
Enam tahun lalu Masa Orientasi Siswa (MOS), dilakukan disebuah sekolah SMP. Seluruh siswa baru berkumpul di lapangan, sinar matahari kala itu sangat menusuk kulit, setiap siswa dibagi dua kelompok, setengah di sebelah kiri dan setengahnya lagi di sebelah kanan.
“Ini adalah hari pertama untuk MOS tahun ini, kami ingin dalam 3 hari kedepan kalian bisa akrab dengan teman baru kalian!” teriak seorang siswa senior di tengah barisan.
“Coba kalian lihat sebelah kiri dan kanan kalian, mereka adalah orang yang sama dengan kalian, berjabatlah dan berkenalanlah” lagi siswa senior itu berkata dan diikuti dengan jabat tangan seluruh siswa yang hadir.
SMP Negeri 1945, adalah SMP yang terakreditasi A oleh BANSM. Sekolah baru untuk 480 siswa, bagi Devi dan Hengkie ini adalah pengalaman baru bersekolah di ibu kota, matahari yang begitu terik membuat wajah Devi merah dan keringatnya mengalir deras.
“Syukurlah hari ini selesai MOSnya” kata Hengkie yang duduk di depan gerbang sekolah.
Devi yang duduk di samping Hengkie hanya melihat ke arah jalan raya, sesekali Devi menenggak minuman yang ada di tangannya. Sudah satu bulan lamanya mereka berada di Jakarta, keramaian, jalan raya dan gedung-gedung megah menjulang tinggi, suasana yang memang sangat berbeda dengan kota Tomohon.
Dari dalam sekolah sekelompok anak berjalan bersamaan, mereka berseragam putih biru dengan atribut milik SMP Negeri 1945, penampilan mereka terkesan tidak baik dan terus berkata kotor saat berpapasan dengna siswa lainnya.
Hengkie dan Devi tidak memperdulikan sekelompok anak itu, mereka hanya terus melihat ke ujung jalan, menunggu jemputan yang sedari tadi tidak kunjung datang.
“Hei hei hei... siapa gadis ini?” tanya seorang anak laki-laki berkulit gelap, matanya yang nakal seolah terus memandang Devi dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Aih aih aih... siswa baru yah, boleh kenalan?” lanjutnya yang mulai terus mendekat diikuti tawa teman-temannya.
Bagi Devi, gangguan seperti ini sudah sangat biasa, bahkan teramat biasa. Memiliki saudara yang dapat diandalakan dan selalu bersamanya, membuat segala gangguan dari orang lain bukanlah apa-apa.
“Ah... jangan malu-malu seperti itu sayang...” kata seorang anak dengan kepala botak.
“Aduh men, sepertinya dia malu kalau ramai-rami, coba biar aku dekati dia” kata sorang anak yang berkulit gelap tadi.
Anak itu berjalan menghampiri Devi, sesampainya dihadapan Devi, anak itu mencoba memegang tangan Devi dengan senyum nakal di wajahnya.
“Sini sayang, kamu akan aman bersekolah di sini kalau jadi milikku” ucapnya yang tanpa permisi ingin memegang tangan Devi.
Sebuah tangan besar menghentikan tangan anak itu, cengkramannya sangat kuat membuat anak itu sulit untuk melepaskannya. Hengkie berdiri di samping anak itu, wajahnya terlihat sangat marah, matanya membuat anak itu seketika gentar.
“Jangan sentuh saudaraku dengan tanganmu yang menjijikan itu” ucapnya dengan terus mencengkram anak yang berdiri di hdapannya.
__ADS_1
“Si si siapa kau?” tanya anak berkepala botak itu.
“Hei siapa kau...!!! berani sekali kau anak baru...!!!” teriak anak lainnya.
“Sial... baru junior saja sudah banyak gaya”
“Dia anak SMP atau bukan, besar sekali dia”
Sebuah mobil Xpander berhenti di pinggir jalan, seketika itu Hengkie melepaskan tangan anak itu dengan tatapannya masih menakutkan. Seketika anak-anak itu pergi meninggalkan Devi dan Hengkie, wajah mereka menyimpan dendam dan membuat satu ancaman untuk Hengkie.
“Hei bongsor, kau mencari masalah dengan orang yang salah” ancam anak berkepala botak tadi dengan berlalu meninggalkan mereka.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Hengkie, ia hanya terus memandang ke arah anak-anak itu. Ia sangat tahu saat ini akan lebih sulit, bersekolah ditempat yang baru dengan anak-anak baru dan lingkungan baru, itu semua akan menjadi sangat sulit.
“Hei Gorila, tidak usah berlebihan... mereka sudah pergi turunkan wajah menyeramkanmu itu” kata Devi yang tiba-tiba menarik telinga Hengkie.
“Auuuuu penyihir...!!! sakit sekali...!!! lepaskan telingaku....!!!” teriak Hengkie yang mengikuti Devi masuk ke dalam mobil.
