
Senja di kota Manado, matahari tenggelam seolah selesai dengan pekerjaannya. Namun, ada yang tidak ikut tenggelam ketika senja datang, yakni rasa. Rasa bahagia menyelimuti ketiga anak muda yang duduk didalam kendaraan.
“Aku tidak tahu bagaimana reaksi anak itu ketika kita bertemu dengannya” ucap seorang anak laki-laki kala itu.
“Apakah kita langsung kesana hari ini? Ini sudah malam, aku rasa besok saja” usul Mira yang mengikuti mereka saat itu.
“Tidak, aku kesal sekali padanya, sudah 1 tahun dia tidak menghubungiku, apa-apaan anak itu” gerutu Devi dengan wajah kesalnya.
“Baiklah... aku ikut kalian saja, tapi apakah rumah sewa kalian jauh dengan rumah anak itu?” tanya Mira yang saat itu memandang langit yang mualai gelap.
“Aku rasa memakan waktu 20-30 jika berkendara” jawab anak laki-laki bernama Hengkie.
“Hmmm jadi begitu yah” respon Mira diikuti mobil yang mereka kendarai berhenti.
“Aishhhh ada apa ini?” terdengar suara keluhan dari pengemudi kendaraan, pengemudi itu segera turun dan melihat kemacetan yang panjang, pengemudi itu menghampiri salah satu orang yang berdiri dipinggir jalan dengan rokok di tangannya.
“Maaf pak, ada apa ini?” tanya pengemudi itu.
“Oh... bukit ini sudah mulai sering longsor, mungkin di depan sada sedang ada longsor sehingga menimbulkan macet” jawab orang itu.
Sebuah bukit di kota Tomohon, bukit yang sering sekali dilalui oleh kendaraan-kendaraan umum. Bukit yang saat ini tidak bersahabat bagi para pengendara. Ketiga sahabat itu harus menunggu lama untuk melewati bukit itu, sampai pada pukul 22.30 semua kendaraan dapat melewati bukit itu.
“Tidak mungkin kita ke rumahnya di jam seperti ini, perjalanan kita jauh, lebih baik kita beristirahat dulu” jelas Hengkie.
“...baiklah” jawab Devi dengan wajah kecewa.
Rumah sewa milik Hengkie dan Devi saat itu sudah sangat lengkap. Tante Nufus telah menyiapkan semuanya untuk mereka, dari perlengkapan rumah sampai pada kedatangan mereka yang dijemput oleh anaknya, rumah yang cukup baik dari segi design dan tampilannya.
“Wahhh rumah ini bagus sekali, malam ini aku tidur dengan Devi yah.., aku lelah sekali harus berjalan ke kosanku, apa lagi aku yakin ibu kos pasti sudah tidur” pinta Mira malam itu.
“Tidak masalah” jawab Devi singkat.
Malam itu Devi memikirkan Edo dalam pembaringannya, rasa lelahnya terasa hilang dengan suasana Tomohon yang dingin, sesekali ia melihat layar telphone genggamnya, sesekali juga ia melihat foto lamanya.
“Akan aku hajar kau Edo” gumamnya dalam hati diikuti matanya yang menutup, mata yang terlihat lelah malam itu.
------
Pagi yang indah, matahari menampakkan sinarnya menembus jendela rumah Devi, ia terbangun dan mendapati dirinya hanya sendiri, diraihnya telphone genggam miliknya yang terletak di meja dan coba menghubungi sahabatnya Mira saat itu.
“Hallo Mira kamu di mana?” tanya Devi dengan rambutnya yang tidak beraturan.
“Ahhh maaf, aku sudah berada di tempat kosku, aku lihat kau begitu pulas karena itu aku tidak membangunkanmu, aku tahu kau tidar begitu larut, jangan cemaskan aku karena Hengkie sedang bersamaku” Mira coba menjelaskan.
“Baiklah... aku ingin melihat Edo hari ini, apakah kau mau ikut?” tanya Devi yang saat itu mengambil handuk di dalam kopernya.
“Tidak Devi, banyak sekali yang harus aku kerjakan, kau saja dengan Hengkie... aku akan menyuruhnya kembali pukul 12 nanti” jawab Mira dari ujung telphone.
__ADS_1
“Baiklah” respon Devi mengakhiri pembicaraan mereka.
