Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku

Perjanjian Dengan Kedua Sahabatku
Episode 21


__ADS_3

Toilet sekolah yang bersih di SMP Negeri 1945, Hengkie membasuh wajahnya dengan air, ia memandang kaca yang terpajang dihadapannya. Pikirnya, setiap memar yang baru tercipta adalah sebuah tanda kehebatan dari seorang laki-laki.


“Anak-anak SMP kelas 2 yah hehehehe” gumamnya dengan senyum menghiasi wajahnya.


Sementara di kantin sekolah, Devi sudah bertemu dengan Mira, mereka asik mengobrol dengan sesekali menenggak minuman bersoda yang mereka beli di kantin.


“Kekasih? Hahahaha aku sama sekali belum pernah memilikinya” sebuah kalimat yang keluar dari mulut Devi.


“Serius seperti itu?? Kalau begitu aku sama denganmu” balas Mira dengan wajah polosnya.


“Hmmm... aku rasa memang belum saatnya memikirkan itu” sahut Devi yang melirik ke kiri dan kanan.


“Aku setuju, kita masih kelas 1 SMP” tegas Mira.


Mata Devi terus memperhatikan kiri dan kanan, ia seolah mencari keberadaan saudaranya Hengkie. Namun, setiap mata yang berada di kantin tertuju ke arah mereka, dari perempuan sampai laki-laki. Mata mereka seakan terbius dengan pesona kecantikan milik Devi dan Mira, yang satu terlihat seperti wanita yang anggun dan satunya wanita tomboy mempesona.


“Gila, anak-anak baru itu cantik sekali” kata seorang anak laki-laki dari kejauhan.


“Sekolah kita mempunyai siswa seperti mereka? Aku tidak percaya” sahut anak laki-laki lainnya.


Devi dan Mira menyadari setiap mata yang memperhatikan mereka, terasa risih memang. Namun, ini adalah awal yang baik untuk mereka, awal yang baik untuk bersahabat dengan siswa-siswa lainnya, entah itu junior ataupun senior.


“Apakah kau merasa risih dengan mereka?” tanya Mira sembari menyedot minumannya.


“Ahhh tidak sama sekali, biarkanlah mereka” jawab Devi dengan entengnya.


“Hmmm... sepertinya ada seorang yang kamu tunggu, apakah itu saudara kembarmu?” tanya Mira coba menerka.


“Iya, kenapa aku belum melihatnya, aku sedikit khawatir dengannya” jawab Devi yang tiba-tiba teringat kembali kejadian kemarin sore.


Sepuluh menit berlalu, minuman milik mereka hanya tinggal setengah. Dari kejauhan, Hengkie melihat kedua wanita yang berada di tengah-tengah kantin, salah satu wanita yang


dilihatnya berada di sana membuat hatinya berdegup kencang.


“Ohhh Tuhan, dia ada di sana” gumam Hengkie yang memegang dadanya seolah menahan laju jantung yang berdetak.


“Itu dia, hoi....!!!” teriak Devi dari kejauhan serta melambaikan tangan.


Seluruh siswa melihat Devi kala itu, saat itu juga mereka melihat Hengkie yang berjalan menghampiriDevi dan Mira.


“Gila, itu siapa?? Badannya besar sekali” kata seorang anak.


“Itu anak SMP atau SMA yah?” tanya seorang kepada yang lainnya.


“Maaf... maaf aku terlambat” kata Hengkie yang segera duduk di samping kiri Devi.


Devi coba memperhatikan saudaranya itu, namun Hengkie coba menghindari tatapan


saudarinya, semakin Hengkie menghindar, semakin giat pula Devi memperhatikannya.

__ADS_1


“Gorila, waja kamu kenapa seperti itu?” tanya Devi dengan tatapan kesal.


“Hehehehe aku terjatuh” jawab Hengkie dengan menggaruk-garuk kepalanya.


“Jangan kau bohongi aku, cepat jawab apa yang terjadi dengan wajah jelekmu itu?” tanya Devi lagi.


“Sial, didepan seorang wanita cantik masakan aku harus mengatakan bahwa aku dihajar oleh seseorang?” kata Hengkie dalam hati namun wajahnya tetap tersenyum.


“....kau menang atau kalah?” colek devi dengan suara pelan dan tatapan sinisnya.


“Jangan bilang kau kalah...” tegas Devi dengan masih suara yang pelan.


“Enak saja, pukulan mereka tidak ada apa-apanya...” jawab Hengkie sombong.


“Baguslah... hahahaha begitulah jika menjadi saudara kembarku” kata Devi dengan memukul-mukul pundak Hengkie.


Mira yang melihat Hengkie dengan memar di wajah terdiam, Mira begitu terpesona dengan Hengkie yang ternyata adalah type lelaki yang selama ini dia inginkan.


“Ohh my God... keren banget ini anak, lukanya, tampangnya, postur tubuhnya dan tatapan matanya... membaut hatiku berdebar” hati Mira berbicara.


“Oh yah Gorila, ini Mira sahabat baru aku, dia yang tadi malam berkunjung ke rumah kita, Mira ini saudaraku Hengkie, Hengkie ini Mira sahabatku” jelas Devi coba memperkenalkan mereka berdua.


“Hai Hengkie...” sapa Mira dengan sedikit melambaikan tangan, terasa berat mengucapkan kata demi kata namun harus dilakukan agar tidak terlihat nervous.


“Ha.. hai ju.. juga Mira” jawab Hengkie dengan suaranya bergetar mengikuti irama jantung yang berdetak.


