Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 14


__ADS_3

Suara detak jantung seakan terdengar begitu keras, keringat membasahi seluruh tubuh Edo, tubuhnya lemas dan bahkan kakinya tidak dapat digerakkan. Sebuah foto yang selama ini ada di ruang tamu rumahnya, ada pada seorang gadis yang baru dikenalnya, seorang gadis yang baru menyebutkan dua nama yang selama ini bersamanya, seorang gadis yang entah dari mana mengenal kudua sahabat masa kecilnya.


“Kenapa, apakah kau sudah melupakan mereka?” tanya Mira agak sinis sambil mengusap pipinya.


“Sepertinya ini bukan tempat dan


waktu yang tepat membicarakan atau menanyakan soal ini, mana handphonemu?” tanya Mira yang langsung merebut handphone Edo yang ada dalam sakunya.


“Ini nomor telphoneku, mari kita bicara kapan saja” jelas Mira yang mengetik dan menyimpan nomornya ke dalam handphone Edo.


“Aku rasa, masih ada rasa peduli kamu kepada kedua sahabatmu, jika itu benar, segeralah menghubungiku” jelas Mira sembari berlalu dari hadapan Edo.


Mira menuju toilet yang berada di sebelah kiri, ia memandang dirinya yang kala itu menangis.


"Teman macam apa dia?" gerutunya dalam hati dan terus memandang wajahnya dalam cerimin.


"Diakah sosok sahabat yang selama ini kau ceritakan Hengkie?" kata Mira yang terus menggerutu di depan kaca.


"Diakah sosok sahabat yang selama ini kau dan Devi banggakan? sesosok sahabat yang membuatmu sampai datang ke kota ini lagi?" Mira masih saja menggerutu dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


Tidak ada kata yang bisa diucapkan Edo, ia segera beranjak dari tempat itu dan pergi meninggalkan mall. Menaiki sebuah motor matic dengan helm full face, pikirannya kosong kala itu.


Sesampainya di rumah, Edo memandangi sebuah foto yang terpajang di sebelah kiri dinding rumahnya, sebuah foto masa kecilnya dengan kedua sahabatnya. Itu adalah Devi dan Hengkie, kedua sahabat yang tanpa disadarinya dijadikan imajinasinya, kedua sahabat yang selama ini ada dalam hatinya yang paling dalam.


Air matanya pecah, air mata yang ditahannya selama 3 tahun, sebuah imajenasi yang dia ciptakan begitu nyata sampai saat ini, perkataan, senyuman, canda tawa yang menemaninya selama ini hanyalah sebuah imajinasi, imajenasi dari seorang anak laki-laki yang terpuruk dalam kesendirian bertahun-tahun, imajenis yang tercipata dari seorang anak laki-laki yang merindukan sahabat masa kecilnya.

__ADS_1


Taman dan danau yang dulu menjadi tempat main mereka, itu semua tersimpan dalam hatinya, ia coba mengulang masa-masa dulu dengan imajenasi yang dibuatnya, bepergian dengan Hengkie dan Devi sepulang sekolah bahkan di hari Minggu, itu adalah sebuah hal yang sangat indah dimasa kecilnya, keindahan itu menjadi imajenasi yang selama 3 tahun ini dibawanya ke alam nyata.


Tangis tidak bisa dibendung, suaranya bagai tertahan, seorang anak laki-laki yang selama ini menyimpan banyak problem dalam hidupnya, bagaikan sebuah bongkahan es yang berada di tengah laut, terlihat kecil di permukaan, tapi begitu besar di dasarnya.


Sesaat anak laki-laki itu membenci dirinya, ruangan dengan perlengkapan olahraga dengan samsak di sudut sebelah kanan, menjadi sebuah pelampiasan yang menurutnya pantas untuk dirinya.


Satu demi satu pukulan dilayangkan, sampai tidak terasa tangannya mengeluarkan darah.


“Sahabat macam apa aku ini!!!????”


teriaknya dengan terus meninju samsak yang berada di depannya.


