Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 25


__ADS_3

Suara berisik terdengar dari ruang tamu, Hengkie kala itu sedang asik menikmati kesendiriannya dengan memainkan video game, kesenangan itu sejenak terhenti. Sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya, wajah Mira dan sikap yang ditunjukkannya siang tadi membuat Hengkie resah.


“Ough...!!! besok adalah pertandingan penting, aku takut dia tidak dapat berkonsentrasi pada pertandingannya besok, aku harus bagaimana? Masih jam 15.00 , Devi masih lama pulang” Hengkie menggerutu sendiri.


“Apa aku telphone Devi saja yah?” pikirnya.


“...sepertinya aku harus telphone dia, semoga saja Devi dapat menenangkan pikiran Mira”


Hengkie segera meraih telphone genggam miliknya yang berada tepat di sebelahnya, ia mencoba menghubungi saudarinya Devi saat itu juga. Namun, tidak ada jawaban dari Devi.


“Ampun anak itu, kenapa saat seperti ini tidak menjawab telphoneku?” kata Hengkie dalam hatinya.


Hengkie menuliskan pesan singkat untuk Devi, dia berharap pesan singkatnya itu dapat dibaca oleh saudarinya itu. Namun, belum sempat ia mengirim pesan itu, telphone genggamnya bergetar dan ada nama Devi di layar telphone genggamnya.


“Kenapa kau Gorila?” tanya Devi dari ujung telphone.


“Aku bingung mau menjelaskannya dari mana, Mira sepertinya kesal kepadaku” jawab Hengkie sembari mengecilkan suara TV.


“Memang apa yang kau lakukan padanya...!?” tanya Devi kesal.


“Tidak ada, aku hanya mengatakan bahwa 1 tahun lagi kita akan kembali dan bersekolah di Tomohon” Hengkie menjelaskan.


“Apa!!!?? Dasar Gorila bodoh, aku saja masih belum berani mengatakan itu padanya...!!!” kesal Devi.


“Jadi aku harus bagaimana?” Hengkie coba meminta saran.


“Huh... aku tidak tahu, tapi sebaiknya kau pergi ke rumahnya sekarang” usul Devi.


“Untuk apa?” tanya Hengkie bingung.


“Jelaskan saja padanya, pokonya kau yang harus bertanggung jawab atas apa yang kau katakan padanya!” suara Devi menekan.


“......apakah kau tidak punya ide bagaimana harus memulai?” kembali Hengkie bertanya.


“Tidak!!! kau harus selesaikan sendiri... ok sudah dulu, ayah memanggilku” jawab Devi dengan segera menutup telphonenya.


“Aduh... kenapa wanita harus serumit ini sih?” kata Hengkie dalam hati.


Tidak berapa lama, telphone genggam Hengkie kembali bergetar, satu pesan yang muncul dari seorang yang dikenalnya.


“Lho... dia mengirim pesan padaku, temui aku di taman komplek, hmmm... apa yang mau dikatakannya yah?” Hengkie bertanya dalam hatinya sembari membaca pesan yang masuk saat itu.


Sejenak Hengkie tersenyum, ia kembali mengingat sahabatnya Edo saat itu, sahabat yang menangis saat Devi mengatakan akan pergi ke Jakarta dan bersekolah di sana, sangat mirip dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


Dari luar rumah terdengar suara bising bunyi klakson motor, suara yang beberapa kali dibunyikan membuat Hengkie mengintip dari jendela, terlihat sesosok gadis cantik dengan motor matic sedang membunyikan klakson motornya, tatapan gadis itu sangat tajam melihat ke arah rumahnya.


“Lho... Mira ngapain? Katanya jam 5 sore, ini kan masih jam 4 lewat” Hengkie bertanya dalam hatinya.


Sesegera mengkin Hengkie membuka pintu rumahnya dan berjalan menghampiri Mira saat itu, kedatangn Mira sore itu, membuat Hengkie merasa tidak enak, pikirnya tidak seharusnya seorang wanita datang kepadanya.


“Cepat naik...” suruh Mira yang sudah melihat Hengkie berdiri di luar pagar.


“Kita mau kemana?” tanya Hengkie bingung.


“Ikut saja” jawab Mira, namun matanya tidak berani melihat wajah Hengkie.


“Tapi... bukankah lebih baik aku yang membawa motor itu?” jelas Hengkie.


“...ini bawalah” seru Mira.


Mereka segera pergi dari tempat itu, jalan komplek yang bersih, sangat nyaman bagi siapapun yang melewatinya. Mira hanya mengeluarkan 2 kata kiri dan kanan, seolah menuntun Hengkie ke suatu tempat.


Tidak beberapa lama, mereka sudah sampai di sebuah cafe, cafe yang berada tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Mira segera menuju meja yang berada di luar cafe, sesekali Hengkie melihat ke arah Mira, tapi masih saja Mira menundukkan kepala.


Cukup lama mereka duduk di meja itu, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Hengkie tidak tahu harus memulai dari mana untuk berkata, begitupun Mira. Sampai pada akhirnya, Hengkie dengan keberaniannya membuka perbincangan mereka.


“Apakah kau kesal dengan apa yang aku katakan padamu?” tanya Hengkie serius.


“...”


“...aku akan ikut dengan kalian ke Tomohon!” kata Mira.


“Apa??” tanya Hengkie yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Iya, aku akan ikut dengan kalian ke Tomohon” jawab Mira.


“...”


“Aku tidak tahu kenapa kalian ingin kembali ke sana, tapi kalau karena sahabatmu Edo, aku tidak dapat berkata apa-apa” lanjut Mira.


