Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 6


__ADS_3

Hari yang baru dipagi yang indah, suasana yang ramai di sekolah Linggar, sekolah yang setiap siswanya mengenakan seragam yang


berbeda dari sekolah-sekolah lain pada umumnya, kemeja putih dipadu rompi dan


celana hitam, adalah ciri khas dari SMA Linggar.


Untuk hari ini, tidak berbeda dari hari-hari


sebelumnya. Tidak ada siswa serajin Edo yang pada saat itu sudah berada di


ruang perpustakaan yang masih sangat sepi,


“Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang


wanita cantik dengan senyumnya yang memikat.


“Ahhh tentu saja Devi” jawab Edo yang matanya masih saja melihat kearah buku yang sedang dibacanya.


“.....” Devi hanya terdiam sambil melihat


wajah Edo.


Melihat wajah sahabatnya disaat seperti ini,


adalah hal menarik untuk Devi. Bagi Devi, wajah serius Edo sangat menyenangkan


untuk dilihat, dari rambutnya yang menyamping ke kanan, kaca mata yang sedikit tebal dan dahi yang sedikit mengerut karena begitu Focus, adalah pemandangan


yang sangat menarik.


“Hoi hoi... lebih baik kau cari buku untuk


dibaca” tegur Edo yang memang sudah biasa diperhatikan Devi jika sedang membaca


sebuah buku.


“Hehehehe... aku kemari bukan untuk belajar,


aku kemari untuk melihat apakah kau baik-baik saja” terang Devi.


“....kau lihat aku bagaimana sekarang?” tanya


Edo yang sedikit melirik ke arah Devi.


“Hmmmm... lingkaran hitam di matamu, apakah kau kurang tidur?” tanya Devi sambil menunjuk tepat di mata Edo.


“Sepertinya begitu hehehehe” jawab Edo sambil menggaruk kepalanya, jawaban Edo membuat wajah Devi terlihat kesal. Menyadari hal itu, Edo mencoba membujuk sahabatnya.


“Kau tenang saja, bukan sekali atau dua kali


aku seperti ini bukan?” Edo coba menenangkan Devi


“Justru karena terlalu sering, beristirahatlah


dengan baik, itu juga sangat penting untuk menghadapi kelulusan nanti” tegur


Devi sedikit kesal.


“Iya iya... akan aku ikuti setiap perkataanmu itu” jawab Edo dibarengi dengan suara bell masuk sekolah.


Kelas 3A yang ditempati Edo dan kelas 3C yang ditempati Devi agak berjauhan, apalagi Edo, harus menaiki anak tangga. Mereka


terpisah pada saat keluar dari perpustakaan, Edo ke kiri dan Devi ke kanan.


Di lorong sekolah setiap mata memperhatikan Edo, mereka seolah menjauh pada saat Edo mendekati mereka, suasana ini sudah biasa, memang tidak menyenangkan pada awalnya untuk Edo, tapi karena setiap hari terjadi mau tidak mau Edo harus bisa


menerimanya, menerima setiap orang yang memandangnya sebagai anak aneh dan


menerima setiap orang yang memandangnya penuh kebencian.


Pada saat masuk kembali ke sekolah Linggar


pasca kecelakaan, Edo merasakan tekanan besar dari para siswa, mereka seakan


sangat membencinya, pikirnya mungkin karena dialah salah satu anak yang hidup


pada saat insident itu.


Takut, cemas dan merasa sangat bersalah adalah hal yang awalnya masuk ke dalam pikiran Edo, wajah kebencian setiap siswa di sekolah menariknya lebih jauh lagi untuk larut dalam kesendirian dan ketakutannya. Hingga muncullah dua orang yang begitu luar biasa, kedua orang itu seolah menariknya dari sebuah lubang hitam yang dalam, lubang yang begitu gelap tanpa cahaya, mereka seakan memaksanya untuk keluar dan tidak melepaskan tangannya. Yah... mereka adalah Devi dan Hengkie.