Perjalanan pulang dari sekolah ke rumah butuh 30 menit, itupun dengan menaiki kendaraan. Belum lagi jalan jakarta yang selalu macet, untuk saat ini Devi dan Hengkie masih menikmati jalan kota Jakarta, mungkin akan berbeda jika mereka sudah satu tahun di Jakarta.
“Edo?” tanya Hengkie.
“Iya, aku merindukannya” jawab Devi yang masih terus memandang keluar jendela.
“Kenapa kamu tidak telphone dia saja?” usul Hengkie.
“Hei Gorila, aku ini perempuan, masakan harus aku duluan!?” kata Devi agak kesal.
“Kalau rindu kenapa harus kau tahan? Lagipupa, hidup ini begitu mudah kenapa dipersulit?” kata Hengkie dengan santai.
“Sok bijak sekali kamu” gerutu Devi.
“Yah terserah kau mau bilang apa, cobalah untuk tidak skeptis” nasihat Hengie.
__ADS_1
"....sudah SMP yah... jadi bahasamu mulai berat" kata Devi meledek.
"Itu harus dong...." jawab Hengkie santai.
Devi hanya memandang ke luar jendela, seolah apa yang diucapkan saudaranya tidak didengarnya, namun dalam hatinya berontak. Rasa rindu kepada seorang sahabat tidak mampu dibendungnya, Devi membuka handphone miliknya dan tanpa ragu menghubungi Edo saat itu. Terlihat senyum yang manis dari saudarinya, Hengkie memejamkan mata diikuti senyum kecilnya kala itu.
“Bukan hanya kau saja yang merindukan sahabat kita yang lemah itu, aku juga merindkannya” kata Hengkie dalam hati.
“Maafkan aku, laki-laki itu tidak menunjukkan kerinduan yang amat kepada seorang sahabat, apa kata Devi nanti jika aku terlihat lemah? Untuk saat ini biarkanlah seperti ini” pikir Hengkie yang masih memejamkan matanya. (itu menurut Hengkie, bukan menurut penulis... hehehehe).
Rumah yang mewah berdiri disebuah pemukiman, rumah dengan fasilitas terbaik kala itu. Mobil Xpander silver memasuki halaman rumah, Hengkie segera turun dan berlari ke sebuah ruangan, ruangan yang dipenuhi alat-alat berat di sekelilingnya.
“Hmm... mulai sekarang akan berbeda, aku sudah berjanji padamu untuk menjaga saudariku dengan baik, tidak akan aku biarkan seseorang mengganggunya” kata Hengkie yang kala itu teringat atas janji yang telah diucapkan Edo dan dirinya.
Devi begitu menikmati obrolannya dengan Edo, namun pada akhirnya suara bell rumah yang berbunyi menyelesaikan pembicaraan mereka. Devi sedikit berlari menuju pintu masuk rumahnya, wajahnya sedikit penasaran dan menerka-nerka, siapakah yang datang di jam 19.00 WIB? Kedua orang tuanya pasti bukan, karena hari ini mereka berada di puncak bogor, ada peresmian hotel milik keluarga di sana.
Devi sedikit kaget, dilihatnyalah seorang gadis berkuncir kuda dan aksesoris gelang di lengan kananannya, gadis itu berdiri di depan pintu rumah dengan terus mengunyah permen karet.
“Maaf, perkenalkan aku Mira yang tinggal dikomplek sini, aku melihatmu di SMP 1945 namun tidak berani aku sapa karena begitu ketat MOS hari ini” jelas gadis bernama Mira itu.
“Benarkah?? Apakah kamu satu sekolah denganku?” tanya Devi dan dibalas dengan anggukan Mira.
“Sudah hampir dua bulan aku berada di sini tanpa teman bicara” jelas Devi dengan wajahnya yang terlhat sangat senang.
“Tapi... bolekah kita masuk dulu?” tanya Mira yang dari tadi memukul betis karena digigit nyamuk.
“Ahhh maaf... maaf... silahkan masuk” sambut Devi senang.
“Terima kasih” Mira tersenyum manis kala itu.
Pembicaraan mereka berlanjut di ruang tamu, hari ini ayah Mira harus lembur dan baru bisa pulang jam 21.00 malam, karena itulah Mira memberanikan diri untuk mendatangi Devi, sebetulnya Mira sudah melihat Devi saat Devi pertama kali menginjakkan kaki di komplek tersebut. Namun, Mira baru mengetahui bahwa Devi sama-sama bersekolah dengannya.
“Aku belum mengetahui kota ini, jika kamu punya waktu, bisakah kita keluar?” tanya Devi yang tidak henti-hentinya tersenyum.
__ADS_1
“Tentu saja, mungkin di hari Minggu, apakah kamu mau?” tanya Mira dengan senyum pula.
“Ahhh aku rasa itu hari yang baik” Devi menyanggupi.