Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 30


__ADS_3

Edo meraih obat miliknya yang berada di meja, rasa sakit yang selama ini dirasanya telah kembali lagi. Sebuah halaman facebook, dipenuhi dengan komentar dari sahabat-sahabat pemilik profil, isinya :


“Berjuanglah cantik, kami menunggu kamu di sini”


“Tidak ada yang dapat aku katakan, kalian begitu baik, dunia ini masih membutuhkan orang baik seperti kalian”


“Kenapa harus kamu yang mendapatkan musibah seperti ini teman!?”


“Memang tidak ada sekolah yang lebih baik di Jakarta!?”


“Kalau persahabatan ujungnya adalah kematian, untuk apa kalian kembalui menemui orang itu!?”


“Aku mendengar, orang itu belum sekalipun menemui kalian yang terbaring saat ini, orang macam apa dia!?”


“Apakah kurang cinta kami pada kalian sehingga kalian harus pergi dan seperti ini!?”


Dada Edo terasa sesak, badannya lemas membaca setiap komentar di facebook tersebut, sebuah perasaan bersalah kembali menghantuinya. Namun, ia melihat sebuah postingan yang dibagikan oleg pemilik akun bernama Miranda, sebuah postingan video siaran langsung dari Devi.


“Hai teman-teman, hari ini sekolahku akan mengadakan acara penyambutan siswa baru, kami akan ke sebuah Vila yang berada di atas bukit, mirip-mirip puncak... aku berharap hari ini aku menemukan sahabat masa kecilku, bukankah begitu saudaraku?” tanya Devi kepada Hengkie didalam video itu.


“Ahhh... baru kali ini kau memanggilku saudara... biasanya Gor......” mulut Hengkie sesegera mungkin dibekap Devi.


“Hehehehe... baiklah... bus sudah mau jalan, aku pamit dulu...”


“Hoi.... apakah kau tahu bahwa ini adalah siaran live!? Dasar Gorila bodoh...!!!” marah Devi dalam video itu.


“Ehhh penyihir... videomu belum kau matikan...!!!” kata Hengkie dengan menunjuk ke arah kamera phonesel Devi.


“Agh... tidak mungkin....!!!” teriak Devi terkejut dan segera mematikan siaran livenya.


“Sudah dua minggu sahabatku tidak memberi kabar”postingan Devi 5 tahu lalu.


“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Sudah 1 tahun dia tidak menghubungi kami” postingan Devi 4 tahun lalu.


“Aku tahu, dia tidak melupakan kami, aku yakin dia merindukan kami, adakah orang yang dapat mengatakan padanya untuk tetap terus semangat?” postingan Devi 4 tahun lalu.


“Jangan lupakan janji kita yah sahabat, kami akan berangkat besok dan aku harap kau tidak melupakan kami”postingan Devi 3 tahun lalu.

__ADS_1


Tangis Edo tidak tertahan, matanya berkca dan sesaat kemudia air matanya mengalir. Merekalah orang yang dilihatnya 3 tahun lalu, orang yang menyelamatkannya dari kecelakaan waktu itu.


“Kenapa dengan diriku ini? Aku sangat bersalah kepada mereka...” kata Edo dalam tangisnya.


Malam itu, menjadi malam yang panjang bagi Edo, ia terus menggali informasi tentang keberadaan kedua sahabatnya itu. Tidak berapa lama phonselnya bergetar, sebuah pesan diterimanya dari seseorang, seseorang yang dari tadi sore tidak dapat dihubunginya.


“Siapa kau!? Kenapa kau baru muncul saat ini!? Kemana saja kau!?” sebuah pesan tertulis kala itu.


Tanpa pikir panjang, Edo segera menghubungi pemilik pesan itu. Pikirnya akan lebih baik, jika langsung berbicara dengan pemilik pesan itu, walaupun makian yang akan diterima, tapi ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada.


“Hallo... aku ingin menemuimu besok di SanCafe dekat sekolahmu besok” Edo bicara langsung pada tujuannya.


“Tidak bisa... besok aku akan ke rumah sakit... datanglah ke rumah sakit Medika Cipta besok jam 10 pagi” kata Mira di ujung telphone.


“Baiklah...”jawab Edo dan langsung diakhiri oleh Mira sesaat kemudian.