“Jangan grogi kau Gorila hahahahaha” kata Devi memukul pundak Hengkie sambil tertawa.


dengan sinar matahari yang sangat menusuk pori-pori.


“Badanku terasa lengket semua, aku ingin cepat-cepat pulang...” kata Mira kesal.


“Mau aku belikan minuman untukmu?” kata Hengkie yang sudah mulai tidak canggung.


“What??? Keren banget laki-laki ini oh my God...” kembali hati Mira berbicara, wajahnya terlihat sangat terkejut melihat Hengkie yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


“Kenapa harus di tanya? Di kantin ada Vending Machine, belikan soda untuk kami” kata Devi sambil memegang kipas miliknya.


“Tunggu di sini yah” kata Hengkie dengan pandangan matanya tepat menusuk jantung Mira.


“Oh No.... Ya ampun... sepertinya aku akan meleleh” hati Mira berkata, pandangan mata yang sangat mempesona, sangat memikat, terlihat seperti laki-laki sejati.


“Kami menunggumu di gerbang sekolah yah” teriak Devi kepada Hengkie yang sudah berlari.


Hengkie berlari menuju kantin sekolah, wajahnya bersinar bagai sunset di sore hari. Kantin sore hari, adalah tempat bagi para siswa-siswa yang bolos mata pelajaran terakhir, gerombolan anak yang siang tadi, terlihat sedang asik duduk di belakang kantin.


Seorang dengan badan yang cukup besar sedang asik menghisap rokok, kedua


pundakanya terlihat sedang di pijat oleh anak botak yang bernama Rudi.

__ADS_1


“Nah... baru dibicarakan, sudah datang dia...” kata anak botak bernama Rudi.


“Ini anaknya?” tanya anak besar itu dengan pandangan merendahkan.


“Iya boss Danu, dia anaknya” jawab Rudi.


“Hadeh... hadeh.... hadeh... anak seperti ini tidak bisa kalian atasi?” kata anak yang bernama Danu itu, pandangannya terus merendahkan, rokok yang menempel di bibirnya terlihat mirip dengan brandal-brandal kecil ala film-film Jepang.


Danu mendekati Hengkie dengan tenang, jalannya begitu pelan dengan memberikan intimidasi berupa mata yang terus merendahkan. Suara anak-anak yang kira-kira berjumlah 8 orang, terus membakar emosi Danu kala itu.


“Siapa namamu?” tanya Danu dengan rokok masih menempel di bibirnya.


"..."


“Hmmm tidak mau jawab yah?” sambungnya.


“Sekali lagi siapa namamu?” tanya Danu dengan memandang tangannya yang sudah mengepal dan ditiup-tiup seperti pistol yang baru mengeluarkan peluru. (sekali lagi rokoknya masih menempel di bibirnya... gak panas apa itu yah gaesss???).


“....” Hengkie hanya berdiam saja.


“Kau meremehkan aku yah!!??” teriak Danu yang segera melayangkan pukulannya ke arah Hengkie.


Pukulan tersebut tepat mengenai wajah Hengkie, pukulan yang dapat merobohkan anak SMP kelas 1. Tapi Hengkie masih terus berdiri, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, untuk hari ini sudah dua orang yang memukulnya dan untuk hari ini juga pembalasan harus dilakukan.


“Hei... seperti inikah sebuah pukulan?” tanya Hengkie yang tersenyum dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Senyum yang sangat menakutkan, jika senyum itu muncul di wajah Hengkie Edo selalu dapat menenangkannya, tapi untuk saat ini, tidak ada yang dapat mengontrol amarah dari seorang anak laki-laki bernama Hengkie.


“Kau mau mecoba pukulan milikku? Aku tidak perlu meniupnya untuk terlihat kuat... mau coba?” tanya Hengkie yang sudah mengepalkan tangan kanannya.


“Habisi dia Danu, itu hanya gertakannya saja” teriak Rudi.


“Sialan kau brengsek...!!” teriak Danu yang melayangkan beberapa pukulan ke arah Hengkie dan selalu tepat mengenai wajah Hengkie.


“Hehehehe tidak sakit sama sekali, gantian yah...” kata Hengkie yang tiba-tiba melepaskan satu pukulannya tepat di wajah Danu.


Seketika Danu terjatuh, rokoknya terlepas dari bibirnya, tidak ada warna hitam pada bola


matanya. Darahnya begitu deras keluar dari mulut dan hidungnya. Hengkie mendekati Danu dengan teramat marah, kekesalan yang dia rasakan dan kesenangan yang ditemukannya membuat ia tidak sadar dengan apa yang akan dilakukannya.


“Kau tahu... sahabatku lebih baik darimu” kata Hengkie dengan menjambak rambut Danu.


Semua yang ada ditempat itu berlari ketakutan, mereka seakan melihat monster yang sesungguhnya, kekejian dan kekejaman dari seorang anak kelas 1 SMP, kekejaman


yang baru mereka lihat selama mereka hidup.


“Hei Gorila... hentikan... pantas saja kau begitu lama... aku dan Mira terlalu lama menunggumu...!!!” teriak Devi yang sesaat menghentikan kemarahan Hengkie.


“Oh Tuhan maafkan aku...” teriak Hengkie yang saat itu langsung berlari menuju Vending Machine yang berada di tengah kantin.

__ADS_1


Mira yang melihat seorang anak yang tidak sadarkan diri, serta Hengkie dengan wajah memar semakin membuat hatinya takjub dengan Hengkie, menurutnya Hengkie adalah seorang anak yang sangat keren saat itu.


__ADS_2