
Waktu menunjukkan 22.00 malam, gadis dengan rambut panjang terlihat terus memandangi layar phonesel genggamnya. Cemas, takut dan kecewa terlihat dari mimik mukanya, Hengkie berusaha untuk menghibur saudarinya itu, ia duduk disebelah gadis itu dengan kopi di tangan kanannya.
“Penyihir... ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Hengkie dengan nada menggoda.
“Kau tidak usah menggangguku, sanah main game saja” jawab Devi jutek.
“Hahahaha, kau mencemaskan Edo? Itu terlihat dari wajah jelekmu itu” kata Hengkie sedikit menggoda saudarinya itu.
“...”
“Aku tidak tahu ada apa dengan dia, positiv saja, mungkin HP nya di curi atau dia sedang sibuk mengerjakan sesuatu” Hengkie coba menjelaskan.
“Tapi sudah mau lima hari, ini sangat tidak biasa” jawab Devi.
“Kau ingat dua bulan lalu? Bukanya dia sempat menghilang selama 1 minggu?” kata Hengkie yang kala itu menyeruput kopinya.
“...”
“Sudalah... toh satu tahun lagi kita akan bertemu dengan dia, aku sudah katakan kepada ibu dan ayah untuk kembali ke Tomohon dan bersekolah di sana, ayah sudah bicara dengan tante Nufus untuk mencarikan kita rumah, rumah yang akan kita tempati selama bersekolah di sana” jelas Hengkie tenang.
“Anak itu, jika dia melupakan kita akan aku hajar dia” kata Devi kesal.
“Hehehe... apakah kau tega memukulnya? Bukanya kau mencintainya?” kata Hengkie menjaili saudarinya itu, sontak wajah Devi memerah dan segera memukul wajah Hengkie, kopi yang baru diseruput Hengkie segera keluar dari mulutnya.
“Akh panas... kau sinting yah...!!!???” teriak Hengkie kesal.
“Kau yang sinting, seenaknya bicara seperti itu...!!!” suara Devi meninggi.
“Memang itu kenyataannya kan...!?” teriak Hengkie kesal.
“Kenyataan yang kau buat sendiri...!!!” Devi tidak mau kalah.
Perkelahian seperti itu sering terjadi, bahkan hampir setiap hari. Namun pertengkaran itu tidak membuat keduanya saling membenci, justru kebersamaan mereka berdua semakin terasa, bukankah rumah itu akan terasa sepi tanpa pertengkaran mereka?
Disebuah kamar dengan dinding dipenuhi poster bintang NBA, seorang gadis sibuk memandang layar laptopnya, layar itu menampilkan kumpulan nama seorang anak laki-laki. Edo, nama itu ada disebuah mesin pencarian Google.
“Aku tidak percaya, ada anak yang tidak menggunakan Facebook, Instagram, Twiter dan bahkan Email, anak macam apa dia itu” gumam gadis itu dalam hati.
Teringat kembali wajah sahabatnya Devi, wajah yang teramat cemas pada saat perjalanan pulang dari kedai malam ini. Edo Nugroho Kasenda, sebuah nama yang terus diketik pada keyboard laptop milik gadis itu.
“Aku sangat penasaran dengan anak ini” gumam gadis itu dalam hatinya.
Pencarian di mesin Google tidak membuahkan hasil, nama itu tidak muncul sama sekali, jika mecari nama Edo begitu banyak, namun wajah mereka tidak seperti yang diperlihatkan Devi waktu itu. Hari semakin larut, gadis itu segera mematikan laptop miliknya dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
-----
Pagi yang indah di komplek Devi dan Mira tinggal, hari ini adalah hari Minggu, banyak sekali remaja sampai pada lansia tidak mau melewatkan sinar matahari pagi itu.
__ADS_1
“Hei kalian lama sekali...” tegur Mira yang sudah lama menunggu Devi dan Hengkie.
“Maafkan aku Mira, Hengkie sulit sekali untuk dibangunkan... dia main game sampai jam 1 subuh...” Devi coba menjelaskan.
Hengkie dengan mata yang masih mengantuk, tidak dapat berkata apa-apa. Padahal, yang membuat kegiatan jalan pagi di hari Minggu adalah Hengkie sendiri. Namun begitu, Mira sangat mengagumi Hengkie, apapun keadaan Hengkie. Bagi Mira, Hengkie selalu terlihat keren.
Keramahan penduduk komplek tempat mereka tinggal, tidak jauh berbeda dengan kota Tomohon, tegur dan sapa selalu dilakukan setiap bertemu dengan orang lain, keberagaman memang jadi ciri has dari ibu kota Indonesia ini, banyak sekali pendatang dari berbagai suku namun selalu menghormati segala perbedaan, suatu kebanggaan menjadi masyarakat Indonesia, masyarakat yang sudah terkenal ramah sampai ke penjuru dunia.
“Devi, bisakah kau menemaniku hari ini?” tanya Mira yang kala itu beristirahat di sebuah taman.
“Hari ini aku tidak bisa, ibu mengajakku menemui saudaranya di Bekasi” jawab Devi.
“Jadi begitu... baiklah tidak apa-apa” kata Mira sembari tersenyum.
“Hmmmm... mungkin Hengkie mau menemanimu” kat Devi diikuti pipi Mira yang memerah.
“God... God... God... aku dan Hengkie? Bersama-sama? Apakah ini mimpi?” hati Devi seakan mejerit penuh pertanyaan.
