Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 38


__ADS_3

“Bisakah kau diam b*****t!? Aku sedang berbicara dengan orang di belakangmu” kata Ridwan kesal.


“Sial....” ucap Vandu sembari mengepal kedua tangannya.


“Hmmmm, aku anggap kita sudah deal, tahun ini nilaimu harus ada di bawahku aku tidak mau tahu...!!!” jelas Ridwan.


“Dan seperti yang aku bilang, aku butuh hiburan hari ini... hiburlah aku...” lanjutnya.


“Bajingan... pergilah dari tempat ini” kata Vandu dibarengin rangkulan Edo dari belakang.


“Agh...”


“Mari kita pulang...” kata Edo seolah mengajak Vandu pergi dari tempat itu.


“Eh..., kalian mau kemana? Aku bilang aku ingin melihat hiburan...” kata Ridwan.


“Hmmm... aku muak denganmu yang sok jagoan, padahal kau menutupi kehancuran keluargamu... aku tahu kenapa ibu dan ayahmu pisah, itu semua karena ibumu seorang L***e dan kau Edo, kau pikir kedua teman kamu akan sadar dari koma? Semua orangpun tahu kalau mereka akan mati... hehehehe” ujar Ridwan yang menyulut emosi Edo dan Vandu.


“Brengsek...!!!” teriak Vandu segera berlari mendekati Ridwan.


“Lewati kami dulu...” kata 17 anak di tempat itu.


17 anak itu membagi jumlah mereka, Vandu melawan 12 orang anak dan Edo 5 orang anak. Seketika Vandu terdiam, melihat anak-anak yang selama ini diganggunya berdiri di hadpannnya, membuatnya tidak sampai hati memukul mereka.


Anak-anak itu terus maju, dengan bersenjatakan balok kaya dan besi. Vandu tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, seluruh tubuhnya terasa berat.


“Aku ingat kau sering memukulku” kata salah seorang anak dengan balok di tangannya.


“Aku juga ingat, kau sering meminta uang padaku” sambut seorang anak.


Menyesal memang, jika diingat kembali kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Jika waktu dapat diputar kembali, Vandu ingin memperbaiki semuanya, namun apa boleh buat nasi telah menjadi bubur dan mungkin inilah saatnya memperbaiki semua itu.


Satu kesalahan manusia saja, dapat mengalahkan berjuta kebaikan manusia itu di hadapan manusia lain. Apalagi ratusan kesalahan yang dibuat, mungkin pengorbananlah yang dapat menghapus kesalahan itu.


“Iya... aku memang bersalah, jika memang aku membuat hidup kalian sulit kemarilah dan hajarlah aku sesuka kalian” kata Vandu seolah pasrah.

__ADS_1


“Aku tidak ada niat untuk bertikai dengan kalian, tapi mulut anak itu membuatku muak... tidak ada seorang anak yang mau menerima ibu nya dibilang l****e oleh orang lain” jelas Vandu.


“Namun jika kalian memang ingin menghajarku, kemarilah” lanjutnya yang saat itu membuat suasana terasa berbeda.


“Iya... aku memang mebencinya, tapi kata-kata Ridwan itu tidak pantas” kata salah seorang anak.


“Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup dengan ketakutan ********...!!!” teriak seorang anak lainnya yang saat itu melayangkan balok ke kepala Vandu.


Seketika darah segar mengalir dari kepala Vandu, seketika itu juga semua mata tertuju ke arah Vandu. Edo yang melihat hal itu segera mendekat, namun Vandu mengangkat tangan kanannya, seolah memberi sebuah tanda agar Edo jangan mendekat.


“Aku pernah merasakan rasa takut yang sangat... aku mengerti keadaanmu...” kata Vandu dengan matanya seolah tertutup dengan darah yang mengalir dari kepala.


“Akhhh.... tidak mungkin, ka kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan brengsek...!!!” teriak anak yang tadi memukul kepala Vandu.


“...”


“Aku tidak menyalahkan siapa-siapa atas perbuatan kalian saat ini padaku, mungkin ini memang hukumanku” kata Vandu sembari memejamkan matanya.


“Brengsek....” teriak seorang anak lainnya sambil memukul Vandu berkali-kali di wajahnya dengan tangan.