Setelah mereka bertiga saling mengenal, hari yang mereka lalui seperti sebuah cerita


drama, cerita yang sudah diatur oleh seorang sutradara, teramat indah dan teramat nyata. Sekolah, taman dan danau adalah tempat yang tidak dilewatkan oleh mereka untuk sekedar berbagi cerita dan sekedar bercanda bersama.


Bell istirahat berbunyi pukul 12.00 WITA, bagi

__ADS_1


Edo istirahat adalah hal paling membosankan sehingga perpustakaan adalah tempat


paling pantas untuk dikunjunginya.


Tidak sulit bagi Hengkie dan Devi untuk


menemukan Edo pada saat istirahat.


“Benar dugaanku, kau di sini” kata Hengkie


yang tiba-tiba datang memegang pundak Edo.


“Eh... mana Devi?” tanya Edo.


“Dia mampir ke toilet dulu, sepertinya dia lagi


EM” jawab Hengkie berbisik.


“......maksudmu?” tanya Edo serius.


“Itu lho... tamu bulanan perempuan” bisik


Hengkie lagi.


“Oh....” respon Edo yang akhirnya memahami


maksud dari perkataan Hengkie.


“Nah... itulah... pokoknya hari ini kita


jangan cari masalah sama dia” ujar Hengkie memperingatkan dan hanya ditanggapi anggukan oleh Edo.


Perpustakaan adalah tempat favorit Edo pada


saat tidak ada kegiatan di kelas, suasana yang sepi membuatnya sangat nyaman,


apalagi perpustakaan di sekolah Linggar dipenuhi banyak sekali buku-buku yang


baru.


Dengan kelengkapan buku perpustakaan sekolah Linggar, maka banyak sekali siswa-siswa sekolah lain yang datang untuk sekedar membaca dan meminjam buku di perpustakaan tersebut.


Memang perpustakaan linggar baru dibuka untuk umum 3 bulan lamanya, mereka dapat masuk dan meminjam buku jika sudah memenuhi persyaratan yang disepakati pihak sekolah.


Antusias dari sekolah lain sangat besar, apa lagi peminjaman buku tidak dipungut biaya, semuanya gratis.


“Wah... sejak sekolah membuka perpustakaan ini untuk umum, perpustakaan jadi ramai yah” kata Devi sambil membuka botol


minumannya.


“Karena itu, aku tidak lama-lama di dalam”


jawab Edo sembari memegang air mineral.


“Hengkie kemana?” tanya Devi.


“Ah... tadi pacarnya telephone, sepertinya


marah-marah karena kemarin Hengkie tidak menemuinya” jawab Edo lalu menenggak


minumannya.


“Hahahahaha... mudah-mudahan pacarnya tidak sejahat aku” kata Devi sambil membayangkan Hengkie dengan tubuh besar dihajar oleh seorang wanita.


Edo tersentak dengan botol yang masih menempel di mulutnya, ia melihat seorang wanita dengan aksesoris begitu banyak menghiasi lengannya, seragam sekolah putih abu-abu dengan ransel coklat menempel di pundaknya.


Wanita itu berjalan keluar dari arah perpustakaan, kedua mata mereka bertemu,


cukup lama mereka saling memandang, pada saat itu hati Edo berdebar dan suara


Devi menyadarkannya.


“Hei... apa yang kamu lihat?” tanya Devi.


“Ahhh tidak” jawab Edo sambil menenggak kembali minumannya dengan cepat.


“.....”


Beberapa saat kemudian bell selesai istirahat


berbunyi, Edo dan Devi berpisah kembali, Edo ke kiri dan Devi ke kanan, tidak terlihat wajah Hengkie pada saat itu (mungkin telah terbunuh oleh seorang wanita -__-)


Seperti biasa, dua mata pelajaran lagi untuk


menghabiskan waktu di sekolah Linggar. Dua mata pelajaran yang teramat lama bagi

__ADS_1


seluruh siswa, dan untuk kelas yang mendapatkan mata pelajaran matematika di


akhir, pasti akan terasa sangat menyebalkan.


