
Sore itu langit mulai gelap, rumah sakit terasa sangat ramai saat itu, disebuah restoran yang tepat berada 50 meter dari rumah sakit, berkumpul Edo, Mira, tante Stefani dan ibu Desti. Sudah cukup lama mereka di sana, bercerita tentang masa lalu dan juga keadaan Devi dan Hengkie.
“Jujur saja, ibu tidak tahu kalau kamu juga mengalami kecelakaan yang sama dengan mereka” ucap wanita bernama ibu Desti.
“Aku juga tidak tahu, kalau mereka mengalami musibah seperti ini... maafkan aku bu Desti” ucap tante Stefani.
“...Aku merasa sangat bersalah dengan mereka, aku mengira mereka telah tiada... untuk mencari tahu hal mengenai mereka saja aku sangat takut. Maafkan aku ibu, rasa kehilangan sungguh membuatku tidak bisa menerimanya...” kata Edo dengan kepala tertunduk.
“Dalam perjalanan ke rumah sakit, Stefani sudah katakan semuanya pada ibu... ibu sangat sedih mendengar cerita tentangmu, sudah ibu katakan, tidak ada yang harus disalahkan atas musibah ini, kau berdoa saja untuk mereka” kata bu Desti dengan tangan kanan memegang kepala Edo.
“Mira, kenapa kamu diam saja, ada apa?” tanya bu Desti.
“Ahhhh, tidak apa-apa tante” jawab Mira dengan memutar sendok di dalam cangkir yang berada di hadapannya.
“Mira ini adalah teman dekat dari Devi dan Hengkie di Jakarta, sama sepertimu Edo, ayah Mira begitu sibuk di kantor” ibu Desti menjelaskan.
“Apakah dia kekasih Hengkie?” tanya tante Stefani yang membuat Mira bagai patung.
“Hahaha, aku tidak tahu... kita juga pernah muda kan Stefani?” canda ibu Desti sambil menepuk lengan tante Stefani.
Mira memandang ke arah Edo, matanya dan bibirnya terlihat tidak biasa, itu adalah sebuah kode, kode dari Mira agar Edo harus meninggalkan tempat itu bersamanya. Melihat tingkah Mira, sangat mudah bagi Edo untuk mengetahui apa maksud dari Mira.
“...Ahhh ibu, tante... aku lupa jika aku meninggalkan temanku di rumah sakit, aku harus kesana” ucap Edo yang kala itu menghentikan pembicaraan ibu Desti dan tante Stefani.
“Hah... teman kamu yang mana?” tanya tante Stefani.
“Teman sekolah tante, dia yang mengantarkanku datang ketempat ini dan berani melewati jurang itu” kata Edo dengan senyum di wajahnya, Stefani yang melihat hal itu merasa tidak percaya.
“Kamu naik motor ke sini melewati jurang itu?” tanya tante Stefani heran.
“Iya tante, aku pergi dulu yah tante... ibu...” pamit Edo.
__ADS_1
“Ahhh, aku juga pamit, hari semakin larut...” kata Mira yang saat itu sudah berdiri dan siap mengikuti Edo.
“Hmmm... baiklah... aku juga akan kembali ke rumah sakit, Mira terima kasih untuk hari ini” kata ibu Desti penuh senyum.
Sore menjelang malam pada saat itu, langit yang biru mulai terlihat hitam, kini Edo memiliki harapan, tidak seperti dulu yang selalu tenggelam dam imajenasi dan ketakutannya.
“Bagaimana mereka di Jakarta?” tanya Edo sembari berjalan dan diikuti Mira.
“Tiada hari tanpa memikirkanmu...” jawab Mira.
“Begitu yah...” respon Edo.
Langkah Mira terhenti sebelum memasuki rumah sakit, terpikirnya kembali kebersamaannya di Jakarta bersama Hengkie dan Devi.
“Aku tidak habis pikir, menghilang kemana kau selama ini!?” tanya Mira saat itu.
“Maksud kamu, saat mereka koma?” Edo balik bertanya.
“...sepertinya aku memang butuh seseorang untuk berbagi, bukan hanya dengan tante Stefani saja, tapi dengan seorang anak yang seumuran, itu jauh lebih baik” jelas Edo yang saat itu sudah membalikkan badannya dan melihat ke arah Mira.
“Maksud kamu?” tanya Mira.
“...pada saat kami kelas 6 SD, kami berpisah dan berjanji untuk kembali bersama di saat SMA, kau tahu apa yang aku rasakan saat mereka pergi?” tanya Edo kembali.
“Masih jam 6.30 WITA, aku masih punya waktu untuk mendengarnya” jawab Mira sembari melihat jam tangan di lengan kirinya.
“Baiklah... mari kita ke sebelah sana” kata Edo sembari menunjuk ke arah kursi yang berada dekat dengan taman rumah sakit.
Langit semakin gelap dan bulan mulai memancarkan sinarnya, tidak menyeramkan dan tidak menakutkan rumah sakit itu. Saat ini, adalah saat yang ditunggu Mira. Pikirnya, mungkin kekesalannya akan menghilang dengan alasan yang akan diucapkan Edo
“Sejak ibu ku meninggal, aku tidak pernah berpikir akan menemukan kebahagiaanku lagi. Berbeda saat mereka Devi dan Hengkie, sebuah harapan akan terus bersama namun ternyata akan berpisah, saat mereka meninggalkanku, aku mencoba untuk tetap bertahan dengan segala situasi yang ada. Namun apakah kau tahu bahwa sangat berat untuk ku menerimanya?” kata Edo dengan wajah kecewa.
