
Pagi itu, sinar matahari bersinar disebuah lorong rumah sakit, rumah sakit yang sama 3 tahun lalu. Terlihat langkah seorang wanita sedikit berlari, wajah wanita itu terlihat kesal dengan bibir yang terus bergetar.
“Handoko... Handoko... Handoko” nama itu terus digumamkan wanita itu.
Wanita itu terhenti di sebuah pintu, pintu berwarna coklat dengan motif bunga, seketika mulutnya berhenti menggumamkan nama Handoko. Wanita itu menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya, dibukanya pintu yang ada di hadapannya.
Wanita itu dihadapkan oleh seorang anak laki-laki, pandangan anak itu terlihat kosong namun menyadari kedatangan wanita itu.
“Edo kamu sudah bangun?” sapa wanita tadi dengan meletakkan barang bawaannya disebuah meja.
“Pagi tante, maafkan Edo selama ini merepotkan” jawab anak laki-laki tadi bernama Edo.
“Hei... hei... memang tante siapanya kamu, sehingga kamu berkata seperti itu?” kata wanita bernama Stefani itu.
“Kenapa kamu seperti ini Edo, kenapa kamu tidak menceritakan permasalanmu kepada tante selama ini?” tanya tante Stefani yang sudah duduk di sebuah kursi, kursi yang jaraknya hanya dua meter dari tempat Edo berbaring.
Edo terdiam, ia memalingkan wajahnya dari tante Stefani. Pikiran Edo bercampur aduk kala itu, terlalu baik wanita yang duduk tidak jauh darinya itu, melihat kecemasan di wajah wanita itu membuat Edo tidak enak, selama ini Edo berusah tidak membebani siapapun, “bukankah seorang laki-laki harus hidup tanpa mengeluh?” pikir Edo dalam hati.
“Hei... hei... kenapa kamu diam saja? Coba lihat tante” tegur tante Stefanli yang berdiri dan mendekati Edo.
Edo kembali memandang tante Stefani yang berdiri di sebelah kanannya, wajah yang terlalu lelah, wajah yang terlalu cemas dan wajah yang terlalu banyak bersedih, “tidak mungkin seorang sepertiku menambahkan beban kepada orang yang merawatnya selama ini” pikirnya dalam hati.
“Kamu terlalu banyak berpikir Edo, jangan kamu lihat wajah tante seperti ini, coba kamu lihat kesungguhan hati tante, tidak ada batasan yang dapat menghentikan sebuah ikatan kita. Berceritalah, berbagilah, bebahagialah, marah dan menagisla jika itu perlu, untuk apa seorang kerabat jika tidak dapat mendengar dan menerima segala kesedihan dan kebahagiaan saudaranya?” jelas tante Stefani yang terus menahan kesedihannya.
Kali ini tante Stefani melihat sesuatu yang baru, sebuah emosi yang tidak dapat dibendung oleh seorang anak laki laki berumur 16 tahun, sebuah asa yang terpendam selama 3 tahun lamanya. Air mata Edo begitu deras mengalir, namun tidak ada suara yang dikeluarkannya.
“Maafkan atas semua kesalahanku, aku hanya tidak ingin membebankan tante” kata Edo lirih,
Edo tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, kesediahan yang selama ini tidak diketahui oleh siapapun.
“Kali ini, menangislah bila itu perlu, kamu sudah besar Edo... berbagilah kepada siapapun yang kamu anggap layak” kata tante Stefani yang sedari tadi memeluk Edo.
Lepas dari perkataan yang keluar dari mulut tante Stefani, ia terus melihat sebuah pesan yang masuk pada handphonenya, sebuah pesan yang membuatnya begitu marah. Sebuah pesan permintaan maaf Handoko, pesan yang teramat singkat untuk dibaca dan teramat sulit untuk dimengerti. Bagaimana tidak, saat ini anaknya begitu terluka, luka itu sudah ada sejak lama, masakkan seorang ayah tidak mampu mengobatinya? Pikir tante Stefani.
“Edo tenang, Edo tidak akan sendiri, om dan tante sudah sepakat akan bawa Edo ke rumah tante, kita akan tinggal sama-sama” kata tante Stefani dengan senyum.
__ADS_1
“Tante maafkan Edo, soal ini Edo menolak, Edo masih menunggu ayah pulang... kenangan di rumah itu begitu banyak, sulit untuk Edo mejauh dari rumah itu” jelas Edo dengan tangan mengusap pipinya.
“Hmm... nanti kalau ada apa-apa gimana?” tanya tante Stefani cemas.
