
Hari yang baru dipagi yang indah, suasana yang ramai di sekolah Linggar, sekolah yang setiap siswanya mengenakan seragam yang
berbeda dari sekolah-sekolah lain pada umumnya, kemeja putih dipadu rompi dan
celana hitam, adalah ciri khas dari SMA Linggar.
Untuk hari ini, tidak berbeda dari hari-hari
sebelumnya. Tidak ada siswa serajin Edo yang pada saat itu sudah berada di
ruang perpustakaan yang masih sangat sepi,
“Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang
wanita cantik dengan senyumnya yang memikat.
“Ahhh tentu saja Devi” jawab Edo yang matanya masih saja melihat kearah buku yang sedang dibacanya.
“.....” Devi hanya terdiam sambil melihat
wajah Edo.
Melihat wajah sahabatnya disaat seperti ini,
adalah hal menarik untuk Devi. Bagi Devi, wajah serius Edo sangat menyenangkan
untuk dilihat, dari rambutnya yang menyamping ke kanan, kaca mata yang sedikit tebal dan dahi yang sedikit mengerut karena begitu Focus, adalah pemandangan
yang sangat menarik.
“Hoi hoi... lebih baik kau cari buku untuk
dibaca” tegur Edo yang memang sudah biasa diperhatikan Devi jika sedang membaca
sebuah buku.
“Hehehehe... aku kemari bukan untuk belajar,
aku kemari untuk melihat apakah kau baik-baik saja” terang Devi.
“....kau lihat aku bagaimana sekarang?” tanya
Edo yang sedikit melirik ke arah Devi.
“Hmmmm... lingkaran hitam di matamu, apakah kau kurang tidur?” tanya Devi sambil menunjuk tepat di mata Edo.
“Sepertinya begitu hehehehe” jawab Edo sambil menggaruk kepalanya, jawaban Edo membuat wajah Devi terlihat kesal. Menyadari hal itu, Edo mencoba membujuk sahabatnya.
“Kau tenang saja, bukan sekali atau dua kali
aku seperti ini bukan?” Edo coba menenangkan Devi
“Justru karena terlalu sering, beristirahatlah
dengan baik, itu juga sangat penting untuk menghadapi kelulusan nanti” tegur
Devi sedikit kesal.
“Iya iya... akan aku ikuti setiap perkataanmu itu” jawab Edo dibarengi dengan suara bell masuk sekolah.
Kelas 3A yang ditempati Edo dan kelas 3C yang ditempati Devi agak berjauhan, apalagi Edo, harus menaiki anak tangga. Mereka
terpisah pada saat keluar dari perpustakaan, Edo ke kiri dan Devi ke kanan.
Di lorong sekolah setiap mata memperhatikan Edo, mereka seolah menjauh pada saat Edo mendekati mereka, suasana ini sudah biasa, memang tidak menyenangkan pada awalnya untuk Edo, tapi karena setiap hari terjadi mau tidak mau Edo harus bisa
menerimanya, menerima setiap orang yang memandangnya sebagai anak aneh dan
menerima setiap orang yang memandangnya penuh kebencian.
Pada saat masuk kembali ke sekolah Linggar
pasca kecelakaan, Edo merasakan tekanan besar dari para siswa, mereka seakan
sangat membencinya, pikirnya mungkin karena dialah salah satu anak yang hidup
pada saat insident itu.
Takut, cemas dan merasa sangat bersalah adalah hal yang awalnya masuk ke dalam pikiran Edo, wajah kebencian setiap siswa di sekolah menariknya lebih jauh lagi untuk larut dalam kesendirian dan ketakutannya. Hingga muncullah dua orang yang begitu luar biasa, kedua orang itu seolah menariknya dari sebuah lubang hitam yang dalam, lubang yang begitu gelap tanpa cahaya, mereka seakan memaksanya untuk keluar dan tidak melepaskan tangannya. Yah... mereka adalah Devi dan Hengkie.