“...Medika Cipta, itu adalah rumah sakit yang merawatku dulu... letaknya ada di atas bukit, aku harus melewati bukit itu lagi, setiap aku pergi ke Manado aku selalu melewati jalan lain, kali ini untuk pertama kali lagi, aku harus melewati bukit itu” gumam Edo dengan tangannya yang terus bergetar.


------


Pagi itu, Edo sudah bersiap menemui Mira. Rumah sakit yang berada diatas bukit Tomohon adalah rumah sakit terbaik di daerah itu. Edo meneguhkan hatinya, ia terus membuang segala rasa takut dalam hatinya. Motor matic yang sudah dipanaskannya segera dinaikinya.


Edo segera memutar kembali motornya, ia menghampiri Vandu yang saat itu terlihat sangat cemas, kecemasannya itu nampak dari tingkahnya yang terus berjalan kesini-kemari.


“Hei... butuh tumpangan?” tanya Edo dengan membuka helmnya.


“Akh... ti ti tidak usah” jawab Vandu yang terlihat sangat takut.


“Tidak apa-apa, lupakanlah perselisihan antara kita, ayo naiklah...” kata Edo dengan senyum di wajahnya.


“Be be benarkah?” tanya Vandu yang terlihat senang.


“Tapi kau cari helm dulu, aku tidak ingin kena tilang gara-gara kamu” kata Edo.


“I i iya... tunggu sebentar” jawab Vandu dengan segera berlari di sebuah toko.


Rumah Vandu menyatu dengan toko sembako dipinggir jalan, saat ini Vandu ingin bergegas ke rumah sakit, adiknya perempuannya sedang sakit saat ini.

__ADS_1


“Ahhh jadi tujuan kita sama, baguslah kalau begitu” kata Edo yang terus mengendarai motor.


“Iya, adikku itu sering bermasalah pada pernfasannya, tapi ini yang paling parah” kata Vandu.


“...Eh tapi ngomong, ngomong... apakah kau punya SIM?” tanya Vandu.


“Hehehehehe aku tidak punya, tenang saja tidak ada polisi kok” kata Edo yang saat itu juga diberhentkan oleh polisi.


----


“Apakah kamu tidak pernah lewat sini” tanya Vandu.


“...”


“Sejak kecelakaan itu, polisi terus berja-jaga di tempat ini, sampai ada 7 Pos polisi disepanjang jalan menuju bukit” jelas Vandu yang saat ini menggantikan Edo mengendarai motor.


“...”


“Maafkan aku jika dulu, aku begitu jahat padamu, jujur saja... sejak orang tuaku bercerai, aku membenci kedua orang tuaku dan aku lampiaskan kepada orang lain” jelas Vandu.


“Tidak masalah, aku sudah memaafkanmu” jawab Edo.


“Sedikit lagi kita akan melewati tempat kejadian 3 tahun lalu, siapkan hatimu...” kata Vandu memberi tahu dan dibalas anggukan Edo.


Di ujung setelah tikungan, terlihat sudah tempat kecelakaan 3 tahun lalu, Edo mencoba berani untuk terus memperhatikan tempat itu, ia melihat sebuah papan besar dan karangan bunga tepat di bibir jurang.


“Berhenti sebentar...” kata Edo kepada Vandu.


“Ada apa?” tanya Vandu yang saat itu sudah menghentikan laju kendaraannya.


“Tunggu di sini” Edo berucap.


Edo menghampiri papan besar yang berbentuk seperti mading itu, sebuah nama-nama tertlis di papan itu. Itu adalah nama-nama para korban kecelakaan SMA Linggar 3 tahun lalu. Kembali teringat di kepala Edo, bahwa total penumpang waktu itu ada 52 orang, namun hanya tertulis 49 orang saja di papan itu.


Angin berhembus kencang kala itu, rasa trauma yang mendalam akan kejadian waktu itu sudah betul-betul hilang dari pikiran Edo. Saat ini, tujuannya hanya satu, yaitu menemui kedua sahabatnya.


“Aku semakin yakin bahwa itu mereka” gumam Edo sambil berjalan ke arah Vandu.

__ADS_1


“Ayo kita lanjutkan perjalanan” ucapnya dengan penuh keyakinan.


__ADS_2