
Duduk seorang laki-laki berumur 47 tahun disebuah ruangan, ia hanya memakai kemeja biru dan bersandar disebuah kursi. Tembok kaca yang berada tepat dibelakangnya memperlihatkan suasana di luar gedung, ia memutar kursinya dan matanya memandang ke atas langit. Wajahnya terlihat gusar, teringat seseorang yang berada jauh disana yang sudah lama tidak ditemuinya.
“Mr. Hans, mereka sudah menunggumu” kata seorang wanita berambut pirang yang menghentikan lamunannya (pakai bahasa Indonesia aja yah gaessss)
“Baiklah, segalanya sudah kau siapkan?” tanya Mr. Hans yang adalah ayah Edo.
“Sudah Mr. Hans” jawab wanita berambut pirang itu.
“Bagus, mari kita kesana” ucap Mr. Hans yang segera memakai jas hitam yang tergantung di belakang kursinya.
Gedung yang bagus, beberapa orang terlihat focus didepan meja, mereka seolah sangat sibuk pada pekerjaan mereka.
“Dengar baik-baik Ms. Grace, ini adalah kesempatan terakhir perusahaan kita, jika mereka mau kerjasama dengan kita perusahaan kita akan bangkit kembali, jika tidak...” ucapan Mr. Hans terhenti, wajahnya terlihat sedih.
“Aku mengerti Mr. Hans” jelas sekertarisnya yang bernama Grace.
“Mohon bantuan untuk ini” kata Mr. Hans dengan tangan memegang handle pintu sebuah ruangan.
Perusahaan Oxalino adalah perusahaan yang dahulunya berkembang pesat, perusahaan ini bergerak dibidang jasa ekspor impor. Namun saat ini, perusahaan Oxalino seakan tidak mampu bersaing dan hampir kolaps, setiap bulan pendapatannya hanya untuk membayar gaji para karyawan.
Oxalino hanyalah perusahaan cabang dari R&R Corp yang berada di New York, perusahaan Oxalino berada di Orlando dan saat ini orang yang bertanggung jawab diperusahaan Oxalino adalah Mr. Hans dengan jabatannya sebagai CEO.
Mr. Hans adalah seorang yang menggantikan CEO sebelumnya, CEO sebelumnya dipecat karena mengambil banyak keuntungan dari costumer. Nama perusahaan Oxalino semakin memburuk setiap bulannya. Akibatnya, hampir semua costumer tidak mengunakan jasa perusahaan Oxalino lagi dan Mr. Hans datang untuk memperbaiki semuanya itu
Nama Mr. Hans seharusnya bernama Handoko, seorang lelaki dengan jiwa pekerja keras. Handoko sebelumnya bekerja di Jakarta dan tinggal disana dengan istri dan anaknya. Handoko memiliki Etos kerja yang baik, karirnya terus naik dan dipindahkan ke induk perusahaan R&R Corp di New York City.
Handoko sendiri lahir di Jogja dan masih memiliki keturunan darah biru, keluarga besar Handoko menentang keras pernikahannya dengan istrinya bernama Laras.
Pertemuannya dengan Laras, terjadi pada saat Handoko berkuliah di salah satu universitas terkenal di Yogyakarta. Karena pernikahan mereka tidak disetujui oleh keluarga Handoko, akhirnya mereka pergi ke kota kelahiran Laras yang berada di Sulawesi Utara dan menetap di sana.
Karena menginginkan gaji yang lebih besar, beberapa tahun kemudian keluarga Handoko merantau ke Jakarta, ia bekerja di perusahaan jasa, perusahaan itu bernama PT. Mandiri BGT.
BGT sendiri adalah anak perusahaan dari R&R Corp di New York, salah satu perusahaan global yang bergerak dibidang jasa.
__ADS_1
Beberap tahun di Jakarta, istri Handoko mengalami sakit demam berdarah, penanganan yang sangat lambat dari pihak rumah sakit membuat istrinya harus meregang nyawa.
Mereka menguburkan Laras di kota kelahirannya Tomohon, Edo yang kala itu masih sangat kecil terpaksa harus dititipkan kepada tante Stefani di Tomohon, karena keluarga Handoko masih tidak mau menerima Edo kala itu.
Tante Stefani yang saat itu masih merintis usaha, tidak terlalu banyak memberikan waktu untuk Edo. Apa lagi, usaha toko pakaian tante Stefani berada cukup jauh dari rumah Edo.
Meeting dengan klien selama 3 jam selesai, Handoko kembali keruangannya dan setengah merebahkan diri di kursinya.
“Tinggal menunggu keputusan dari mereka 3 hari lagi” gumamnya sambil membakar sebatang rokok.
Handoko melihat kearah mejanya “Bagaimana keadaanmu nak..?? ayah seperti kehilangan muka untuk bertemu denganmu...” lanjutnya sambil menyentuh sebuah bingkai foto di meja kerjanya.
“Maafkan ayah nak” satu kalimat yang terucap dari bibirnya.
Tiga tahun sudah berlalu sejak Handoko bertemu dengan anaknya Edo, pertemuannya kala itu hanya melihat Edo yang terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan.