Setelah mereka bertiga saling mengenal, hari yang mereka lalui seperti sebuah cerita
drama, cerita yang sudah diatur oleh seorang sutradara, teramat indah dan teramat nyata. Sekolah, taman dan danau adalah tempat yang tidak dilewatkan oleh mereka untuk sekedar berbagi cerita dan sekedar bercanda bersama.
Bell istirahat berbunyi pukul 12.00 WITA, bagi
__ADS_1
Edo istirahat adalah hal paling membosankan sehingga perpustakaan adalah tempat
paling pantas untuk dikunjunginya.
Tidak sulit bagi Hengkie dan Devi untuk
menemukan Edo pada saat istirahat.
“Benar dugaanku, kau di sini” kata Hengkie
yang tiba-tiba datang memegang pundak Edo.
“Eh... mana Devi?” tanya Edo.
“Dia mampir ke toilet dulu, sepertinya dia lagi
EM” jawab Hengkie berbisik.
“......maksudmu?” tanya Edo serius.
“Itu lho... tamu bulanan perempuan” bisik
Hengkie lagi.
“Oh....” respon Edo yang akhirnya memahami
maksud dari perkataan Hengkie.
“Nah... itulah... pokoknya hari ini kita
jangan cari masalah sama dia” ujar Hengkie memperingatkan dan hanya ditanggapi anggukan oleh Edo.
Perpustakaan adalah tempat favorit Edo pada
saat tidak ada kegiatan di kelas, suasana yang sepi membuatnya sangat nyaman,
apalagi perpustakaan di sekolah Linggar dipenuhi banyak sekali buku-buku yang
baru.
Dengan kelengkapan buku perpustakaan sekolah Linggar, maka banyak sekali siswa-siswa sekolah lain yang datang untuk sekedar membaca dan meminjam buku di perpustakaan tersebut.
Memang perpustakaan linggar baru dibuka untuk umum 3 bulan lamanya, mereka dapat masuk dan meminjam buku jika sudah memenuhi persyaratan yang disepakati pihak sekolah.
Antusias dari sekolah lain sangat besar, apa lagi peminjaman buku tidak dipungut biaya, semuanya gratis.
“Wah... sejak sekolah membuka perpustakaan ini untuk umum, perpustakaan jadi ramai yah” kata Devi sambil membuka botol
minumannya.
“Karena itu, aku tidak lama-lama di dalam”
jawab Edo sembari memegang air mineral.
“Hengkie kemana?” tanya Devi.
“Ah... tadi pacarnya telephone, sepertinya
marah-marah karena kemarin Hengkie tidak menemuinya” jawab Edo lalu menenggak
minumannya.
“Hahahahaha... mudah-mudahan pacarnya tidak sejahat aku” kata Devi sambil membayangkan Hengkie dengan tubuh besar dihajar oleh seorang wanita.
Edo tersentak dengan botol yang masih menempel di mulutnya, ia melihat seorang wanita dengan aksesoris begitu banyak menghiasi lengannya, seragam sekolah putih abu-abu dengan ransel coklat menempel di pundaknya.
Wanita itu berjalan keluar dari arah perpustakaan, kedua mata mereka bertemu,
cukup lama mereka saling memandang, pada saat itu hati Edo berdebar dan suara
Devi menyadarkannya.
“Hei... apa yang kamu lihat?” tanya Devi.
“Ahhh tidak” jawab Edo sambil menenggak kembali minumannya dengan cepat.
“.....”
Beberapa saat kemudian bell selesai istirahat
berbunyi, Edo dan Devi berpisah kembali, Edo ke kiri dan Devi ke kanan, tidak terlihat wajah Hengkie pada saat itu (mungkin telah terbunuh oleh seorang wanita -__-)
Seperti biasa, dua mata pelajaran lagi untuk
menghabiskan waktu di sekolah Linggar. Dua mata pelajaran yang teramat lama bagi
__ADS_1
seluruh siswa, dan untuk kelas yang mendapatkan mata pelajaran matematika di
akhir, pasti akan terasa sangat menyebalkan.
