
Hari sabtu sekolah Linggar pulang dijam 12 siang, sekolah diakhir pekan adalah hari yang sangat menyenangkan bagi seluruh siswa, bukan hanya siswa sekolah Linggar saja, tapi siswa sekolah-sekolah lainnya.
“Aku ingin menonton drama korea yang hanya tinggal 3 episode lagi, bolekah hari ini kami berdua main ke rumahmu?” tanya Devi dengan wajah penuh harap.
“Tentu saja, sudah aku bilang pintu rumahku terbuka untuk kalian berdua” jawab Edo dengan senyum.
“Baiklah, aku akan beli cemilan dan minuman yang banyak” kata Devi dengan mata yang berkilauan memandang ke arah Edo.
“Belikan kami susu, itu baik untuk pertumbuhan tulang kami” ucap Hengkie dengan merangkul sahabatnya Edo.
“Tentu saja, kali ini aku akan mentraktir kalian” jawab Devi yang masih dengan mata berkilauan bagai embun pagi.
“.....”
Hengkie dan Edo agak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Devi yang tidak pernah menyutujui apa yang dikatakan Hengkie saat ini berubah.
Devi sangat gembira sekali hari ini, itu terlihat dari gerakan tubuhnya yang sedikit berlompat ke kiri dan kanan.
“Kenapa dengan dia?” tanya Edo yang terheran melihat sikap Devi kala itu.
“Aku juga tidak tahu, apa dia salah minum obat?” tanya Hengkie dengan wajah yang tidak kalah heran.
Perjalanan mereka ke rumah Edo memakan waktu tidak lama, hanya 35 menit saja. Dengan berjalan kaki, mereka sudah sampai dirumah Edo, tapi Hengkie dan Devie harus pulang dulu untuk sekedar ganti pakaian.
Hari itu sperti biasa di depan gerbang sekolah, wajah seorang anak laki-laki yang tinggi gemuk dengan kulit agak gelap duduk desebuah toko dengan teman-temannya.
Namanya Vandu, dengan kedua temannya bernama Fajri dan Andri, mereka bagaikan racun di sekolah Linggar.
Meminta pajak kepada setiap siswa yang lewat di hadapan mereka, adalah sebuah rutinitas yang mereka lakukan di sekolah Linggar, bukan hanya hari-hari tertentu saja tapi setiap hari, sesekali mata mereka dengan Edo bertemu, namun mereka segera memalingkan mukanya, ketiganya seakan takut melihat Edo.
__ADS_1
Sudah hampir dua setengah tahun, satu kejadian mengerikan terjadi di sekolah Linggar menimpa Edo, pada waktu itu baru dua bulan Edo bersekolah di SMA Linggar dan harus mengejar pelajaran yang tertinggal.
Suasana sekolah yang dirasa sangat tidak bersahabat baginya, membuatnya terus saja menyendiri di dalam perpustakaan jika istirahat tiba atau kelas kosong tanpa guru mengajar.
Pada hari itu untuk pertama kalinya Edo pergi ke kantin, sekedar membeli makanan dan minuman. Kantin terlihat sangat ramai dari kejauhan, langkah kakinya serasa berat mendekati kantin sekolah.
Para siswa yang memandangnya sebelah mata dan ditambah gangguan dari kelompok Vandu membuat sekolah Linggar bagaikan neraka baginya.
Siang itu adalah hari yang buruk baginya, ia diseret keluar kantin, mereka menyeret Edo sampai ke belakang kantin, tidak ada yang dapat menolongnya kala itu.
Di belakang kantin sudah menunggu seorang anak laki-laki dengan tubuh gemuk, kulitnya agak gelao dengan rokok di tangan kanannya.
Edo saat itu tidak mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada dirinya, jantungnya berdegup kencang, yang ada dalam pikirannya adalah ayahnya, pelukan hangat seorang ayah, bukan pukulan dari seseorang yang akan diterimanya saat ini.
