Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 13


__ADS_3

Wajah penasaran terlihat saat membuka buku yang baru Edo beli, menunggu


hidangan yang memakan banyak waktu, baginya tidak akan terasa jika membaca


sebuah buku. Buku dengan sampul abu-abu dibukanya.


Apeirrogon sebuah Novel karya penulis terkenal Colum McCann, Sebuah buku yang secara garis besar merupakan kisah nyata perihal persahabatan luar biasa antara seorang warga Palestina, Bassam dan pria Israel, Rami. Keduanya adalah ayah dari anak-anak perempuan yang terbunuh dalam konflik - Abir meninggal karena terkena peluru karet, dan Smadar lantaran bom bunuh diri.


Kedua ayah itu bekerja sama selama beberapa dekade, memberikan


pelajaran di seluruh dunia, dengan menggunakan "kekuatan kesedihan mereka sebagai senjata".


Edo begitu focus dengan apa yang


dibacanya, dia tidak menyadari seorang gadis berdiri di hadapannya, gadis itu membawa segelas jus dan sepiring french fries.


“Ini ka jus sama camilannya,


semuanya Rp. @*#%?” kata gadis pelayan itu.


“Tunggu sebentar” jawab Edo dengan tangan kanan merogoh dompet di sakunya.


“Baik terima kasih ka” kata gadis pelayan itu seraya mengambil uang yang diberikan Edo.


Edo melanjutkan apa yang dilakukan sebelumnya, keramaian yang ada di tempat itu sama sekali tidak melunturkan konsentrasinya, sampai pada akhirnya ia mendengar sesuatu yang membuatnya


terhenti membaca, suara seorang gadis yang hanya berjarak 2 meja dari tempat dia duduk, suara itu sangat terdengar jelas di telinganya.


“Mereka bersekolah di SMA Linggar, sampai saat ini mereka masih koma” kata seorang gadis dengan aksesoris yang penuh di lengannya.


“Tiga tahun koma, sampai sekarang belum sadarkan diri!?” tanya seorang gadis berkaca mata.


“Aku pernah mendengar ada seorang yang koma sampai belasan tahun” sambung gadis lainnya.


“Aku masih berharap keajaiban untuk mereka, mereka adalah sahabat baikku” kata gadis bernama Mira dengan aksesoris yang memenuhi lengan kanannya.


Edo tertegun, beberapa pertanyaan terus hadir dalam pikirannya, “SMA Linggar?”, “siapakah yang mereka bicarakan?”,


“koma tiga tahun, bukankah tiga tahun lalu insident itu?”, pertanyaan yang semakin


membuatnya keras berpikir, tanpa Edo sadari seorang perempuan berdiri di hadapannya.


“Hei Edo, sedang apa kau di sini?” tanya perempuan berambut merah yang seketika membuyarkan pikirannya.


“Tante?” ucap Edo seakan kaget melihat tante Stefani berdiri di hadapannya.


“Lho, tante sedang apa di sini?” tanya Edo yang masih tidak percaya dengan kehadiran tante Stefani.


“...hmmmm.... malah balik bertanya, tante antar om lihat pameran” jawab tante Stefani dengan meraih kursi di hadapannya.

__ADS_1


Tante Stefani begitu menghalangi pemandangan yang ada di depan Edo, ia tidak bisa melihat gadis-gadis yang berbicara didepannya, sampai beberapa saat gadis-gadis itu beranjak dari tempat duduknya, wajah-wajah yang begitu asing bagi Edo, kecuali satu gadis yang membelakanginya, seorang gadis berkuncir kuda dan memakai begitu banyak aksesoris di pergelangan tangannya.


Keinginan Edo untuk beranjak dari kursinya seolah tertahan, senyum tante Stefani seperti mengikatnya, tidak ada yang dapat dilakukan, memikirkan tante Stefani yang begitu baik, membuatnya harus tetap tinggal menemani sampai om Santoni datang.


Kegelisahan nampak sekali terlihat dari wajah Edo, kedua kakinya terus bergerak tanpa henti, gerak-gerik itu terlihat jelas di hadapan tante Stefani.


“Kamu kenapa Edo” tanya tante Stefani.


“Ti..tidak apa-apa tante” jawab Edo yang terus memandang ke arah pintu keluar.


“Sebentar, om telephone” kata tante Stefani sambil mengangkat handphonenya yang saat itu berdering.


Kaki Edo semakin bergerak kencang meninmbulkan getararan pada meja, tante Stefani melihat hal itu, ia menyadari


keponakannya terlihat gelisah.


“Ok Bebs aku tunggu di Cafe 04 yah” kata tante Stefani kepada suaminya di ujung telphone.


“Hei... kamu kenapa Edo?” tanya tante Stefani.


“Tidak tante” jawab Edo yang masih menggerak-gerakkan kakinya.


“Jika kamu ada perlu, kamu pergi saja, tante sudah kasih tau om kalau tante di sini” tante Stefani menjelaskan.


“.....”


