
Seorang anak laki-laki penuh dengan keringat membasahi seluruh tubuh, ia berjalan memasuki ruang tamu. Langkahnya begitu santai dengan hanya mengenakkan celana pendek tanpa atasan, handuk kering digantungkan di bahunya, ia tidak menyadari ada seorang gadis bersama dengan saudarinya saat itu.
“Devi, kamu pesan makan aku lapar sekali” kata Hengkie yang tidak menyadari seorang gadis duduk di belakangnya, Devi coba memberi isyarat namun tidak dimengerti oleh Hengkie.
“Kenapa dengan wajahmu itu” tanya Hengkie yang melihat wajah aneh dari saudarinya itu.
"@**#%$&+" code Devi (berimajenasilah kalian wahai pembaca)
"...." Hengkie hanya bengong.
“Ada orang di belakangmu” kata Devi yang sudah tidak sabar memberikan code pada saudaranya itu.
Hengkie segera menoleh ke belakang, begitu terkejutnya dia dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis cantik duduk dengan malu-malu, gadis itu seolah memalingkan muka namun sesekali melihat ke arah Hengkie. Saat itu, Hengkie sangat terpesona dengan gadis yang berada dihadapannya.
“Siapa dia??? Oh Tuhan dia cantik sekali” hati Hengkie berbicara.
“God... laki-laki ini keren banget...” kata Mira dalam hati.
Begitu lama Hengkie dan Mira bagai terhipnotis, hingga akhirnya sebuah pukulan mendarat di kepala Hengkie. Bersamaan dengan itu Hengkie tersadar, jiwanya seakan kembali menyatu dengan tubuhnya.
“Akh sial sakit sekali...!!!” teriak Hengkie.
“Gorila...!! apakah kau tidak malu berpenampilan seperti ini di hadapan seorang gadis!?” teriak Devi yang terlihat kesal.
“Aishhhh maaf... maaf... maaf...” kata Hengkie yang baru menyadari bahwa ia setengah telanjang dan segera berlalu pergi.
“Siapa gadis itu, cantik sekali” gumam Hengkie yang mulai tersenyum memikirkan sosok wanita yang ditemuinya barusan.
Lama Devi dan Mira bercerita di ruang tamu, sesekali Hengkie mengintip dari balik kamarnya dengan wajah nakal, sesekali terpikir dalam benaknya bahwa Mira adalah calon istrinya, pikiran itu seakan membawa Hengkie hanyut dalam hayalan yang semu.
"Oh Tuhan... apakah dia tulang rusukku? jika benar dia, beranikan hamba untuk mengucap kata I love You padanya" hati Hengkie berbicara.
“Sudah waktunya aku pulang, tidak baik jika ayahku kembali aku tidak ada di rumah” kata Mira yang segera beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ohhh sayang jangan pergi dulu..." gumam Hengkie dari balik pintu (Ngintip gaesss)
“Jadi begitu yah... baiklah, aku harap kamu main kemari lagi yah” kata Devi dengan senyum.
“Tentu saja, atau bagaiaman kalau kita bergantian, besok kamu ke rumahku dan besoknya lagi aku ke rumahmu” jelas Mira semangat.
“Sepertinya itu lebih baik, baiklah besok aku ke rumah kamu” jawab Devi bahagia.
Malam itu adalah malam pertama Devi dan Mira bertemu, pertemuan yang akan membawa banyak cerita-cerita untuk di ingat. Persahabatan yang baru di lungkungan baru, apakah semua yang telah lalu hanya akan menjadi masa lalu?
Pagi di kota Jakarta, macet menjadi sebuah hiburan bagi Devi dan Hengkie saat itu, anak-anak mengemis meminta-minta di perempatan lampu merah, para pengamen yang naik turun dibeberapa bus yang melaju pelan dan seorang anak kecil yang hanya duduk disebuah trotoar. Sebuah pemandangan biasa di ibu kota, pemandangan biasa yang sama sekali tidak diperhatikan oleh para pemimpin korup.
Gerbang sekolah berwarna biru, hari kedua MOS yang melelahkan akan dijalani Devi dan Hengkie. Sebuah kegiatan yang memang lumrah dilakukan disetiap sekolah, dalam rangka menyambut siswa baru. Devi dan Hengkie harus berpisah dan ikut bergabung dikelompok mereka masing-masing, lapangan sekolah menjadi titik awal MOS hari ini, dari arah kantin terlihat gerombolan anak-anak kelas 2 yang memperhatikan Hengkie tanpa henti.
Sekumpulan anak yang bertemu dengan Devi dan Hengkie sore kemarin, pandangan mata mereka sangat tidak bersahabat, sesekali mata Hengkie dan gerombolan anak-anak itu bertemu, sedikitpun Hengkie tidak gentar dengan intimidasi mereka.