“Apakah kau sudah meminta ijin kepada ayahmu?” tanya Hengkie.


“Aku akan berbicara padanya" jawab Mira.


"Ayahmu butuh seseorang di rumah itu, alangkah lebih baik kau tetap bersamanya" kata Hengkie.


"Tidak, dia tidak membutuhkan aku, lagian ayah macam apa yang membiarkan puterinya? Disaat aku membutuhkannya dia tidak ada, disaat aku sakitpun dia tidak ada!!" suara Mira mulai meninggi.

__ADS_1


"Sepenting apa sahabatmu itu?" tanya Mira dengan menatap mata Hengkie.


"Maksut kamu Edo?" Hengkie balik bertanya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya, terlalu sulit, yang pasti kami sudah berjanji untuk bertemu dan bersekolah bersama di sana" jawab Hengkie coba menjelaskan.


Wajah Mira kembali menunduk, pikirnya mungkin Edo lebih penting dari dia, Hengkie bahkan Devi dirasanya lebih memperdulikan Edo. Tanpa Mira tahu, Hengkie terus meperhatiak gerak-gerik Mira kala itu.


"Maafkan aku Mira, kami telah berjanji bersama untuk kembali bertemu, janji seorang laki-laki haruslah ditepati" Hengkie coba menjelaskan.


Jari jemari Mira pada kedua tangannya terus bergerak, sesekali kakinya digerakkan tanda ada kegelisahan dalam hati Mira. Lama mereka terdiam, hingga pada akhirnya Mira bersuara kembali.


"Aku selalu sendiri, bahkan terus sendiri... kedua orang tuaku bercerai karena sudah tidak sejalan, ibuku entah kemana dengan suami barunya dan ayahku teramat gila bekerja... aku tidak ingin ditinggal sendiri lagi, malam itu aku mencoba memberanikan diri datang ke rumah kalian, karena aku juga anak baru di komplek itu, aku butuh sahabat dan aku menemukannya malam itu” tanpa Mira sadari, sesuatu yang selama ini dipendamnya telah diungkapkannya saat itu juga.


Mira menyadari pentingnya seorang sahabat dan betapa mengerikannya kesendirian itu, Mira yang selalu mendengar tentang Edo, tidak terasa Edo yang tidak pernah dilihatnya telah menjadi sebuah motivasi baginya.


“...hmmm” Hengkie menggumam, melihat dan mendengar ucapan Mira, mengingatkan dia kepada sahabat kecilnya, ia segera berdiri dari tempat duduknya, tangan kanannya segera memegang kepala Mira yang saat itu terus menunduk.


“...eh” tangan dari seorang anak laki-laki bagaikan listrik yang memacu detak jantung Mira, perasaan yang sangat nyaman, tangan itu seolah menyuruh Mira melepaskan segala kesedihan dalam hatinya.


“Menangislah jika kau ingin, tidak usah kau tahan bila itu menyakitkan” kata Hengkie yang tiba-tiba saja membuat Mira menangis, tangisan itu sangat memilukan bagi yang mendengarnya, seorang wanita yang terlihat tomboy, ternyata selama ini memiliki luka di dalam hatinya.


Tidak ada yang dapat dilakukan Hengkie saat itu, ia membiarkan Mira menangis sejadinya. Itu adalah cara yang baik untuk melepaskan apa yang selama ini dipendam Mira. Bahkan, Hengkie teramat cuek dengan wajah-wajah yang terus memperhatikan mereka.


Beberapa menit kemudian, Mira sudah mulai tenang hanya saja, matanya terlihat bengkak dan suara sesenggukkannya masih belum hilang. Melihat hal itu, Hengkie semakin menaru hati padanya.


“Bagaiman, apakah lebih baik?” tanya Hengkie sembari minum kopi.


“Iya, terima kasih” jawab Mira.


Tidak berapa lama mereka segera beranjak dari tempat itu, motor yang mereka kendarai melaju pelan dan saat ini wajah ceria Mira sudah mulai terlihat kembali. Suasana hati yang baru, semua dirasa sangat baru, begitu melegakan dan begitu menyenangkan.


“Hei, aku melihat wajahmu sangat jelek saat menangis” singgung Hengkie seolah menjaili Mira.


“Benarkah? Kamu jahat sekali” Mira kesal.


“Hehehe... jelek tapi aku suka, bahkan sangat suka” kata Hengkie mencoba berani.


“What??? Oh God... apakah dia mau mengatakan cintanya padaku? Pleaseeeee aku belum sanggup mendengarnya... kita masih belum cukup umur untuk pacar-pacaran...” kata Mira dalam hati dengan wajahnya yang memerah.


“Aku akan menjagamu...” kata Hengkie yang sudah semakin berani dan Mira segera memeluk Hengkie dari belakang, pelukan yang begitu erat.


“Terima kasih” sebuah kalimat yang keluar dari mulut Mira, tidak ada kalimat yang lebih baik dari itu.

__ADS_1


“Dia memelukku... ini sebuah mukjizat....” perasaan Hengkie meledak-ledak namun dia mencoba tetap tenang.


Sore yang indah menjelang hari Valentine, indah untuk Hengkie begitupun Mira, tidak ada hari yang sebaik ini. Mira memandang ke arah matahari terbenam, tinggal menunggu waktu kepulangan ayah, ayah yang gila kerja bahkan di hari minggu, bagaimana tanggapan ayah Mira bila mendengar anaknya akan bersekolah di luar pulau jawa, apakah mudah meyakinkan ayahnya atau tidak. Saat itu, Mira menyandarkan kepala di punggung Hengkie sambil terus memandang ke arah matahari terbenam sore itu.


__ADS_2