Edo memegang tangan anak itu, melihat darah yang sudah membasahi wajah Vandu, membuat Edo tidak menghiraukan Vandu yang tadi menyuruhnya untuk tidak mendekat.


“Sudah cukup... dia sudah seperti ini, ini bukti permintaan maafnya pada kalian...” kata Edo.


“Tolong maafkan kami berdua jika kami memang melakukan salah pada kalian” kata Edo sambil menundukkan kepalanya.


“...”


“Sial... kalau begini, mana bisa kami menghajar kalian?” seru seorang anak.


“Jika dipikir kembali, buat apa aku membencimu Edo... apa karena seorang sahabatku mati pada saat kecelakaan itu dan kau masihbsaja hidup sampai saat ini?” jelas anak itu.


“Aku sangat berharap kau saja yang menggantikan sahabatku...!!!” teriak anak itu.


“...jika ingin memilih, aku setuju denganmu...” jawab Edo.

__ADS_1


“Hah?”


“Aku minta maaf untuk hal itu... tapi bukan aku yang memilih atau menyebabkan kecelakaan itu” jelas Edo.


“...”


"Bagi kami, hidup ini sangat berat dan kalian tidak akan tahu itu" jelas Edo.


“Dia juga, adalah korban dari keadaan... apakah kita dapat menyalahkannya?” tanya Edo sabil melihat ke arah Vandu yang saat itu masih tegap berdiri dengan darah membasahi wajahnya dam saat itu pula semua hanya bisa terdiam.


“Adakah yang bisa memposisikan diri mereka sebagai dia atau aku?” tanya Edo.


Mandengar hal itu, anak-anak itu hanya terdiam. Tidak ada yang mampu mengatakan sepata-katapun, mereka terlihat menyesali perbuatan mereka saat itu.


Ridwan seolah tahu ini akan terjadi, ia segera berdiri dari tempat duduknya.


“Membosankan, aku tahu ini akan terjadi, kalian para penakut idiot yang tidak bisa diandalkan” kata Ridwan sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Cukup untuk hari ini, ayo Jek kita kembali. Kalian... persiapkan diri kalian untuk pesta besar suatu hari nanti hehehehe” ancam Ridwan sambil berlalu pergi meninggalkan mereka.


“Aku terlalu yakin, kau memanfaatkan mereka untuk kepentingan dirimu sendiri... selama ini di sekolah, kau menghasut mereka untuk membenciku, itu semua karena kau selalu menjadi nomor 2 dan bukan nomor 1” jelas Edo.


“Iya, lalu kenapa?” tanya Ridwan sambil berbalik melihat ke arah Edo.


“...” Vandu berlari mendekat ke arah Ridwan, tidak ada suara yang keluar dan saat itu tinjunya hampir mengenai wajah Ridwan, untung saja Jek segerah menghentikan Vandu.


Seketika wajah Ridwan memucat, sejenak ia tidak bisa berkata apapun. Melihat Vandu dengan wajah yang dilumuri darah dan tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya, membuat tubuh ridwan bergetar.


“Sial si ******** ini beraninya... tunggu balasan dariku” kata Ridwan berusaha untuk tenang dan berlalu pergi.


Perseturuan mereka berhenti saat itu juga, Edo membawa Vandu ke klinik terdekat. Sementara itu, ke 17 siswa SMA Linggar berjanji untuk berdamai. Perdamaian itu seakan membuat lembaran baru, lembaran yang indah di masa sekolah.


Sekolah berjalan seperti biasa, banyak pertanyaan yang diajukan Fajri dan Andri, namun Edo dan Vandu tidak mengatakan hal sebenarnya.


Namun berita kekerasan yang terjadi saat itu, cepat tersebar di SMA Linggar, banyak siswa yang semakin lama semakin mengerti dengan keadaan Vandu dan Edo. Bahkan ada beberapa anak yang suka sekali menggosip, sesegera mungkin mencari informasi tentang mereka berdua.

__ADS_1


“Sial anak-anak brengsek itu... tunggu pembalasanku” kata Ridwan yang saat itu dikelilingi oleh orang-orang bayarannya.


__ADS_2