“Tenang saja, mulai saat ini semuanya akan menjadi baru” jawab Edo sedikit tersenyum.
“Benarkah itu?” lanjut tanya tante Stefani dengan nada sedikit jail.
“Iya iya... aku berjanji” jawab Edo dengan senyum.
Di ruangan rumah sakit itu, seorang anak mencoba kembali pada sebuah kenyataan, sebuah kebenaran dan bukan lagi sebuah imajenasi yang dia ciptakan bertahun-tahun, senyum anak itu nyata, tawanya juga nyata, tidak seperti beberapa hari lalu semuanya hanya rekayasanya saja.
“Tante bawa handphoneku?” tanya Edo mulai teringat satu hal.
“Ada di tas tante, sebentar tante ambilkan” jawab tante Stefani dan segera membuka tasnya yang ada di atas meja.
“Ini handphone kamu” kata tante Stefani yang segera memberikan handphone Edo.
“Hmmmm... di sini cuma ada 5 kontak saja, jadi nama anak itu pasti ada di kontak handphoneku” kata Edo dalam hatinya.
“Lho... harusnya ada, tapi kemana... apakah tidak disimpan olehnya?” kata Edo dalam hati.
“Kamu cari apa?” tanya tante Stefani yang melihat wajah Edo dengan dahi yang mengkerut.
“Ahhh ini tante, harusnya ada 1 nama yang ada di kontak aku ini, tapi kenapa tidak ada yah?” tanya Edo cemas.
“Mungkin tidak di save” jawab tante Stefani.
“Mungkin seperti itu, padahal penting sekali...” kata Edo yang sudah melepas handphone di meja.
“Tante, aku mau keluar dari sini, aku sudah baikan” kata Edo pasti.
“Tangan kamu masih harus diperiksa, kamu harus di sini dulu” tegas tante Stefani.
“Tapi tante...” perkataan Edo terhenti karena langsung dipotong tante Stefani.
__ADS_1
“Tidak ada tapi-tapian... pokoknya sembuhkan dulu tangan kamu” kata tante Stefani yang mulai memakai tas Hermesnya.
“Baiklah....” jawab Edo dengan sedikit menunduk.
“Sembuhkan dulu tangan kamu, baru lakukan apa yang kamu mau” kata tante Stefani.
“Tante pulang dulu, nanti siang jam 1, tante balik lagi... minum obat kamu dan makanlah itu” lanjut kata tante Stefani yang sudah meletakkan makanan di meja.
“Terima kasih banyak tante... aku tidak tahu seperti apa aku bila tidak ada tante” kata Edo dengan senyum yang lepas melihat tantenya.
Dengan senyum tante Stefani meninggalkan ruangan itu, tidak ada hal yang menyenangkan kecuali melihat senyum dari keponakannya saat ini. Sementara dalam ruangan yang ditinggalkannya, Edo masih terus berpikir kemana kontak yang diberikan oleh wanita itu, masalahnya juga nama wanita itu sudah dilupakannya.
“SMA Binsus, jawabannya ada di sana” gumamnya dengan terus melihat layar handphonenya.
“Hengkie, Devie dimana kalian?” Edo terus bergumam.
Disebuah kantin sekolah, seorang gadis terus saja melihat layar handphone, gadis itu seolah menunggu dihubungi seseorang. Setiap handphonenya berbunyi segera dilihatnya, namun seseorang yang berbicara dan mengirimnya pesan, bukanlah orang yang ditunggunya.
“Hei Mira, sedang apa kau sendiri di sini?” tanya seorang gadis berkaca mata.
“Tidak apa-apa, hari ini menyebalkan sekali” gadis yang bernama Mira itu menggerutu.
“Ahahaha, apakah kau dibuat kesal oleh laki-laki kemarin?” tanya gadis berkaca mata tadi.
“...”
“Hmmm... kau diam saja, berarti itu benar hahahaha” gadis itu terus berbicara.
“Sudalah Rinta, bisakah kau jangan mengganggu aku?” tanya Mira serius.
“Oh... baiklah, aku akan pergi dari sini, hehehe” kata gadis bernama Rinta sembari berlalu dari hadapan Mira.
Mira kembali memikirkan Edo, tangan kanannya meremas handphone yang dipegangnya, wajahnya terlihat sangat kesal membayangkan wajah Edo.
“Anak itu, tidak punya hatikah dia?” gumam Mira.
__ADS_1
“Aku merindukan canda-tawa kalian, sungguh...” kembali Mira bergumam dengan membayangkan kedua temannya Hengkie dan Devi, wajahnya teramat sedih kala itu.