Waktu terus berjalan pada hari itu, tidak


terasa bell pulang sekolah berbunyi, menjadi kelegaan bagi para siswa yang mendengar bell pulang sekolah, bagi mereka itu bagaikan oasis ditengah panas dan gersangnya gurun.


Setiap siswa saling bercanda gurau didalam kelas sambil membereskan alat tulis, seperti biasa, tidak ada yang menyapa Edo, mereka asik dengan diri mereka sendiri, bagi mereka Edo bagaikan orang asing di kelas.


Edo melihat kedua sahabatnya berdiri di depan pintu kelasnya, satu persatu siswa-siswi kelas 3A keluar dari kelas itu dengan mata yang teramat tidak menyenangkan, mereka seolah berbisik, mereka seolah menjatuhkan hukuman untuknya dan membuat jarak yang teramat jauh dengannya.


Kedua sahabatnya itu mengetahui hal itu, namun bagi mereka itu tidak penting,


apa yang mereka katakan dan rumorkan tentang Edo, tidak akan membuat mereka


meninggalkan sahabat mereka itu.


“Kelas yang menyebalkan, tidakku sangkah kau kuat berada di kelas ini” kata Hengkie sembari melihat Edo berjalan melewatinya.


“Biarkan saja mereka, sudah aku bilang, punya kalian saja itu sudah cukup” kata Edo sambil berjalan melewati kedua sahabatnya itu.


“Hei Gorila, bisakah kau tidak membuat suasana menjadi dingin seperti ini?” ujar Devi diikuti langkahnya mengikuti Edo.


"Hmmm...." gumam Hengkie yang juga segera mengikuti kedua sahabatnya itu,


Sekolah Linggar masih ramai pada saat itu, di


samping sekolah ada sebuah lapangan serbaguna yang digunakan untuk olah raga.


Saat itu sedang ada pertandingan kecil antara SMA Linggar dengan SMA Binsus.


“Wow itu pertandingan basket putri yah?” kagum Hengkie.


“Sepertinya begitu” jawab Edo.


“Bisakah kita lihat sebentar” ajak Hengkie


memohon.


“...hmmm... coba kau tanya Devi” jawab Edo


sambil memandang Devi.


“Kenapa harus aku? Jika kau bilang iya, aku


juga mau melihatnya” jawab Devi pada Edo.


“Yesssss” Hengkie mengepalkan tangannya dan segera berlari ke arah lapangan serbaguna.


Riuh penonton memecahkan suasana sore itu, tepuk tangan dan sorak-sorak membuat para peserta semakin bersemangat menjalani


pertandingan. Dari dalam lapangan, seorang wanita yang tidak asing perawakannya


melihat ke arah Edo, seketika itu juga ia minta digantikan oleh pemain lain.


“Ayo kita pulang” kata Edo sambil berbalik.


“Lho... baru lima menit kita di sini” protes


Hengkie.


“Sudah mau gelap, aku ingin melihat danau


Linow” jawab Edo.


“Sudalah... ayo pulang” ajak Devi yang


mendukung Edo (Pro Edo bangetlah pokoknya).


“Akh.... ini tidak adil” kesal Hengkie.


Namun untuk Hengkie sendiri, dia type anak


yang selalu mengalah kepada kedua sahabatnya itu, buatnya Devi dan


Edo adalah sahabat yang paling mengerti akan dirinya. Devi yang setiap kali berkelahi


dengannya, bukan berarti Devi tidak perduli dengannya. Bagi Devi, Hengkie dan


Edo adalah seorang sahabat yang layak mendapatkan perhatian darinya.


Edo menoleh ke belakang, ia melihat gadis yang sedang berlomba tadi, keluar dari pertandingan, langkah kaki Edo begitu cepat


seolah menghindari sesuatu.

__ADS_1


Pagar pembatas lapangan serbaguna membuat gadis itu harus berputar mencari pintu keluar, pada saat ia menemukan pintu keluar, ia tidak mendapatkan Edo yang tadi berdiri di luar pagar pembatas, ia melihat ke


kiri dan kanan hasilnya sama saja, Edo tidak terlihat sama sekali.


__ADS_2