Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 24


__ADS_3

Sebuah pusat perbelanjaan berdiri megah di tengah kota Jakarta, setiap sisinya dihiasi pernak-pernik berwarna merah, karena tepat hari senin besok, perayaan Valentine akan dilakukan 14 Feb 2011, suasana mall serasa romantis kala itu, bagi Hengkie dan Mira, hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan, walau mereka tidak berpegangan tangan dan berjalan dengan jarak yang begitu renggang (jaim gaesss).


“Maaf sebelumnya, apa yang akan kamu beli? Hehehehe” tanya Hengkie dengan menggaruk-garuk kepalanya.


“Oh my God kamu keren banget sih dari segala sisi” dalam hati Mira yang terus terpesona dengan gerak gerik maupun perkataan Hengkie.


“Ah iya, aku ingin membeli sepatu dan Dekker, karena besok adalah semi final, sepatuku sudah tidak enak dipakai, jadi aku harus membeli yang baru agar nyaman saat bertandng, dekker juga aku tidak punya, aku membutuhkannya karena pertandingan final itu sangat keras, aku takut otot tendon patellaku kenapa-kenapa, kau tahu jika otot tendonmu cedera? Aku tidak bisa mengatakannya padamu, itu sangat menyakitkan pokoknya jangan sampai itu terjadi, final itu menakutkan aku sudah merasakannya dua tahun ini” celoteh Mira panjang kali lebar, sebenarnya celotehnya itu adalah untuk merendam kekakuannya saat ini.


“Waow..... hebat sekali...” respon Hengkie dengan wajah takjubnya.


“Oh my God... kenapa setiap suara yang keluar dari mulutmu itu membuatku sangat... sangat... sangat...” kata Mira dalam hatinya, wajahnya yang merah dan jari-jemarinya yang terus bergerak seolah tidak dapat menahan kebahagiaan dalam hatinya. (lebay sekali anak ini gaessss)


Tokoh Sport berada di lantai 4 pusat perbelanjaan itu, Mira tidak seperti gadis pada umumnya yang berbelanja dengan sangat lama, hanya butuh 20 menit saja mereka sudah menemukan barang yang mereka inginkan.


“Hei hei... aku rasa ini juga harus kau beli” kata Hengkie dengan mengambil sebuah handband berwarna merah.


“What...??? classic sekali kamu Hengkie...” kata Mira dalam hati.


Memang untuk saat ini pemakaian handband dalam olahraga basket sudah jarang, karena lebih tren Arm Sleeve. Namun begitu, nilai seorang Hengkie tidak berkurang dan bahkan terus bertambah, semua hal tentang Hengkie adalah miracle untuk Mira. (-_-)


“Kesinikan tanganmu” kata Hengkie dengan senyum lebarnya.


“Ke ke kenapa?” tanya Mira dengan pipinya memerah.


“Coba ini...” kata Hengkie yang saat itu memakaikan handband ke tangan Mira.


“..............”


Tidak ada yang bisa dikatakan Mira, seluruh tubuhnya seakan tidak bertenaga, kakinya mulai bergetar namun berusaha untuk ditahannya. Matanya terus memandang ke arah Hengkie, ia seakan melihat seorang pangeran memakaikan sepatu kaca kepada kaki seorang putri.


“Sekeren inikah kamu Hengkie?” kata Mira dengan suara yang sangat-sangat pelan.


“Apa?” tanya Hengkie yang melihat bibir Mira berbicara.

__ADS_1


“Ahhh tidak, maksudnya apa kamu lapar? Aku sudah lapar... bisakah kita selesaikan ini lalu pergi makan siang?” kata Mira dengan wajah pucatnya.


“Ahhh iya iya... aku lupa, ayo kita bayar dulu ini” kata Hengkie sambil berjalan.


“Oh yah... handband itu aku belikan untukmu, pakailah besok, memang agak jadul, tapi itu terlihat simple dan keren untukmu, bukankah setiap aksesoris gelang milikmu kamu lepaskan saat bertanding, aku belikan itu agar menggantikan gelang yang kau lepaskan itu” Hengkie coba menjelaskan.


“...dia memikirkan sampai ke situ, aku tidak percaya, aku akan menjaganya untukmu Hengkie” kata Mira dalam hati, sambil melihat handband pada pergelangan tangannya.


“Baiklah terima kasih” kata Mira dengan wajah bahagianya.


“Hm...” Hengkie coba secool mungkin merespon Mira.


“Ampun.... dia manis sekali... senyumnya, ingin aku melihatnya setiap hari seperti itu” kata Hengkie dalam hatinya dengan mencoba tetap tenang dengan keadaan saat itu.


Jam menunjukkan 12.30 WIB, Hengkie dan Mira memasuki restoran Jepang, mereka memesan beberapa menu kala itu. Tidak ada yang berubah dari gerak-gerik mereka, mereka masih saja menjaga image masing-masing, sampai pada waktu dimana Hengkie mengatakan sesuatu pada Mira.


