Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 8


__ADS_3

Tante Stefani, seorang wanita yang belum dikarunia seorang anak. Kesibukannya mungkin sangat berpengaruh pada program kehamilannya, suaminya yang bekerja di rumah makan milik mereka teramat sibuk sehingga program kehamilan mereka terabaikan.


“Bebs, bisakah kita ambil waktu satu atau dua hari saja untuk bersantai?” tanya tante Stefani yang pada saat itu sedang melipat pakaian.


“Kenapa kau baru memintanya Stefi, bukankah dari tahun-tahun lalu aku sudah mengajakmu?” ketus Om Santoni (suami Stefani) yang kedua tangannya sibuk dengan game handphone (mungkin lagi main Mobil Lejen gaesss ^_^).


“Savage.....!!! Yes... yes... yes... savage ketigaku hari ini” teriak om Santoni (tuh kan main Mobil Lejen -__-).


“Hadeh....” tente Stefani hanya menghela nafas melihat suaminya itu.


Tante Stefani begitu memaklumi kesibukan suaminya, setiap subuh pukul 02.30 suaminya harus pergi membeli keperluan rumah makannya, pukul 04.30 WITA, suami dan karyawannya memasak sampai pukul 08.00 WITA.


Waktu istirahatnya hanya dari jam 09.00 WITA s/d 10.00 WITA, karena dari jam 10.00 WITA s/d 20.00 WITA rumah makan mereka sangat ramai pelanggan, apa lagi di hari minggu, tidak ada waktu istirahat untuk suami tampannya itu.


Tante Stefani melihat ke luar jendela malam itu, ia mencemaskan Edo, tiga hari ia merawat Edo sampai sembuh dan besok Edo akan kembali bersekolah.


Seketika tangan tante Stefani meremas pakaian yang sedang dilipatnya saat itu, ia memikirkan seorang laki-laki yang saat ini jauh berada dibelahan bumi lain tanpa kabar.


“Apakah kau tidak menyayanginya Hans, Apakah bisnismu lebih penting dari anakmu itu?” gumam tante Stefani yang masih meremas pakaian yang dipegangnya sembari melihat keluar jendela.


Savage....!!!


“Yeah savage keempatku” teriak om Santoni (mungkin si om udah Mithic gaesss ^0^).


“Hadehhhh” tante Stefani kembali menghela nafas sambil memegang dahinya.


Dua hari kemudian seorang laki-laki berumur sekitar 35 tahun berdiri disebelah mobil Land Rover, memakai kaca mata hitam dengan celana pendek cargo berwarna coklat dan kaos oblong berwarna putih matching dengan sepatu putihnya.


“Stefi... ayolah... lama sekali sih...!!” teriak lelaki itu (om Santoni gaesss cool abislah... 😎).


“Sabar dong bebsku sayang...” jawab tante Stefani yang keluar dengan rambut merahnya, jeans putih dan kemeja dipadu hitam putih terlihat sangat stylist, apa lagi menempel satu buah tas Hermes dilengan kanan tante Stefani (pokoknya si tante gak kalah keren dari si om 😊).


Bicara soal gaya berpakaian om Santoni dan tante Stefani tentu sangat menakjubkan, mereka tidak pernah ketinggalan soal fashion, bahkan tente Stefani pernah mengeluarkan uang ratusan juta untuk membeli sebuah tas, yah... tas yang saat ini dipegangnya.


Tante Stefani dan om Santoni segera masuk ke dalam mobil, hari ini sesuai kesepkatan mereka, mereka akan berlibur ke Bunaken, sebuah wisata yang menonjolkan pemandangan indah didalam laut.

__ADS_1


Perjalanannya cukup jauh, kira-kira memakan dua jam, satu jam dari Tomohon ke


kota Manado dan satu jam lagi naik kapal kecil dari manado ke Bunaken.


“Bebs, kita ke rumah Edo sebentar, aku mau kasih ini sama dia” kata tante Stefani sambil menunjukkan sebuah bungkusan berisi makanan.


“Di copy...” sahut om Santoni yang segera menaikkan kecepatan mobilnya.


Waktu yang ditempuh dari rumah tante Stefani ke rumah Edo hanya butuh 30 menit, danau Linow berwarna biru disebelah kiri memanjakan mata tante dan om, danau Linow bagai sebuah pertanda bahwa rumah Edo sudah semakin dekat.