__ADS_1
“Kepergian mereka cukup membuat duniaku hancur, setiap menerima telphone dari mereka, kesedihan ini sedikit terobati, aku coba mencari seseorang yang seperti mereka, aku coba membuka pintu persahabatan untuk siapapun. Sampai saat dimana aku menemukan teman baru, mereka terus berdatangan ke rumahku, sekedar untuk datang merokok dan bermain video game tanpa kenal waktu, awalnya aku merasa kesendirianku terobati, ternyata aku salah, semua kepedulian mereka padaku adalah palsu, nilai sekolahku turun dan saat itu teringat kembali janjiku dengan Devi, aku harus lulus dari SMP itu dengan nilai yang pantas untuk masuk ke SMA Linggar. Namun keluar dari lingkaran itu sulit, aku coba menjauh namun mereka terus berdatangan, aku coba lebih keras lagi menjauhi mereka tapi semuanya menjadi semakin buruk, mereka terus menjailiku dan hanphoneku mereka curi dan hancurkan, saat itu aku terpaksa berkelahi dengan mereka dan mulai saat itu pula mereka benar-benar menjauhiku. Nilai yang anjlok dan phonsel genggamku yang hilang adalah alasan kenapa aku tidak menghubungi mereka, memang alasan yang tidak masuk akal, namun memang begitulah ceitanya” jelas Edo panjang lebar.
“Kenapa kau tidak menghubungi mereka lewat media lainnya?” tanya Mira.
“Itu memang salahku, disamping kehilangan kontak mereka dan mencoba mengejar pelajaranku, semua terasa sulit bagiku, saat itu ayahku jarang sekali menghubungiku, sekedar untuk menanyakan kabarku saja tidak. Pikirku, akan lebih baik jika tidak usah memiliki phonesel atau apapun itu, toh ayahku tidak memperdulikanku, memang berat bagi Devi, namun semua yang aku lakukan bukan tanpa alasan, aku ingin ia menjalani hari-harinya seperti biasa, fokus pada cita-cita yang kami bicarakan dan fokus pada pelajaran yang kami terima, itu saja tidak lebih” jelas Edo dengan ekpresi murungnya.
“Kau jahat sekali, tahun itu menjadi tahun yang amat berat baginya, ia mencoba menyimpan segala kecemasan dan kekecewaannya dihadapanku, kenapa kau tidak menghubunginya sekali saja...!?” tanya Mira kesal.
“Maafkan aku, itu memang salahku dan saat ini aku sangat menyesal, dipertengahan kelas 3 SMP aku coba menghubunginya, namun nomornya sudah tidak aktif, itu pulalah yang membuat aku berpikir bahwa ia benci padaku” jawab Edo.
Kembali teringat hari itu, Mira melihat Devi sangat sibuk mencari phonselnya di dalam tasnya, phonsel milik Devi saat itu hilang dan sampai saat ini belum ditemukan, ada kabar bahwa teman kelasnya yang pindah sekolah lah yang mengambil phonselnya.
“Rumit sekali...” ucap Mira.
“Selama ini bukanya aku tidak ingin mencari atau bertemu dengan mereka, jika kau menjadi aku, aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Pada saat aku bertemu dengan mereka, aku berpikir bahwa hidupku tidak lama lagi, begitupun dengan mereka, musibah itu membuat aku trauma berkepanjangan, aku tidak bisa menerima kepergian mereka begitu saja, aku tidak mencari rumah sakit atau kuburan tempat mereka disemayamkan, itu semua karena aku takut dan tidak bisa menerima apa yang menurutku adalah kenyataan. Segala macam tentang kenangan mereka coba aku hidupkan dalam imajenasiku, imajenasi yang aku buat untuk menghibur diriku selama ini” jelas Edo.
“Imajenasi...? aku tidak mengerti” kata Mira.
“Yah memang sangat sulit dipahami, selama ini apa yang aku lakukan ku anggap selalu bersama mereka, sampai-sampai aku sudah tidak mengerti apakah itu imajenasiku sendiri atau bukan... sampa kau datang dan menyadarkan aku” kembali Edo menjelaskan.
“Ibuku telah meninggalkanku, ayahku tidak peduli denganku karena kesibukannya dan kepergian kedua sahabatku yang dari kecil menemaniku, apa bisa aku terima begitu saja?” tanya Edo.
“...”
“Sendiri dan terus sendiri... mencoba mencari teman tapi ternyata dimanfaatkan... aku rasa kau tidak akan bisa tanhan dengan itu semua, saat ini aku hanya ingin mereka sadar dari koma, jika ada sesuatu yang mereka inginkan, akan aku berikan bagaimanapun caranya” kata Edo.
“...aku memang baru mengenalmu, aku rasa kau sama denganku, tapi aku salah. Seorang sahabatku pernah berkata, bahwa ia memiliki sahabat yang begitu tangguh dalam menghadapi segala masalah, aku rasa sahabatku itu benar, orang itu berada dihadapanku sekarang...” kata Mira.
“...”
“Baiklah... hari semakin larut, aku akan pulang... jadilah seorang yang benar-benar dikenal kedua sahabatmu, jangan lari dari setiap kenyataan yang ada... karena semuanya akan terluka jika kau melakukan itu” jelas Mira sembari berlalu meninggalkan Edo.
__ADS_1