“Kamu akan melanjutkan SMA di mana?” tanya Hengkie yang sudah selesai menghabiskan makannya.


“Aku tidak tahu, yang pasti sekolah yang ada ekskul basket” jawab Mira dengan mengaduk-ngaduk minuman di dalam gelas.


Mira terdiam, baginya waktu seolah berhenti untuknya, apa yang didengarnya barusan dirasa hanya sebuah lelucon pengantar makan siang, lelucon yang dibuat seseorang agar suasana lebih relax, namun melihat ketenangan dan keseriusan Hengkie, membuat Mira diam tanpa satu katapun keluar dari mulutnya, ia berusaha untuk tidak ingin melanjutkan apa yang barusan didengarnya.


“Aku dan....” ucapan Hengkie terhenti, melihat jari telunjuk Mira yang terangkat seakan menyuruhnya diam, wajah Mira penuh kesedihan dan Hengkie menyadarinya.


“Ada apa, Kenapa dengan dirimu?” tanya Hengkie yang coba mendekatkan tubuhnya dan focus melihat wajah Mira.


“Apakah aku menyakitimu?” tanya Hengkie, namun tidak ada kata yang keluar dari mulut Mira.


“...aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan” kata Hengkie coba menenangkan Mira, namun tetap saja Mira masih diam.


Sebuah kabar yang tidak menyenangkan untuknya, kedua sahabatnya akan pergi 1 tahun lagi, sahabat yang membuatnya selalu bersemangat berangkat sekolah dan sahabat yang selalu menemani kala orang tuanya tidak ada di rumah, apakah semua akan berlalu setelah 2 tahun ini mereka bersama? Pikiran Mira terus mengusik hatinya.


“Aku ingin pulang!!” kata Mira dengan wajahnya yang masih menunduk.

__ADS_1


“Pulang?? Bukankah masih banyak waktu untuk sekedar jalan-jalan di sini?” tanya Hengkie.


“Aku mau istirahat, pokoknya aku mau pulang!!!” tegas Mira yang coba menaikkan nada suaranya.


“....baiklah kalau begitu” kata Hengkie menyanggupi, walau wajahnya sedikit kecewa.


Perjalanan mereka untuk pulang tidak seindah berangkat, Mira yang hanya diam saja dan Hengkie coba bertanya namun tidak mendengar sebuah jawaban, membuat suasana mobil tidak menyenangkan. Supir yang melihat mereka berdua dari kaca spion hanya tersenyum.


“Dasar cinta monyet...” gumamnya dalam hati.


Dari pusat perbelanjaan sampai ke rumah Mira, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Mira. Hal itu membuat pikiran Hengkie tidak karuan, ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri, apa kesalahan yang dibuatnya sehingga Mira sampai seperti itu.


“Kenapa mas, lagi berantem sama pacarnya yah?” tanya supir pribadi keluarga Hengkie.


“Tidak Pak Hendrik, ohh yah pak, kenapa bapak tidak mengantar ibu dan Devi saja?” tanya Hengkie.


“Lho lho mas, bukanya papah mas yang bawa mobil, kan kata bapak biar lebih banyak muat orang, soalnya keponakan-keponakan pada minta jalan di hari libur ini” jelas pak supir yang bernama bapak Hendrik itu.


“Oh iya yah... lupa aku pak” kata Hengkie sembari tangan kanannya menggaruk kepala. (kutuan kali gaessss)


“Sorry mas, mas lagi ribut sama non Mira yah? Kalau ribut sama non Devi saya udah sering lihat, tapi kalau sama non Mira baru saya lihat tuh, berasa tidak biasa aja mas” kata pak Hendrik coba menjelaskan.


“Entah pak... aku juga tidak tahu apa kesalahanku” jawab Hengkie.


“Coba ingat-ingat mas, apa yang mas omongin ke non Mira, soalnya menurut pengalaman saya, wanita itu sulit di tebak, wanita itu ingin di mengerti lho mas hehehehe” kata Pak Hendrik coba menjelaskan.


“Tadi dari tokoh sport semuanya biasa, sehabis makan juga masih biasa, tapi... pas aku bilang akan kembali melanjutkan SMA di Tomohon, dia diam saja...” jelas Hengkie sambil terus mengingat-ingat kembali kebersamaannya dengan Mira.


“Nah... di situ mas... kalau menurut saya yah, non Mira kesal kalau mas kembali ke Tomohon” bapak Hendrik coba memberi tanggapannya.


“Bisa jadi...” respon Hengkie.


“Jadi aku harus bagaimana pak?” tanya Hengkie

__ADS_1


“Yakinkan non Mira saja kalau hubungan mas dan non Mira akan baik-baik saja hehehehe” bapak Hendrik coba memberi masukan.


“...hubungan? pacaran saja tidak... sudalah biarkan Devi yang mengurusnya...” kata Hengkie dalam hati.


__ADS_2