
Vandu, adalah seorang anak broken home. Ibu dan ayahnya bercerai karena ayahnya memiliki simpanan. Kebenciannya pada kedua ayahnya sudah menjadi akar sehingga, Vandu sering sekali menganggu anak-anak lain untuk melampiaskan kekesalannya.
Nilai akademik Vandu tergolong biasa saja, namun ia sempat berhenti 1 tahun karena harus membantu ibunya berjualan, kecelakaan yang menewaskan banyak siswa SMA Linggar, membuat sekolah itu memberikan satu kebijakan. Kebijakan itu adalah menerima 45 siswa yang mempunyai nilai rata-rata kelulusan, dibawah nilai rata rata yang sudah ditentukan sekolah Linggar.
“Kenapa kau tidak membuat SIM?” tanya Vandu yang matanya focus melihat jalan.
“Ahhh... aku tidak punya waktu” jawab Edo singkat.
“Hm... nanti jika ada kesempatan, akan aku antarkan kau” kata Vandu.
“...hmmm terima kasih”
Rumah sakit Medika Cipta, berdiri tegap di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Tidak ada kesan mengerikan di rumah sakit itu, para perawat terlihat sedang sibuk mengerjakan apa yang harus mereka kerjakan.
“Baiklah kita sudah sampai, aku akan ke ruangan dimana adikku dirawat, jika nanti kau sudah selesai, kau duluan saja dan tidak usah menungguku” kata Vandu seraya memarkir kendaraannya.
“Tidak, kita pulang sama-sama, jika kau sudah selesai dengan urusanmu tunggulah akau, begitupun sebaliknya” kata Edo waktu itu.
“Ahhh... aku rasa aku akan berlama di tempat ini, tidak enak jika kau harus menungguku begitu lama” jelas Vandu.
“Tidak masalah, lagipula kitakan teman...” jawab Edo dengan senyum di wajahnya.
“...”
Kata-kata itu, sebuah perkataan yang dirasa sangat tulus keluar dari mulut seorang anak laki-laki, anak laki-laki yang selama ini menjadi musuhnya, bila ingin jujur, dalam hati Vandu begitu sangat bahagia mendengar ucapan Edo kala itu.
“Apakah kita berteman?” tanya Vandu dengan kepala yang menunduk.
“Tentu saja, waktu yang kita lewati bersama saat ini bukanya sangat berharga, lagipula kita satu sekolah” jelas Edo dengan memegang pundak Vandu.
“...”
“Kenapa kau diam seperti itu?” tanya Edo yang melihat wajah Vandu yang terus menunduk.
“Ahhh tidak apa-apa, baiklah... aku akan berusaha tidak membuatmu lama menunggu” jawab Vandu yang saat itu bergegas pergi dari hadapan Edo.
“Anak itu... kenapa perasaanku sangat bahagia yah... apakah begini persrahabatan sebenarnya?” gumam Vandu dalam hatinya yang tanpa disadarinya, ia terus tersenyum saat itu.
__ADS_1
Ditempat lain, om Santoni sangat sibuk saat ini. Para pelanggan memenuhi rumah makan miliknya, kebahagiaan terlihat dari wajah para pelanggan, libur yang menyenangkan mereka rasakan. Terlihat dari kejauhan, sebuah mobil sedan berwarna hitam mendekat, dari dalam mobil tersebut, turun seorang wanita cantik dengan rambut berwarna merah.
“Astaga wanita itu, dari dulu sampai sekarang tidak bisa membedakan waktu bekerja dan waktu bersantai” gumam om Santoni yang melihat istrinya Stefani dengan pakaian yang modis abis.
“Hai bebs... aku tahu kamu begitu sibuk, aku datang kemari untuk membantumu” sapa tante Stefani dengan senyum menawannya.
“Sudah aku bilang, kalau datang kemari jangan berpakaian seperti ini...” gerutu om Santoni yang kesal melihat pakaian istrinya.
“Lho... memang kenapa?” tanta tante Stefani.
“Kau lihat mata laki-laki di tempat ini” kata om Santoni sembari berlalu pergi ke arah dapur.
“hiiiii.... dasar laki-laki...” gerutu tante Stefani saat melihat wajah-wajah mesum para lelaki yang ada di rumah makan miliknya.
Tante Stefani segera mengganti pakaiannya, tidak berapa lama, beberap seorang wanita datang ke tempat itu, wajah wanita itu terlihat sangat tidak asing bagi Stefani, ia mencoba mendekat untuk memastikan orang yang berada dihadapannya adalah orang yang ia kenal.
“Ibu Desti?” tanya tante Stefani saat itu.
“...”