“Ada apa, apa kamu tidak mau?” tanya Devi serius.
“Bu bu bukan begitu, memang dia tidak ikut denganmu?” tanya Mira kaku.
“Gorila, apakah kamu mau menemani Mira hari ini!?” Devi sedikit berteriak, karena Hengkie duduk agak jauh dari tempatnya berdiri.
Melihat keadaan Hengkie kala itu, membuat Mira sedikit ragu akan kesediaan Hengkie untuk menemaninya, sesekali Mira melakukan pemanasan (senam-senam kecil gitu gaesss) agar tidak terlihat kaku.
“Kenapa penyihir?” tanya Hengkie dengan wajah lesunya.
“...kelihatannya kau masih mengantuk, yasudah tidak jadi kalau begitu” Mira coba membuat Hengkie penasaran.
“Oh... baiklah kalau begitu” jawab Hengkie lesu dan kembali berjalan menjauhi mereka.
“Dasar Gorila pemalas...!!!” teriak Devi yang saat itu melempar sepatunya ke arah Hengkie.
Bbbbuuukkk....!!!!
Suara yang tidak begitu nyaring, tapi sangat tidak enak di dengar, suara yang ditimbulkan antara kepala batunya Hengkie dan sepatu bauknya Devi. (pemandangan yang tidak boleh di tiru yah gaesss)
“Penyihir... mau kamu apa sih!!???” teriak Hengkie yang tiba-tiba berlari mendekat.
Mira saat itu masih berpura-pura melakukan senam, pertengkaran seperti ini sudah sering dilihatnya. Tiada hari tanpa bertengkar, sehingga Mira sudah menyediakan earphone untuk meminimalis suara pertengkaran kedua sahabatnya itu.
Cukup lama pertengkaran mereka belangsung, seperti tidak ada yang mau mengalah, sampai pada akhirnya rasa kesal Hengkie hilang karena satu ucapan Devi, ucapan yang mampu mengubah api menjadi air.
“Apa!? Menemani Mira!?” Hengkie seolah terkejut.
“Ya... kalau kamu tidak mau, aku suruh Rudi atau Danu yang akan menemaninya” jawab Devi sedikit jutek.
__ADS_1
“Akan kupecat kau jadi saudari kembarku” kata Hengkie sombong, Hengkie seolah tidak terima jika Rudi atau Danu mengambil alih tugas mulia itu.
“Karena itu, apakah kau mau menemaninya?” tanya Devi memastikan.
“Dengan senang hati dunia akhirat...!!!” tegas Hengkie yang tiba-tiba sudah tidak lesu lagi.
“Mantap... oi Mira...!!!” panggil Devi yang kala itu posisi Mira membelakanginya.
Mira pura-pura tidak mendengar, dia semakin gugup saat itu, wajahnya tiba-tiba pucat, senam yang dilakukannya terlihat kacau dan aneh, pikirnya “apakah Hengkie mau? Apakah Hengkie tidak mau? Kalau mau bagaimana? Kalau mau, bukankah nanti hanya mereka berdua saja?” pertanyaan itu terus membanjiri otak Mira.
“Haishhhh susah sekali dipanggil” gerutu Devi yang terpaksa berjalan mendekati Mira.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Devi dengan menepuk bahu Mira.
“Eehhh... a a aku se se sedang senam?” jawab Mira gugup.
“Senam? Aneh sekali gerakan senammu itu” ucap Devi dengan wajah penuh tanya.
“I i ini se senam te terbaru” Mira coba meyakinkan.
“....” wajah Devi terlihat curiga.
“Apa?” tanya Mira yang sudah pucat, Ia begitu cemas dan takut kalau-kalau Devi sudah mulai tahu akan perasaannya pada Hengkie.
“Kamu menyukai Gorila itu!?” kata Devi seakan tidak percaya, tangannya menunjuk ke arah Hengkie yang saat itu memasang wajah bodoh.
“Bu bu bukan seperti itu...” Mira coba mengelak namun tanpa sadar keringatnya sudah deras membasahi tubuh.
“Kalian membicarakan aku?” tanya Hengkie yang tiba-tiba sudah berada di belakang Devi.
“Aaaaaakkhhhhh.....!!!” Mira berteriak begitu keras, ia sangat terkejut melihat Hengkie yang sudah berada di hadapannya.
"Apakah ia mendengar apa yang baru dikatakan Devi?!" tanyanya dalam hati.
“....ya ya ya... ehem ehem... jadi bagaimana? Apakah kau mau menemani Mira hari ini?” kembali Devi bertanya kepada Hengkie.
“Tentu saja...” jawab Hengkie yang tidak bisa menyimpan rasa bahagianya.
“Hmmm hehehehehe” senyum jahat Devi yang kala itu melirik ke arah Mira.
“Habislah aku...” keluh Mira dalam hatinya.
“Kau tenang saja, ini rahasia antara aku dan kamu... rahasia wanita hehehe” bisik Devi ke telinga Mira.
“Benarkah?” wajah Mira kembali berseri memandang sahabatnya itu.
“Hu um... tentu saja” jawab Devi dengan memasang jari kelingkingnya, tanda sebuah perjanjian antara kedua sahabat.
__ADS_1
Ini hari yang special untuk Mira, perjalannya pulang ke rumah terasa sangat ringan, sebuah nyanyian keluar dari mulutnya, nyanyian itu seoalh menggambarkan suasana hati seorang anak manusia yang dilanda asmara cinta. (cinta monyet yah gaessss)