Pagar berwarna hitam, ukuran rumah yang biasa saja namun elegan berdiri dihadapan om dan tante Stefani.


“Apakah dia ada di dalam?” tanya om Santoni yang saat itu membuka kaca mata hitamnya.


“Dia sedang sekolah saat ini” jawab tante Stefani sambil membuka pintu pagar.


Mereka melangkah melewati halaman rumah yang disebelah kanan dan kirinya terdapat taman-taman kecil, taman-taman itu dihiasi beberapa bunga yang cantik, kupu-kupu berterbangan menghinggapi bunga-bunga


yang berwarna pada saat itu.


“Astaga...!!” tante Stefani terkejut kala itu.


Tante melihat rumah Edo sangat berantakan, kaset-kaset video game dan CD drama Korea berserakan dimana-mana, tante mencoba berjalan sedikit berlari untuk melihat setiap sudut ruangan, ia sangat terkejut melihat meja makan yang berantakan dan dapur yang seperti kapal pecah.


“Apa-apaan ini...!!” teriaknya.


“Ini adalah kali yang kedua, apa ini ulah teman-temannya?" tanyanya dalam hati.


“Mungkin tadi malam Edo mengajak teman-temannya seperti minggu kemarin” kata suaminya coba menenangkan tante


Stefani.


Senin kemarin, tante Stefani menemukan rumah Edo dengan kondisi hampir sama dengan saat ini, tante Stefani belum bertanya lagi kepada Edo karena waktu itu Edo sakit selama 3 hari, tante Stefani seolah lupa bertanya pada Edo.


Menemukan Edo terbaring di lantai ruang tamu saja sudah membuat tante Stefani shock dan khawatir, baginya rumah yang berantakan tidak lebih penting dari kesembuhan keponakannya pada saat itu.

__ADS_1


Setelah membereskan rumah Edo, tante dan om segera melanjutkan perjalanan.


Drttt drttt...


Suara getaran dari sebuah handphone, terlihat satu pesan yang masuk, itu adalah pesan yang dikirim dari tante Stefani, dengan senyum penerima pesan itu membuka pesan dari tantenya, tante Stefani.


“Bagaimana?” tanya suaminya.


“Dia baru membacanya, seharusnya dia langsung membalasnya, ini kan jam 12 siang, jam istirahat” kata tante Stefani yang terlihat mulai cemas.


“Hei hei... jangan kau berpikir macam-macam dulu, kau tenang saja” kata om Santoni yang sedang menyetir mobilnya, om Santoni mengelus pundak istrinya itu agar lebih tenang.


Tidak adanya anak dalam keluarga mereka, membuat mereka sangat menyayangi Edo, om Santoni walau terlihat cuek, namun dalam hatinya ikut merasakan kekhawatiran pada keponakannya itu.


Drrrtttt Drrrttt....


Kali ini suara handphone milik tante Stefani bergetar


“Edo?” tanya tanua suaminya yang focus menyetir mobilnya.


“Iya, ini Edo... dia bilang maaf karena belum sempat membersihkan rumah” jawab tante Stefani yang berlahan wajahnya sudah mulai tenang.


“Apa aku bilang, ayolah... saat ini kita akan berlibur, saatnya untuk menenangkan pikiran” kata suaminya dengan senyum yang teramat menawan.


“Ahhh paling kau disana hanya akan main game” jawab tante Stefani agak jutek.


“Hahahaha.... kau tenang saja”  jawab suaminya dengan menekan gas kendaraan yang dikemudikannya


“Bebsss kamu pelan-pelan dong...” teriak tante Stefani yang mulai takut.


“Tenang aku Pro...!!” 😎


Untuk kedua pasangan yang serasih ini, sangat menginspirasi sekali bagi setiap orang dilingkungannya, walaupun mereka belum dikarunia seorang anak selama 9 tahun menikah, tapi mereka masih terus saling menyayangi.


Tante Stefani yang memiliki tingkat kekhawatiran tinggi dan om Santoni yang terlihat cuek namun sangat perhatian membuat mereka saling melengkapi. Satu lagi, om Santoni adalah gamers sejati lho... 😉 dan itu sangat dimaklumi oleh tante Stefani. Walau om Santoni miniac game, tapi dia tidak pernah meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Buktinya, rumah yang mewah dan mobil Land Rover adalah hasil kerja keras dari om Santoni.

__ADS_1


__ADS_2