Hari ini adalah hari kedua Devi dan Hengkie berada di kota Tomohon, kota yang penuh kenangan masa kecil. Masa dimana kebahagiaan mereka hanyalah bermain bersama, sebuah masa yang tidak akan kembali lagi, kota ini adalah awal di mana segala kekecewaan, kecemasan, keindahan dan keceriaan itu terjadi.
Sebuah awal yang dipenuhi warna, warna yang coba dihadirkan kembali oleh mereka, mereka tahu akan berbeda namun rasa rindu dan sebuah janji yang telah mereka sepakati, menjadi sebuah prioritas utama untuk kembali.
Siang itu, mata Hengkie dan Devi tertuju ke arah sebuah danau, danau yang dulu menjadi tempat mereka bermain, danau yang sampai saat ini tidak berubah keindahannya, mereka saling bertatap mata dan tersenyum bersama, seolah bagian dari jiwa mereka kembali dan mengingatkan lagi hal-hal indah yang dulu mereka lewati bersama.
“Hahahaha lihatlah ayunan itu masih ada” tawa Hengkie dangan jari menunjuk ke arah danau.
“Iya, padahal sudah lama sekali ayunan itu berada di sana” jawab Devi dengan senyum manis di wajahnya.
“Dua blok lagi kita akan sampi di rumahnya, siapkan dirimu” ucap Hengkie dengan terus memperhatikan dananu Linow.
“Apakah aku sudah terlihat cantik?” tanya Devi dengan menatap wajahnya di cerimin kecil.
“Dari sudut manapun kau tidak menarik” jawab Hengkie dengan wajah jailnya.
“Dasar Gorila menyebalkan, ini saudaramu kenapa tidak pernah kau memujiku...!!!” teriak Devi kesal dengan mencekik leher Hengkie saat itu.
Rumah dengan pagar hitam, rumah yang warnanya tidak berubah dan bentuknya tidak berubah, dari saat mereka bertemu dengan Edo dan sampai saat ini, mereka terkagum dengan keutuhan rumah itu, sesekali mereka tersenyum melihat sekitar rumah itu.
“Rumah ini, begitu banyak kenangan di rumah ini, apakah karena itu Edo tidak merubah bentuk dan warnanya?” tanya Devi.
“Sepertinya begitu, melihat keadaan rumah seperti ini, aku rasa dia masih mengingat kita” jawab Hengkie.
Hengkie coba menekan bell rumah Edo, namun tidak ada respon dari dalam rumah. Terlihat seorang kakek tua yang berjalan mendekati mereka dari arah rumah sebelah, kakek itu memegang tongkat di tangan kanannya.
“Selamat siang, sedang apa kalian di sini, aku baru melihat kalian” tanya kakek Supri.
“Ahhh ini kami Devi dan Hengkie, apakah kakek lupa?” tanya Devi dengan semangat.
Kakek Supri memegang dagunya, matanya memperhatikan kedua anak muda yang berdiri di hadapannya, ingatan yang lemah karena umur yang sudah tua menghambat memori di kepala kakek Supri.
“Ahhh....!!!!” teriak kakek Supri seakan mengingat kedua pemuda di hadapannya.
“Apakah kakek ingat!?” tanya Devi dan Hengkie bersamaan dengan wajah mereka yang terlihat gembira.
“...hmmm maaf aku lupa” jawab kakek Supri yang tiba-tiba membuat Hengkie dan Mira lesu.
“...”
“Baiklah... apakah kakek kenal Edo? Apakh dia ada di rumah?” tanya Hengkie.
“Hmmm Edo yah... dia sedang berlibur dengan tantenya, aku tidak tahu kapan dia kembali” jawab kakek Supri.
“Jadi begitu yah... baiklah terima kasih” jawab Hengkie dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Maaf aku ingin ke warung...” kata kakek Supri yang berjalan melewati mereka.
Wajah Devi dan Hengkie terlihat amat kecewa, mereka pikir hari ini akan bertemu dengan Edo. Terpikir dalam benak mereka, apakah Edo masih mengingat janji yang telah mereka ucapkan, sesekali mereka melihat rumah itu dan segera beranjak dari tempat itu.
“Oiii anak muda, kau tahu warung di komplek ini di mana? Kemarin aku lihat ada di sini, apakah sudah pindah!?” tanya kakek Supri dari kejauhan.