Waktu yang sangat singkat, hanya satu minggu tanpa menunggu anaknya benar-benar pulih dari cedera kepala, ia harus kembali ke New York karena perusahaan memanggilnya, panggilan darurat itu bukan tanpa alasan, R&R Corp menunjukknya sebagai CEO perusahaan Oxalino di
Orlando.
Begitu juga dengan tante Stefani, terkadang Handoko menelphonenya tapi jarang sekali diangkat, perbedaan waktu dan kesibukan masig-masing membuat mereka sangat jarang berkomunikasi.
Handoko mengangkat telphonenya, ia menekan tiga digit nomor yang terhubung disalah satu ruangan kantornya.
“Grace, coba cek jadwalku dalam tiga bulan kedepan” kata Handoko kepada sekertarisnya.
Setelah menyuruh sekertarisnya, ia menyandarkan tubuhnya kembali di kursi, tangan kanannya memegang kepala. Sejenak dalam pikirannya tergambar anaknya Edo, Edo tersenyum dihadapannya dan menceritakan hal-hal menakjubkan yang dialaminya, dalam lamunannya ia melihat Edo berjalan disebuah danau, mendaki sebuah gunung, memperkenalkan sahabat bahkan kekasihnya.
Namun, tu hanya sebuah imajinasi yang tidak akan terwujud, sebuah imajinasi yang dibuatnya sendiri. Tidak mungkin Edo dengan lapang dada menerima dirinya begitu saja.
Kehangatan, kebaikan dan keceriaan adalah beberapa hal yang tidak pernah diberikannya untuk Edo. Jadi, bagaimana mungki Edo mau menerimanya? Pikirnya dalam hati.
Telphone di mejanya berdering, suara telphone itu membuyarkan lamunannya dan seakan mengembalikan jiwanya ke dunia nyata, dunia yang penuh dengan teka-teki, dunia yang berjalan tanpa bisa dikendalikan seorang manusia dan dunia yang penuh dengan sandiwara.
__ADS_1
“Hallo Mr. Hans, maaf... Jadwal anda masih padat dalam dua bulan ini, dibulan ketiganya jadwal anda tidak terlalu padat Mr. Hans” kata seorang wanita di ujung telphone.
“Baiklah kalau begitu, bisakah kau tidak menambahkan jadwal ditiga bulan kedepan Ms. Grace?” tanya Handoko kepada sekertarisnya itu.
“Baik Mr. Hans, agenda anda tiga bulan kedepan akan saya close Mr. Hans”
“Ok, Thanks Ms. Grace” seru Handoko.
Handoko melihat kalender di mejanya, tiga bulan lagi anaknya akan lulus, pikirnya mungkin ia bisa berada di sisi putranya pada saat kelulusan dan libur panjang sekolah. Tapi, muncul kembali keraguan dalam hatinya, ini adalah dunia nyata dan bukan dunia yang dipenuhi imajinasi yang baru dirasakannya.
Malam itu langit di atas Orlando begitu cerah, bulan besar musim dingin begitu indah terlihat. Di pinggir jalan berdiri sebuah restoran, restoran yang berada dekat dengan apartemennya, restoran itu menghidangkan makanan Indonesia. Handoko sudah sangat kenal dengan pemilik dan koki restoran yang bernama “Fhuad Resto” itu.
“Welcome Den Mas, ini menunya” sambut seorang pelayan laki-laki dengan menyodorkan menu kepada Handoko.
“Ehhh Saiful, tidak usah pakai Den Mas, Handoko saja” respon Handoko sambil meraih menu yang disodorkan pelayan yang bernama Saiful itu.
“Hehehehe udah kebiasaan Mas Han” jawab Saiful dengan santun.
“Yo jangan dibiasakan toh..” kata Handoko yang mulai mencari menu yang diinginkannya.
“Saya mau dua Nasi Goreng Teleng special, minumnya satu teh hangat dan satu coklat hangat ” lanjut Handoko sembari mengembalikan buku menu kepada Saiful.
“Baik Mas Han” jawab saiful dan berlalu menuju dapur meninggalkan Handoko.
Seorang wanita berambut pirang terlihat dari arah pintu masuk, Handoko yang berada dekat dengan jendela melihat ke arah wanita itu, langkah wanita itu begitu sangat mempesona, anggun dan berkelas, wanita itu sangat dikenalnya, wanita itu juga adalah salah satu penggemar setia Fhuad Resto dua tahun ini.
Handoko segera berdiri, ia menggeser kursi yang ada di depannya untuk ditempati wanita itu.
“Maaf Mr. Hans, aku terlambat datang” kata wanita itu sambil membuka Trench Coatnya.
Melihat ada pelanggan yang datang, Iful segera datang dan mengambil Trench Coat milik wanita itu untuk digantungkan ditempat yang sudah disediakan.
“Ah... tidak masalah Ms. Grace, pesanan yang kau minta sedang dibuatkan” Handoko menjelaskan.
__ADS_1
“Terima kasih Mr. Hans, oh yah... bagaimana keadaan anakmu di Indonesia?” tanya wanita berambut pirang itu.
“...belum ada kabar beberapa bulan ini, aku harap dia baik-baik saja di sana” jawab Handoko sambil melihat bulan besar yang terlihat dari luar jendela.