
Kota Tomohon, sebuah kota indah yang berada di Sulawesi Utara. Pagi ini di kota Tomohon, saat matahari baru terbit dan udara dingin yang bersih masih menghembus. Namun orang-orang di kota ini mulai menyebar dan melakukan aktivitas mereka masing-masing.
Di sebuah danau dengan pemandangan yang indah, sinar matahari yang hangat memancar dan melewati pepohonan di sekita danau, meninggalkan bekas cahaya di pemukaan air.
Di hari Minggu ini banyak muda-mudi bahkan orang dewasa melakukan kegiatan mereka di danau Lonow, sekedar untuk berjalan melihat pemandangan sekitar, berolah raga dan bahkan bercanda gurau dengan kerabat.
Edo dengan kedua sahabatnya hanya duduk di sebuah kursi panjang, kursi yang berada tepat di pinggir danau. Tidak ada beban yang terlihat dari wajah mereka, mereka seakan terlepas dari penatnya situasi sekolah.
Senyum serta tegur sapa para warga, menjadi satu nilai lebih di kota Tomohon, keramahan tanpa kemunafikan terpancar nyata dari setiap wajah para warganya. Bunga-bunga bersemi indah di bulan januari, wanginya semerbak dan menenangkan hati.
Kota Tomohon yang indah, dengan julukan yang sangat pas sebagai Kota Seribu Bunga, membuat Edo bersyukur terlahir di kota ini.
“Edo, apakah kau tidak ingin menyusul ayahmu ke Amerika?” tanya Hengkie kala itu.
“Tidak, aku suka di sini” jawab Edo sambil melempar-lemparkan kerikil kecil ke dalam danau.
“Jika ayahmu memaksa?” sambung Devi.
“Tetap aku tidak mau” jawab Edo yang masih melemparkan kerikil-kerikil kecil ke dalam danau.
Sebuah mobil Land Rover berhenti di sebuah rumah berpagar hitam, dari dalam mobil keluar sepasang suami istri yang kerennya maksimal. 😎
Mereka adalah om Santoni dan istrinya tante Stefani.
“Bebs, tunggu di sini aja yah, cuma sebentar kok” kata tante Stefani yang membawa banyak sekali bungkusan.
“Ok bebs, cepat yah, aku sudah lelah mau istirahat” kata om Santoni dengan tangan kiri bersandar di cup mobil.
“Sippp...” jawab tante Stefani yang berjalan memasuki halaman rumah Edo.
Pintu rumah yang terkunci membuat tante Stefani harus mengeluarkan kunci duplicat, di dalam rumah tante Stefani memperhatikan setiap ruangan, ruangan yang terlihat bersih, tidak sama seperti terakhir ia melihatnya.
Sementara om Santoni menunggu istrinya di dalam mobil, ia melihat Edo berbicara di depan pagar lalu segera masuk, om Santoni mengernyitkan dahinya, ia segera mebuka pintu mobil untuk menyusul Edo yang tealah masuk ke halaman rumah.
“Edo...” panggil om Santoni dengan kaca mata hitam terpasang di wajahnya.
“Eh Om... sudah lama om? Mana tante?” tanya Edo.
__ADS_1
“Tante ada di dalam, bawa oleh-oleh buat kamu” jawab om Santoni.
“Wahhh seharusnya om dan tante tidak usah repot-repot” kata Edo dengan senyum malu-malu.
“Ahhh... tidak apa-apa, om dan tante bingung mau habisin kemana uang-uang om, jadi beli banyak oleh-oleh buat keponakan om tercinta” jelas om Santoni dengan gaya cool nya.
Edo yang mendengar perkataan om Santoni tertawa kecil, om Santoni selalu membuatnya tertawa setiap kali bertemu, entah itu perkataannya atau tingkahnya, tidak dirasa kelucuan om Santoni jadi hal yang paling ditunggu Edo jika mereka bertemu.
“Oh yah, ngomong-ngomong kamu tadi bicara sama siapa?” tanya om Santoni sambil melepas kaca mata hitamnya.
“Dengan teman Om” jawab Edo enteng.
Om Santoni terlihat kaget, ia terkejut dengan jawaban keponakannya itu, belum sempat ia berbicara, terdengar suara dari arah belakang Edo.
“Eh eh eh... keponakan tante, dari mana?” tanya tante Stefani yang segera menghampiri Edo dan menciumnya.
“Dari danau tante, baru selesai olah raga” jawab Edo yang pipinya di sambar oleh pipi tante Stefani.
“Oh... itu tante bawakan beberapa cemilan” kata tante Stefani dengan senyum manisnya.
“Ahh iya iya” jawab om Santoni dengan wajah yang tidak biasa.
Dalam perjalanan, om Santoni masih memikirkan apa yang dia lihat dan apa yang ia dengar dari keponakannya itu, sesekali ia melihat wajah istrinya, ia tahu betul istrinya begitu sayang pada Edo, ia tidak ingin istrinya berfikir macam-macam tentangnya atau Edo. Tidak ada yang dapat dibicarakannya pada saat itu, sampai mereka tiba di rumah dan tidur untuk beristirahat.