“Ini aku, Stefani” kata tante Stefani meyakinkan wanita itu karena terlihat bingung.
“Ibu Desty, bukanya ibu sudah tinggal di jakarta saat ini?” tanya tante Stefani.
“Dan...mana anak-anak? Aku merindukan mereka” kembali tante Stefani bertanya.
“....”
“Ada apa bu, kenapa wajah ibu seperti itu?” tanya tante Stefani yang melihat kesedihan dari wajah wanita itu.
“...sudah sangat lama, hampir tiga tahun mereka tidak sadarkan diri” wanita itu begitu lirih dalam berucap, kesedihannya seolah teramat dalam.
“Ibu kenapa?” tante Stefani terus bertanya, ia begitu cemas melihat kesedihan yang terpancar dari wajah wanita itu.
Dengan kesedihan, wanita itu menceritakan musibah yang dialami oleh kedua anaknya, musibah yang tiga tahun lalu hampir merenggut nyawa Edo.
“Ibu... Edo juga mengalami kecelakaan yang sama waktu itu” kata tante Stefani yang kaget mendengar cerita wanita itu.
__ADS_1
“Apa!? bagaimana keadaannya saat ini?” tanya wanita itu.
Tante Stefani segera meneceritakan semuanya tentang Edo, hingga sampai imajenasi yang Edo buat. Kedua wanita itu terus bercerita tanpa henti, mereka berpikir musibah yang mereka alami sangatlah sama.
“Apakah Edo mengetahui Devi dan Hengkie masih hidup? Karena selama ini aku tidak pernah melihat ia datang ke rumah sakit” jelas wanita itu.
“Aku tidak begitu yakin, selama ini ia menghindari bukit itu...” jelas tante Stefani.
“Mereka bersahabat dari kecil, mereka memintaku untuk menyekolahkan mereka di kota ini, Hengkie dan Devi sangat tekun belajar untuk bisa masuk ke sekolah Linggar. Edo anak yang baik, aku sudah tahu bahwa anak anakku ingin bersekolah ditempat ini karena Edo, waktu kecil, Devi sering bercerita bahwa Edo begitu sangat kesepian, sehingga terkadang Edo selalu menginap di rumah kami. Aku tidak menyalakan Edo atas musibah ini, justru aku berterima kasih sekali kepadanya, waktu itu aku sempat mendengar obrolan mereka di kamar Hengkie, katanya “kalian beruntung sekali memiliki ibu, jika ibuku masih ada, aku akan membahagiakan dia bagiamanapun caranya”, dari situ kedua anakku sangat memperdulikan aku, mereka seolah menyadari bahwa betapa pentingnya orang yang mereka sayangi. Selama ini, nilai studi mereka makin baik, apalagi cita-cita Devi yang ingin menjadi seorang dokter, itu juga karena Edo... anak itu...” jelas wanita bernama Desti itu panjang lebar.
“...aku akan membuatnya datang ke rumah sakit untuk melihat anak-anak ibu” kata tante Stefani sambil memegang tangan wanita itu.
“Tunggu sebentar” pinta tante Stefani yang segera mengeluarkan phoneselnya.
“....”
“Hallo... Edo kau dimana?” tanya tante Stefani.
“Apa di rumah sakit!!??? Apakah kau masuk rumah sakit lagi!? Kenapa!?” tanya tante Stefani cemas.
“Apa rumah sakit
Medika Cipta?” ucap tante Stefani dibarengi wajah wanita bernama Desi yang saat
itu terkejut.
“Baiklah tunggu di
sana” kata tante Stefani sambil menutup panggilan telphonenya.
“Aku tidak tahu, tapi... Edo ada di rumah sakit tempat Hengkie dan Devi di rawat, mari kita kesana” lanjut tante Stefani memberi tahu wanita itu.
“...baiklah” jawab wanita itu.
Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu, om Santoni yang kala itu sedang sibuk segera menggaruk-garuk kepalanya, ia melihat istrinya yang berlalu meninggalkannya tanpa satu katapun.
“Wanita itu, bukanya hari ini dia berjanji akan membantuku di sini” gumam om Santoni dengan wajah lesu.
__ADS_1
Sementara itu di rumah sakit, Edo sudah bertemu dengan Mira. Mira terlihat sangat marah waktu itu, tidak ada yang dapat Edo lakukan selain terus berjalan menghampiri Mira. Edo tahu sekali, bahwa wajar bila Mira memandangnya seperti itu, ia merasa bahwa ia pantas mendapatkan itu. Namun, untuk satu hal, Edo sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada.
“Laki-laki brengsek...!!!” ucapan yang keluar dari mulut Mira yang saat itu mengawali pertemuannya dengan Edo.