
Dalam ketidak sadaran, seorang anak laki-laki dibawa kembali kesuatu masa yang telah lalu, sebuah layar besar ada di hadapannya, ia diperlihatkan seorang anak kecil, seorang anak kecil memakai baju hitam menyendiri disebuah kamar, anak itu menangis dan memanggil ibunya.
“Ibu... ibu jangan tinggalkan Edo bu, Edo takut sendiri” tangis anak itu dengan tubuh yang meringkuk di sudut kamar yang berwarna coklat.
“Apakah itu aku?” tanya anak laki-laki itu yang terus memperhatikan layar besar dihadapannya.
Tidak berapa lama, anak kecil bernama Edo itu tertidur dengan air mata membasahi pipinya, sebuah pemandangan yang teramat perih, seorang anak kecil berumur 6 tahun terbaring disebuah lantai dingin, lelah menahan kepedihan dalam hati yang saat itu ditinggal pergi ibunya.
Anak itu tertidur membawa kesedihan, matanya yang terpejam seakan terbuai dalam kekelaman. Mungkin pikir anak itu, suatu saat ia membuka mata, semua yang dirasa saat ini tidaklah nyata.
Seorang laki-laki berpakaian hitam menyalakan lampu kamar anak itu, melihat anak itu tidur dengan kesedihan membuatnya tidak mampu menahan air mata, seorang ayah yang menyayangi anaknya itu menggendong dan membawanya ke tempat petiduran, ayah anak itu membasuh pipi anaknya yang basah oleh air mata.
“Menangislah nak, anak laki-laki pantas untuk menangisi seseorang yang dicintainya, jangan menahannya, itu akan membuat sakit hatimu begitu parah” terucap kata itu dari seorang ayah, seorang yang saat itu terpukul dengan kepergian istri yang teramat dicintainya.
Laki-laki itu duduk disebelah anaknya yang tertidur, wajahnya muram, air matanya terus mengalir, bibirnya bergetar tidak menentu. Menahan segala kesedihan dihadapan anaknya adalah kewajiban, mencoba menunjukkan ketegaran adalah keharusan seorang ayah.
“Ayah, kenapa engkau menangis?” tanya anak itu yang terbangun mendengar sesenggukan ayahnya.
“Ahhh... tidak nak, kau tidur saja, ayah ada disampingmu” jawab laki-laki itu sembari mengusap air mata di pipinya.
“Ayah, mengapa ibu terlalu cepat meninggalkan kita?” tanya anak itu kembali dengan tangan kecilnya memegang tangan ayahnya.
“Ibu telah pergi ke tempat yang paling indah, jauh dari dunia ini” jawab laki-laki itu seraya memegang kening anaknya.
“Kalau begitu, kenapa ibu tidak mengajak kita ayah?” tanya anak itu dengan wajah polosnya.
“Tidak saat ini nak, tapi suatu saat nanti, kita akan kembali dipertemukan oleh ibu, masih banyak yang harus kamu lakukan di dunia ini” jawab laki-laki itu lirih.
“Kau tahu?? Seseorang akan berguna dalam hidupnya jika berbuat banyak kebaikan untuk orang lain, jadi belum saatnya kita ikut ibu, ibu pergi karena sudah banyak kebaikan yang ia berikan untuk dunia ini” lanjut laki-laki itu dengan tangan kanan yang terus mengusap kening anaknya.
“Apakah aku bisa melakukan hal yang sama seperti ibu?” tanya anak laki-laki itu dengan polosnya.
__ADS_1
“Tentu saja, saat umur kamu bertambah, berbuat baiklah untuk orang lain” jawab laki-laki itu yang disambut anggukkan dari anaknya.
Layar yang dihadapan Edo berubah hitam, layar itu mencoba memutar satu memory yang berharga untuk diingat kembali, dua sosok anak kecil berumur 6 tahun bermain di taman kanak-kanak. Dua anak kecil, laki-laki dan perempuan, anak laki-laki dengan rambut seperti tentara dan anak perempuan berambut panjang dan alis tebal. Kedua anak itu mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan anak bernama Edo.
“Siapa namamu?” tanya gadis kecil itu.
“Aku Edo” jawab Edo dengan wajah yang masih bersedih dengan kepergian ibunya.
“Namaku Devi, aku tidak pernah melihatmu” kata gadis kecil itu dengan senyum manis di bibirnya.
“Ohh yah, kenalkan aku Hengkie, maukah kamu berteman denganku?” tanya anak laki-laki bernama Hengkie dengan tangannya yang terulur.