“Sahabat macam apa aku ini!!??”


ia terus berkata seperti itu dengan sangat menyesal.


“Sahabat macam apa aku ini” satu kalimat terakhir yang membawanya pada alam ketidak sadaran atau sinkop saat itu.


Anak laki-laki itu melihat seorang wanita berambut merah, ia seperti berlari mengikutinya yang terbaring disebuah Barnker UGD, wanita itu menangis sambil terus memanggil nama anak laki-laki itu. Wajah wanita itu menghilang dibalik pintu. Branker itu memasuki sebuah ruangan, badan Edo begitu lemas, tangannya teramat sakit, tidak ada yang dapat dikatakannya sampai pada akhirnya sebuah suntikan penenang tertancap di lengan sebelah kiri Edo.


Suntikan itu membuatnya lebih nyaman dan tenang, tante Stefani yang tampak begitu cemas segera mengahadang dokter yang kala itu baru keluar dari ruangan Edo di tempatkan.


“Dokter, kenapa dengan keponakan saya?” tanya tante Stefani cemas.


“Begini bu, sepertinya keponakan ibu amat tertekan selama ini, tekanan yang dia alami baru meledak sehingga terjadilah seperti ini” jelas dokter singkat.

__ADS_1


“Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya, sekarang biarkan keponakan ibu beristirahat” kembali dokter menjelaskan sebelum tante Stefani bertanya.


Tante Stefani kembali menemukan Edo pada malam itu, waktu dimana tante Stefani membawakan makan malam untuk Edo. Saat itu Edo tidak sadarkan diri di ruangan olahraga rumahnya, tangannya dipenuhi darah kala itu, dengan bantuan tetangga, mereka membawa Edo ke rumah sakit dengan mobil milik tante Stefani.


Di rumah sakit, seorang lelaki dengan celana pendek dan kaos yang matching dengan sepatunya berlari, lelaki itu mendatangi tante Stefani di ruang tunggu yang kala itu terlihat cemas.


“Ada apa dengan Edo Bebs?” tanya laki-laki itu yang adalah om Santoni.


Melihat suaminya telah datang, tante Stefani segera memeluk om Santoni, pelukannya teramat kuat, pelukan dengan sebuah tanda kecemasan yang sangat.


“Itu Edo Bebs... hiqz...” kata tante Stefani sambil terisak.


“Iya kenapa dengan Edo?” tanya om Santoni yang mulai khawatir.


“Aku temukan dia tidak sadarkan diri di ruang olah raga miliknya, tangannya hancur bebs, aku merasa tidak menjadi tante yang baik untuknya... hiqz...hiqz...” jelas tante Stefani yang terus saja sesenggukan.


Melihat istrinya saat itu, membuat om Santoni sedikit terpukul, ia merasa bahwa tante Stefani sangat sempurna menjaga Edo, ia tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan. Om Santoni coba memberanikan diri bercerita apa yang dia lihat tadi pagi.


“Stefi aku mau bicara” kata om Santoni yang masih memeluk istrinya.


Panggilan nama yang tidak biasa, panggilan nama yang dirasa tante Stefani adalah sebuah panggilan serius, jarang sekali ia mendengar panggilan itu, panggilan nama itu selalu keluar pada saat om Santoni serius dalam menyampaikan sesuatu, sejenak sesenggukkan tante Stefani terhenti, ia segera memandang wajah suaminya kala itu.


“Ada hal penting yang akan kau katakan Bebs?” tanya tante Stefani serius.


“Iya, tapi sebelumnya aku minta maaf jika akan membuatmu semakin bersedih” ucap om Santoni dengan wajah serius.

__ADS_1


“Apa ini tentang Edo?” tanya tante Stefani yang dibalas anggukan dari suaminya.


“Namun, kita bicara di luar saja, aku tidak ingin bicara di sini” kata om Santoni sembari melepas pelukan istrinya.


__ADS_2