
"Hai Bro... dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, hari ini kita akan berlari 5 KM tanpa berhenti, bersiaplah kau!" kata Hengkie sambil mengakat kakinya kiri dan kanan (lari di tempat).
"Anak ini, kau pikir semua orang memiliki fisik sepertimu!? dasar Gorila...!!" teriak Devi.
Buk....!!!
Suara tendangan Devi yang mengenai bokong Hengkie disusul suara Hengkie.
"Auuuuu....!!! bokongku yang sexsehhh...!!!!"
Edo begitu senang dengan kehadiran kedua sahabatnya itu, tidak pernah ada rasa jenuh dan kesal dengan tingkah kedua sahabatnya, justru hari-hari yang dilewati Edo menjadi lebih berwarna dan berarti.
"Hari ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Devi yang sibuk menguncir rambut panjangnya.
"Aku ingin berbelanja di supermarket dan memasak, itulah jadwalku hari ini" jawab Edo dengan pasti
"Eh... bolekah aku ikut membantu?" tanya Devi semangat.
Melihat Devi dengan seluruh wajah yang tidak terhalang sehelai rambutpun, membuat Edo terpesona.
"Devi, apakah alismu benar-benar asli?" tanya Edo dengan jari yang menunjuk wajah Devi.
"Hei... hei... apakah kau mau ikut-ikutan jail seperti Hengkie" tegur Devi.
"Hahahaha... mafkan aku, wajahmu tanpa sehelai rambut begitu berbeda" jawab Edo yang masih saja memandang alis tebal milik Devi.
"Maksudmu berbeda bagaimana? apakah kau baru sadar aku teramat cantik? Hihihihihi" tanya Devi centil dengan kedua tangan memegang kedua pipinya.
"Akh... bukan begitu" jawab Edo tanpa henti memandangi alis tebal milik Devi.
"Hmmm... sepertinya kau sangat penasaran, tentu saja ini asli" jawab Devi dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Edo sejenak terdiam, dia mencoba berpikir namun kepalanya seolah menahannya untuk berpikir keras, kepalanya teramat sakit dan suara Devi membuatnya berhenti berpikir lebih jauh.
"Hei... kau belum menjawab pertanyaanku" tanya Devi kembali.
"...."
"Ada apa denganmu, kau sakit?" sambung Devi
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, di rumahku tidak ada siapa-siapa, aku takut orang berfikir macam-macam saat melihatmu masuk ke dalam rumahku" jawab Edo.
"..."
Devi terdiam dan menunduk sedih, Edo tahu apa yang dirasakan Devi, dengan membaca buku yang begitu banyak dari Fisika, Kimia, Matematika, Sikologi sampai buku Filsafat, membuat Edo sedikit mengetahui sifat seseorang dari hanya melihat ekspresi wajah orang itu.
sambil tersenyum Edo memegang kepala Devi dan berkata.
"Ayo ke rumahku, tapi Hengkie juga harus ikut" kata Edo sembari melemparkan senyum.
"Benarkah!?" raut muka Devi berubah bagaikan bunga yang sehabis disiram air.
"Hoi Hengkie...!!" teriak Devi ke arah Hengkie yang sedang asik berlari kecil.
"Satu dua... satu dua..." itulah suara yang keluar dari mulut Hengkie saat berlari
"Hei Gorila....!!!" teriak Devi yang seketika mengehentikan langkah Hengkie namun masih saja kedua kakinya naik turun (lari di tempat).
"Dipanggil Gorila baru dengar..." Devi menggerutu.
"Hari ini kau harus ikut kami ke rumah Edo, kita akan memasak bersama" kata Devi dengan melemparkan senyum manisnya.
"Ahhh maaf... hari ini aku ada janji dengan seorang wanita" teriak Hengkie dari jarak sepuluh meter.
"Jadi.... kau tidak mau ikut?" kata Devi dengan suara yang teramat pelan namun sangat mengerikan.