Bunyi kendaraan terdengar di depan rumah Edo, sebuah motor matic dengan warna hitam terpakir di halaman rumah.
Jadwal Edo hari ini pergi ke Manado, ada sebuah pameran buku di sana, kali ini dia hanya sendiri saja tanpa Hengkie dan Devi. Setiap satu bulan sekali, ada sebuah pameran di kota Manado ibu kota dari Sulawesi Utara, pameran diselenggarakan disebuah mall yang dekat dengan pantai.
Pameran yang diselenggarakan setiap bulan sekali, bukan hanya buku saja, namun berfariasi, dari laptop, handphone, alat-alat bangunan dan masih banyak lagi.
Mall dipadati oleh banyak sekali orang, dari yang berbelanja, melihat-lihat atau bahkan hanya duduk dan berdiri disekitaran mall.
Pintu masuk mall terbuka dengan otomatis, dari awal masuk, Edo sudah terkesima dengan buku-buku yang berderet rapih di rak sebelah kiri, beberapa tulisan terpampang di atas rak, mulai dari Sastra, Fisika, Story dan lain sebagainya.
Dengan cepat Edo menghampiri rak sebelah kiri, pandangan matanya begitu tajam memperhatikan setiap buku diikuti bibirnya yang terus saja bergetar.
“Apei... Apei... Apei...” sebuah kata yang keluar dari mulut Edo yang terus melihat ke arah buku.
__ADS_1
“Apei... Apei... hmmm... kenapa tidak ada yah, apa mungkin di sana?” gumam Edo yang berbalik melihat rak sebelah kanan.
“Hmmm... tapi kan rak itu rak buku-buku memasak, tidak mungki ada di sana” Edo masih saja bergumam.
Saat itu Edo terdiam, dirinya dipenuhi dengan pertanyaan yang terus menakuti hatinya, “bagaimana kalau buku itu tidaka ada, bagaimana kalau buku itu sudah habis, percuma datang kemari jauh-jauh dan lain sebagainya”. Itu semua adalah pertanyaan yang mengganggu Edo saat itu.
Seorang laki-laki dengan kaca mata tebal, dengan umur berkisar 30 tahun terus memperhatikan Edo dari Rak sebelah kanan. Karena terlalu lama Edo berdiam, laki-laki itu segera mendekati Edo dan bertanya.
“Siang Ka, Kaka lagi cari buku yah?” tanya laki-laki itu.
“Ah iya Ka, apa di sini ada buku Apeirogon karya Colum McCann?” tanya Edo yang fasih menyebutkan nama buku itu.
“Ahhh buku Apei yang bercerita tentang persahabatan?” tanya laki-laki itu lagi.
“Iya benar, apakah ada?” Edo balik bertanya.
“Tentu saja, tunggu sebentar” kata laki-laki itu dengan sekejab berjalan ke arah belakang rak.
Tidak lama setelah itu, laki-laki itu kembali dengan buku berwarna abu-abu dengan corak seperti burung walet. Mata Edo segera terpaku dengan apa yang dibawa oleh laki-laki itu, terlukis kebahagiaan dari wajah Edo,
“Nah... ini dia” gumamnya dalam hati dengan terus memperhatikan buku yang ada digenggaman laki-laki yang ada dihadapannya.
“Ini Apeirogon Colum McCann” kata laki-laki itu yang langsung memberikan buku yang ia pegang kepada Edo.
“Benar ini bukunya, terima kasih banyak Ka” kata Edo yang telah menerima buku yang ia cari.
“Kaka salah, harusnya kalau Novel ada di belakang, ini kan rak Story dan bukan Novel” laki-laki itu coba menjelaskan.
“Maaf, saya tidak tahu Ka, jadi berapa harga bukunya?” tanya Edo sambil mengeluarkan dompet di dalam ranselnya.
“Harganya Rp#*%@ Ka” jawab laki-laki itu.
Edo segera membayar buku yang telah dibelinya, perjalanan yang cukup panjang membuat tenggorokannya terasa kering, kecemasannya kalau-kalau bukunya akan cepat habis membuatnya belum menenggak air minum sedikitpun.
Tempat beristirahat yang biasa ia datangi setiap bulannya ada di lantai atas, sebuah tempat yang menyajikan hidangan kecil dan aneka jus, Edo duduk disudut ruangan dan memesan satu gelas jus wortel dan sepiring french fries.
Dari arah pintu masuk, datang seorang gadis bersama dengan teman-temannya, gadis itu duduk disebuah meja dekat dengan pintu masuk, ia duduk membelakangi Edo kala itu. Aksesori gelang yang begitu banyak, menghiasi pergelangan tangan gadis itu. Gadis yang bertemu Edo di depan perpustakaan, gadis itu pula yang bertanding dengan SMA Linggar beberapa hari lalu.
__ADS_1