“Apakh kalian mau berteman denganku?” tanya Edo, wajahnya mulai tersenyum melihat kedua anak kecil di hadapannya.
“Edo, apakah kamu bersedih??” tanya gadis kecil bernama Devi.
“Iya, aku melihatmu bersedih, apakah ada yang mengganggumu?” tanya anak kecil bernama Hengki.
“Ahhh tidak, itu tidak perlu... aku bersedih karena ibuku pergi meninggalkanku” jawab Edo lirih.
“Ibu kamu pergi kemana? Keluar negeri???” tanya Devi dengan wajah polosnya.
“Tidak, ibu aku pergi ke surga” jawab Edo dengan tidak kalah polosnya.
Sesaat wajah kedua sahabat baru Edo yang masih kecil berubah, wajah mereka seakan menahan kesedihan, wajah polos yang sudah mengerti akan tempat yang namanya surga. Anak laki-laki bernama Hengkie tidak tahan menahan air matanya.
“Sudah kau jangan menangis, aku juga jadi ikut menangis” kata Devi seraya memukul Hengkie yang tidak dapat menahan tangisnya.
Pertemuan pertama kali untuk mereka bertiga, pertemuan dengan dasar yang kuat, mereka saling berbagi kesedihan dan menangis bersama, tidak ada pertemuan pertama yang sebaik ini, semua tampak nyata tanpa paksaan dan kemunafikan.
Layar terus menayangkan memory masa lalu Edo, Devi dan Hengkie. Membuka sebuah kenyataan bahwa Devi dan Hengkie adalah saudara kembar, mereka terus bersama dari TK sampai SD, gangguan dari anak lain selalu diselesaikan dengan kekerasan oleh Hengkie.
__ADS_1
Senyum terlukis dari garis bibir Edo, ia terus memperhatikan layar di hadapannya, melihat kembali kedua sahabat masa kecilnya, Hengkie yang terus melindunginya dari serangan anak-anak pembuat onar, serta Devi yang terus meberi semangat untuknya dikala ia terpuruk dalam kesedihan.
“Hei Edo, badanmu terlihat lemah, aku akan membuatmu lebih kuat” kata Hengkie yang saat itu duduk di bangku kelas 6 SD
“Kata siapa aku lemah, aku bisa mengalahkanmu” kata Edo kala itu di pinggir sebuah danau.
“Apa!? Hahahaha itu tidak mungkin, kemarilah dan coba kau jatuhkan aku” kata Hengkie memprovokasi Edo.
“Baiklah, jika aku dapat menjatuhkanmu, Devi jadi pacarku hehehehe” kata Edo sedikit nakal.
“Apa-apaan kalian ini!!?? Masa aku jadi bahan taruhan!!!???” protes Devi seraya beranjak dari ayunannya.
“Hehehehe aku hanya bercanda” jawab Edo sambil menggarukkan kepalanya.
“Kau nakal sekali Edo!!” kata Devi kesal namun rona merah pada kedua pipinya terlihat jelas.
“Tenang saja, dia tidak akan bisa menjatuhkanku” seru Hengkie percaya diri.
Kedua sahabat itu saling menjatuhkan, berkali-kali Edo mencoba tapi masih saja gagal, tubuh Hengkie yang lebih besar darinya bagaikan sebuah tembok, tembok yang mampu menghalang setiap serangan, 30 menit mereka melakukan itu dan sampai pada titik Edo menyerah.
Kedua sahabat itu sama-sama terjatuh, nafas mereka berat, lelah yang mereka rasa. Devi yang melihat tingkah mereka tertawa, saat itu Edo dan Hengie saling bertatap muka, pikiran mereka seolah sama.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Hengkie yang duduk di rerumputan bersama Edo.
“Aku pikir, aku menyutujui apa yang kau katakan” jawab Edo dengan nafas yang berat.
“Kita mulai hari minggu, lari 500 meter saja” ucap Hengkie serius.
“Yah, akan aku lakukan, aku ingin menjadi kuat sepertimu agar bisa melindungi sahabat-sahabatku” Edo menjelaskan.
“Aku setuju” Hengkie merespon dengan tangan yang terulur, mereka berdua bersalaman saat itu.
__ADS_1
Edo yang melihat gambar pada layar dihadapannya tertegun, ia melihat tubuhnya saat ini, tubuh kecil namun banyak lekukan disetiap bagiannya, ini adalah hasil atas capaiannya dalam berolah raga, lari 5 KM setiap minggu, mengangkat alat berat yang tersedia di ruangan olah raganya rumahnya.