“Harusnya warung ada di arah berlawanan, kenapa dia ada di sana?” kata Mira datar.
"Dia sudah pikun" jawab Hengkie.
"..."
"Kakek, kau salah... warung ada di sebelah sini...!!" teriak Hengkie sambil menaiki kembali mobilnya.
Di dalam mobil, tidak ada kata yang terucap dari mulut Devi dan Hengkie, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masig, Hengkie yang terus memandang ke luar jendela mobil dan Devi yang terus memperhatikan layar phonselnya.
“Sampai saat ini, aku tidak mendapatkan kabar darinya, jujur saja aku sangat kecewa tapi janji harus ditepati bagaimanapun keadaannya” sebuah kalimat terucap dari mulut Hengkie, ucapan yang memecah kehenginan saat itu.
“Akanku hajar dia” jawab Devi kesal dengan meremas phoneselnya.
Hari itu, tidak ada yang berubah. Mereka coba menghilangkan rasa kecewa mereka dengan membeli keperluan sekolah dan rumah. Besok adalah hari pertama dan hari di mana akan dilakukan penyambutan siswa baru, mereka berharap akan bertemu dengan Edo esok hari.
Hari berganti namun, sebuah keinginan seolah sirna, mereka tidak menemukan Edo dikerumunan siswa sekolah SMA Linggar, mereka solah putus asa.
Beberapa siswa dibagi untuk menaiki sebuah bus, bus yang akan membawa mereka ke sebuah vila yang dimana, vila itu telah disiapkan pihak sekolah dalam rangka penyambutan siswa baru.
Devi dan Hengkie terus memperhatikan sekitar, mana kala seorang yang mereka cari ada dikerumunan siswa. Namun, tidak ada yang mereka temukan, sampai akhirnya bus mereka berjalan.
Cuaca yang bagus berubah hujan yang sangat lebat, seketika seorang anak berjalan melewati mereka di dalam bus, seorang anak yang selama ini mereka rindukan.
"Apakah itu dia?" tanya Devi dengan menggerakkan lengan Hengkie.
"Ah... aku rasa memang dia" respon Hengkie.
Suasana bus saat itu begitu ramai, Hengkie mencoba benghampiri namun musibah datang lebih dulu menimpah mereka, bukit yang dua hari lalu mengalami longsor, saat ini terulang. Sebuah harapan seakan sirna saat itu, sebuah janji seakan bagai angin lalu, 3 tahun menanti dan saat ini berakhir, akhir yang sangat memilukan yang mereka rasa, sampai pada Devi dan Hengkie menutup mata hingga saat ini.
Namun, satu kesempatan untuk saling bertatap muka terwujud, Edo yang setengah badannya telah keluar dari jendela bus dapat melihat kedua sahabatnya.
"Ini aku, Hengkie... dan ini Devi... kami sangat merindukanmu..." kata Hengkie yang wajah sudah dipenuhi darah.
"He Hengkie.. De De Devi... maafkan aku" kata itu terucap dari mulut Edo saat itu, mulut yang terus bergetar menahan sakit.
Hengkie segera mendorong Edo keluar dari bus, jendela yang yang hanya bisa dilewati oleh satu orang dan tidak ada waktu lagi baginya dan Devi untuk keluar.
"Setidaknya dia menepati janjinya" sebuah kata terucap dari seorang anak laki-laki yang terus memeluk seorang gadis, laki-laki dengan postur tubuh besar mendekap kuat gadis dalam pelukannya. Ia tahu betul hidupnya akan berakhir, namun baginya seorang laki-laki harus berjuang, setidaknya gadis dalam pelukannya dapat terselamatkan.
"Devi maafkan saudaramu ini" suara lirih terucap dari mulut Hengkie, wajahnya terus memperhatikan Devi yang saat itu sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Tidak ada suara seorangpun dalam bus itu, bus yang terus berguling dan berhenti dibawah bukit yang digenangi air. Terdengar suara ambulace, setelah itu tangis lirih dari setiap keluarga korban memenuhu RS terdekat.
"Beruntung mereka selamat, tap maaf, kami tidak tahu sampai kapan mereka tidak sadarkan diri, hanya mukjizat yang dapat membantu mereka" kata seorang dokter yang berada di ruangan ICU, ruangan yang ditempati oleh Devi dan Hengkie sampai saat ini.