak tahu cara untuk menghibur mereka kala itu. Ia menengadahkan kepalanya ke langit dan memejamkan matanya, "haruskah seperti ini" ucapnya dalam hati.
Langkah mereka terhenti disebuah taman kota, dalam tiga tahun ini sejak mereka bertemu, mereka selalu mengunjungi taman itu, taman yang berada di samping danau yang cantik. Sekedar beristirahat, bercanda bersama dan berbagi cerita sepulang sekolah, adalah bagian dari kebersamaan mereka di taman itu setiap harinya.
__ADS_1
"Kamu akan merindukan tempat ini Edo" kata Devi sambil duduk disebuah ayunan.
"Hei kau, cepat dorong aku...!!" lanjutnya sembari menyuruh Hengkie mendorong ayunannya.
"Tentu saja aku akan merindukan tempat ini, sehari saja tidak kesini bisa membuatku gila" jawab Edo.
"Edo, apakah ayahmu sudah pulang dari Amerika?" tanya Hengkie diikuti tangannya yang mendorong bahu Devi.
"Belum Kie, mungkin pada saat aku lulus nanti ayahku masih di sana" jawab Edo.
"Ayahmu sibuk sekali yah" komentar Hengkie.
"Begitulah... tapi aku beruntung kalian sering menemaniku" jawab Edo yang duduk disebuah batu besar sebelah ayunan yang diduduki Devi.
Perbincangan mereka berlanjut, ketiganya merasa nyaman dengan lingkungan, suasana dan apa yang mereka bicarakan, senyum dan tawa lepas mereka memperlihatkan keakraban yang nyata, sesekali Hengkie menjaili Devi dengan mendorong bahu Devi begitu keras sehingga ayunan terangkat begitu tinggi membuat Devi berteriak sangat keras.
Bagi Edo yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari taman, adalah suatu keuntungan, dalam pikirannya Hengkie dan Devi bagaikan pengawal pribadi yang mengantarnya pulang setiap hari.
Rumah yang minimalis berdiri kokoh di sebuah gang pinggir kota, itu adalah rumah Edo, bunyi lonceng jam dinding rumah Edo terdengar sampai di luar rumah, bunyi lonceng itu menandakan waktu pada saat itu pukul 18.00 WITA, dan itu adalah sebuah tanda bahwa kebersamaan mereka hari ini telah habis.
Langkah mereka terhenti di depan rumah Edo,
"Terima kasih sudah mengantarkanku" kata Edo dengan memandangi kedua sahabatnya itu.
"Bukannya tiap hari memang seperti ini, kenapa kau sangat formal sekali?" tanya Hengkie.
"Lupakan, baiklah sampai bertemu besok" ucapnya dengan tangan yang sudah menggengam pagar rumah yang berwarna hitam.
__ADS_1
"Ok... sampai jumpa besok" kata Devi sambil mengangkat sedikit tangan kanannya.
Kedua sahabatnya itu masih memandangi Edo, mereka tidak mau beranjak dari tempat mereka berdiri jika Edo masih belum masuk ke halaman rumahnya.
Setelah Edo masuk ke dalan rumah, kedua sahabatnya meneruskan perjalanan mereka kembali, namun langkah Edo terhenti, ia menghitung satu sampai lima dan seperti biasa, ia segera berbalik untuk melihat kedua sahabatnya itu.
Dari depan pagar Edo memandang kearah jalan yang dilalui kedua sahabatnya, terlihat dari wajahnya sebuah kesedihan yang teramat dalam, kesedihan yang sedari tadi di tahannya, tidak ada air mata, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya dan tidak ada yang bisa dilakukannya sampai ia kembali masuk ke dalam rumahnya.
Rumah yang indah namun begitu hening, segala perlengkapan dari Wi-Fi, alat Gym, video game dan lain sebagainya tercukupi untuk Edo, tapi kehangatan orang tua sudah lama tidak ia rasakan. Rumah yang ia tinggali begitu sepi, bahkan suara jam dinding yang berdetak di ruang tamu, dapat di dengar Edo dari dapur.
Suasana rumah yang sudah biasa dirasakan Edo, sudah tidak terhitung berapa lama Edo hidup sendir di rumah itu, kadang dia berharap Ayahnya tiba-tiba pulang dan mengetuk pintu, kadang juga dia berharap ayahnya sedang beristirahat di dalam kamar utama, dengan sesekali membuka kamar ayahnya itu, berharap ayahnya sudah pulang dan sedang beristirahat.
Setiap hari tersaji sebuah makanan di dapur, itu adalah masakan yang dibawa tante untuk Edo. Bukan mengapa, tante Edo memiliki rumah makan yang cukup ramai oleh pelanggan di tengah kota dan sudah biasa tantenya membawakan makanan untuknya, baik itu sekedar sarapan atau makan malam.
Malam itu udara terasa teramat dingin, yah... kota Tomohon adalah kota yang cukup dingin, namun kali ini rasa dinginnya seakan masuk kedalam sumsum tulang. Rasa dingin yang cukup menggangu Edo yang pada malam itu sedang belajar.
"Aduh... bagaimana aku bisa konsentrasi belajar? apa hari ini cukup sampai di sini saja?" gumam Edo sambil menghentikan tangannya yang memegang alat tulis.
Dari jendela kamar Edo yang terletak di lantai dua, dia melihat keluar jendela, lampu yang kelap-kelip dan pohon tinggi yang dihiasi lampu berwarna-warni bekas perayaan natal menghiasi setiap sudut kota Tomohon.
"Kenapa hati ini sangat berat meninggalkan kota ini?" gumamnya dalam hati sembari menutup tirai jendela kamarnya.
Waktu menunjukkan jam 21.00, tidak ada yang dilakukan Edo selain berbaring di tempat tidur, handphonenya hanya tergeletak di meja belajar.
Untuk anak jaman sekarang, media sosial adalah alat yang sangat berguna mengusir kejenuhan, namun berbeda dengan Edo, memiliki acount Facebook atau Instagram saja ia tidak punya.
Beberapa rak dikamar yang berukuran sedang membuat kamar miliknya terlihat sempit, rak-rak yang dipenuhi dengan begitu banyak buku, baik itu sebuah novel atau buku pelajaran, itulah barang-barang milik Edo yang dapat menemaninya.
__ADS_1
Jam menunjukan 22.00 WITA, jam saat dimana Edo harus beristirahat, tangannya gemetar mengambil sebuah botol yang berisikan begitu banyak obat-obatan miliknya. Jam-jam seperti ini adalah jam dimana tubuhnya begitu lemah, apa yang dialaminya ini sudah berlangsung hampir tiga tahun lamanya.