"Iiiihhh... aku sudah berjanji dengan Januarti" jawab Hengkie sambil meringkuk, melihat sosok Devi yang mengerutkan dahinya,
Kemarahan Devi adalah hal yang paling menakutkan bagi Hengkie. Tidak ada yang lebih menakutkan dari sosok Devi yang sedang marah.
"Batalkan....!!!" teriak Devi marah.
"Jika kau tidak membatalkannya, jangan berteman lagi denganku dan Edo, kau paham!?" lanjut Devi.
"Ba ba baiklah... hari ini aku ikut kalian" jawab Hengkie pasrah dengan keringat yang begitu deras membasahi tubuhnya.
"He he he... itu baru temanku..." seketika wajah Devi berubah sangat manis dan menepuk pundak besar Hengkie.
"Oh... Januarti... maafkan aku" tangis Hengkie pasrah dengan masih meringkuk di bawah tiang listrik.
__ADS_1
"Ha ha ha ha..." tawa Edo yang melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Jam menunjukkan pukul 09.00 WITA, Supermarket di kota tidak begitu ramai di hari Minggu.
"Kita mau masak apa hari ini?" tanya Hengkie.
"Biar aku yang tentukan" jawab Devi.
"Hari ini kita akan memasak Sop Sapi, Edo butuh makanan yang bertenaga" sambungnya.
"Yeah... kau harus menjadi laki-laki yang tangguh sepertiku" sambut Hengkie sambil membusungkan dada dengan tangan kanan yang mengepal.
"......"
"Oh yah kalau begitu apa yang akan kita beli terlebih dahulu?" tanya Edo sambil mengambil keranjang belanja.
"Sudah jelas, pertama kita beli daging sapi..." kata Devi semangat sambil menunjuk ke depan.
"Ayo... kita belanja" balas Edo sambil melangkah.
Drrrrttt.... Drrrtttt...
Handphone Edo bergetar, ia melihat nama sang pemanggil yang bertuliskan tante Stefani.
"Ia hallo tante..." sapa Edo menjawab panggilan telphone.
"Kamu ada di mana? nanti siang tante akan bawakan makan siang untukmu" ucapa tante Stefani dari ujung telphone.
"Ah maaf tante, aku dan kawan-kawanku akan memasak di rumahku hari ini, jadi tante tidak perlu kemari, lagian toko tante hari Minggu sangat ramai bukan?" kata Edo.
"Hmmm jadi begitu, baiklah... jangan lupa makan makanan bergizi, dan jika kau butuh apa-apa segeralah hubungi tante" kata tante Stefani dengan suara yang agak serak.
"Baik tante terima kasih" jawab Edo.
"Ayo kita lanjut belanja" sambungnya setelah selesai menerima telephone.
Berbelanja di Supermarket, memang kegiatan yang biasa dilakukan Edo hampir setiap Minggu, sekedar menghilangkan kejenuhan, ikut berbaur dengan keramayan, dan satu yang pasti, kegiatan ini juga dapat membantu tantenya yang sibuk di hari Minggu.
Edo sangat mengerti kesibukan tante Stefani, terkadang Edo menolak untuk dibawakan makanan setiap hari Minggu. Pikirnya akan sangat merepotkan bila tante Stefani datang membawakan makanan disaat toko tante sedang ramai pembeli.
__ADS_1
Sebelum datang ke Supermarket, Edo kembali dulu ke rumah untuk mandi dan sekedar merapihkan rumahnya, baginya akan ada dua orang tamu istimewa yang akan datang hari ini, setiap sudut rumah haruslah bersih, pewangi ruangan tidak boleh dilupakan.
Tidak ada pembantu, tukang kebun bahkan scurity di rumahnya, memang ayahnya sudah menyuruh seseorang untuk sekedar menemani, memasak atau bersih-bersih di rumah Edo, tapi entah mengapa Edo menentang hal itu. Baginya, kesendirian seperti ini jauh lebih baik, memasak, mencuci dan sekedar membersihkan rumah hanya cukup dirinya saja dan tidak butuh orang lain.