“Rudi, berani sekali anak itu melihatmu” kata seorang anak bertubuh gempal kepada temannya.
Jam terus berputar sampai pada pukul 12.00 WIB, waktu dimana para siswa beristirahat. Hengkie yang berbeda kelas dengan Devi segera berjalan mendatangi saudarinya itu, langkahnya terhenti manakalah segerombolan anak kelas 2 duduk dengan santai di lorong sekolah.
“Hei hei hei ada jagoan baru nih...” kata seorang anak bertubuh gempal.
“Kamu ini anak SMP atau SMA sih? hehehehe” kata anak lainnya.
“Mungkin dia tidak naik kelas selama 3 tahun hehehehehe” jelas anak lainnya.
Seorang anak dengan kepala botak menghampiri Hengkie, wajahnya penuh dengan intimidasi. Setiap langkahnya seolah meniru gaya film-film berandalan sekolah terkenal, bagi Hengkie itu sebuah lelucon menggelikan dari seorang anak SMP.
“Hei... ada apa dengan cara berjalanmu...??? Apakah kau habis menghisap lem aibon...???” tanya Hengkie sedikit bercanda.
Seketika wajah anak yang berjalan menghampiri Hengkie itu memerah, tangannya mengepal dengan dahi yang mengerut, suara temen-temannya seakan membakar amarah anak itu.
“Hajar saja Rudi” kata seorang anak bertubuh gempal tadi.
__ADS_1
“Kasih pelajaran sama anak baru itu” kata anak lainnya.
Kepalan tangan anak laki-laki itu mengenai pipi Hengkie, bunyinya sangat keras, sejenak Hengkie terdiam kala itu, wajahnya masih menoleh ke kanan dan tidak bergerak sama sekali. diamnya Hengkie mebuat anak-anak itu semakin riuh, mereka berpikir satu pukulan tadi dapat menghancurkan mental Hengkie saat itu.
“Apa aku bilang, anak itu tubuhnya saja yang besar, nyalinya tidak ada” teriak seorang anak.
“Hahahaha aku kira anak ini hebat” lagi kata seorang anak.
“Sudah Rudi, lawanmu bukan apa-apa, ayo kita pergi...” kata seorang anak bertubuh gempal tadi.
“Aku belum puas... tanganku seperti meminta untuk menghajar anak ini lagi dan lagi” kata anak bernama Rudi, dengan wajah menyeramkan yang dibuat-buat.
Hengkie masih terdiam dengan wajah yang menghadap sebelah kanan, pikirannya bercampur aduk kala itu, sekolah SMP ini sangat menarik. Sejenak teringat masa dimana dia dan Edo saling mengadu kekuatan, sudah 3 bulan lamanya dia tidak melakukan itu, melakukan hal yang kebanyakan pria macho lakukan.
Senyum menghiasi wajahnya, darah yang keluar dari mulutnya bagaikan doping yang membakar semangatnya waktu itu.
“Sekuat inikah pukulan anak kelas 2?” tanya Hengkie dengan senyum menakutkannya, senyum yang tidak ingin dilihat Edo saat sahabatnya itu terbakar emosi.
“Kau mau lagi?” tantang anak bernama Rudi.
“Coba kamu lakukan lagi” ucap Hengki seraya menyodorkan wajahnya untuk dipukul.
Satu, dua, tiga sampai enam pukulan diterima Hengkie, pukulan yang dirasanya tidak bertenaga, pikirnya Edo bisa melakukan jauh lebih baik dari ini, darah yang keluar dari hidung dan mulutnya bagai sebuah pemanis pertarungan.
“Hei botak lemah, sahabat baikku bisa melakukan yang lebih baik darimu” kata Hengkie dengan wajah senyum mengerikan.
Melihat hal itu, semua anak-anak yang berkumpul hanya terdiam, tangan yang tadinya penuh tenaga memukul Hengkie seolah bergetar, rasa sakit pada tangan yang menghantam kulit seorang anak SMP kelas 1, anak kelas 1 SMP dengan tubuh yang tidak biasa, sakit itu terasa sampai tulang.
“Hei sedang apa kalian!!?” teriak seorang anak dengan kain hitam dilengan bertuliskan OSIS.
“Sial ada OSIS ayo kita pergi dari sini” kata anak bertubuh gempal itu dengan menarik tangan Rudi.
Tekanan tidak biasa dirasakan Rudi, keringat dingin membasahi tubuhnya, dia berusaha melihat wajah Hengkie kembali, wajah itu tidak henti-hentinya tersenyum padanya, senyum menakutkan seperti monster. Sebuah kata terucap dengan sangat pelan dari bibir Hengkie, kata itu tidak terdengar jelas namun gerak bibirnya dapat di baca oleh Rudi, sebuah kata yang menggoyahkan mental Rudi “MARI LAKUKAN LAGI”.
__ADS_1