Waktu terus berjalan pada hari itu, tidak
terasa bell pulang sekolah berbunyi, menjadi kelegaan bagi para siswa yang mendengar bell pulang sekolah, bagi mereka itu bagaikan oasis ditengah panas dan gersangnya gurun.
Setiap siswa saling bercanda gurau didalam kelas sambil membereskan alat tulis, seperti biasa, tidak ada yang menyapa Edo, mereka asik dengan diri mereka sendiri, bagi mereka Edo bagaikan orang asing di kelas.
Edo melihat kedua sahabatnya berdiri di depan pintu kelasnya, satu persatu siswa-siswi kelas 3A keluar dari kelas itu dengan mata yang teramat tidak menyenangkan, mereka seolah berbisik, mereka seolah menjatuhkan hukuman untuknya dan membuat jarak yang teramat jauh dengannya.
Kedua sahabatnya itu mengetahui hal itu, namun bagi mereka itu tidak penting,
apa yang mereka katakan dan rumorkan tentang Edo, tidak akan membuat mereka
meninggalkan sahabat mereka itu.
“Kelas yang menyebalkan, tidakku sangkah kau kuat berada di kelas ini” kata Hengkie sembari melihat Edo berjalan melewatinya.
“Biarkan saja mereka, sudah aku bilang, punya kalian saja itu sudah cukup” kata Edo sambil berjalan melewati kedua sahabatnya itu.
“Hei Gorila, bisakah kau tidak membuat suasana menjadi dingin seperti ini?” ujar Devi diikuti langkahnya mengikuti Edo.
"Hmmm...." gumam Hengkie yang juga segera mengikuti kedua sahabatnya itu,
Sekolah Linggar masih ramai pada saat itu, di
samping sekolah ada sebuah lapangan serbaguna yang digunakan untuk olah raga.
Saat itu sedang ada pertandingan kecil antara SMA Linggar dengan SMA Binsus.
“Wow itu pertandingan basket putri yah?” kagum Hengkie.
“Sepertinya begitu” jawab Edo.
“Bisakah kita lihat sebentar” ajak Hengkie
memohon.
“...hmmm... coba kau tanya Devi” jawab Edo
sambil memandang Devi.
“Kenapa harus aku? Jika kau bilang iya, aku
juga mau melihatnya” jawab Devi pada Edo.
“Yesssss” Hengkie mengepalkan tangannya dan segera berlari ke arah lapangan serbaguna.
Riuh penonton memecahkan suasana sore itu, tepuk tangan dan sorak-sorak membuat para peserta semakin bersemangat menjalani
pertandingan. Dari dalam lapangan, seorang wanita yang tidak asing perawakannya
melihat ke arah Edo, seketika itu juga ia minta digantikan oleh pemain lain.
“Ayo kita pulang” kata Edo sambil berbalik.
“Lho... baru lima menit kita di sini” protes
Hengkie.
“Sudah mau gelap, aku ingin melihat danau
Linow” jawab Edo.
“Sudalah... ayo pulang” ajak Devi yang
mendukung Edo (Pro Edo bangetlah pokoknya).
“Akh.... ini tidak adil” kesal Hengkie.
Namun untuk Hengkie sendiri, dia type anak
yang selalu mengalah kepada kedua sahabatnya itu, buatnya Devi dan
Edo adalah sahabat yang paling mengerti akan dirinya. Devi yang setiap kali berkelahi
dengannya, bukan berarti Devi tidak perduli dengannya. Bagi Devi, Hengkie dan
Edo adalah seorang sahabat yang layak mendapatkan perhatian darinya.
Edo menoleh ke belakang, ia melihat gadis yang sedang berlomba tadi, keluar dari pertandingan, langkah kaki Edo begitu cepat
seolah menghindari sesuatu.
__ADS_1
Pagar pembatas lapangan serbaguna membuat gadis itu harus berputar mencari pintu keluar, pada saat ia menemukan pintu keluar, ia tidak mendapatkan Edo yang tadi berdiri di luar pagar pembatas, ia melihat ke
kiri dan kanan hasilnya sama saja, Edo tidak terlihat sama sekali.