“Tidak apa-apa tante?” tanya Edo dengan mata yang tidak berani melihat tante Stefani.


“Tentu saja tidak mengapa, ayo sana pergilah” jawab tante Stefani tegas.


“Terima kasih tante” Edo beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


“Hmmmm.... anak itu” gumam tante Stefani sambil terus memperhatikan Edo yang telah berlalu pergi.


Mall yang besar, begitu sulit mencari seseorang didalamnya. Edo sedikit berlari, matanya terus memandang kiri-kanan, dia berharap menemukan para gadis yang tadi duduk di depannya. Dari lantai 1 samapai lantai 4, tidak ditemukannya gadis-gadis itu.


“Akhhh... apakah aku kehilangan


mereka?” gumam Edo dalam hati sambil terus memperhatikan sekitar.


Dari arah belakang, tawa sekelompok gadis terdengar. Edo coba memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah belakang, berdiri di hadapannya seorang gadis yang pernah dilihatnya, mata mereka bertemu satu sama lain, mereka terdiam tanpa satu katapun keluar dari mulut mereka.


Begitu lama mereka saling memandang, Edo yang sedari tadi begitu gigih mencari gadis-gadis yang ada di hadapannya, seolah tidak tahu ingin berkata apa.


“Siapa dia, apakah kau kenal Mira?” tanya seorang gadis sedikit berbisik.


“Aku tidak tahu apakah aku mengenalnya” jawab Mira dengan mata yang terus memandang ke arah Edo.


“Kalau begitu, bisakah kita pergi dari sini?” tanya salah satu gadis bertubuh gemuk.

__ADS_1


“Bisakah kalian tinggalkan kami berdua?” tanya Mira dengan mata yang masih saja melihat Edo.


“Baiklah, sepertinya ini urusan pribadi, mari kita tinggalkan mereka” kata seorang gadis berkaca mata.


“Jika sudah selesai, infokan lewat WA yah” lanjut gadis berkaca mata sambil menyentu pundak Mira.


“Baiklah, tenang saja” jawab Mira santai.


Gadis-gadis itu pergi, mereka meninggalkan sahabat mereka Mira dan Edo berdua saja. Sebuah pusat perjalanan yang begitu ramai dirasa begitu hening kala itu, mereka masih saja saling bertatapan tanpa satu katapun.


Suasana kala itu terasa aneh, Mira coba mendekati Edo dengan terus memandang Edo dengan langkahnya terasa ringan, Edo pun demikian, dia berusaha melangkah namun langkahnya terasa berat. Ini sesuatu yang baru bagi Edo, berbicara dengan orang lain sejak tiga tahun lamanya.


“Apakah kau berasal dari SMA Linggar?” tanya gadis itu.


“Iya, aku dari SMA Linggar” jawab Edo singkat.


“Kita bertemu di perpustakaan waktu itu, aku melihatmu pada saat pertandingan Basket di lapangan serbaguna Linggar” lanjut Edo yang berusaha tidak kaku.


“Oh yah, aku tahu itu” jawab Mira sambil mengunyah permen karet.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Edo malu-malu.


“Aku menemani sahabatku melihat pameran, ada pameran alat-alat olahraga di tempat ini” jawab Mira sambil memegang pembatas jalan di tengah mall.


“Kalau kamu?” lanjut Mira bertanya.


“Aku?? Aku hanya membeli buku” jawab Edo singkat.


“Sepertinya kau memang kutu buku, itu terlihat dari kaca matamu yang sungguhan itu” kata Mira sambil menunjuk kaca mata Edo.


“Ahhhh... tidak begitu juga, Oh yah... aku mendengar apa yang kalian bicarakan di Cafe 04” kata Edo serius.


“Apakah kau menguping pembicaraan kami?” tanya Mira dengan raut muka curiga.


“Ahhh... tidak seperti itu, aku berada dua meja dari kalian, sehingga tidak sengaja aku mendengarnya” jelas Edo.


“Siapa mereka yang sudah koma tiga tahun?” lanjut Edi bertanya dengan wajah penasaran


“Oh... itu, mereka adalah sahabatku di Jakarta, ada kecelakaan 3 tahun lalu di bukit Tomohon yang membawa siswa sekolah Linggar dan mereka salah satu korban di sana” jelas Mira sambil memandang ke arah Edo.


Mendengar hal itu, tubuh Edo seakan membeku, lidahnya keluh, yang dia tahu selama ini hanya dia yang selamat dari insident kecelakaan itu, tidak sampai di situ saja,


“Apakah ini kau?” tanya Mira dengan menunjukkan sebuah foto lama yang telah usang.


Separuh jiwa Edo seakan hilang, melihat foto yang ditunjukkan padanya, 3 orang anak berumur 10 tahun, sebelah kiri seorang anak gadis, sebelah kanan seorang anak laki-laki dan di tengahnya Edo sendiri.


“Kau masih kenal dengan mereka Edo?” tanya Mira dingin.


“Mereka adalah sahabatmu yang kau lupakan, Devi dan Hengkie” lanjutnya kesal dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2