“Udah lepasin dia Jri” perintah anak gemuk itu.
“Kami mau apa? Gila anak ini berani sekali tanya seperti itu” kata anak laki-laki dengan gemuk itu.
Buk....!!!
Satu pukulan mengarah ke perut Edo, seketika itu pula Edo terbatuk-batuk, nafasnya kini tidak beraturan, satu demi satu pukulan diterima Edo, Edo seperti ingin mati kala itu.
“Hei jangan pingsan dulu, kau ini memiliki tubuh dengan otot yang baik, seharusnya kau jadi samsak hidup yang berguna untukku” kata anak laki-laki gemuk itu sambil memukul kembali perut Edo.
“Hoi hoi bangun dulu...!!” teriak anak gendut itu lagi dengan mengayunkan satu pukulan lagi ke arah Edo.
Buk....!!!
Suara pukulan yang kali ini ke terarah tepat diwajah Edo, pukulan itu seakan mebuat gendang telinganya berbunyi kencang.
__ADS_1
Satu, dua, tiga dan empat pukulan sudah mendarat di wajah Edo, kali ini kepala Edo sangat sakit, pikirnya dia akan mati jika satu pukulan lagi mendarat diwajahnya.
“Hei... bangun dulu...!!!” kembali terdengar teriakan anak gendut itu disusul kepalan tangannya mengarah ke wajah Edo.
Saat kepalan tangan anak itu akan mengenai wajah Edo, seketika itu juga tangannya terhenti, sebuah tangan menggenggam pergelangan anak gemuk itu yang kepalannya hampir saja mendarat di wajah Edo.
“Siapa kau?” tanya seorang yang menggenggam tangan anak gemuk itu.
“Namaku...!? otakmu sudah geser yah sehingga tidak mengenalku..!? gertaknya.
"Udalah Van...kita hajar saja anak ini biar sadar" kata seorang anak bernama Fajri.
"Hehehe... tanganmu kuat juga yah?" ujar anak bertubuh gemuk itu.
"Akan aku bunuh kalian semua...!!" gertak pemilik tangan yang menggenggam tangan anak gendut yang bernama Vandu.
Seketika perkelahian terjadi dibelakang kantin, tiga lawan satu. Perlawanan dari seorang anak itu sangat brutal, apa saja yang ada dihadapannya dipakainya menjadi alat pemukul.
Tidak ada waktu bagi Vandu untuk menghindari setiap serangan yang diterimanya, begitupun kedua temannya yang sudah kelelahan. (mungkin temannya kebanyakan merokok, makanya udah ngos2an 😶)
Teriakan pengampunan seperti tidak didengar, sampai akhirnya ketiga anak pembuat onar itu lari tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.
Kejadian itu tidak dilihat oleh Edo, itu terlalu menakutkan untuknya, lagipula pukulan yang diterimanya membuatnya tidak sadarkan diri.
Setelah sadar, Edo melihat dihadapannya berdiri seorang anak lelaki dan perempuan, seorang anak laki-laki dengan postur badan yang tinggi tegap, badannya terlihat kuat dengan otot-otot besar, disebelah anak itu juga duduk seorang anak perempuan, anak perempuan yang sangat cantik, anak itu terus memandang Edo yang masih terbaring di tanah.
“Sampai kapan kamu mau terbaring di situ?” kata anak perempuan itu yang bernama Devi dan sebelahnya bernama Hengkie.
Itulah hari pertama ketiga sahabat itu bertemu, hari itu pulalah gangguan dari seorang anak bernama Vandu bersama kedua temannya Fajri dan Andri berakhir. Hingga sampai saat ini, Vandu tidak berani mengganggu Edo, Vandu sangat takut dengan kebrutalan seorang anak yang dihadapinya kala itu, seorang anak yang mematahkan tangan kanannya dengan batu.
__ADS_1